In The Hand Of God

Kingston, 08:00 am

Burung-burung gagak sudah ribut berkoar-koar. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melirik jam beker yang terletak di sampingku. Ternyata baru pukul delapan pagi, masih banyak waktu untuk bermalas-malasan di tempat tidur. Aku menarik selimut lebih tinggi, kemudian aku memejamkan mataku kembali mencoba untuk tidur kembali.

Hari ini aku libur jadi tidak apa-apa bila sedikit bermalas-malasan. Lagi pula aku harus menyimpan tenaga untuk nanti malam. Malam ini adalah malam yang istimewa karena merupakan malam penutupan olimpiade Sydney 2000.

Sebenarnya bila mau mengatakan yang sejujurnya bukan olimpiade yang aku anggap istimewa karena sejak dulu aku tidak terlalu perduli dengan segala sesuatu yang berbau olahraga. Yang menjadikan malam ini istimewa adalah karena Savage Garden mengadakan konser gratis di Moore Park.

Bayangkan saja, selama ini aku hanya dapat mendengar ataupun melihat mereka dari televisi dan kaset saja. Tetapi hari ini aku dapat melihat secara langsung seperti apa Savage Garden itu.

Rasanya sungguh tidak sabar menunggu malam tiba. Aku sudah berjanji dengan teman sekamarku bahwa tidak akan ada yang dapat menghalangi kami berdua untuk pergi menonton konser Savage Garden malam ini.

Semuanya sudah kami persiapkan sejak kemarin. Mulai dari bekal makanan hingga film untuk memotret nanti. Dimana Moore Park itu juga sudah kami pelajari di peta. Pokoknya semua sudah siap sejak kemarin.

Pukul sebelas nanti kami baru akan keluar untuk ke city dan menikmati Sydney yang sedang ramai-ramainya

Cogee, 16:00 pm

Finn membereskan barang-barangnya dari pinggir pantai. Ia mendengus kesal, tidak ada tempat yang cukup tenang untuk menikmati pantai dan laut yang sangat disukainya.

Sudah sebulan ini Sydney penuh sesak. Rasanya penduduk dari setiap negara dapat dijumpainya di Sydney. Yang lebih mengesalkan adalah karena Cogee tempat ia biasanya surfing ikut menjadi penuh sesak dengan orang-orang yang berlibur sekaligus menonton olimpiade.

Tidak ada tempat yang tenang sama sekali. Semuanya sudut pantai Coogee ini telah dipenuhi oleh turis-turis itu. Biasanya surfing dapat meredakan kekesalan Finn. Tetapi bahkan gulungan-gulungan ombak besar yang sangat baik untuk surfing tidak dapat menghilangkan kekesalannya hari ini.

Untung saja hari ini adalah hari terakhir olimpiade, pikir Finn. Mulai besok, Sydney sudah bebas. Nanti Finn sudah berencana untuk merayakannya dengan teman-temannya. Merayakan bebasnya Sydney dari orang-orang yang memadatinya.

Finn melihat jam tangannya, masih ada cukup waktu untuk pulang dan mandi. Ia sudah berjanji untuk bertemu dengan teman-temannya di city dan kemudian berpesta di Moore park. Temannya berkata ada band asyik yang akan manggung nanti malam di sana.

Circular Quay 21:00 pm

Walaupun televisi sudah dinyalakan, namun ruangan, tepatnya rumah ini, masih terasa terlalu sunyi untuk David. Rumah ini menjadi terlalu sunyi semenjak kepergian istrinya. Tidak ada lagi suara tawa merdu istrinya. Tidak ada lagi suara langkah kaki istrinya.

Walaupun David telah berusaha untuk mengganti kesunyian ini dengan televisi namun semuanya percuma saja. Acara-acara televisi tidak lagi dapat menarik perhatiannya. Rumah ini tetap terasa sunyi dan asing baginya.

David mungkin masih hidup dari sudut pandang jasmani, tetapi seluruh kehidupan David sebenarnya telah ikut dibawa masuk ke dalam peti mati istrinya.

Percuma saja mencoba untuk pergi tidur sekarang karena baru menjelang dini hari nanti baru matanya dapat terpejam. Lagi pula David malas masuk ke dalam kamar tidur itu karena kamar tidur itu semakin mengingatkan David pada istrinya.

Di kamar itulah paling banyak terdapat barang-barang peninggalan istrinya. Mungkin ini adalah kesalahan David juga. Hinga kini, ia masih tidak sanggup untuk membereskan barang-barang peninggalan istrinya.

David masih membiarkan semuanya sama seperti dulu ketika istrinya masih hidup. Sayangnya, perbuatannya justru mengakibatkan David semakin merasa tersiksa dengan semua kenangan yang ada.

Beberapa teman dekat David telah berusaha untuk mengajaknya sedikit bersenang-senang dan melupakan kesedihannya sejenak. Namun semuanya itu ditampik David.

Pendeta di gereja juga telah menasihati supaya ia tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena istrinya kini telah bersatu dengan Tuhan Yesus.

Memikirkan dengan akal sehat memang bisa, tetapi perasaan David tetap tidak dapat diubah. David merindukan istrinya dan masih tidak dapat melupakannya. Terlebih lagi hingga saat ini ia masih tidak rela ditinggalkan oleh istrinya.

Apalagi dalam hatinya, David selalu merasa bahwa dirinyalah yang telah menyebabkan istrinya meninggal.

“Dear Lord Jesus, aku tahu bahwa seharusnya aku tidak dapat larut dalam kesedihan berlarut-larut. Aku tahu bahwa ada rencana yang indah di balik semuanya ini, walaupun aku tidak dapat melihat keindahan dari rencana itu sekarang. Sejujurnya saja yang aku lihat sekarang ini setumpukan sampah dari puing-puing hidupku. Yeah, Lord Jesus.

Aku adalah sampah. Aku sampah karena aku tidak berguna. Aku tidak dapat menolong Amy dan terlebih lagi karena akulah yang menyebabkan Amy meninggal.

Jika saja pada waktu itu aku tidak memanggil Amy sehingga ia tidak menoleh maka Amy akan melihat ketika mobil itu datang dan kecelakaan itu tidak akan terjadi. Aku sedih karena kehilangan Amy. Aku tidak rela.

Tetapi yang paling dalam aku merasa bahwa aku adalah seseorang yang tidak berguna. Siapakah aku ini di antara manusia yang begitu banyak di dunia ini. Aku bukan pembuat sejarah seperti Napoleon atau Hitler. Dunia tidak akan kiamat jika aku tidak ada.

Sungguh aku ingin bangkit, tetapi perasaan bersalah dan tidak berguna ini tidak pernah mau lepas dari diriku. Lord Jesus, berilah aku suatu tanda bahwa aku masih sahabat-Mu. Bahwa aku tidaklah tidak berguna. I pledge You, my Lord. Amen”

Kemudian David mematikan televisi yang sedari tadi memang tidak dilihatnya. Ia mengambil kunci dan keluar rumah untuk mencari udara segar.

Moore Park 11:00

Begitu melangkah keluar dari bus, aku langsung tahu bahwa malam ini akan menjadi malam yang ramai. Banyak sekali orang-orang di jalan, seperti hari minggu siang saja. Mereka semua sedang dalam suasana perayaan. Padahal hanya penutupan olimpiade saja, batinku dalam hati.

Jika tidak ada Savage Garden, pasti aku lebih memilih dirumah saja. Disini pasti banyak orang mabuk. Karena orang-orang disini suka sekali minum bir hingga mabuk dan muntah. Iihhhm menjijikan sekali.

Yah mudah-mudahan saja, mereka semua tidak berminat untuk menonton Savage Garden. Mudah-mudahan saja Savage Garden tidak disukai di negara asalnya.

“Kita mesti hati-hati nih jangan sampai terpisah. Apalagi kamu, orang yang paling buta arah”, kata temanku.

“Aku tahu. Nih pegang saja tali tasku. Jadi kita tidak akan berpisah”, sahutku.

Jadilah kami berdua berjalan seperti orang yang sedang menuntun anjingnya. Temanku berjalan di depanku sambil memegang tali tasku. Aku hanya mengikutinya saja. Uh, banyak sekali orang yang bersileweran. Dan ternyata aku salah sangka, semakin dekat dengan Moore Park semakin ramai.

“Be careful with your bag”, seseorang berkata kepadaku tiba-tiba.

Mungkin ia mengira temanku adalah pencopet yang tengah menarik tasku. Aku tersenyum, tetapi sebelum sempat aku membalas orang tersebut, ia telah berjalan jauh. Ternyata orang disini tidaklah secuek orang di negaraku.

Akhirnya kami sampai juga di Moore Park. Aku melihat sekeliling. Ah banyak sekali orang yang berkumpul disini. Ternyata banyak juga orang yang bertujuan sama denganku. Ingin menyaksikan konser Savage Garden.

Atau mereka semua juga mempunyai paham yang sama dengan orang-orang dari negaraku. Jangan menyia-nyiakan sesuatu yang gratis. Aku memandang temanku.

“Percuma saja, jika kita melihat dari sini. Tidak akan terlihat apa-apa nih”, kataku.

“Yah sudah kita maju saja. Berdua pasti akan lebih mudah untuk mendesak maju.”

Setelah sedikit mendorong-dorong orang, secara paksa, jika bisa kuakui karena tidak mungkin orang mau merelakan tempat yang telah dikuasainya, kami bisa berdiri dekat panggung.

Benar-benar tempat yang strategis. Aku bisa melihat Savage Garden dari dekat dan melihat mereka bermain musik langsung. Akhirnya Savage Garden datang dan mulai bernyanyi. Saat itulah aku dan temanku menyadari bahwa kami berdua dalam kesulitan ….

*****

David tidak menyangka bahwa jalan-jalan mencari angin segar telah membawanya ke Moore Park tempat anak-anak muda berkumpul untuk menonton pertunjukan group entah siapa.

Sebenarnya David sama sekali tidak berniat untuk ikut menonton pertunjukan musik yang ia yakin pasti bukan seleranya itu. Tetapi apa boleh buat, sudah sulit bagi David untuk berjalan keluar sekarang. Orang-orang telah banyak sekali berkumpul disini. Salahnya sendiri karena terlalu larut memperhatikan kesibukan orang-orang yang mempersiapkan peralatan panggung.

David mengamati orang-orang di sekelilingnya. Semuanya anak-anak muda, mungkin ia adalah orang yang paling tua di tempat ini.

Ketika group band, yang katanya bernama Savage Garden itu, mulai bermain. Anak-anak muda yang tadinya berdiri tenang mulai ikut bergoyang mengikuti musik yang berisik itu. Mereka meloncat kesana kemari dengan asyiknya. Ah senangnya jika masih muda, pikir David.

“Lord Jesus, apakah aku akan menemukan tandaku disini?”, tanya David dalam hati.

Rasanya tidak ada yang dapat diperbuatnya ditempat seperti ini. Dan untuk satu hal pasti, David merasa bahwa ia berada di tempat yang salah. Tidak mungkin ia mendapatkan tandanya disini. Karena tidak menikmati musik, maka David dapat terus mengamati orang-orang disekelilingnya.

Pandangan David terhenti pada dua gadis yang berdiri di dekatnyanya. Dua gadis Asia yang tersesat dan bingung. Mereka pasti juga datang untuk menonton konser musik ini. Namun mereka tidak terbiasa untuk ikut meloncat-loncat seperti orang-orang disekelilingnya. Kini, keduanya tengah kebingungan karena terdesak oleh orang-orang disekelilingnya.

David merasa kasihan melihat kedua gadis tersebut. Jika ia berdiri di belakang mereka, maka David dapat menjaga mereka agar tidak terdorong dari belakang, begitu pikir David. Apalagi postur David juga bisa dibilang tinggi besar, cukup untuk menjaga kedua gadis itu tanpa kesulitan.

Maka David bergerak mendekati kedua gadis itu. Kemudian ia berdiri diam menjaga keduanya dari belakang, dengan demikian keduanya tidak lagi terlalu terdesak-desak oleh orang-orang disekitarnya. Dengan kedua tangan tersilang di dadanya, David menjaga kedua gadis tersebut.

Tiba-tiba David merasakan kehangat menjalar dari dalam hatinya ke seluruh tubuhnya. Pikirannya terbuka. Kedamaian menghampirinya. Rasa bersalahnya hilang.

“Oh Lord, this is the sign. Ini adalah jawaban-Mu. Aku bukanlah sampah yang tidak berharga. Aku dipakai-Mu untuk menolong kedua gadis Asia ini, untuk menjaga mereka. You are still with me. Thank You, Lord Jesus.”

*****

Savage Garden memang asyik. Lagu-lagu yang mereka mainkan sangat asyik untuk bergoyang. Setelah beberapa kaleng bir, Finn merasa kepalanya mulai melayang. Kombinasi bir dan berjingkrak membuat Finn merasa gerah luar biasa. Ia membuka kemejanya dan mengikatnya di pinggang.

Lalu Finn melihat, dua anak Asia itu kembali. Ternyata mereka berteman, batin Finn. Sebelumnya ketika melihat ada orang yang tengah menarik tas orang di belakangnya, Finn mengira bahwa orang yang menarik di depan itu pasti sedang berusaha untuk menjambret tas orang dibelakangnya. Refleks, Finn langsung memberi tahu gadis asia itu seketika.

Finn mengamati mereka. Mereka tampak mengibakan, putus Finn. Dua anak yang tidak pernah keluar rumah, mencoba menikmati hidup. Namun sekarang mereka seperti anjing yang tersesat. Menikmati musik, tetapi tidak ikut berjingkrak.

Memang mereka bergerak-gerak, tetapi lebih tepatnya karena desakan dari sekitar mereka. Benar-benar anak-anak baik yang berada pada tempat yang salah. Kedua anak itu terdesak sampai di depan Finn.

Kemudian, Savage Garden membawa lagu lain. Lagu ini lebih panas dari yang sebelumnya. Karena itu, penonton berjingkrak semakin hebat. Kedua anak Asia yang berdiri di depan Finn tidak dapat lagi bertahan dari desakan orang-orang. Mereka berdua nyaris terpisah.

“Huh, apa boleh buat!” desah Finn dalam hati. “Anak-anak baik juga perlu sekali-kali diberi kesempatan untuk menikmati hidup.” Ia memegang kaleng bir dengan tangan kiri.

Lalu sambil berjingkrak mengikuti musik, Finn meraih anak Asia yang satu dengan tangan kanan. Kemudian ia meraih yang lainnya dengan tangan kiri. Kedua anak Asia itu langsung berdiri kaku ketika tahu-tahu Finn merangkul mereka.

Mereka terdiam dan tampak lebih bingung lagi. Sejenak mereka berusaha melepaskan diri dari rangkulan Finn. Dasar anak-anak pingitan, maki Finn dalam hati.

Karena mungkin saja mereka tidak dapat berbicara bahasa Inggris, Finn berpura-pura tidak melihat reaksi mereka berdua. Ia bahkan memperketat rangkulannya. Kini Finn merangkul kedua anak Asia itu di kiri dan kanannya.

Setelah yakin keduanya tidak akan terpisah, Finn kembali berjingkrak mengikuti musik dengan kedua anak Asia di kiri dan kanannya. Akhirnya keduanya tenang, setelah tahu Finn tidak berbuat macam-macam. Mereka pasrah saja. Ketika lagu berganti menjadi lebih lembut, Finn melepas rangkulannya.

Kingston, 02.30 am

Mataku sudah berat sekali rasanya. Hampir saja aku tidak dapat memaksanya untuk terbuka sejenak. Entah kemana menghilangnya semangat dan energiku tadi. Mungkin energiku habis ketika menonton pertunjukan musik tadi.

Malam yang telah direncanakan sejak kemarin itu ternyata melelahkan. Kami lupa merencanakan satu hal, orang-orang yang terus menerus mendesak ketika mereka mengikuti musik. Mengapa mereka tidak dapat berdiri diam saja sambil menikmati musik.

Entah sudah berapa kali kami nyaris berpisah tadi. Pukul satu pertunjukan Savage Garden selesai. Suaraku juga sudah serak. Untung saja pemerintah Australia sudah banyak sekali menyiapkan bus, jadi kamu tidak kesulitan mencari bus untuk pulang mengingat sekarang sudah lewat tengah malam.

Dengan penuh perjuangan aku mandi karena aku paling tidak tahan dengan bau bir dan rokok yang melekat di badanku. Aku sudah sangat mengantuk sekarang. Tetapi sebelum tidur, aku harus berdoa dulu.

“Tuhan Yesus, tadi aku untuk pertama kalinya dalam hidupku aku menonton pertunjukan live. Gratis lagi. Jujur saja aku tidak tahu, bahwa konser musik itu akan seribut itu dan lagi mereka semua berjingkrak seperti itu. Mungkin jika diajak untuk menonton pertunjukan musik yang kedua kalinya lagi aku akan menolak.

Terima kasih karena telah mengirim malaikat untuk menjaga kami berdua. Jika tadi tidak ada bapak yang berdiri tegak seperti gunung di belakang kami tadi pasti kami sudah berpisah.

Kemudian ada lagi orang yang merangkul kami tadi. Memang awalnya aku kaget, Tuhan, karena tiba-tiba saja ia merangkul kami. Aku sempat merasa kesal sebelumnya, tetapi jika tadi ia tidak merangkul kami, mungkin kami sudah terpisah ketika mereka semua melompat-lompat dengan terlalu bersemangat.

Dan, oh ya Tuhan Yesus, sebelum aku lupa. Terima kasih juga untuk orang yang sudah berbaik hati untuk mengingatkan aku supaya aku berhati-hati dengan tasku. Memang peringatan itu sebenarnya salah. Tetapi Tuhan, Engkau mengingatkan aku, bahwa di negara ini yang aku kira sangat individualis ternyata lebih bersahabat daripada orang-orang di negaraku sendiri. T

uhan pasti sangat mengerti, bahwa di negaraku itu, kalau tidak kenal dekat maka orang-orang pasti akan berpura-pura tidak melihat terhadap kemalangan orang lain. Intinya, Tuhan Yesus, terima kasih untuk hari ini yang indah ini. Selamat malam dan selamat tidur Tuhan Yesus. Amin.”

Jumat, 24 Februari 2006

Note: I always want to thank you those three persons above (although I change the story a little bit by giving some background). I wish, I can thanks those person directly. However, I believe that Lord Jesus will help me. And once again thank you Lord Jesus for protecting me that time. What will I be without You?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s