Don’t Judge the Book By Its Cover

Seberapa sering Anda memutuskan untuk membeli sesuatu berdasarkan kemasan? Aku sering sekali melakukannya (terutama buku yang masih terbungkus plastic) Aku memutuskan untuk membeli buku berdasarkan cover dan ringkasan di halaman buku yang paling belakang (apalagi kalau komik) Padahal sering kali aku menyadari (telat sih) kalau buku yang covernya bagus belum tentu bagus ceritanya dan buku yang covernya tidak menarik kadang justru bagus sekali ceritanya. Berdasarkan pengalaman beberapa teman, keluarga dan aku sendiri juga sering kali dinilai berdasarkan “cover” ini.

Kenapa kalau suka pakai rok langsung dilabel feminim? Seseorang mengatakan dia selalu pakai rok karena supaya duduknya tidak bersila ketika di kantor. Kalau dia pakai celana pasti langsung bersila.

Kenapa wanita yang sehari-hari tampak lembut dan lemah dianggap lebih tidak berdaya, daripada wanita yang sehari-hari tampak tegar? Padahal ada temen yang tampak tegar dan tomboy tapi pasti “bocor” kalau nonton film sedih. Ada lagi temen yang tampak lembut tapi hobi film perang dan jarang menangis.Banyak loh orang yang tampang garang tapi hati rinto di dunia ini.

Kenapa orang gemuk selalu dicap banyak makan? Seorang kenalan yang badannya sedikit “gemuk” makannya hampir seperempat dari porsi makanku.

Kenapa kalau suka menghitung mana penawaran yang termurah dan menguntungkan langsung dituding “pelit”? Padahal karena ada orang-orang seperti mereka maka aku bisa tahu mana investasi yang paling bagus. Kalau tidak sudah rugi dari dulu-dulu kali.

Kenapa kalau sudah jadi anak Tuhan lama tapi masih hidup susah sering dicap masih “belum benar” jalannya? Padahal Ayub saja sempat jatuh miskin lama banget. Jalan hidup Ayub tak bercacat tuh dimata Tuhan.

Kenapa kalau belum bisa bahasa roh dianggap masih ada kurang? Apa pernah tertulis di alkitab itu wajib bisa?

Kenapa kalau berdoa harus panjang-panjang dengan bahasa yang indah? Orang yang doanya pendek dan gak puitis ditertawakan. Padahal emang dari sononya, orangnya pendiam dan gak puitis.

Kenapa kalau memutuskan untuk pindah agama langsung dicap durhaka? Seseorang sudah pernah mengalaminya waktu neneknya meninggal. Dia tidak mau berdoa dengan hio, langsung dicap durhaka pada nenek moyang oleh pengurus kelenteng.

Kenapa kalau wanita suka berdandan dianggap ada yang lagi di”incar”? Padahal banyak wanita yang berdandan untuk dirinya sendiri loh. Banyak wanita yang memang suka tampil “WAH” hanya karena suka dan bukan karena ada yang di”incar”.

Kenapa kalau nikah setelah lulus SMA langsung dibisikin “MBA” kali. Kalau emang yakin dan siap nikah muda apa salahnya? Ibu seorang kenalan masih muda padahal anak2nya sudah kerja semua jadi dia bisa jalan-jalan. Teman ibu itu yang seusia, anaknya masih kecil-kecil dan tidak bisa jalan-jalan seenaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s