Mama – Miom – Operasi

Di rahim Ibu ada miom. Aneh juga mengapa dokter kandungan Ibu tidak mengatakannya pada Ibu.”

Itu yang dikatakan dokter kandungan di rumah sakit PIK ketika mamaku datang untuk berobat satu tahun lampau. Dan karena dokter kandungan tempat mama kontrol setiap tahun untuk papsmear dan lain-lain tidak pernah mengatakan apa-apa, maka mama juga tidak terlalu memikirkan masalah miom ini. Memang dokte langganan mama termasuk dokter yang pelit kata-kata (pendapat pribadi). Ia jarang menjelaskan kondisi pasien secara rinci – hanya memberikan solusi. Dokter tipe ini adalah masalah besar untuk pasien yang juga jarang bertanya-tanya (tipe mama dan papa). Nrimo saja.

Ternyata miom itu memang bermasalah……

Satu tahun terakhir ini, setiap kali mama haid, selalu sangat banyak dan lama untuk berhenti (lebih dari 7 hari). Dikuatkan oleh hasil tes hormon yang menunjukkan bahwa kondisi hormon mama sedang tidak stabil, kami semua mengira mama sudah masuk masa menopause jadi haidnya tidak teratur dan banyak. Apalagi beberapa kenalan dan kerabat yang sudah melalui masa menopause juga mengatakan bahwa mereka juga mengalami hal yang sama ketika menjelang menopause. Jadi kami semua tenang-tenang saja. Kami hanya mengingatkan mama untuk menyantap lebih banyak makanan bergizi menggantikan darah yang keluar.

Puncaknya kira-kira akhir Januari silam, haid mama belum ada tanda-tanda untuk berhenti walaupun sudah 10 hari lebih. Darah yang keluar juga sangat banyak. Berat badan mama sampai berkurang 2 – 3 kilo karenanya. Mama menjadi sangat lemas. Konsultasi ke dokter kandungan langganan mama, dia hanya mengatakan ada miom dan haid mama menjadi lama dan banyak karena ini. Jika memang mama mau, dan keadaan tidak berubah maka setelah haid berikutnya baru dianjurkan untuk operasi angkat rahim saja. Setelah itu mama hanya diberi obat saja. Namun setelah minum obat pun tidak ada perubahan; dan karena tidak tahan lagi, mama pergi ke dokter di rumah sakit bersalin dekat rumah. Kata dokter ada banyak gumpalan darah di rahim mama. Dokter menyarankan untuk dikuret saja, agar gumpalan darah itu bisa keluar dan haid berhenti.

Konsultasi dengan dokter kedua juga menganjurkan hal yang sama.Dan mama pun dikuret pada akhir bulan Januari kemarin. Kuretnya sendiri berllangsung cepat, kira-kira hanya 30 menit di pagi hari. Setelah itu mama menginap semalam di rumah sakit. Ternyata setelah keluar dari rumah sakit, malam harinya mama tidak bisa tidur. Ia merasa sangat gelisah dan tidak nyaman. Perasaannya tidak karuan, mual, dan pusing. Keadaannya membuat cemas papa dan adikku yang ada di rumah (aku dan kakakku tidak bisa pulang ke rumah karena banjir). Tapi untungnya keadaan mama membaik keesokan harinya. Haid juga berhenti.

Sayangnya masa “tenang” ini tidak berlangsung lama. Kira-kira 3 hari setelah itu, haid mama kembali datang. Sama banyaknya dengan sebelum dikuret. Kami sekeluarga panik. Mama berdua dengan papa langsung menuju ke dokter langganan mama. Untung saja dokter itu tidak marah mendengar mama dikuret tanpa mengikuti anjuran dia. Dia memberikan obat, salah satunya adalah obat hormon untuk menghentikan haid dan menyeimbangkan hormon yang tidak seimbang itu. Dokter itu juga menganjurkan agar mama secepatnya dioperasi angkat rahim sebelum haid berikutnya datang dan semakin parah.

Papa kurang setuju dengan solusi dokter langganan mama ini. Ia mencemaskan kondisi mama. Operasi angkat rahim bukan operasi kecil, jika ketika dikuret saja mama sudah tidak tahan seperti itu bagaimana dengan angkat rahim? Selainitu, untuk angkat rahim, anastesi akan menyuntikan obat bius di punggung dan dulu ada seorang kerabat jauh dari kota asal kami yang menjadi lumpuh karena prosedur penyuntikan yang salah. Ketika itu kerabat jauh itu juga menjalani operasi angkat rahim. Lagipula informasi dari sepupu yang melahirkan anaknya dengan c-section, suntikan obat bius itu sangat menyakitkan.

Dengan pertimbagan itu, kami mencari pendapat dari dokter-dokter lain. Papa sibuk mencari informasi mengenai dokter kandungan di ibukota bahkan sampai ke negeri tetangga. Papa juga setengah menyeret mama mendatangi dokter-dokter yang ada. Mama capai karena kondisi yang belum sepenuhnya pulih; hatinya juga sudah bulat untuk mengikuti saran dokter langganan saja.

Ada 2 saran didapat akhirnya. Yang pertama adalah angkat rahim. Solusi untuk mengangkat rahim ini dengan mempertimbangkan bahwa mama sudah tidak lagi termasuk usia produktif.Dan yang kedua adalah disuntik hormon (suntikan ini tidak boleh lebih dari 6 kali karena dapat mengakibatkan keropos tulang). Setelah suntik selesai, maka miom akan diangkat tanpa perlu mengangkat seluruh rahim. Namun walaupun jenis operasi solusi yang ke dua ini lebih kecil namun solusi ini tidak menjamin bahwa miom tidak akan muncul kembali. Saran dari kenalan dan kerabat juga bertentangan satu dengan yang lain. Kami sekeluarga benar-benar bimbang dan panik (pekerjaan kantor juga hampir terlantar karenanya).

Ditengah kebimbangan dan keputusan yang belum juga dibuat, mama dan papa justru memutuskan untuk dibabtis dulu. Kami juga tidak dapat memahami jalan pikiran mereka. Tiba-tiba saja papa yang tidak pernah bersemangat untuk dibabtis meminta untuk didaftarkan dibabtis dan bersemangat untuk menanyakan detail acara pembabtisan. Memang jalan Tuhan tidak dapat diduga. Kalau menurut mama, harus dibabtis secepatmya ketika haid sedang berhenti. Nanti susah lagi mencari waktu untuk dibabtis.

Setelah babtis, kebimbangan untuk memilih solusi 1 atau 2 masih ada. Harapan mujizat kesembuhan juga sempat ada diantara kami. Jika Tuhan mau mama sembuh, pasti sembuh – itu yang menjadi keyakinan kami semua. (Pengalamanku sendiri, pada saat aku berdoa, sepertinya aku diberi pertanyaan, “Bagaimana jika Tuhan ingin kesembuhan mama melalui operasi angkat rahim? Dokter itu juga pemberian Tuhan.” Sejak itu aku tidak lagi keras kepala menganjurkan supaya mama disuntik saja dan tidak perlu angkat rahim.) Tetapi akhirnya kami memutuskan untuk menuruti pendapat mama saja yaitu solusi yang pertama. Biar bagaimana pun yang merasakan adalah mama dan itu tubuh mama, jadi pasti dia lebih tahu akan kondisinya dan kesiapannya. Juga atas permintaan mama, papa tidak jadi membawa mama ke Singapura untuk konsultasi. Semuanya diserahkan pada dokter langganan mama saja.

Setelah itu papa dan mama mulai mencari rumah sakit apa saja tempat dokter langganan praktik. Ada 3 tempat: klinik milik dokter, rumah sakit di daerah menteng, dan rumah sakit Royal Progress (ex. Medika Griya) diSunter. Pilihan jatuh ke RS Royal Progress karena lebih bersih dan besar walaupun lokasinya lebih jauh. Menurut dokter cukup 3 malam di rumah sakit setelah itu boleh pulang. Namun papa meminta tambahan 2 malam untuk mencegah peristiwa ketika mama dikuret dulu. Papa juga meminta supaya ada dokter penyakit dalam karena mama punya gangguan maag.

Hari operasi juga sudah diputuskan, hari Rabu 2 minggu yang lalu. Hari selasa malam, mama sudah masuk rumah sakit ditemani papa. Dari malam itu sudah puasa dan diberi obat untuk mengeluarkan semua isi perut sebelum operasi. Rabu pagi jam 5, mama dibangunkan perawat untuk disuruh mandi (tapi mama sudah mandi dari jam 4 pagi karena tidak bisa tidur – hingga harus diberi obat tidur oleh dokter internis setelah konsultasi dengan anastesi). Jam 5.30 masuk kamar operasi.

Menurut gambaran mama, ruangan operasi itu besar dengan empat pendingin ruangan di sisi langit-langit yang terlalu aktif mengeluarkan hawa dingin dan membuat gigi mama saling beradu. Dokter anastesi memberi mama bantal untuk dipeluk sebelum menyuntikan anastesi. Setelah itu mama berbaring dengan posisi seperti disalib (ada alat untuk mengukur detak jantung dan entah apa lagi dimasing-masing tangan) dan tirai dipasang persis sama dengan c-section. Dalam hati mama terus menyanyikan lagu pemenang yang sering dinyanyikan di gereja (aku lupa judulnya). Ketika operasi sudah mau dimulai, mama disuntik lagi supaya tidur (ini juga permintaan mama supaya tidak perlu cemas mendengarkan jalannya operasi– sebenarnya cukup dengan bius setengah badan seperti biasa).

Operasi itu hanya berlangsung cepat, kira-kira jam 7 pagi sudah selesai. Papa diperlihatkan rahim yang sudah diangkat (hanya rahim saja yang diangkat sedangkan indung telur tidak – agar tidak cepat tua). Besarnya hanya sebesar kepalan tangan orang dewasa. Sungguh ajaib, betapa elastisnya rahim hingga dapat menjadi tempat perlindungan bayi semasa dikandung dulu. Setelah operasi, mama dipasang kateter dan masih harus puasa hingga pukul 6 sore, tidak boleh makan atau minum. Obat penahan rasa sakit juga diberikan melalui dubur. Mama bercerita ketika sadar dari efek obat tidur yang pertama kali ia coba adalah apakah bisa menggerakan kedua kakinya. Awalnya memang terasa berat dan tidak bisa digerakkan , tapi setelah obat bius habis akhirnya kedua kaki mama bisa digerakkan.

Karena puasa berkepanjangan, mama terserang diare namun tidak parah – hanya sediki t merepotkan karena mama masih lemah dan tidak dapat bergerak bebas. Pukul 8 malam, mama harus belajar membalikkan badan. Menurut mama, hari pertama setelah operasi adalah hari yan g paling berat. Luka operasi terasa sakit dan tubuh juga lemas. Mungkin seperti ini juga rasanya melahirkan dengan c-section. Tapi setelah lewat hari pertama kondisi mulai pulih dan pada hari kedua sudah harus belajar jalan dan turun dari tempat tidur.

Sekarang sudah 2 minggu mama keluar dari rumah sakit. Kondisinya sudah membaik – walaupun terkadang luka operasi masih terasa sakit. Ia kembali ceria dan kini sedang berlatih naik turun loteng rumah. Terima kasih Tuhan untuk kesembuhan ini.

About these ads

10 responses to “Mama – Miom – Operasi

  1. Jumi Delvita Sari

    Jumi (21 Tahun) juga punya Ibu yang di diagnosa miom. menurut dokter pertama, disarankan histerktomi (angkat rahim), disuntik juga. yang sekali suntik satu juta-an. karna masih ragu, pergi ke dokter yang 1 lagi (ahli tumor dan kanker, malah dikatakan tidak perlu operasi, semua baik-baik saja. cuma diresepkan obat penghilang nyeri saat haid. bayangkan…….. betapa kagetnya sekaligus bahagianya ibu saya. sekarang, 24 Maret 2008, saya dan ibu saya masih bimbang. dokter mana yang benar ? berdasarkan pengalaman mbak yang saya baca di internet ini, apa ang sebaiknya kami lakukan ?

  2. To Jumi,

    Menurut beberapa orang kenalan dan dokter: miom itu bisa berbahaya tapi
    juga bisa tidak. Ada yang harus dibuang, ada yang bisa didiamkan saja.
    Mama sudah didiagnosa miom sejak kira2 tahun lalu, tapi tidak apa2.
    Lalu yang terakhir berobat (krn haid tidak berhenti) ternyata ada miom
    baru yang menyebabkan haid tidak bisa berhenti dan dioperasi.

    Untuk Jumi, mungkin lebih baik mencari saran dari dokter lain lagi
    untuk bahan pertimbangan karena saran dokter 1 dan 2 benar-benar bertolak belakang.

    Sebagai pembanding saja, mama mendatangi 4 atau 5 dokter kandungan.
    Awalnya mama hanya mendatangi dokter langganan saja (kontrol karena haid
    tidak berhenti). Sarannya adalah angkat rahim karena ada miom. Lalu ke
    dokter ke2 ternyata sarannya cukup disuntik saja tidak perlu angkat
    rahim. Karena bingung, mama mendatangi dokter-dokter lain. Dan pendapat
    mereka dibagi 2:
    1. suntikan hormon (max 6 kali) lalu dioperasi angkat miom saja.
    -> tapi ini tidak menjamin miom tidak akan hilang selamanya.
    2. angkat rahim; tapi ovarium tidak diangkat

    Ini dokter kandungan langganan mama : dr. Endi Moegni. Praktiknya ada
    di Sunter, rs. royal progress.

    Oh ya, dulu aku mengira angkat rahim operasi besar dan jarang, tetapi
    ternyata sudah biasa untuk wanita-wanita yang seumuran mama dan bukan
    lagi dianggap operasi besar walaupun kesiapan mental pasien juga masih
    diperlukan sih.

    Aku doakan supaya mamanya Jumi sehat.

  3. halo

    mama saya baru saja diusg setelah copot spiral dan dibilang ada miom di rahimnya. dokter sih ngga bilang untuk balik lagi ke dia, entah karena memang tidak usah atau karena dianya cuek, tapi dia bilang sesuatu tentang keharusan diangkat rahim

    apakah diangkat rahim itu menyakitkan? lalu saya takut ada apa apa sama mama setelah itu, bagaimana ya?

    terima kasih

  4. To Lia,

    Ini dari pengalaman pribadi.
    Yang paling menyakitkan adalah hari pertama setelah operasi selesai, karena harus puasa sampai sore dan luka terasa sangat nyeri (walaupun sudah diberi obat untuk mengurangi nyeri). Setelah itu sudah mulai bs berjalan sedikit2, jangan mengangkat barang berat, dan jangan bekerja berat.
    Asal dokter yang melakukan operasi dan anastesi bisa dipercaya, harusnya operasi baik-baik saja. Dan karena wanita masih sangat tergantung hormon selama usia masa menstruasi aktif, maka jika indung telur tidak diangkat tidak akan masalah apa-apa karena hormon masih ada.

    Moga-moga miomnya tidak berbahaya sehingga tidak perlu operasi :)

  5. tanggal 30 des 2004 saya usg dinyatakan ada miom sebesar bola pimpong dan saya hanya dianjurkan periksa setiap 6 bulan ke dr kebidanan. akhir tahun 2007 saya kembali usg dan dianjurkan ke dr SPOG setelah ke dr dikatakan miom saya 6 cm saya dianjurkan operasi tapi saya saya takut. pertanyaan saya apakah saya harus dioperasi dok, saya sendiri tidak ada keluhan apa2 menstruasi saya kata dr pra manopose karena 3 bulan terakhir sudah tidak teratur walaupun dapat terus tapi jaraknya jauh contoh maret tg 4, april tg 8 mei tg 20 dan skrg belum sebelumnya mentruasi saya siklus maju terus kalau bulan ini tg 4 bulan depan tg 28 dan seterusnya. apakah dengan manopose miom saya bisa mengecil sendiri dan tidak perlu dioperasi dok.tolong jawab ya dok, terima kasih

  6. Biasanya adanya miom disebabkan karena ketidakseimbangan hormon….Coba FEMONA dey…. Aq baru dapet info kalau FEMONA dapat mengatasi gangguan menstruasi..Gangguan Menstruasi ini dapat yang disebut PMS (premesntrual syndrom) ataupun nyeri haid pada hari pertama dan siklus yang tidak teratur. Aq dah nyoba dan senengnya sekarang saat haid aq dah gak ngerasa nyeri dan gak ngalamin PMS lagi…FEMONA bekerja dengan cara menyeimbangkan kerja hormon didalam tubuh, tetapi FEMONA bukan hormon loh,,,, Coba deh,,,,Kalau mau info lebih lengkap tentang FEMONA liat ja web nya di http://www.femona.com.

  7. To Bu Lia,

    Maaf Bu, saya bukan dokter. Saya hanya menggabungkan pengalaman mama dulu.
    Yang saya dengar, kalau sudah menopause, terkadang miom bisa “mengecil” karena hormonnya sudah tidak diproduksi lagi. Apakah ibu Lia sudah pernah konsultasi ke dokter yang lain? Jangan banyak pikiran dan relaks yah bu, karena itu sangat berpengaruh sekali dengan fisik juga :)

    Salam,

    Ruth

  8. saya punya kaka ipar usia 32 th. saat ini dia di vonis dokter bahwa dalam rahimnya terdapat miom dgn diameter 80 cm tinggi 7 cm. menurut dokter, dari hasil usg miom itu sudah menutupi hampir seluruh dinding rahim dan dokter pun sudah menganjurkan utk angkat rahimnya. Masalahnya kaka ipar saya sangat berkeras utk tidak di angkat rahimnya dengan alasan karena dia belum mempunyai anak. Mohon sarannya

  9. Insya Allah Tahitian Noni Juice sangat bisa menjadi alternatif untuk mengatasi gangguan hormon. Tapi syaratnya harus yakin karena proxeronine dari Tahitian Noni Juice akan bermanfaat jika bertemu serotonin dari tubuh yang “senang dan memiliki harapan lebih”. Lagi pula Tahitian Noni Juice berperan sebagai nutrisi di dalam tubuh jadi jangan khawatir overdosis

    pengangkatan rahim tidak berarti memperbaiki gangguan hormon. jadi upaya perbaikan hormon harus dijalankan terus.

    mudah-mudahan ini jadi alternatif yang terbaik untuk mengatasi masalah yang ada.

  10. mama saya usia 56 thn, sdh menopause kira” 1 thn nyg lalu. kira” 3 thn yg lalu kita ke dokter kandungan dan di nyatakan ada miom di rahimnya seukuran 5 cm dan 3 cm, jadi ada 2 buah miomnya..tapi selama kurun waktu 3 thn miom nya tdk membesar dan juga tidak mengecil. awalnya mama tidak mau operasi, tapi setelah kakak nya di vonis kanker rahim stadium 4 ( selama ini gak pernajh kontrol ) mama saya menjadi takut, sekararang kami sedang mempersiapkan operasi mama, dgn konsul dan cek semua nya..tapi dokter kandungannya menyarankan untuk di angkat total termasuk indung telurnya..karena ada riwayat dari keluarga, untuk mengantisipasi kemungkinan” yg tidak kita inginkan di kemuadian hari, selain pertimbangan bahwa mama sdh menopause.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s