Kisah Geraldine

Pada umumnya dongeng bercerita tentang raja, ratu, putri dan pangeran. Seperti halnya dongeng-dongeng lainnya, maka kisah ini juga mengenai seorang raja dan kerajaannya.

Di suatu tempat, terdapat sebuah kerajaan yang sangat besar dan megah. Raja yang memerintah kerajaan itu sangat disegani rakyatnya. Ia memerintah dengan adil, bijaksana, dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Bahkan raja ini mengenal rakyatnya satu persatu, tak peduli menteri, bangsawan, ataupun hanya petani biasa semuanya dikenalnya.

Selain itu, jika ada keluhan atau permohonan dari rakyatnya, sang Raja akan selalu mendengarkan. Menceritakan kerajaan ini akan menghabiskan satu hari sendiri (dan kita tidak mempunyai waktu sebanyak itu). Karena itu sekarang kita berpindah ke suatu tempat jauh di luar wilayah kerajaan tersebut.

Daerah ini sama sekali tidak mengenal kerajaan tersebut. Bahkan orang-orang di daerah ini tidak pernah tahu bahwa ada kerajaan ini.

Di tempat tersebut tinggallah seorang petani yang bernama Thompson dengan putrinya Geraldine yang baru berusia sepuluh tahun. Setiap akhir tahun, Thompson selalu pergi ke kota terdekat untuk menjual hasil pertaniannya sekaligus membeli barang-barang keperluannya.

Hari itu, Thompson bersiap-siap untuk berangkat ke kota. Semuanya telah disimpan ke atas gerobak. Bekal selama perjalanan juga sudah dibawa. Thompson berpamitan kepada putrinya.

“Geraldine, papa akan berangkat sekarang. Hati-hatilah menjaga rumah. Apa oleh-oleh yang diminta untuk kali ini?”

Maka Geraldine menjawab, “Papa, jangan khawatir, aku akan merawat dan menjaga rumah dan tanah pertanian ini seperti biasanya. Papa juga harus berhati-hati selama perjalanannya. Untuk kali ini, aku ingin meminta buku yang bercerita tentang sejarah. Buku yang bercerita tentang harapan masa depan. Buku yang bercerita tentang tokoh paling agung di dunia ini.”

Sesampainya di kota, Thompson dapat segera menyelesaikan semua urusannya dengan segera. Hanya saja ia kesulitan ketika hendak mencari buku yang diminta Geraldine.

Ketika itu buku sangat mahal harganya, sedangkan Geraldine memesan begitu banyak buku. Thompson bingung. Ia berjalan berkeliling pasar untuk mencari buku-buku yang dimaksud. Tetap saja tidak ada buku yang bisa dibeli.

Akhirnya Thompson nekad, ia mulai memasuki setiap toko buku yang ada di kota tersebut. Padahal toko buku menjual buku dengan lebih mahal lagi. Akhirnya, Thompson sampai di toko terakhir. Thompson masuk dan melihat sekeliling.

Setiap buku di toko tersebut disusun berdasarkan kriteria tertentu. Dengan segera, Thompson melihat bahwa ada satu buku yang sama pada setiap kriteria. Buku itu ditemukan pada bagian tokoh-tokoh dunia. Buku itu pada bagian sejarah. Buku itu ditemukan pada bagian pengajaran. Buku itu pada bagian pedoman. Buku itu juga ditemukan pada bagian harapan-harapan masa depan.

Setelah mengetahui bahwa ternyata buku itu tidak mahal, Thompson segera membelinya. Dengan hati gembira Thompson pulang ke rumahnya.

Buku itu menjadi hadiah yang sangat berharga untuk putrinya. Geraldine menghabiskan waktu tiga tahun untuk membaca buku tersebut. Ketika selesai membaca buku tersebut, ia mendatangi ayahnya.

“Papa, aku telah selesai membaca buku tersebut. Di dalam buku itu diceritakan mengenai sebuah kerajaan yang abadi. Aku ingin mencari kerajaan itu, Papa. Tolong ijinkanlah aku untuk pergi mencari kerajaan tersebut.”

Thompson terkejut mendengar permintaan Geraldine. Ia tidak tega untuk berpisah dengan Geraldine putrinya. Karena itulah ia berkata bahwa ia akan mengijinkan Geraldine pergi jika ia sudah berusia tujuh belas tahun.

Tahun-tahun berlalu. Tanpa terasa ulang tahun Geraldine yang ke tujuh belas tiba. Mau tidak mau Thompson harus memenuhi janji yang diucapkannya dulu.

Geraldine memulai perjalanannya mencari kerajaan yang abadi tersebut. Ia mencari kerajaan itu sampai dimana-mana tetapi masih tidak kunjung berhasil juga.

Hingga suatu hari ketika Geraldine yang kelelahan beristirahat di pinggir jalan, ia melihat seorang nenek yang berjalan tertatih-tatih memikul jerami di punggungnya.

Geraldine segera berdiri dan menolong nenek tersebut. Ia membantu membawakan jerami nenek tersebut sampai kekota berikutnya dimana nenek tersebut dapat menjual jerami yang telah dikumpulkannya.

“Terima kasih, cucu benar-benar baik hati. Sebagai ungkapan terima kasih, nenek akan menjawab satu pertanyaanmu. Bertanyalah tentang apa saja. Hanya saja sebaiknya itu adalah pertanyaan yang bijaksana karena aku hanya akan menjawab satu pertanyaan saja.”

Geraldine berpikir sejenak, kemudian dengan segera ia bertanya. “Nenek, dimanakah letak kerajaan yang abadi yang tertulis dalam buku yang pernah aku baca dahulu? Aku telah mencarinya kemana-mana tetapi tidak juga aku jumpai. Akan sangat senang sekali aku jika nenek dapat memberitahu letaknya.”

“Bagus .. bagus.. Pertanyaan yang sungguh bagus. Jadi cucu sedang mencari kerajaan tersebut. Letak kerajaan itu sangat mudah dicari.

‘Carilah raja maka kerajaan ditemukan

Jagalah hati supaya putih selalu

Biarlah rohmu yang menghadap raja

Dan terakhir, mintalah supaya raja mengundangmu’

Sebaiknya, engkau bersiap-siap berangkat supaya tidak kemalaman di jalan. Berhati-hatilah di jalan, cucuku.”

Geraldine tidak mengerti ucapan nenek tersebut. Sepanjang perjalanan ia terus mengulang kata-kata nenek tersebut. Hanya saja semuanya tidak memberi petunjuk apapun mengenai letak kerajaan tersebut.

“Aku tidak mengerti maksud nenek tersebut, tetapi lebih baik aku ikuti saja sebagian dari kata-kata nenek itu yang aku mengerti. Menjaga hati supaya tetap putih, maksudnya mungkin adalah berbuat baik. Kemudian selalu meminta kepada raja untuk mengundangku”,

kata Geraldine dalam hati. Sejak saat itu, Geraldine selalu membantu siapa saja yang dijumpainya di perjalanan. Ia juga tidak pernah mengeluh seberat apapun perjalanan yang ditempuhnya.

Selain itu, Geraldine juga selalu meminta dalam hati, supaya raja mau mengundangnya. Geraldine terus berjalan hingga tanpa sadar ia tiba di suatu tempat yang sangat subur.

Penduduk disitu hidup serba berkecukupan. Geraldine bertanya kepada salah satu penduduk yang dijumpai disitu apakah mereka mengetahui letak kerajaan yang dicarinya.

Penduduk itu menyuruh Geraldine pergi ke pondok penjaga hutan. Karena penjaga hutan telah mendatangi berbagai tempat, jadi mungkin saja penjaga hutan mengetahui letak kerajaan tersebut.

Hari telah larut, ketika Geraldine menemukan pondok penjaga hutan. Asap mengepul keluar dari cerobong pondok tersebut. Dengan takut-takut, Geraldine mengetok pintu pondok tersebut.

Tidak lama kemudian pintu tersebut terbuka. Penjaga hutan berdiri di hadapan Geraldine. Ia adalah orang tinggi besar. Geraldine sampai harus mendongakan kepalanya supaya dapat melihat wajah penjaga hutan.

Selaras senapan siap ditangannya. Matanya yang besar memandang tajam, mengamati Geraldine. Ketika ia berbicara, suaranya dalam dan berat. Bagi Geraldine, suara penjaga hutan tersebut terdengar seperti debur ombak samudera di tepi pantai.

“Hm, satu lagi anak yang tersesat. Masuklah. Aku tidak mempunyai banyak. Tetapi kamu dapat duduk dekat perapian untuk menghangatkan badan dan ada sedikit sup untukmu”, kata penjaga hutan sambil membuka pintu lebar mempersilahkan Geraldine masuk.

Setelah menyantap semangkuk sup hangat, Geraldine merasa segar kembali.

Ia segera bertanya kepada penjaga hutan. “Pak, apakah Bapak tahu letak kerajaan yang abadi yang terdapat di dalam buku? Menurut penduduk di kota, Bapak, telah mendatangi banyak tempat. Jadi mungkin saja, Bapak, tahu letak kerajaan tersebut.”

“Aku tahu letak kerajaan tersebut. Tinggallah di sini selama sebulan. Maka aku akan membawamu ke tempat kerajaan tersebut berada”, kata penjaga hutan. Mulai saat itu, Geraldine tinggal di pondok penjaga hutan. Ia membersihkan pondok tersebut dan memasak untuk penjaga hutan setiap hari. Pada hari yang ketiga puluh, Geraldine menghadap penjaga hutan, memintanya untuk mengantarkan ia ke tempat kerajaan yang dicarinya.

Tetapi ternyata penjaga hutan justru berkata, “Maaf, aku tidak dapat mengantarmu ke kerajaan tersebut, ada urusan lain yang harus aku kerjakan. Pergilah temuilah, pertapa yang tinggal di puncak gunung itu. Mungkin ia dapat membantumu.”

Walaupun merasa kecewa, Geraldine tidak berkecil hati. Ia segera meninggalkan pondok penjaga hutan dan pergi mencari pertapa yang dimaksud penjaga hutan.

Perjalanan Geraldine mencari pertapa tersebut tidaklah mudah. Ia harus mendaki gunung yang terjal dan memasuki hutan yang gelap. Setelah berhari-hari barulah Geraldine dapat menemukan pertapa yang dimaksud.

Pertapa itu adalah seseorang yang sangat tua. Wajahnya penuh dengan keriput menandakan usianya. Jenggotnya tumbuh panjang sekali hingga semata kaki. Rambut dan janggutnya berwarna putih. Pakaian yang dikenakannya juga berwarna putih. Punggungnya sudah membungkuk.

Ketika ia melihat Geraldine, ia melambaikan tangannya meminta Geraldine datang mendekat. Ketika Geraldine sudah berdiri di hadapannya, pertapa mengamati Geraldine dengan teliti.

“Aku tahu, engkau sedang mencari letak kerajaan itu. Tetapi aku merasa bahwa kamu masih kurang percaya dengan raja yang memerintah kerajaan tersebut. Selain itu, engkau masih kurang berusaha selama ini. Karena itu, aku tidak dapat membawamu ke kerajaan tersebut. Kembali lagi kemari, jika engkau sudah siap”, kata pertapa itu langsung.

Geraldine terkejut mendengar kata-kata pertapa tersebut. Setelah rasa terkejutnya hilang, Geraldine menjadi marah. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan bahwa aku kurang percaya? Jika aku tidak percaya untuk apakah aku bersusah payah selama ini?

Aku sudah berusaha mencari ke dalam hati, menjaga supaya hatiku tetap putih, bahkan aku sudah percaya kepada raja yang tidak pernah aku lihat. Lalu sekarang di depanku ada seseorang yang mengatakan bahwa aku masih belum percaya dan kurang percaya.

Huh, apa yang pertapa ini ketahui. Tanpa berpamitan, Geraldine langsung berbalik meninggalkan pertapa tersebut. Geraldine masih sangat marah dengan pertapa tersebut.

Geraldine juga menjadi patah semangat dalam mencari kerajaan tersebut. Ia memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya. Baiklah sekarang kita tinggalkan dulu Geraldine yang telah putus asa mencari kerajaan yang abadi.

Sekarang kita kembali kepada kerajaan yang abadi dan rajanya yang bijakasana. Pada suatu hari, raja tersebut mendapat laporan bahwa ada seseorang yang mencari kerajaan tersebut namun kini telah berhenti karena putus asa.

Raja sangat prihatin dan bersedih mendengarnya, karena raja selalu menerima siapa saja yang ingin masuk dan menetap di dalam kerajaannya. Raja juga mendapat laporan bagaimana orang itu telah berjuang untuk mencari kerajaannya. Apa saja yang telah dilakukannya, semuanya diketahui raja.

Segera saja, raja memerintahkan perdana menteri untuk mengirim utusan mendatangi orang yang putus asa tersebut. Mengundangnya untuk menemui raja. Utusan yang dikirim segera berangkat menemui orang tersebut. Sementara raja memerintahkan semua orang di kerajaannya bersiap untuk menyambut kedatangan orang tersebut.

Setelah sampai disini, tentu kalian sudah dapat menebak siapakah yang orang yang diundang raja bukan? Ayolah, aku tahu bahwa kalian hanya berpura-pura tidak tahu. Baiklah sekarang kita melanjutkan kembali kisah ini.

Utusan itu terbang dan dalam sekejab saja ia tiba di tempat orang yang putus asa tersebut. Ia segera mengetuk pintu.

Geraldine dan Thompson, ayahnya, tengah makan siang ketika mendengar bahwa ada seseorang yang mengetuk pintu. Thompson bangkit dan membukakan pintu.

Di pintu tersebut berdiri seorang yang sangat gagah dan tampan. Tubuhnya tinggi besar. Ia berpakaian putih. Sepasang sayap berwarna putih tampak dari balik punggungnya. Ada sinar keemasan memancar dari sekujur tubuh orang tersebut.

Thompson ketakutan, dan karena sinar yang memancar tersebut. Ia tidak dapat melihat dengan jelas siapakah tamunya yang mengetuk pintu itu.

Jangan takut, Thompson. Aku datang untuk menyampaikan undangan kepada putrimu, Geraldine. Ia diundang oleh raja kami, raja kerajaan abadi. Jika mau, Geraldine, dapat berangkat sekarang juga bersama denganku untuk mempersiapkan diri”, kata utusan tersebut.

Baik Geraldine maupun Thompson tidak percaya mendengar kata-kata utusan tersebut.

Tetapi akhirnya Thompson berkata kepada Geraldine. “Anakku, dulu kamu telah bersusah-payah mencari kerajaan abadi tersebut. Kamu sangat mempercayai kerajaan yang tidak pernah kita ketahui itu. Kini raja kerajaan tersebut mengundangmu. Tidak ada ruginya jika kamu mempercayai kerajaan abadi dan rajanya sekali lagi.”

Geraldine mendengarkan ucapan ayahnya. Ia segera mempersiapkan dirinya. Bersama dengan utusan raja kerajaan abadi, Geraldine terbang.

“Geraldine, sebelum memasuki kerajaan abadi, aku akan membawamu kesuatu tempat dahulu. Karena tidak ada orang yang dapat memasuki kerajaan tersebut tanpa mendatangi tempat tersebut dahulu.”

Utusan itu membawa Geraldine ke dalam hutan yang sangat gelap. Pohon-pohon di dalam hutan tumbuh tinggi dan rapat sekali sehingga sinar matahari tidak dapat masuk. Geraldine merasa sedikit takut. Ia tidak pernah masuk kedalam hutan yang seperti ini.

Rasanya ada ribuan bahaya yang mengancam. Ingin rasanya Geraldine berbalik dan berlari meninggalkan hutan yang menyeramkan ini. Namun utusan tersebut berjalan dengan tenang. Ia terus membimbing Geraldine masuk ke dalam hutan tersebut.

Akhirnya mereka berdua tiba di sebuah mata air. Mata air itu jernih sekali. Geraldine bisa melihat dasarnya dengan jelas sekali. Dan meskipun hutan tersebut gelap, namun ada cahaya yang memancar dari mata air tersebut.

“Masuklah ke dalam mata air tersebut jika engkau benar-benar ingin memasuki kerajaan abadi dan bertemu dengan raja. Engkau telah melakukan semua syarat-syarat yang ada. Mencari ke dalam hati, menjaga hati yang putih, dan percaya kepada raja kami. Kini masuk dan basuhlah dirimu di dalam kolam ini”, kata utusan itu kepada Geraldine.

Dengan ragu-ragu, Geraldine memasuki mata air tersebut. Ia menatap utusan raja. Utusan raja tersenyum memberi dukungan. Kemudian Geraldine melangkah mantap masuk ke dalam mata air. Utusan raja, menanti dengan sabar di pinggir mata air.

Geraldine merasa bahwa cahaya dari kolam tersebut menyelimuti dirinya. Setelah beberapa saat, Geraldine keluar dari mata air tersebut. Anehnya pakaian Geraldine tetap kering setelah keluar dari mata air.

Selain itu, Geraldine merasa bahwa dirinya terasa lebih ringan ketika keluar dari mata air. Ketika Geraldine melihat ke dalam mata air tersebut, ia melihat ada bayangan hitam terdapat di permukaan mata air yang jernih tersebut. Perlahan-lahan bayangan hitam itu memudar dan mata air itu menjadi jernih kembali. Seakan tahu apa yang dipikirkan Geraldine, utusan raja segera mendekat Geraldine dan menjelaskan.

“Itu tadi adalah semua kesalahan yang telah engkau selama ini. Tentunya tubuhmu terasa lebih ringan sekarang setelah semua kesalahan masa lalumu dibersihkan di dalam mata air ini. Sekarang kita siap menemui raja.”

“Tunggu!” kata Geraldine. “Mengapa sekarang aku melihat bahwa hutan ini tidak lagi menakutkan. Terang dan semuanya tampak begitu damai? Dan … apakah itu??? Oh, apakah itu adalah jalan menuju kerajaan abadi???”

Di hadapan terbentang jalan yang dialasi dengan rumput-rumput yang nyaman sekali diinjak. Di pinggir jalan tersbut tampak bunga-bungan dari berbagai macam jenis yang beraneka warna dan memancarkan wangi harum semerbak. Selain itu di ujung jalan tampak, samar-samar tampak istana yang megah sekali. Berhiaskan batu permata dan emas.

Utusan itu tersenyum. “Hutan ini tampak berubah karena dirimu juga sudah berubah, Geraldine. Dirimu sekarang telah dilahirkan kembali, karena mata air itu bernama, mata air kelahiran kembali. Dan benar sekali, itu adalah jalan menuju kerajaan abadi. Sekarang engkau sudah siap, Geraldine. Mari kita menuju kesana. Raja dan setiap orang disana tentu akan bahagia sekali menyambutmu.”

“Mengapa selama ini aku tidak dapat menemukan kerajaan tersebut??”, tanya Geraldine kembali.

Ia masih sukar untuk mempercayai, bahwa akhirnya ia telah menemukan kerajaan dan rajanya.

Maka utusan itu bernyanyi:‘Carilah raja maka kerajaan ditemukanJagalah hati supaya putih selalu Biarlah rohmu yang menghadap rajaDan terakhir, mintalah supaya raja mengundangmu’

Itu adalah lagu yang sama dengan yang pernah dinyanyikan nenek yang dahulu pernah ditolong Geraldine. Akhirnya Geraldine ikut bernyanyi bersama dengan utusan tersebut. Mereka berdua bernyanyi sambil menyusuri jalan menuju kerajaan abadi.

Perlahan-lahan Geraldine menjadi mengerti. Arti dari lagu tersebut.

Pertama-tama mencari raja maka kerajaan ditemukan. Geraldine mencari raja kerajaan abadi melalui buku yang dibacanya.

Kedua ia harus selalu berbuat baik, bertindak sesuai dengan yang diajarkan dalam buku yang dibacanya.

Ketiga, ketika ia belum mengenal raja dan kerajaan abadi, ternyata dalam rohnya dan alam bahwa sadarnya telah lebih dahulu mengenal raja tersebut. Maka akan lebih mudah untuk mencari raja melalui rohnya.

Dan terakhir yang keempat, Semua usahanya tetap akan sia-sia jika raja tidak tergerak hatinya untuk mengundang Geraldine masuk ke dalam kerajaannya.

Dan seperti cerita dongeng yang lain. Sekarang Geraldine hidup bahagia di dalam kerajaan abadi. Terkadang ia pulang untuk mengunjungi Thompson dan membujuknya supaya pindah ke kerajaan abadi.

— Tamat —

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” Lukas 6:36.“Tidak ada seorang pun yang datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakan kepadanya” Yoh 6:65. “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah” Yoh 3:3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s