My Trip – Hongkong (1)

Setiap kali mengurus tiket pesawat di counter ‘check-in’ aku selalu bertanya-tanya dalam hati bagaimana mungkin dulu aku pernah bercita-cita bahwa jika bekerja nanti aku ingin pekerjaan yang mobile. Satu hari berada di Jakarta, besok di Singapura, kemudian Amerika dan seterusnya. Sayangnya impian dan kenyataannya ternyata harus bertolak belakang😦 . Setiap kali harus bepergian dengan pesawat mulai dari masa mengepak koper, kemudian ketika di bandara, antrean untuk memeriksa koper dan bawaan lain, check in, fiskal, imigrasi, dan menunggu boarding sudah membuatku pusing. Apalagi masa-masa di dalam pesawat mulai d ari take-off, di pesawat hingga landing dan kemudian mengurus bagasi lagi atau imigrasi lagi. (Biasanya masa-masa ini sudah bercampur dengan mabuk dan jetlag)

Tapi ini bukan berarti aku tidak suka bepergian, walaupun lelah dan membuatku pusing dan terkadang mabuk, jika ada kesempatan untuk bepergian pasti tidak akan kulewatkan. Berkat dari Tuhan mengapa harus ditolak? Aku menyukai masa-masa ketika sudah keluar dari bandara. Lega. Perasaan yang sama dengan yang aku rasakan jiika masa-masa ujian atau ulangan sudah berakhir.

Pada hari ‘kejepit’ bulan Januari kemarin aku juga diberkati Tuhan untuk kembali naik pesawat. Kali ini tujuanku adalah Hongkong (termasuk Macao dan Shenzen) – seharusnya adikku yang pergi tapi terhalang karena skripsi. Dengan alasan menemani kakak yang harus menghadiri resepsi pernikahan bersama dengan pacarnya aku pun minta ijin dari kantor. Mungkin alasan ini benar-benar valid sehingga atasan mengijinkan aku cuti walaupun sebenarnya kami satu tim sedang dikejar-kejar deadline untuk release module baru. Sebagai gantinya aku harus rela lembur hingga tengah malam selama 2 hari guna menyelesaikan semua dokumentasi yang diperlukan. Ugh… benar-benar harga yang harus dibayar untuk perjalanan gratis (mulai dari tiket, fiskal, penginapan, konsumsi, hingga transport semua ditanggung oleh kakak + pacar).

Aku dan kakak berangkat hari kamis pagi naik Garuda(tanggal 10 Jan , hari libur tahun baru Islam). Untung masa-masa administrasi check in dan fiskal tidak lama. Oh iya, karena kakak hobi belanja kali ini dia sudah mempersiapkan 2 koper kosong untuk cadangan. Hi.. hi… rupanya dia kapok dengan pengalaman di Singapur dulu yang sampai harus membeli koper baru di lucky plaza karena tidak cukup. Aku baru tahu ternyata tipe pesawat Garuda yang menuju Hongkong itu sama dengan yang menuju Yogyakarta. Itu loh yang seat di kelas ekonominya 3 – gang – 3 dan kelas bisnisnya hanya 2 – gang – 2. Semula kami berdua cukup meragukan pesawat kecil ini, tapi ternyata puji Tuhan pesawat kecil ini bisa membawa kami selamat sampai di Hongkong.

Di Hongkong proses imigrasi dan pengambilan bagasi berlangsung cepat. Telpon simpatiku juga masih digunakan disini. Tapi aku menyadari satu hal yang sedikti tidak enak. Dengan wajah yang sangat mewarisi darah nenek moyang yang etnis Han, jadi aku dan kakak selalu dianggap ”by default mengerti Cantonese atau Mandarin. Padahal kami berdua hanya mampu bercakap Mandarin untuk belanja dan menawar dan sama sekali tidak mengerti Cantonese. Kami berdua juga termasuk golongan ‘buta huruf’ di Hongkong.

Setelah keluar imigrasi, kami berdua menunggu sebentar untuk dijemput oleh H (pacar kakak). Sambil menunggu aku siapkan jaketku karena menurut laporan musim dingin di Hongkong cukup dingin. Tapi ternyata aku salah, hari itu hampir sama dengan cuaca di Jakarta. Dari bandara naik kereta api cepat menuju Hongkong (aku lupa nama kereta apinya biayanya kira-kira 100 HKD atau mungkin kurang). Kereta api ini cuma berhenti di tiga tempat, tempat pertama aku lupa namanya. Yang kedua Kowloon dan yang terakhir Hongkong. Perjalanan ke Hongkong dengan kereta api ini kira-kira 30 menit. Aku menyadari bagaimana tertibnya orang-orang di sini, Begitu naik kereta, koper-koper langsung disusun rapi di rak yang tersedia – tidak perlu potter atau petugas lain. Tidak perlu rebutan naik juga. Di dalam kereta juga bersih. Pengumuman tujuan diberikan dalam 3 bahasa Mandarin, Cantonese dan Inggris. Jadi tidak perlu khawatir tidak mengerti. Juga ada petunjuk arah dan jarak di dekat pintu masuk.

Dari Hongkong train station langsung naik taxi ke macquire street karena H masih harus bekerja. Disini taxi jarang sekali (nyaris langka) yang mau membantu mengangkat dan menyusun koper ke bagasi mobil. Jadi harus dilakukan sendiri. Ukuran taxi juga lebih lapang dan luas daripada taxi di Jakarta. Satu hal lagi yang berbeda adalah, jika mau naik atau turun dari taxi harus dari sebelah kiri; tidak boleh seenaknya dari sebelah kanan.

Di macquire street, H mengajak kami (plus koper-koper kami )menemui kliennya. Kami juga langsung diangkat menjadi asisten sementara untuk membantu pekerjaan H agar cepat selesai. Bukan masalah besar untuk kakakku karena bidangnya sama. Tapi aku yang seorang programmer harus langsung menjadi translator dadakan untuk bidang hukum. Bagaimana jika nanti aku terjemahkan sesuatu seperti “if (chapter 1 violated then ) … else ….” Jadi teringat dengan masa-masa di Frankfurt dulu, aku juga harus langsung bekerja begitu sampai.

Tak terasa kami bekerja hingga pukul 6 sore dan masih juga belum selesai. Untung klien berbaik hati membelikan cemilan sore. Rasanya enak. Bakso dan buncis. Lumayan untuk mengganjal perut yang lapar.

Sambil makan snack sore, kami melihat gedung tempat shooting mission imposible, dan gedung-gedung lain yang tampak dari pemandangan jendela. Kami juga disuguhi kisah tentang perlindungan hak konsumen dan bagaimana kita sebagai konsumen dapat menuntut pelayanan yang lebih baik. Setelah aku pikir-pikir tetap saja aku tidak dapat marah-marah kepada yang melayaniku karena tidak dilayani dengan benar. Itu adalah haknya dan bagiku sedapat mungkin jangan sampai aku merugikan orang lain atau menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mungkin ini sudah menjadi pola pikir bangsa yang perlindungan konsumennya nyaris tidak ada.

Ternyata kami bekerja hingga pukul 10 malam lebih dan baru mulai makan malam. Dalam hati aku dan kakak bersyukur bukan adik yang datang kesini. Dia bisa ngambek nanti ‘ditelantarkan’ hingga pukul 10 malam dan belum makan malam.

Sebenarnya aku sudah capai sekali dan ingin sekali untuk ke hotel dan istirahat. Tetapi H adalah tipikal yang harus memanfaatkan setiap waktu agar semua tempat dapat dikunjungi untuk waktu liburan yang relatif singkat. Karena itu malam itu juga aku dan kakak re-packing di kamar hotel dan bersiap ke Macao (harus melalui imigrasi di pelabuhan tetapi tidak perlu visa).

Ke Macao naik feri, waktu itu sudah hampir tengah malam. Biayanya antara 70 – 100 HKD (aku lupa). Ferry ada hampir setiap 30 menit sekali dan nyaris 24 jam servis. Sambil menunggu kedatangan ferry, aku menyempatkan diri membeli 2 botol air putih. Mata sudah nyaris tidak dapat dibuka karena lelah dan mengantuk. Akhirnya ferry datang dan kami semua duduk didalam. Koper-koper disimpan di bagian belakang. Dan kami bertiga langsung tidur. Yang aku ingat selama perjalanan adalah AC di ferry itu dingin sekali. Jaket dan syal sudah aku kenakan dan aku sudah meringkuk tetapi tetap saja kedinginan. Untung perjalanan kira-kira 1 jam itu segera berakhir. Dan … ah hangatnya udara di luar.

Setelah melalui imigrasi dan keluar dari pelabuhan kami naik taxi. Dengan bahasa Mandarin yang terputus-putus kami meminta supaya diantarkan pada salah satu ‘budget hotel’. Puji Tuhan, kami bertemu dengan taxi yang sabar dan baik hati. Akhirnya kami menemukan satu yang tidak jauh dari jalan utama. Satu malam di tempat itu 500 HKD (satu kamar 3 tempat tidur, AC, dan kamar mandi dalam). Aku sudah terlalu lelah untuk memperhatikan hotel itu. Aku hanya ingat mencuci muka berganti pakaian, berdoa dan langsung tidur.

to be continued …

1 | 2 | 3 | 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s