My Sister and I – a long life competition (1)

Hampir setiap orang yang mempunyai kakak atau adik pasti pernah bersaing atau bertanding dengan mereka. Entah itu prestasi di sekolah, prestasi olahraga, penampilan, pacar … intinya apapun bisa dijadikan perlombaan.

Beruntung sekali aku anak tengah dari 3 bersaudara, jadi aku juga pernah ikut serta dalam ajang lomba dengan kakak atau adikku. Hanya saja karena adikku berbeda 4 tahun dan lebih tenang jadi aku hampir tidak pernah bersaing dengannya. Berbeda dengan kakakku. Aku dan kakak berbeda 2 tahun dan kami dekat sekali (waktu kecil sering dikira kembar) serta suka sekali saling bersaing. Tapi jangan salah tangkap loh … hubunganku dengan kakak dan adikku baik-baik saja dan dengan bangga bisa aku bilang hubungan kami sangat erat. Perlombaan itu hanya menambah bumbu dalam relasi dan bagus untuk ditertawakan pada masa-masa sekarang ini.

Lomba pertama —- PISANG

Aku sudah tidak ingat lagi berapa usiaku ketika itu, juga tidak ingat lagi musim apakah ketika kompetisi pisang diselenggarakan. Namun dari memori otakku (yang benar-benar auto delete “unusable memory”) masih ada beberapa detail yang aku ingat.

Waktu itu kami masih tinggal di kota tempat lahirku (yang sudah hampir aku lupakan). Aku ingat ketika itu aku tinggal di rumah model ruko bertingkat 4 tetapi pusat keramaian dan kehidupan ada di lantai 2. Sungguh aku tidak mengerti mengapa harus membangun rumah-ruko sampai 4 lantai padahal tidak ada toko, dan semua ruangan mulai dari kamar tidur, kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu ada di lantai 2.

Kompetisi diadakan sore hari, tidak ada juri, dan hanya ada satu saksi mata sekaligus panitia lomba. Sore itu aku dan kakakku sedang ngemil pisang gadis (bagi yang tidak tahu, ini adalah nama pisang kecil-kecil berwarna kuning yang besarnya kira-kira sebesar jempol pria dewasa) di balkon rumah dilantai 2 bersama dengan adikku. Ketika pisang habis kami bingung – “mau dibuang kemana kulit pisang ini?” Masuk ke dalam untuk membuang kulit pisang malas karena masih ingin diluar. Tapi di balkon tidak ada tempat sampah.

Mau tidak mau kami harus mencari alternatif tempat pembuangan lain. Kami mulai melihat ke bawah. Dan tampaklah dihalaman depan ruko tetangga ada mobil tipe mobil unyil (unyil adalah sebutan untuk mikrolet dikotaku dulu) yang sedang diparkir. Sebenarnya itu mobil tamu bisnis papa tapi karena di bagian depan ruko kami diberi pagar jadi dia parkir di bagian depan ruko tetangga. Guru di sekolah mengajarkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tapi tidak pernah ada ajaran untuk tidak membuang sampah di atap mobil orang.

Dan mulailah perlombaan kami dimulai (tidak tahu siapa yang memulai duluan). Siapakah yang berhasil paling banyak membuang kulit pisang keatap mobil tamu papa? Pada percobaan pertama kami berdua berhasil. Lalu kami masuk ke dalam dan mengambil pisang lagi. Setelah habis dilakukan percobaan kedua. Begitu seterusnya .. tetapi akhirnya aku dan kakakku hanya duduk di balkon makan pisang dan yang sibuk bolak balik mengambilkan pisang adalah adikku (maklum adik masih kecil jadi menurut saja diminta mengambilkan pisang).

Lomba selesai ketika tamu ayah pergi dan target kami pun hilang. Kami bertiga cukup sedih melihat hasil karya kami pergi. Dalam hati kami membayangkan apa yang akan terjadi ketika dia menyadari bahwa atap mobilnya sudah dihiasi dengan indah. Namun kami puas karena kami berhasil memenuhi hampir seluruh atap mobil dengan kulit pisang dan tanpa sadar kami sudah menghabiskan satu sisir pisang berdua. Suatu catatan rekor di rumah yang hingga sekarang belum ada.

Komentar mama bertahun-tahun setelah kejadian itu:
“Pantas saja kalian bisa menghabiskan pisang satu sisir. Dan besok ketika dibelikan pisang lagi kalian tidak mau makan pisang. Ternyata ada perlombaannya…. Harusnya mama curiga waktu itu waktu K dengan sibuk bolak-balik bawa pisang … Aduh pasti tetangga seberang rumah berkomentar — anak-anak seberang itu bandel banget. Dia ‘kan tiap sore pasti ada di balkon juga.”


Lomba kedua —- KUACI

Ada banyak jenis kuaci yang ada, tetapi kuaci yang aku kenal waktu kecil hanya kuaci berwarna hitam dari biji semangka. Yang aku ingat kuaci ini keras dan sangat susah untuk mendapatkan isinya, karena jika dikupas/digigit kulitnya mudah hancur. Setiap tahun ketika perayaan Imlek, papa dengan setia selalu membeli kuaci hitam dari biji semangka ini sebagai salah satu sajian untuk tamu. Setiap tahun, kuaci ini juga yang menjadi hidangan yang paling lama habis (mungkin karena kuaci ini yang paling merepotkan untuk dimakan jadi kuaci ini tidak termasuk hidangan favorit).

Suatu ketika, beberapa hari setelah Imlek, aku dan kakakku sedang duduk-duduk di ruang tamu menonton tv setelah makan malam. Lalu kami mulai iseng melihat-lihat kuaci hitam yang masih penuh di toples, padahal kacang atau kue kering lain sudah banyak berkurang ditoples (kami sekeluarga juga paling jarang menyentuh kuaci kalau ngemil).

Tiba-tiba saja kami berdua sudah terlibat dalam adu siapa yang bisa paling banyak menghabiskan kuaci hitam itu. Perlahan-lahan tapi pasti tumpukan kulit kuaci menumpuk dihadapan kami. Mungkin lebih banyak kuaci yang hancur daripada dimakan. Yang menjadi juri adalah 2 orang pembantu rumah tangga. Masing-masing mendapat tugas untuk menghitung kuaci yang kami makan dan sekaligus juga menjadi suporter kami berdua. Ternyata kecepatan kami makan kuaci sama. Dan lebih banyak kuaci yang hancur daripada dimakan.

Pertandingan akhirnya berhenti karena sudah waktunya untuk tidur. Pembantu pun membersihkan sisa-sisa pertandingan. Setiap peserta mendapat hadiah berharga, bibir dan gigi nyilu kebanyakan makan kuaci. Tapi kuaci sudah berkurang hingga setengah toples.

Tak lama sesudah pertandingan ini, kuaci hitam menghilang dari tradisi Imlek di keluarga kami. Sedangkan aku baru berani menyentuh kuaci lagi setelah hampir 15 tahun sejak kejadian itu – tapi tetap saja aku tidak mau menyentuh kuaci hitam lagi.

to be continued ….

1 | 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s