Babtisan selam

Sudah beberapa hari ini ia merasa gelisah dan tidak tenang. Siang hari tidak bisa bekerja dengan tenang, rasanya ada sesuatu yang selalu memburunya. Keadaan tidak menjadi lebih baik ketika malam tiba. Ia tidak bisa tidur walaupun sudah merasa sangat lelah dan mengantuk. Pikirannya tidak pernah dapat diajak untuk beristirahat sejenak dari segala kesibukannya, selalu sibuk bekerja. Yang lebih parah lagi, ia selalu merasa ada yang selalu mengusik dan mengganggunya ketika akan tidur. HANTU?? Ia bukan orang yang takut hantu, percaya saja tidak. Seandainya ia berhasil tertidur sebentar saja, maka suara sekecil apapun dapat membuatnya terjaga kembali. Pil-pil obat tidur yang biasanya merupakan penolong yang ampuh, kali ini juga tidak dapat membantunya. Tubuhnya menjadi lemas dan tidak bertenaga karena sudah beberapa hari kurang tidur. Pekerjaan juga dilakukan dengan tidak bersemangat.

Mungkin ini karena aku sedang banyak pikiran -Istriku sakit dan hingga kini belum menemukan dokter dan solusi yang terbaik. Nanti juga pasti akan hilang sendiri rasa tidak tenang ini”, pikirnya. Ia berusaha mengabaikan kegelisahannya dan hanya menceritakan apa yang dirasakannya pada istrinya. Anak-anak tidak perlu diberitahu.

Tapi dari hari ke hari keadaan justru memburuk. Ia berdoa meminta ketenangan. Tetapi kepada siapakah doanya ditujukan? Tuhan yang mana yang ia sembah? Siapa yang akan mendengar doa dan permintaannya? Ia sudah bertekad untuk tidak lagi menyembah dewa-dewanya, tetapi ia juga tidak berjanji untuk menyembah Yesus. Seolah-olah ia ingin menggapai langit dan menginjak perut bumi sekaligus. Padahal itu tidak mungkin terjadi. Ia harus memilih salah satu dari keduanya. Manakah yang harus dipilihnya??? Siapakah yang dapat membantunya memilih???

***

Aku ingin dibabtis selam. Rasanya begitu menarik jika mendengar cerita dari anak-anakku mengenai babtisan selam yang mereka alami. Bukan berarti aku tidak pernah dibabtis. Aku sudah pernah dibabtis dulu ketika memutuskan untuk meninggalkan dewa-dewa itu – dengan persetujuan suami tentunya. Tapi maafkan aku jika aku mengatakan ini, babtisan yang dulu kurang berkesan bagiku. Hampir-hampir menjadi sederetan tata cara yang melelahkan dan memakan waktu lama.

Aku mau dibabtis selam, tetapi aku tidak tahu bagaimana dan dimana? Meminta tolong pada anak-anakku untuk mencarikan info tidak enak rasanya. Mereka sudah sibuk bekerja. Aku tidak tega jika harus merepotkan mereka. Tuhan bagaimana caranya agar aku dapat dibabtis selam?

Aku mau dibabtis selam, kalau bisa dalam waktu dekat ini. Usiaku sudah tidak mudah lagi. Aku tidak tahu batasan hidupku di dunia ini karena itu aku tidak mau terlambat. Juga harus dilakukan secepatnya ketika aku masih tubuhku masih cukup kuat untuk babtis selam. Kekuatanku sudah jauh menurun. Ditambah lagi dengan sakit yang aku alami akhir-akhir ini benar-benar melemahkan tubuhku.

Tuhan bantu aku agar aku dapat dibabti selam…..

***

Apa yang salah dengan dirinya – hidupnya? Skripsi temannya sudah hampir selesai dan dia belum mulai juga karena dosen yang sedikit antik dengan jadwal bimbingan. Banyak temannya yang sudah mendapatkan pekerjaan tapi dia belum dapat juga. Benarkah ini karena dia belum di babtis??

Bukannya dia tidak mau dibabtis, tetapi dia tidak tahu mencari info kemana dan siapa yang akan membantunya mengurusi semua ini. Kakak-kakaknya tidak bisa diandalkan untuk membantu. Hanya bisa berkata saja (dan menitipkan pada sopir saja) tetapi tidak bisa mengantarnya untuk dibabtis karena harus bekerja dan tidak bisa ijin. Masa sih kerja di kantor lebih penting daripada menemani babtisan?? Bukankah satu hari menemani dan mengantar orang dibabtis lebih indah dan meriah di surga daripada satu hari di kantor dan bekerja??? Huh benar-benar mengesalkan. AKU MAU DIBABTIS, TUHAN!!!! BAGAIMANA CARANYA???

***

Tiba -tiba saja papa mengatakan bahwa dia mau dibabtis. “Tolong carikan informasi babtisan. Harus bulan ini, papa tidak mau ditunda lagi.” Lalu mama juga ikut-ikutan mau dibabtis. “Mama juga mau dibabtis, mumpung pendarahan mama lagi berhenti. Cepetan yah, kalau bulan depan, mama khawatir pendarahan lagi.” Jadi karena papa dan mama sudah minta dibabtis, kami menyuruh adik bungsu kami sekalian dibabtis – daripada bolak balik lagi mengurus babtisan.

Jadwal babtis dicari, dan kebetulan ada untuk bulan ini . Rencana disusun karena ternyata babtisan ini tidak bisa mendaftar lebih awal dan juga ada batasan jumlah peserta bila sudah terlalu banyak. Lokasi hotel juga diperhitungkan (babtisan diadakan di kolam renang hotel) – berjaga-jaga kalau mendapat giliran sampai malam hari (dari pengalaman babtisan sebelumnya). Bekal makan siang juga disiapkan. Setelah berunding, harus ada salah satu diantara kami yang menemani papa, mama, dan adik bungsu ketika dibabtis. Harus ada yang “mengurus” mereka – membawakan barang, menyiapkan baju ganti, dan lain-lain. Dan setelah dirundingkan, akulah yang harus menemani mereka semua dan mengambil cuti setengah hari.

Pada hari babtisan, aku sungguh cemas. Papa dahulu adalah penyembah patung – bagaimanakah reaksinya saat pelepasan? Mama masih lemas karena sakit – sanggupkah ia bertahan sampai sore. Aku benar-benar panik. Namun ternyata kebaktian pelepasan berjalan lancar – masih ada sedikit kecemasan ketika pelepasan terakhir di kolam renang nanti. Mendapat giliran di sore hari, sehingga papa dan mama bisa beristirahat dulu di kamar hotel, sementara kami mengantri dan melihat acara babtisan dari pinggir kolam. Mama dibabtis di kolam kecil karena sakit. Hujan rintik-rintik mulai turun, dan suhu mulai dingin. Papa takut dingin. Ia ngotot untuk dibabtis di kolam kecil bersama mama. Sedangkan mama justru ingin dibabtis di kolam besar karena sudah capai menunggu giliran di kolam kecil. Aku menjadi kesal dengan sikap papa dan mama yang tidak jelas. Aku juga khawatir – jangan-jangan papa dan mama mau membatalkan babtisan ini. Mungkin ini adalah cara setan untuk membuat mereka batal dibabtis.

Tetapi Tuhan dasyat dan ajaib. Ada suara yang bernyanyi dalam diri “Aku berserah … Aku berserah… Pada Yesus juruselamat …aku berserah … “ Benar juga untuk apa aku panik. Tuhan Yesus yang membawa mereka kemari, tidak mungkin Ia tidak mendampingi mereka sampai babtisan selesai. Apa yang harus aku takutkan jika Tuhan Yesus sudah turun tangan? Kenapa aku harus panik.Kekesalan dan segala kekhawatiran perlahan diganti dengan ketenangan. Lebih mudah memang hanya berserah dan berdoa saja. Aku jadi bisa menanti dengan tenang di pinggir kolam sambil menyediakan baju ganti untuk papa, mama dan adikku.

***

Keselamatan hanya terletak pada Tuhan – dari Dia-lah mengalir segala berkat dan anugerah. Abraham sejak lahir baru selalu dapat tidur dengan nyenyak di malam hari. Alergi es yang diidapnya hilang, sekarang ia dapat menyantap es krim kesukaannya. Phoebe sembuh dari sakitnya sejak lahir baru. Ia berhasil menemukan dokter yang tepat untuk berobat. Berat badannya yang berkurang karena sakit kini sudah bertambah. Elizabeth segera mendapatkan pekerjaan setelah lahir baru. Skripsinya juga berjalan lancar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s