My Trip – Frankfurt (2)

Kapan pun, dan dimana pun masa-masa pertama yang paling gak enak. Pegawai baru, kelas baru, pindah rumah, dll Di Frankfurt jg sama. Setelah tidur semalam, capek badan semua ilang rasanya aku sudah bukan amatir di Frankfurt (hanya perasaan saja). Bangun langsung doa dulu trus cek underwear sapa tau udah kering baru deh mandi. Selesai mandi sambil dandan nyalain TV, ternyata masih ada juga TV bahasa inggris. Ada CNN dan satu acara film seperti HBO. Yang lainnya bahasa Jerman dan film saja di dubbing ke Jerman :((. Setelah itu ketemu dengan T lagi di lobby dan sarapan. Sarapan masih sama dengan yang kemarin dan baru hari ini aku sadar bad news yang lain. Hotel ini selalu menyediakan sarapan yang sama. Aku mulai membayangkan rasanya makan makanan yang sama setiap hari selama 2 minggu. Ugggghhh … bukan prospek yang bagus nih.

Selesai makan ke kantor, trus chat dengan teman kantor soal kerjaan dan diskusi. Seperti yang aku katakan sebelumnya, setelah hari pertama rasannya aku sudah biasa bekerja di Frankfurt. Dan karena tak ada yang istimewa, kali ini aku hanya mau menuliskan apa yang berbeda antara Frankfurt dan Indonesia.

Yang pertama adalah langit di Frankfurt bersih sekali dan biru sekali hampir tanpa awan,. Udara juga bersih sekali. Aku suka sekali disini. Apalagi kantor di Raunheim adalah daerah yang sepi dan bukan daerah padat atau sering dilalui mobil. Rasanya tidak ada polusi sama sekali, ohh I really love it. Dan lagi enaknya aku cuma butuh waktu kurang dari 5 menit untuk sampai ke kantor karena hotel yang letaknya diseberang kantor.

Yang kedua adalah majunya kantor disini. Bayangin aja employee id tag ada chipnya – jadi mirip dengan kartu telpon chip jaman SMA dulu. Bisa dipakai untuk buka pintu dan beli makan di kantin. Jadi kalau jam makan siang dikantin ada antrian orang di depan mesin mirip atm untuk check balance di kartu masih ada berapa atau untuk nambah uang ke dalam kartu. Dan mereka juga tahu apa itu antri. Gak ada yang coba-coba nyela di barisan (mungkin aku jg belum ketemu dgn yang kurang ajar sih). Sedangkan kartu ID ku di jakarta hanya kartu ID aja. Untuk keluar masuk kantor pakai kunci lagi dan gak ada kegunaan lainnya lagi😦

Yang ketiga adalah efektifnya produktifitas kerja orang sini. Bayangin aja OB kantorku ada kira2 5 orang, tapi rasanya tetap aja berantakan dan pring kotor numpuk. Sedangkan kantor di Frankfurt cuma ada 1 orang yang bersih2 tiap sore, tapi aku gak pernah ngeliat piring kotor numpuk dan sampah yang belum dibuang. Di resto jg sama, yang ngelayanin dikit tapi semua orang merasa enak. Di jakarta pelayan resto banyak tapi ada saja yang kelewatan. Tapi mungkin tidak produktif ini adalah ciri khas Indonesia.

Yang keempat adalah orang-orang disini rasanya benar2 tidak mencampuri urusan orang lain. Jarang sekali ada percakapan yang bersifat pribadi. Mungkin ini juga sudah sedikit teradaptasi di Jakarta. Jarang sekali ada percakapan tentang hal pribadi di kantor kecuali antar sahabat di kantor.

Itu saja sih yang aku masih aku ingat tentang hal yang berbeda dengan Indonesia. Hari ke4 di Frankfurt aku diajak lagi oleh D dan K (sebenarnya K gak mau ikut… dia sudah muak dengan christmas market. Tapi dia terpaksa ikut karena memang tinggal disekitar christmas market ini) ke Christmas Market di Am Main (bener gak yah nulis nama kotanya). Pergi kesini dengan naik kereta api. Beli tiket dimesin tiket (bukan aku yang beli tapi D dan T). Sedikit berbeda dengan yang di Haupwache. Disini dikelilingi dengan nuansa kota tua yang masih asli jadi dengan sedikit imaginasi bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup dimasa dulu.

D membelikan sesuatu yang katanya special Jerman untuk aku dan T. and Guess what??? Sesuatu yang khas Jerman itu adalah P..R..E..T…Z..E…L. Ternyata pretzel dari Jerman dan mereka menyebutnya bretzel (kalau gak salah denger). Dan pretzel disini di tabur butiran garam yang besar2. Jadi untuk aku yang kurang suka asin harus rajin2 nyopotin dulu garamnya baru bisa dimakan. Trus ada lagi kacang yang entah apa namanya. Rasanya enak, mirip dengan kacang yang dijual di supermarket Rejeki dulu. Masalah special, aku ingat kalau ada jg sup gulach atau apa namanya. Enak tapi asin😦 (makan di Frankfurt cenderung asin) Secara garis besar christmas marketnya sama saja yang dengan yang di Haupwache. Aku mau membeli Nutcracker – itu loh boneka yang ada di buku dongeng the nutcracker. Tapi harganya mahal banget, batal deh….😦

Oh iya D juga mengenalkan minuman khas christmas Market: blue wine. Enak banget yang satu ini. Intinya sih wine yang dihangatkan dicampur rempah-rempah. Pas banget untuk udara dingin, bikin tubuh hangat sekali setelah minum. Cuma sayangnya kadar alkoholnya lumayan tinggi, kepalaku sedikit pusing setelah minum. Seperti itukah rasanya mabuk??? Minuman ini dijual dalam cangkir, cangkir ini berbeda-beda tiap stand. Kalau cangkir dikembalikan akan diberi kembalian (entah berapa Euro karena intinya aku ditraktir), kalau mau dipulang jg boleh karena sudah termasuk harga ketika beli. Aku membawa pulang cangkir yang aku pakai untuk kenang-kenangan. (sekarang cangkirnya nongkrong manis di atas kulkas untuk cangkir minum adik🙂 )

Berempat kami makan malam pizza karena resto yang dituju sebelumnya penuh. Sedih deh, padahal restonya bagus, bekas monastery. Setelah itu pulang karena besok masih hari kerja. Di stasiun sambil menunggu kereta, aku ditunjukkan bekas kerajaan romawi. Karena gelap yang kelihatan sih cuma seonggok batu yang dipagari, nothing special deh. Nama stasiunnya saja kalau tidak salah old roman theatre. Jadi bisa dikira-kira deh onggokan batu itu dulunya apa.

to be continued …..

1 | 2 | 3 | 4 | 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s