My Trip – Hongkong (2)

Aku membuka mataku cukup untuk melihat jarum jam dipergelangan tanganku. Ugh.. sudah jam 9 lebih, aku harus bangun dan bersiap-siap untuk memulai lagi perjalanan hari ini. Tapi rasanya mataku masih ingin terpejam. Apalagi korden kamar hotel itu rapat menahan cahaya matahari yang hendak masuk menyapa kami. Dengungan mesin AC juga semakin membuaiku. Samar-samar aku dapat mendengar suara kakak yang tidur di sebelahku, menyuruhku segera mandi dan bangun. “Maaf, kak, aku tidak dapat bergerak sekarang”, kataku dalam hati. Akhirnya aku tertidur lagi selama 1 ,5 jam kemudian. Mungkin ini adalah balas dendam, karena malam sebelumnya (atau pagi hari tadi) aku baru benar-benar bisa beristirahat – alias tidur di tempat tidur, kira-kira jam 2.

Pukul 11.30 kami bertiga check-out dari hotel dan menitipkan koper kami pada hotel itu. Kami siap untuk berkelana di Macao. Tujuan kami adalah menemukan sisa-sisa katedral St.Paul yang bekas terbakar dan tempat untuk makan siang. Untung saja bagiku, aku masih mempunyai simpanan makanan untuk mengganjal perut.

Macao cukup kecil dan tempat yang dicari dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari hotel. Jadi kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Udara juga cukup cerah bahkan cenderung panas. Sambil sedikit bertanya-tanya pada orang dengan bahasa Mandarin dan Inggris yang pas-pasan. Kami kurang berhasil menemukan katedral St. Paul tapi justru menemukan St. Joseph’s Seminary and Church dan gereja St. Dominic. Aku bukanlah pakar arsitektur atau seni. Pengetahuanku bisa dibilang nol. Namun menurutku jika dibandingkan dengan arsitektur gereja-gereja di Frankfurt, gereja di Macao lebih cerah warnanya bukan batu-batu berwarna merah atau gelap. Juga tidak ada orgel. Aju sendiri lebih menyukai arsitektur di Macao, lebih ringan rasanya. Kalau arsitektur di Frankfurt rasanya berat.

Sekitar jam 1 perut kami mulai mengadakan konser solo. Dan konsentrasi pun mulai terpecah pada naluri dasar setiap manusia – bagaimana cara mengatasi lapar. Mata kami bertiga sudah tidak lagi sibuk mengamati setiap gedung tetapi mulai mencari-cari tempat untuk makan. Akhirnya berhasil juga kami menemukan tanda yang familiar – Mc Donald, dengan lambang M khasnya. Sebenarnya ingin juga sih untuk mencoba makanan lokal, tetapi kami khawatir kalau tubuh kami tidak biasa dan malah justru mengganggu perjalanan (misalnya diare). Sementara kakak dan H mencari tempat duduk karena saat itu jam makan siang dan cukup padat. Aku memesan menu dengan bahasa tarzan dan jane. Untung akhirnya berhasil juga mendapat 3 paket menu yang kumau. Rasa McDonald disini sama dengan McDonald yang pernah aku coba. Yang berbeda adalah cara menyajikan kentang goreng. Kentang di McDonald yang pernah kudatangi (Indonesia, Yunnan, Sydney, dan Frankfurt) hanya ditabur garam. Tapi disini kentang tidak dotabur garam. Pembeli diberi bungkusan bumbu – ada 3 rasa – juga kantong kertas untuk mengocok kentang supaya bumbu teraduk rata. Rasa kentang juga menjadi lebih enak dan variatif.

Setelah perut kenyang terisi perasaan kami juga menjadi lebih nyaman. Semangat untuk mencari reruntuhan St. Paul katedral juga bangkit kembali. Kami berjalan sambil mengikuti tanda-tanda jalan yang ada sekaligus juga membaca peta. (kalau untukku sih lebih tepatnya berusaha membaca peta karena aku tidak pernah berhasil membaca peta selama ini. Aku selalu terbalik antara kanan-kiri dan atas-bawah.)

Tidak sulit untuk menemukan reruntuhan St. Paul asalkan mengikuti tanda dengan benar. Dari jauh juga sudah terlihat. Letaknya agak tinggi dan ada cukup banyak tangga untuk sampai ke gerbang (satu-satunya yang tersisa). Kesan pertama yang aku tangkap adalah sama dengan yang aku lihat di brosur dan foto-foto perjalanan lain. Bagus sekali. Sekarang hanya ada bagian muka dan bagian dalam yang sedikit sekali. Didalamnya ada banyak petunjuk yang menjelaskan bagian-bagian gereja dulu sebelum terbakar. Aku jadi membayangkan bagaimana katedral ini dulu sebelum terbakar. Sayangnya disalah satu tempat yang dipugar (bagian gereja lama diperlihatkan dari lantai kaca tembus pandang – jadi jika melihat kebawah bisa tampak batu-batu tembok gedung yang lama) aku melihat ada garpu plastik.

Dari Katedral St. Paul, ada beberapa lain yang bisa didatangi. Disisi satunya ada kuil A-Ma. Dan disisi satunya lagi ada jalan menuju Mount Fortress.

Kami memilih pergi ke Mount Fortress secara tidak sengaja (hanya mengikuti kaki melangkah). Awalnya kami kira tempat itu adalah museum yang untuk masuknya dikenai biaya. Ternyata museumnya terletak disisi lain. Disana diletakkan beberapa meriam. Tempat itu tinggi, hampir bisa melihat ke sekeliling Macao. Sayangnya cuaca pada hari itu berkabut. Namun aku jadi mengerti mengapa dalampeperangan selalu mencari tempat yang lebih tinggi dari musuh.

Dari sana kami melihat air mancur yang bisa ‘menari’ mengikuti musik yang ada di depan hotel yang aku lupa namanya. Benar-benar bagus. Sayang air terjun itu menyala hanya setiap 1 jam. Aku mau saja duduk di pinggir air mancur dan melihat terus. Lagu yang dimainkan berbeda-beda (bagi pendatang), mungkin penduduk setempat sudah bosan melihatnya. Lalu aku juga melihat kasino di dalam hotel. Benar-benar besar. Sedih juga rasanya melihat orang-orang yang sudah kehilangan jiwanya ditempat itu. Aku berdoa bagi mereka semua ditempat itu. Hingga kini sebisa mungkin aku selalu mendoakan orang-orang yang bekerja ataupun pergi kekasino.

Setelah lelah dan kebetulan juga sudah sore, kami mengambil koper yang kami titipkan di hotel dan ke pelabuhan. Di pelabuhan suasananya mirip dengan kacaunya terminal ketika mendekati lebaran. Orang-orang dengan wajah bingung, antrean karcis yang panjang dan petugas-petugas yang sudah kewalahan hingga akhirnya mereka lebih memilih untuk bercakap-cakap sendiri. Yang kurang disini adalah pedagang makanan gerobak. Terrnyata kabut yang sepanjang hari itu memang sudah aku rasakan menyebabkan jadwal feri penyeberangan dibatalkan. (Sungguh aku mengira bahwa kabut ini adalah hal yang biasa di Macao). Walaupun kesal tapi untungnya bukan kami yang terombang-ambing dilaut tidak bisa merapat karena kabut. Kami memutuskan untuk mencoba kembali lagi setelah mencari makan malam diluar. Kembali ke pusat kota dengan menumpang bus-bus hotel yang gratis (disediakan untuk tamu hotel atau pengunjung yang mau berjudi).

Kabut mulai menipis ketika kami datang kembali setelah makan malam. Antrean masih ada, suasana masih kacau tapi sudah sedikit membaik. Kami berhasil membeli tiket untuk jam 11 malam. Dan kami diberitahu jika masuk menunggu didalam mungkin saja bisa mendapatkan tempat pada feri sebelum jam 11. Maka kami bertiga melalui imigrasi dan menunggu didalam. Antrian panjang dan kacau didalam. Belakangan baru kami ketahui bahwa feri kembali dibatalkan karena kabut menebal kembali dan sudah ada kecelakaan feri. Ugh… Apa yang harus kami lakukan? Masa kami harus bermalam di pelabuhan? Tidak ada tempat yang memadai, untuk mencari makanan saja tidak ada. Keluar juga tidak mungkin karena sudah melalui imigrasi. Kali ini baru aku sadari enaknya berteman dengan pengacara🙂 Setelah berjuang dengan sedikit ancaman dari H, akhirnya kami bertiga ditambah kenalan baru dari Indonesia diperbolehkan masuk kembali ke Macao. Setelah keluar dari imigrasi kami segera mengurus pembatalan tiket dan membeli tiket untuk pukul 7 pagi keesokan paginya.

Kami kembali lagi menginap di hotel kami kemarin. Anehnya rate hari ini lebih murah 50 dollar Hongkong dibandingkan dengan malam sebelumnya. Akhirnya setengah hari terbuang dan aku mempunyai pengalaman kabut yang pertama.

to be continued …

1 | 2 | 3 | 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s