My Trip – Hongkong (3)

Apa yang selalu dirasakan jika ingin berada di tiga tempat berbeda dengan jarak tempuh cukup jauh dalam kurun waktu kurang dari 24 jam? Terburu-buru. Dan itu yang aku rasakan hari itu.

Karena masalah kabut pada hari sebelumnya membuat jadwal yang sudah dirancang H sedikit berantakan (Menurut jadwal H, kami harus mengunjungi Macao, Hongkong – Mongkok , dan Shenzen selama perjalanan kali ini).

Jam 6 kami siap dipelabuhan siap untuk berangkat ke Hongkong. Aku sudah cukup ‘muak’d engan Macao. Bukan kota yang ingin kudatangi untuk kedua kalinya. Aku tidak akan pernah setuju dengan kota perjudian. Juga ada sedikit masalah yang lebih baik dilupakan daripada diingat terus. Aku tidur ayam sepanjang perjalanan ke Hongkong. Padahal niat hati aku ingin tidur nyenyak, karena malam sebelumnya aku tidak bisa tidur sama sekali.

Di pelabuhan Hongkong setelah keluar dari imigrasi, kami sarapan di McDonald. Sekali lagi untuk saja ada makanan internasional, jadi kami tidak perlu mencoba sesuatu yang baru disaat sedang tidak mood. Dari sana kami langsung ke hotel. Masalah masih ada dan statusnya aman terkendali karena gencatan senjata. Aku tidak peduli, di hotel kami semua mandi dan langsung tidur. Memang beda antara budget hotel dengan non-budget hotel. Standard hotel yang membuat tidurku nyaman. Akhirnya aku bisa tidur di atas tempat tidur dan kamar yang layak, itu adalah yang aku ingat terakhir sebelum aku tidur.

Jam 12, kakakku bangun. Ia membangunkan H dikamar sebelah. Aku masih tidak dapat bergerak dari kondisi tidur. Dengan penuh perjuangan akhirnya berhasil juga aku bangun dari tempat tidur dan masih setengah sadar berganti pakaian. Kami siap kira-kira jam 1.

Aku baru tahu bahwa H akan membawa kami ke Shenzen – China. Selain itu menurut perhitungan H, kami hanya mempunyai waktu kira-kira 3 jam untuk perjalanan ke Shenzen ini (H dan kakak harus menghadiri resepsi pernikahan malam ini). Kalau aku mempunyai hak veto, aku pasti akan memveto perjalanan ini. Untuk apa pergi ke Shenzen jika hanya diberi waktu kurang lebih 3 jam termasuk waktu perjalanan pulang pergi. Sayangnya tidak ada hak veto dan aku kalah dalam pemungutan suara😦 .

Kami ke stasiun kereta api central. Disana membeli roti dan minum untuk mengganjal perut karena H mengajak makan siang di Shenzen saja. Aku masih sedikit mengantuk jadi aku tidak terlalu bersemangat dengan perjalanan ini. Aku tidak ingat harus naik kereta api, tapi aku ingat yang harus dicari rute kereta yang biru muda. Dari sana ada perhentian terakhir diperbatasan dengan Shenzen. Perjalanan ke Shenzen naik kereta mungkin kira-kira 1 jam. Aku tidak ingat lagi. Semakin mendekati perbatasan Shenzen, hutan Gedung berganti dengan pemukiman penduduk yang lebih sederhana. Ada pria Australia duduk disebelahku dan mau tidak mau aku jadi mendengarkan percakapannya. Dia juga mau pergi ke Shenzen.

Perbatasan Hongkong dan Shenzen merupakan parit besar. Aku tidak mengerti mengapa masih perlu perbatasan dan penjagaan yang ketat. Bukankah Hongkong sudah menjadi bagian dari RRC. Mungkin aku harus mencari lagi di internet. Benar-benar lelah berjalan sejak turun dari kereta, keluar imigrasi Hongkong, dan perjalanan kaki panjang di daerah tak bertuan antara imigrasi Hongkong dan imigrasi Shenzen. Aku baru sekali itu melihat lautan manusia yang sebanyak itu. Mungkin mereka bekerja di Hongkong atau mengunjungi keluarga di Hongkong dan sebaliknya.

Untuk masuk ke Shenzen harus menggunakan visa. Visa untuk (kalau tidak salah) satu minggu bisa diperoleh di kantor imigrasi di stasiun Shenzen (sebelum antrian imigrasi ada tangga menuju ke atas – disitu letak kantor imigrasi). Di pintu masuk ada lembaran yang perlu diisi, setelah itu diisi tinggal mengantri. Aku tidak tahu apakah memang selalu sepi atau kebetulan ketika itu sepi. Setelah menyerahkan paspor dan form isian aplikasi visa, kami menunggu sebentar hingga dipanggil untuk mendapat visa. Biayanya adalah 150 HKD.

Setelah akhirnya keluar juga dari stasiun kereta, kami makan siang. Oh iya, makan siang yang dimaksud oleh H ternyata ajisen ramen di stasiun. Sebenarnya kami mau mencari yang lain, tetapi sudah malas dan terburu oleh waktu. Berbeda dengan ajisen ramen jakarta yang pelayannya ramah-ramah. Disini terkesan galak. Tapi makanannya tidak seasin di Jakarta (menurut lidahku). Dari sana kami naik taxi dan dengan bahasa Mandarin yang benar-benar pas-pasan minta diantarkan melihat-lihat kota Shenzen dan menunjukkan apa yang istimewa. Karena waktu yang singkat, kami tidak sempat untuk mengunjungi tempat-tempat spesial yang jauh. Jadi kami hanya berputar-putar di pusat kota (mungkin kalau di Jakarta adalah sudirman – thamrin – kuningan). Melihat pusat komputer, gedung tertinggi di Shenzen, dan berfoto ria di poster Deng Xiao Ping. Lalu kembali lagi ke stasiun. Terima kasih untuk bapak taxi yang baik dan sabar menerangkan walaupun dia tahu Mandarin kami pas-pasan.

Perjalanan yang singkat di Shenzen (kurang dari 1 jam), tapi Aku akhirnya berhasil juga melihat kota Shenzen. Ini penting, karena Shenzen adalah kampung halaman kakek dan nenek, bahkan masih ada saudara jauh yang tinggal disini. Dulu papa dan mama pernah mengunjunginya. Menurutku sekilas Shenzen mirip dengan Jakarta, yang luar biasa adalah perkembangan Shenzen. Dulu menurut papa Shenzen adalah kota kecil, tapi dalam kurun waktu kira-kira 10 tahun bisa mencapai perkembangan yang sangat pesat. Menurut banyak orang, Shenzen juga merupakan surga belanja, karena harganya yang lebih murah dibandingkan ditempat lain dengan syarat harus berani menawar sangat rendah. Namun aku tidak sempat membuktikannya (aku juga tidak pandai menawar barang). Dan catatan yang perlu diingat lagi adalah di Shenzen banyak pencuri dan copet. Jadi hati-hati dengan dompet dan barang bawaan lain.

Baru aku sadari kelelahanku di perjalanan naik kereta dari Shenzen balik ke Hongkong. Kakiku rasanya bukan milikku. Rasanya ingin sekali untuk duduk dan berbaring, sayangnya gerbong yang kami naiki penuh. Jadi kami baru mendapat tempat duduk setelah separuh perjalanan. Kemudian kami kembali tergesa-gesa kembali ke hotel, H dan kakak bersiap-siap untuk resepsi. Aku tidak ikut karena memang tidak mau dan tidak menyiapkan gaun. Tetapi aku terpaksa ikut karena rencana awal adalah langsung ke Mongkok dari tempat resepsi (karena dekat dari tempat resepsi). Jadi tugasku adalah menjaga pakaian ganti kakak dan H.

Sambil menunggu resepsi, aku berjalan-jalan melihat-lihat daerah sekitar hotel. Resepsi di daerah Kowloon (dan mungkin di dekat pemukiman india / arab) dekat masjid juga. Aku mencoba ‘sate’ yang dijual pinggir jalan. Mirip dengan celup-celup yang dulu pernah trend di Jakarta. Aku juga berhasil menemukan toko obat dan membeli obat titipan papa. Lega rasanya sudah berhasil membeli obat ini. Aku makan malam KFC – tidak ada yang berbeda dengan KFC di tempat lain. Ternyata pesta sedikit molor – ada jam karet juga di Hongkong. Seusai resepsi, aku baru tahu bahwa gencatan senjata tadi pagi kembali bermasalah. Jadi kami kembali ke hotel dan tidak jadi ke Mongkok (kira-kira 30 menit naik taxi, dan 50 HKD). Tapi ternyata di hotel diputuskan mau ke Mongkok lagi. Aku benar-benar kesal, sudah hampir tengah malam, dan koper belum dibereskan – padahal besok siang sudah mau kembali ke Jakarta. Sayang aku tidak mempunyai hak veto😦 Jadi kami kembali lagi ke Mongkok (kali ini naik taxi ke central, lalu dilanjutkan dengan kereta api). Gencatan senjata dimulai kembali.

Momgkok seperti pasar malam. Kedai-kedai baru buka setelah sore hingga tengah malam lebih. Sekali lagi kata orang, barang-barang yang dijual banyak yang didatangkan dari Shenzen. Dan disini kita bisa mendapatkan barang dengan harga miring (syaratnya berani menawar sangat rendah dan tidak takut dimarahi penjual). Ada juga produk-produk bermerek ‘aspal’ dijual. Pedagang hanya menyediakan catalog. Jika transaksi lancar maka barang akan diambilkan (umumnya jam tangan dan tas). Aku dan kakak mendapat 2 tas pesta yang jika dibandingkan dengan harga di mall Jakarta adalah diskon hampir 70%. Tapi karena kami sampai disana sudah tengah malam, kedai-kedai yang ada sudah mulai tutup. Dan rasanya tidak enak, berbelanja sampai dikejar-kejar tutup toko. Untuk saja gencatan senjata sudah memberikan angin sejuk. Disudut jalan, kami menemukan toko yang menjual khusus sepatu boot. Tidak bisa menawar harga disini, semua dijual dengan harga 199 HKD. Kualitas boot lumayan, kalau di Indonesia bisa 300rb. Kakakku penggemar boot membeli 4 sekaligus. Bisa dimaklumi, susah sekali membeli boot di Indonesia. Memang boot kurang cocok dengan iklim Indonesia. Aku tidak membeli boot, karena statusku adalah tukang pinjam aksesoris🙂

Malam itu (dini hari ) aku tidur dan setelah aku hitung, hari ini aku sudah mengunjungi tga wilayah berbeda, pagi di Macao, siang di Shenzen dan malam di Hongkong. Capek dan terburu-buru sekali rasanya.

to be continued …

1 | 2 | 3 | 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s