Aku merasa melankolis pagi ini

Seandainya perasaan itu berputar seperti roda, maka pagi ini adalah hari ketika perasaan melankolisku berada di posisi atas. Bangun dengan perasaan tidak enak dan sedih. Ugghhh …. rasanya malas sekali untuk bangun, lebih mudah untuk tetap berselimut dan mengurung diri di kamar. Aku dapat merasakan setumpuk beban yang berat dibahuku. Rasanya ada banyak sekali yang aku sesali, banyak sekali alasan kenapa aku tidak dapat bersyukur dan berterima kasih kepada Penciptaku. Ada banyak keluh kesah yang ingin kusampaikan pada-Nya.

Mengapa mama harus masuk rumah sakit dan mengalami hal itu? Padahal banyak wanita lain yang melalui masa-masa pre-menopausenya tanpa masalah-masalah berarti? Mengapa harus hujan sederas ini tanpa berhenti? Aku tidak keberatan jika hujan hanya sebentar untuk menyapu debu kemarau dan memberi minum kepada tanaman dan sungai yang kehausan. Tetapi hujan dari malam dan tidak berhenti hingga pagi tentu tidak akan baik – banjir terbayang dibenakku. Mengapa skripsi adikku selalu tertunda – aku tahu ia telah berusaha keras untuk ini? Mengapa juga sepertinya adikku sukar sekali untuk mendapatkan pekerjaan pada masa-masa ini? Padahal sepertinya ada begitu orang yang dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang bagus. Mengapa kami bertiga masih single – kami sudah cukup usia untuk menikah? Mengapa harus ada jerawat yang ‘bermutasi’ menjadi bisul dikelopak mata kiriku? Mataku menjadi berat dan tidak enak. Belum lagi aku menjadi terkena krisis penampilan – seolah-olah ada tanduk kecil yang tumbuh dikelopak mataku. Mengapa …. Mengapa Tuhan mengijinkan semua ini terjadi? Mengapa tampaknya Ia tidak peduli?

Aku mengira perasaanku akan bertambah baik ketika aku membawa mobil sendiri ketempat kerja. Ternyata aku salah, perasaan melankolisku justru bertambah parah. Dalam mobil aku benar-benar kesepian, tidak ada yang bisa diajak bicara atau bercanda. Kucoba untuk mendengarkan lagu-lagu dari CD WOW worship yang biasanya mampu mengangkat semangatku dan membuatku kembali bersemangat. Kali ini lagu-lagu itu membuatku semakin merasa kesepian. Aku bahkan merasa ditinggalkan oleh Penciptaku. Kehadiran-Nya sama sekali tidak bisa aku rasakan.

How great is our God… Sing with me … How great is our God …”

Kucoba untuk mengikuti alunan suara Chris Thomlin. Ini adalah salah satu dari lagu worship yang paling aku sukai. Aku bahkan tidak pernah keberatan untuk mendengar lagu ini berulang-ulang sepanjang perjalanan ke kantor. Pada hari-hari biasa, lagu ini akan membuatku dekat sekali dengan Penciptaku. Tetapi pagi ini aku hanya dapat ikut bernyanyi dengan tidak bersemangat. Dalam hatiku aku berkata, “Penciptaku, tolong ijinkan aku untuk menyanyi lagu ini pagi ini – walaupun aku tidak dapat merasakan kebesaran-Mu pagi ini. Aku tidak dapat memikirkan apa yang harus kusyukuri hari ini.”

BRAKKKKK…

Oh tidak, tanpa sengaja aku menabrak mobil Avanza didepanku. Mungkin ini adalah pelengkap melankolisku pagi ini. Pengemudi mobil Avanza sudah memberi tanda, wajahnya sudah mulai kesal. Ia turun dan memeriksa mobil. Aku berkata kepada Penciptaku, “Dimanakah Engkau? Mengapa Engkau tidak menjagaku seperti janji-Mu? Lagipula, bukankah Engkau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku? Sekarang aku sendirian, apa yang harus aku lakukan?”

Kami berdua menepi, perasaanku bercampur antara melankolis, sedih, sepi dan panik. Pengemudi mobil Avanza turun dan mengecek kembali mobilnya, ajaib ternyata tidak ada yang lecet atau penyok. Ia menghampiriku, aku menurunkan kaca mobil. Ia bertanya mengapa menabraknya. Aku hanya menjawab, “Maaf, saya sedang banyak pikiran, Pak.” Aku kira ia akan memperpanjang masalah ini, ternyata tidak. Kuucapkan terimakasih pada Penciptaku. Aku sudah menemukan satu alasan untuk bersyukur pada-Nya. Ia tidak meninggalkanku sendirian walaupun aku tetap merasa Ia jauh dariku.

Aku teruskan perjalananku ke kantor, CD lagu WOW worship masih menemaniku – walau sejujurnya aku mendengarkannya sambil lalu. Penciptaku masih kurasakan jauh disana, sama sekali tidak bisa kusapa atau kuraih. Hujan yang masih terus mengguyurku kotaku pagi ini menambah rendah perasaanku. Tapi kuberterima kasih kepada Penciptaku karena telah menjagaku tiba di kantor.

Aku menyapa teman-temanku yang lembur kemarin malam. “Bagaimana cut-over kemarin? Sukses?”, tanyaku. Dari mereka, aku tahu ada sedikit masalah. Namun akhirnya semua dapat diselesaikan dini hari tadi. Sekali lagi aku bersyukur pada Penciptaku, ada satu hal indah lagi yang dapat kutemui pagi ini.

Kini mereka yang bertugas malam mulai pulang satu persatu diganti dengan kami yang mendapat giliran pagi. Hujan masih juga belum berhenti. Dinginnya AC, langit yang kelabu dan kantor yang sepi karena teman-teman tugas malam sudah pulang bukanlah kombinasi yang bagus untuk mengobati perasaan melankolisku. Aku tetap tidak bersemangat. Pikiranku juga penuh dengan mama yang akan dikuret hari ini untuk mengeluarkan darah kotor yang tertahan dirahimnya dan mengakibatkan menstruasi yang terganggu. Bukan operasi besar, hanya kira-kira 15 menit. Tetapi aku menyesal, aku sering berkata keras pada mama karena mama tidak mengerti aku. Seharusnya aku sedikit lebih sabar pada mama. Seharusnya aku bisa bersikap lebih lembut pada mama. Pukul 9 pagi papa meneleponku mengabarkan bahwa mama sudah siuman dan semua berjalan baik. Satu lagi alasan mengapa aku harus bersyukur pada Penciptaku.

Hujan terus menerus menyebabkan banjir dimana-mana. Bandara sampai ditutup. Presiden terjebak macet. Mobil presiden mogok. Waspada terhadap banjir kiriman. Bagaimana aku harus pulang malam ini? Aku takut peristiwa banjir tahun lalu terulang. Tahun lalu aku harus menempuh perjalana selama 4 jam bersama kakakku sebelum akhirnya tiba di rumah. Hari ini aku sendirian, aku tidak mau dijalan selama 4 jam sendirian dan sudah lewat tengah malam. Tetapi adikku menelepon dari rumah. Rumah kita aman tidak kebanjiran. Dan aku tahu, ada hal lain lagi yang harus kusyukuri.

Masalah pertama muncul dan aku tetap tidak bersemangat. Biasanya aku bersemangat setiap kali ada masalah. Aku selalu penasaran mencari penyebabnya. Untung saja, masalah itu dapat aku selesaikan sebelum makan siang. Aku menemukan satu lagi alasanku untuk bersyukur pada Penciptaku. Ia tidaklah meninggalkanku, mungkin kali ini Ia hanya berdiri sedikit menjauh dan mengawasi ku dari belakang – sama seperti orang tua yang mengawasi anaknya belajar berjalan.

Seperti roda yang berputar, tidak selamanya perasaan melankolis berada dipuncak. Posisinya sedikit bergeser kebawah setelah makan siang. Aku sudah bisa memandang hujan dengan sedikit ceria. Langit kelabu tidak lagi menbuatku takut. Berita banjir dimana-mana yang aku baca hanya dapat mempengaruhiku sedikit.

Mungkin aku tidak bisa pulang hari ini, tetapi aku tahu orang-orang yang aku sayangi baik-baik saja. Mungkin saja langit mendung dan matahari tidak bisa menunjukkan dirinya hari ini, tetapi aku tahu sinar Penciptaku tidak akan pernah hilang atau tertutup awan mendung. Mungkin saja aku merasa Penciptaku jauh dariku, tetapi dalam pikiranku aku tahu Ia tetap ada didekatku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s