Call Center

Baru-baru ini timku di tempat kerja membaca blog seseorang yang membuat naik darah. Sebenarnya blog itu menceritakan keluhan penulis terhadap pelayanan online salah satu maskapai penerbangan di Indonesia berdasarkan informasi yang diterima dari call center maskapai penerbangan tersebut. Penulis blog tersebut menyebutkan bahwa mutu layanan IT maskapai tersebut menurun dari yang sudah ada sebelumnya.

Aku dan teman-teman satu timku tentu saja marah-marah membaca blog tersebut karena kami adalah penyedia layanan online yang sedang dipertanyakan itu. Tanpa perlu repot-report mencari ‘bug‘ dalam aplikasi, kami sudah tahu apa penyebabnya hanya dari membaca tulisan di blog tersebut. Karena penulis yang kurang teliti membaca pesan ditampilan layar dan call center yang “sedikit” sok tahu dengan memberikan informasi yang salah. Kami marah-marah, mengapa hasil kerja kami disalahkan bahkan ditulis dalam blog yang akan dibaca oleh banyak orang di dunia maya sana. Yang bersalah adalah call center dan itu justru tidak disinggung sama sekali. Rasanya tidak adil sekali. Jika bukan karena peraturan kantor, kami semua pasti akan menanggapi blog itu secara pribadi (untuk membela nama baik).

Lalu aku sadar, bahwa aku juga sering kali berperan seperti call center yang menjadi sumber masalah di maskapai penerbangan itu. Seolah-olah serba tahu dan mampu memberikan informasi yang baik padahal sebenarnya menyesatkan hanya karena ketidaktahuanku. Misalnya ketika ditanya arah dan aku kurang yakin maka aku akan menjawab kanan atau kiri sesuai dengan perkiraanku saja, mirip dengan tebak kancing kalau lagi ujian, akhirnya malah jadi tersasar jauh dan sopir pasti capek. Dan karena aku adalah perwakilan untuk mengurus dapur jika tidak ada baginda ratu, maka aku akan berpura-pura sangat tahu urusan dapur lebih daripada pembantu yang sudah puluhan tahun membantu baginda ratu di dapur. Lalu jika ditanya batas-batas berpacaran untuk anak remaja atau pra-remaja di sekolah minggu, aku akan menjawab dengan teori yang aku tahu. Padahal pacaran saja aku tidak pernah. Bisa saja teori yang aku dapat itu salah atau tidak valid. Atau ketika ditanya firman Tuhan dan aku karena kurang pendalaman justru hanya menjawab seenaknya. Bagaimana jika jawabanku itu justru bertolak belakang?

Agar tidak menjadi call center yang menyesatkan:

  1. perbanyak membaca atau belajar.
  2. Keep up-to-date
  3. Jangan sok tahu , kalau memang tidak tahu katakan saja tidak tahu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s