My Sister and I – A Long Life Competition (2)

Lomba ketiga – Tarik Tambang (kaki)

Oleh papa dan mama kami bertiga ditempatkan pada kamar yang sama supaya lebih akrab. Kamar tidur kami terdiri dari 2 tempat tidur, satu tempat tidur tingkat ligna dengan pagar pengaman agar tidak jatuh ketika tidur yang diletakan menempel dinding dan satu lagi tempat tidur double tepat disamping tempat tidur ligna.

Siang itu seharusnya kami bertiga tidur siang seperti pada hari-hari sekolah lainnya. Tetapi hari itu mama yang biasanya menemani kami tidur siang sedang pergi ke salon untuk potong rambut dan papa yang kebetulan sedang ada di rumah hari itu juga sedang menonton tv di ruang tamu. Jadi kami hanya bertiga saja di kamar tidur siang itu tanpa ada yang mengawasi.

Seperti burung lepas dari sangkar, kami tidak tidur siang melainkan bermain-main dikamar. (Aku sedikit menyesal karena dulu ketika aku mempunyai banyak waktu untuk tidur siang tidak aku gunakan baik-baik. Sekarang tidur siang adalah barang mewah untukku). Kami bermain-main dengan segala imaginasi dan permainan yang mungkin dimainkan di tempat tidur tanpa mainan yang lain. Sama sekali tidak merasa ngantuk.

Entah bagaimana aku bisa berada di tempat tidur tingkat duduk bersandar tembok dengan kaki sedikit terjulur kebawah melalui batas antara kasur dan pagar pengaman, sedangkan kakak dan adikku di bawah. Kami bertiga saling mengejek dan tertawa-tawa. Lalu mulailah kakak dan adikku menarik kedua kakiku dari bawah dan aku diatas berusaha mempertahankan diri agar tidak tertarik kebawah.

Saat itu aku mendapat pelajaran fisika pertamaku : perlu daya yang kuat sekali untuk menentang gaya gravitasi – apalagi jika gaya gravitasi itu dibantu dengan gaya tarik dua anak yang sangat bersemangat. Tidak lama kemudian tampak jelas siapa yang menang dan siapa yang kalah. Aku mengakui kekalahanku dan tidak memberontak lagi ketika ditarik turun, sementara kakak dan adikku meneriakan pekikan kemenangan mereka.

Tapi ketika badanku sudah berada di bawah, kepalaku tidak dapat melewati celah antara kasur dan pagar pengaman ranjang tingkat. Ditarik-tarik tetap tidak mau turun. Uuggghh…. Benar-benar pengalaman yang tidak enak. Kepalaku nyangkut dan aku tergantung di ranjang – tidak dapat naik dan tidak dapat turun. Kakiku juga tidak dapat menginjak ranjang dibawahku dengan baik.

Pekik kemenangan sekarang berubah jadi kepanikan. Kami bertiga berusaha menaikan diriku kembali ke ranjang atas. Tapi 3 anak kecil tidak mempunyai cukup kekuatan untuk menaikkan aku kembali. Akhirnya kakiku di ganjal bantal agar bisa berdiri dengan enak dan kepalaku tetap menyangkut (Hi… hi… aku mengalami versi kecil menjadi korban gantung diri).

Akhirnya kami memutuskan untuk memanggil 911 alias papa. Papa masuk ke kamar dan segera melihat apa yang terjadi, aku masih nyangkut di tempat tidur. Kami bertiga mendapat ceramah singkat dan pengalaman baru. Papa yang biasanya sabar, lembut dan tidak pernah marah tampak begitu menakutkan saat itu. Ia tidak berkata apa-apa hanya mendekat dan sedikit mengangkat kasur ditempat kepalaku tersangkut (untung masih memakai kasur kapuk jadi bisa diangkat sedikit). Dan … Kepalaku akhirnya bisa keluar dari pagar pengaman.

Papa tidak pernah mau mengatakan betapa marahnya dia saat itu. Akhirnya kami sadar bahwa tidak aman untuk bermain-main di tempat tidur🙂 Aku juga mendapat tambahan gelar baru sejak itu – “Kepala Besar”.

Lomba keempat – Buku

Masa-masa ulangan dan PR adalah tekanan yang cukup berat untuk anak sekolah. Sering kali emosi menjadi efek samping dari tekanan ini. Aku pernah mengalami hal ini ketika SMP dahulu….

Aku masih duduk di kelas 1 SMP dan sedang ulangan umum. Aku belajar berdua dengan kakak di kamar tidur. Aku di meja belajar dan kakak di tempat tidur di belakangku. Kami belajar dengan tenang selama beberapa saat.

Lalu …

SRET !!!

“Yah sobek deh…”

Aku menoleh kebelakang dan melihat kakakku memegang buku cetak sejarahku dan sobekan kertas memanjang di tangan satunya. Aku jadi kesal sekali dan melihat sekelilingku yang masih dapat aku raih. Tampaklah buku tulis bersampul biru didekatku. Itu buku catatan teman kakakku yang dia pinjam.

SRET !!!

Aku balas menyobek satu halaman dari buku itu.

Dan selanjutnya seperti yang bisa diramalkan ….

Kami berdua mulai beradu suara siapa yang lebih nyaring…
Untung saja papa segera datang dan menyelamatkan buku-buku disekitar kami .. jika tidak setelah suara menghilang karena capai … pasti buku-buku itu menjadi sasaran kembali.

– the end –

1 | 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s