My Trip – Frankfurt (1)

Mungkin seharusnya aku nulis ini waktu masih fresh pengalamannya. Sekarang setelah satu bulan lebih sudah banyak hal yang lupa. Perasaan ‘first time’ juga sudah berkurang.

Aku ke frankfurt awal Desember 2007 lalu selama kurang lebih 10 hari. Sebelumnya jadwalku ke frankfurt adalah akhir November, tapi karena ada perubahan jadwal akhirnya aku berangkat awal Desember (mundur satu minggu). Ini adalah pengalamanku ke Eropa yang pertama kalinya. Sempet bikin heboh satu rumah juga karena menurut orang suhu musim dingin sudah mencapai 2 derajat. Untuk orang tropis yang suhu pakai AC dalam ruangan 20 derajat sudah kedinginan itu berita menyedihkan. Stock-stock perlengkapan musim dingin dari jaman kuliah di Sydney dulu juga sudah banyak yang terbuang😦. Akhirnya berhasil jg minjam satu coat yang anget punya sepupu. Susun koper saja memakan waktu 1 minggu lebih. Bongkar – susun – bongkar – susun. Tiap orang berusaha menambahkan barang yang mereka anggap penting. Sempet bikin bt, tapi itu tandanya mereka care dan sayang sama aku ‘kan? Thanks God for this.

Berangkat ke Frankfurt naik Lufthansa; dapat class economy karena business full. Jangankan TKW berangkat ke luar negeri, aku juga diantar satu keluarga lengkap plus tambahan sepupu dll. Aduh waktu mau berangkat dulu mikirin oleh2 yang harus dibeli saja sudah cukup untuk membuat sakit kepala. Waktu terbang di class economy untung saja dapat seat paling belakang. Jadi ada sedikit ruang untuk lurusin kaki. Karena pas dapat seat yang berdua (didepan bertiga – bagian ekor pesawat yang menyempit). Kalau gak badan bisa ketekuk-tekuk waktu tidur. Ini juga adalah penerbanganku yang paling lama; selama kurang lebih 12 jam. Duh muka sudah berminyak sekali siap untuk dibakar di atas oven. Oh iya, pesawat transit di Singapur selama 1 jam dan semua penumpang harus turun dengan membawa semua cabin baggage walaupun nantinya akan naik lagi dengan pesawat yang sama ke Frankfurt.

Begitu sampai di Frankfurt masih pagi sekali. Dan aku baru tahu Simpati bisa digunakan jg di Frankfurt kalau pulsa cukup. Menurutku bandara di Frankfurt sedikit (banyak) membingungkan. Tanda-tandanya kurang jelas. Apalagi aku gak ngerti bahasa Jerman. Untung saja ketemu temen senasib yang sama bingungnya. Akhirnya kami ber2 pd saja ngikutin orang lain. Tujuannya pasti sama: ambil bagage, imigrasi, keluar dari airport. Oh iya, imigrasi disini menurutku juga kurang seramah imigrasi Sydney. Bukan berarti aku mendapat pengalaman buruk, tapi aku masih mengharapkan keramahan ala Indonesia diFrankfurt. Mungkin karena aku capek baru sampai. Beda dengan di Jakarta, disini tidak ada yang menjemput. Aku kesepian sedikit. Gak enak rasanya sendirian dan terasing dinegeri yang bener-benar asing. Untung masih ada yang bisa bahasa Inggris sedikit. Jadi aku bisa bertanya dimana letak shuttle ke hotel (ini informasi yang sudah didapat dari jakarta). Di tunggu sambil kedinginan kira-kira 30 menit baru shuttlenya datang.

Check in hotel, aku kena culture shock lagi. Petugas hotel complain kenapa baru datang Desember, padahal sudah booking dari tanggal November lalu. Dalam hati aku ngedumel, “Bukan salahku donk. Ini kan salah sekreataris kantor. Why me?” Tapi tetap saja harus menjawab baik2. Hotel disini beda dengan di Indonesia. Kalau di Indonesia tidak perlu hotel bintang 5 jga selalu ada bellboy yang bisa bantu ngangkatin koper. Disini harus membawa sendiri koper kekamar. Tetapi finally aku sampai juga dikamar. Mulai deh bongkar-bongkar koper persiapan untuk tinggal selama 10 hari. Dan arghhhhhhhh …………………. Bad NEWS waktu mau mandi baru aku sadar ternyata sabun mandi yang aku bw tumpah dan hampir semua underwearku kena. Mau nangis rasanya. Udah capek, belum cukup tidur, lapar, masih harus nyuci underwear lagi. Bodyshop ternyata kemasanmu tidak sebagus yang aku kira — sekarang aku anti dengan product strawberrymu. Selesai mandi baru aku ditelpon sama T, yang juga lagi dikirim ke Frankfurt. Oh…. dia baru bangun dan lupa jemput aku dibandara. Akhirnya kami bertemu di lobby hotel dan sarapan bareng. Karena lapar, rasanya sarapan enak-enak. Teh di Frankfurt jg enak2. Aneka rasa, sesuatu yang jarang ada di Indonesia.

Setelah sarapan baru kami ke kantor… Kantor dan hotel cuma berseberangan. Ini adalah perjalanan kerja paling dekat. Honestly, yang datang kerja cuma badan aja….. masih capek banget dan jetlag. Diajarin T cara connect internet dan nelpon ke Indo. Biaya nelpon indo dari Jerman dengan Voipwise lebih murah daripada nelpon pakai simpati di Indonesia. Tapi aku gak berhasil nelpon rumah. Mereka tidak bisa mendengar suaraku. sedih deh. Padahal aku bs mendengar suara mama.😦

Ada workshop dengan D (orang yang honeymoon aku ganggu di Bali), T, dan K (tambahan baru untuk tim kami) cuma bertahan sampai jam 2 plus makan siang. Asli gak konsen. workshop selesai aku ditinggalin untuk kerja sendiri. Udah gak bs chat dengan Jakarta lagi karena waktu di Frankfurt lebih lambat 6 jam. Jadi aku bekerja semampu yang aku bisa dan kirim email saja ke teman kantor di Jakarta.

Jam 6-an aku diajak jalan oleh T kebetulan dia masih ada batas waktu rental car. Ke supermarket murah dan aku beli coklat dikit persiapan oleh2. Trus nuker uang dan akhirnya ke Haupwache (aku baru tau namanya berhari2 kemudian. Aku selalu menyebutnya city sama seperti di Sydney yang menyebut pusat kota adalah city dan nama daerah lain berdasarkan nama suburbannya). Aku baru tahu di frankfurt ini daerahnya dinamain perwilayah, mungkin sedikit mirip dengan kota, tanah abang dll. Di haupwache mampir ke Christmarket Market – mirip dengan pasar malam — tapi hanya ada waktu christmas aja. Dengan segala macam pernik khas Natal di Frankfurt. Ada hiasanya pohon natal, komedi putar, kue khas jerman waktu natal, dll. As usual ada juga kedai makanan dan minuman. Kami mampir di satu stand yang namanya kalau diterjemahkan kira2 swing hotdog. Lalu kami berdua makan hotdog. Aduh baru kali itu aku makan sosis yang ukurannya kira2 30cm dan diameter 3-4 cm. Rasanya sih sama dengan sosis di indonesia. Cuma ukurannya aja yang luar biasa untuk aku yang baru datang di Frankfurt. Aku gak abis makannya. Kenyang banget ….. Mampir juga ke jembatan dan ngeliat tanda batas banjir yang pernah melanda Frankfurt. Sayang kamera ketinggalan jadi gak bisa foto-foto.

Aku diajak muter2 sampai hampir jam 11 malam balik hotel. Badan udah capek banget. T menunjukkan semua daerah yang khas Frankfurt tapi jujur sampai sekarang aku gak ingat apa saja — nama daerah dan tempat pakai bahasa Jerman yang sampai seakrang saja masih asing di kuping. Yang aku ingat cuma dingin dan ngantuk banget, karena badankku masih badan indonesia jadi rasanya udah dini hari atau ampir pagi lagi menurut waktu jakarta. Pengennya sih dari jam 6 sore waktu Frankfurt tadi udah balik hotel dan tidur ….. Tapi kalau gak dipaksa jalan dan langsung tidur, jetlagnya bisa gak sembuh2. Harus segera menyesuaikan diri dengan waktu di Frankfurt. Akhirnya ternyata aku survive satu hari di Frankfurt. Dan ternyata aku bs bertahan dengan winter di Frankfurt. Masih mirip dengan cuaca di Sydney sih.

To be continue……

1 | 2 | 3 | 4 | 5

One response to “My Trip – Frankfurt (1)

  1. Salam kenal, saya Sheila mahasiswa akhir President University.
    Mohon bantuan untuk mengisi kuesioner mengenai Lufthansa pada link dibawah ini .Terima kasih atas partisipasinya.

    https://docs.google.com/forms/d/1TSw-fTphAwafQOW8IPwVwFDBO-pA4DGWATbApMDiKaA/viewform

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s