My Trip – Frankfurt (4)

Hari Minggu, sebelum pergi aku mengikuti kebaktian di TV (persiapan jika aku tidak menemukan gereja). Aku kesal, kebaktianitu di dubbing ke bahasa Jerman jadi aku hanya bisa menebak saja. Setelah itu aku sarapan dengan semakin tidak bersemangat. Tapi aku tetap suka dengan teh di hotel🙂 Lagi-lagi naik shuttle ke airport untuk naik kereta ke Haupwache. Hari kedua naik kereta dan berkelana dan aku sudah merasa bahwa aku adalah penduduk sini yang tidak bisa berbahasa Jerman….

Ternyata pada hari minggu semua toko di Haupwache tutup. Dan karena baru jam 10.30 pagi, jadi kota masih sepi sekali. Bagaimana yah menjelaskannya, dengan gedung-gedung tinggi modern tapi minus mobil dan orang. Jadi seperti film resident evil the one survivor. Christmas market jg masih sepi sekali. Pedagangnya saja baru bersiap2 membuka stand. Pertama kali aku ke gereja St. Catherine karena ini yang paling dekat dengan setelah stasiun kereta. Didalam sedang ada kebaktian anak yang hampir selesai – dan tentunya berbahasa Jerman. Aku kedapatan berkat penutup. Pendetanya wanita. Dan ada usher yang berbaik hati untuk menerangkan padaku sejarah singkat gereja. Gereja ini adalah gereja Lutheran yang berdiri sudah ratusan tahun (aku lupa tanggal berdirinya) lalu hancur saat perang dan kemudian dibangun kembali.

Dari sana aku berjalan dan masuk ke gereja katholik yang baru akan mulai misa. aku berhasil duduk dalam gereja sampai bacaan pertama lalu keluar. Kesanku setelah sekian lama tidak ikut misa katholik adalah ternyata masih sama dengan dulu. Bahkan walaupun dalam bahasa Jerman pun aku masih dapat menebak kata2 apa yang dikatakan karena sama dengan di Indonesia atau Sydney dulu. Aku tidak ingat ada berapa gereja yang aku masuki hari minggu itu. Akhirnya sih aku tidak berhasil menemukan kebaktian atau misa dengan bahasa inggris😦 Aku juga lupa apa yang aku makan hari ini. Tapi aku senang karena aku banyak mendapat foto gereja disini.

Aku juga berhasil menemukan jembatan yang aku lihat bersama T. Memang lebih enak berjalan2 tanpa membawa beban belanjaan yang berat. Sayangnya aku harus irit2 foto, karena lupa bawa charger kamera. Lagian tidak enak jalan2 sendiri, hanya bisa foto latar saja. Dan untung aku jg tidak terlalu suka difoto. Aku juga toko souvernir. Jadi bs beli oleh standard, magnet kulkas dan piring pajangan buat dirumah. Aku ngeliat bekas peninggalan Roma lagi tapi sudah tidak jelas apa itu sebelumnya. Hanya tinggal tumpukan batu warna hitam. Sempat masuk juga ke kathedral dan foto. Sistem organnya wow… pipa2 yang keren. Sayang lagi tidak ada misa jadi tidak bisa mendengar musiknya. Aku menyukai gaya arsitektur gereja di Haupwache.

Satu hal yang membuatku sedih adalah Jerman adalah negara yang melahirkan tokoh gereja seperti Martin Luther, tapi sekarang ini sudah banyak sekali yang menjadi atheis. Mereka masih menjalankan tradisi seperti lilin advent, tapi itu hanya menjadi salah satu tradisi. Sama seperti aku merayakan imlek karena aku senang dengan keluarga berkumpul dan dinner together plus ampao🙂 Mengapa negara maju cenderung melupakan Tuhan yang telah menolong mereka untuk maju. Seperti inikah jaman menara babel dulu?

to be continue….

1 | 2 | 3 | 4 | 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s