My Trip – Frankfurt (5 – end)

Ternyata hari pulangku ke Jakarta di percepat karena booking ticket ku yang confirm – business class lagi – adalah untuk sebelum tanggal 13 Des 2007(hari rabu) bukan hari Jumat, 15 desember 2007. Untung saja aku sudah mulai menyusun koper dari hari minggu. Ternyata aku kangen Jakarta dan orang-orang rumah dan kantor. Selain itu 10 hari sudah cukup jadi penduduk minoritas yang tidak bisa bahasa Jerman dan selalu out of conversation sometime karena masalah bahasa. D tentu saja kelabakan dengan perubahan jadwal, karena berarti workshop aku harus dipercepat.

Hari terakhirku aku justru bekerja sampai jam 7 lebih (karena D ada sedikit masalah dengan pekerjaannya sampai after 3 pm). Dan sedikit bermasalah dengan urusan tiket. K dan T sering bercerita tentang urusan tiket yang di offload karena kami semua adalah pemegang tiket company (Dari sisi bisnis sih memang lebih untung memberikan tiket ke penumpang yang bayar full daripada yang membeli tiket konsesi perusahaan dengan harga discount). Apalagi tiketku kalau dari kode booking indonesia confirm tapi waktu di Frankfurt ternyata belum confirm dan tidak ada seat kosong dipesawat. Wah aku benar2 panik karena aku tidak mau tinggal satu hari lebih lama lagi di Frankfurt. Untuk sekedar informasi, bila booking confirm bukan berarti tiket tidak bermasalah, kadang data itu tidak masuk di ticketing. Dan juga lebih aman untuk memiliki paper ticket daripada eticket.

Aku ke airport diantar D dan T (T akan berakhir tahun di Jerman bersama istri dan anak). Koperku berat, mungkin aku bisa membuka toko coklat di Jakarta nanti. Aku mengucapkan terimakasih dan selamat berpisah pada mereka lalu check in. Dengan modal kertas email yang menurut K isinya adalah tidak ada masalah dengan ticketku, tapi tentu saja email itu dalam bahasa Jerman, aku check in. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, kode booking ticketku bermasalah. Menurut petugas aku tidak memiliki kode booking hari itu dan baru ada untuk hari Jumat yang confirm. Modal print-out email aku berikan dan hanya tinggal berdoa. Aku sudah berusaha max dan God do the rest. Kalau memang rencana-Nya aku pulang pasti aku dapat seat di pesawat.

Setelah petugas menelepon supervisor (dugaanku adalah supervisor karena dalam bahasa Jerman) aku mendapat ticketku dengan catatan aku harus siap-siap di offload jika penuh. Tapi untuk sekarang aku boleh bernafas lega karena ada nomor seatku. Masuk ke bagian dalam aku membeli muffin dulu karena lapar. And thanks God, akhirnya aku bertemu dengan orang Indonesia selain T. Petugas stand hagen daz nya orang Indonesia. Mereka berdua kaget, aku jg kaget dan akhirnya ngobrol deh walaupun gak saling kenal. Cukup untuk menjawab kangen bahasa Indonesia.

Setelah imigrasi ketika mau masuk aku kaget, antrian untuk pemeriksaan barang panjang banget. Untuk tiketku adalah business jadi antrianku tidak terlalu panjang. Inilah hasil sampingan dari 9/11😦 Laptop di bw pergi untuk di test mesiu. Duh… seumur hidup aku belum pernah ngeliat atau nyentuh mesiu, megang pistol juga belum pernah. Ngapain jg diperiksa. Sepatu boot karena ada logam harus dicopot dan dimasukin scanner lagi. Merepotkan. Setelah semua kerepotan selesai, aku masuk kedalam gate dan mulai menunggu dan berdoa.

Aku memperhatikan ada rombongan pedagang dari Bali yang mau kembali dari membuka stand pameran di Italia dan Jerman. Ayo maju terus Indonesia. Lalu ada jg rombongan yang entah dari departemen mana yang habis training dari Swis. Setelah itu aku panik dan berdoa lagi. Waktu akhirnya penumpang harus masuk pesawat aku sengaja masuk ke antrian paling akhir. Kalau nanti ternyata sudah ada orang di seatku, aku tinggal keluar lagi dan mengurus bagage. Ternyata belum ada orang di seatku. aku duduk dengan waswas dan belum menyimpan barang ke kabin atas. Aku mengamati setiap orang yang terlambat masuk, mungkin saja mereka adalah orang yang akan duduk di seatku ini. Ternyata hingga penumpang terakhir masuk, seatku tetap aman. Realllyyyy thank You Lord…… Dan aku menyimpan barang ke kabin dan memasang sabuk pengaman.

Kelas bisnis memang berbeda dengan ekonomi. Bangkunya nyaman, dan jarak antar bangku lebar jadi badan tidak perlu ketekuk-tekuk. Pramugari juga lebih ramah. Ada monitor untuk tiap seat. Makan malam juga disajikan berbeda dari appetizer sampai dessert. Tapi aku ketiduran saat main course. Jadi aku tidak dapat dessert. Bangku jg bisa distel hingga posisi tidur dan aku bisa tidur nyenyak kali ini.

Akhirnya aku kembali ke Jakarta dan berurusan kembali dengan macet karena air yang menggenang. Hampir dua jam dari airport sampai ke rumah, padahal biasanya 30 menit cukup. Aku harus tidur lagi karena waktu di Indo sudah malam. Dan aku harus masuk kerja besoknya karena hari ini masih hari kamis.

Anyway, thanks God for giving me this journey. I will not have it without You

– the end –

1 | 2 | 3 | 4 | 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s