Lukas 12:24

SAKIT !!!! SAAAKKKIIIIIIIIIIITTTTTTTTT !!!!!

Rasa sakit itu yang membangunkan kesadaranku. Aku tidak tahu darimana rasa sakit itu berasal. Yang aku tahu, seluruh tubuhku sakit … mual … dan gelap. Apa yang terjadi? Mengapa aku bisa seperti ini? Aku mencoba mengingat-ingat, tetapi otakku sepertinya sudah berhenti bekerja.

Aku mencoba menggerakan kaki dan tanganku, tetapi tidak bisa. Tubuhku berat dan kaku. Apakah ini memang tubuhku? Kemana tubuhku yang biasanya lincah melompat-lompat pagar?

Kemudian aku mencoba untuk membuka mataku. Perlahan-lahan aku berhasil memaksa mataku untuk membuka. Aku mengangkat kepala lemah dan melihat sekelilingku. Seluruhnya tampak asing bagiku. Ugghhh dimana aku sekarang? Mengapa aku bisa berada disini? Ini adalah tempat yang tidak aku kenal … tidak ada seorang pun yang aku kenal. Tidak ada kakak berambut panjang yang selalu tersenyum ramah setiap melihatku. Tidak ada kakak yang galak dan selalu marah-marah itu. Dan terutama … tidak ada mama. Kemana mereka semua?

Mama … mama … Dimana mama?”

Apakah mama dapat mendengar suaraku yang kecil ini? Dimana mama? Mengapa aku ditinggal sendirian disini – ditempat yang aku tidak kenal? Apakah mama akan mencariku? Apakah mama tahu aku kesakitan? Apakah mama tahu kalau aku tidak dapat bergerak disini? Aku kangen mama.

Samar-samar aku melihat satu titik gelap diatas sana. Perlahan-lahan, titik itu bergerak turun dan semakin mendekatiku serta semakin membesar. Aku takut, tetapi aku tidak dapat lari menghindar dari kegelapan itu. Aku menutup kedua mataku. Merasakan kegelapan akhirnya menyelimutiku sepenuhnya. Ternyata kegelapan ini tidaklah menakutkan, bahkan lebih enak rasanya larut dalam kegelapan yang semakin pekat ini. Benar-benar nyaman. Aku tidak merasakan lagi sakit itu. Aku tidak perlu lagi susah-susah memikirkan mengapa aku bisa berada disini? Atau apa yang terjadi?

Dalam kegelapan, aku melihat potongan-potongan film dengan aku menjadi tokoh utamanya. Sungguh aneh!! Seharusnya aku tidak dapat melihat apa-apa dalam kegelapan ini. Tapi aku tidak mau bersusah-susah memikirkannya. Aku tidak peduli. Tidak mengapa melihat potongan-potongan film itu, asalkan rasa sakit itu tidak aku rasakan lagi. Potongan film itu dimulai dari masa-masa awal hidupku ketika masih ada ibu.

***

Lihat ada anak kucing dihalaman kita. Lucu sekali. Selalu bersembunyi didekat pompa air jika ada orang datang. Pasti diajar induk kucing.”

Itu ‘kan kucing liar, ma. Usir saja. Nanti jorok lagi halaman rumah kita.”

Jangan!!! Kucing ini tidak jorok. Mama sudah memperhatikan kucing ini selama satu minggu. Kalau jorok pasti sudah mama usir.”

Ala … paling mama juga ngasih makan ke kucingnya.”

Lebih baik mama kasih makan kucing. Lebih bersih daripada kalau kucing itu korek-korek tong sampah mama. Jorok … berantakan lagi.”

***

Potongan-potongan film terus bergerak maju. Aku semakin besar. Kemudian ibu mengajakku untuk pindah ketempat lain. Aku tidak mau pindah karena sudah kerasan ditempat mama. Mama sangat baik padaku. Akhirnya ibu meninggalkanku ditempat mama untuk pindah ke tempat lain sambil berpesan, “Kamu sudah besar sekarang, nak. Sudah bisa hidup sendiri. Untuk terakhir kalinya, ibu hanya mau mengingatkan, hati-hatilah dengan motor atau mobil. Mereka ada benda yang sangat kejam jika sudah bergerak.”

Setelah itu aku melihat potongan-potongan film yang menceritakan bagaimana aku ketika ditinggal ibu. Mama tetap baik kepadaku. Ia sering memberi aku makan. Sebagai gantinya aku selalu berusaha menjaga untuk selalu bersih dan tidak membuang kotoran sembarangan. Aku tahu mama tidak suka jorok dan kotor.

Potongan-potongan film terus bergerak. Dalam hati aku tahu sebentar lagi potongan film ini akan berakhir.

Lalu …

Ah … Aku ingat sekarang. Lewat tengah malam itu, aku tidak berhati-hati sehingga kakiku terserempet motor. Aku baru tahu sekarang mengapa ibu dulu sering menasihatiku supaya berhati-hati dengan motor atau mobil. Aku menjilat kakiku yang sakit berharap itu akan membuatnya lebih baik besok. Malam itu aku hanya berbaring dengan kakiku yang berdenyut-denyut sakit. Aku tidak dapat tidur semalaman.

Esok paginya aku tahu bahwa aku tidak menjadi baik tapi semakin parah. Aku merasa mual. Sangat mual. Dan akhirnya … Uekkhhh … Aku tidak tahan lagi. Aku muntah.

Uughhh… Mama pasti akan marah. Aku mengotori rumahnya. Maafkan aku mama. Ini benar-benar diluar kendaliku.

Aku mengira setelah muntah maka mualku akan berakhir. Tapi ternyata aku salah. Aku muntah dan terus muntah. Sampai aku bingung darimana asal semua cairan yang aku muntahkan itu. Maaf mama, aku mengecewakanmu.

Kepalaku sakit. Kakiku Sakit. Perutku tidak enak. Mual. Tubuhku susah untuk digerakkan. Dan bagian yang terburuk ternyata selain muntah, aku juga terserang diare. Aku buang-buang air. Dan karena kakiku sakit, aku tidak dapat pergi ketempat aku buang air yang biasa. Kali ini mama pasti benar-benar mengamuk. Aku benar-benar mengotori rumahnya. Mama, ampuni aku … aku tidak sengaja…

***

Kucing ini sakit, Pak. Lihat dia mengotori teras dan halaman dengan muntahan dan kotorannya. Tolong pindahkan dia dari halaman.”

Baik.”

Oh iya, tolong dibawa ke tempat yang cukup jauh supaya dia tidak kembali lagi.”

Baik, Bu.”

***

Air mataku mengalir. Ternyata mama benar-benar marah. Ia membuangku. Aku sudah tidak disayang mama lagi. Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mempunyai tempat untuk pulang. Mungkin memang lebih baik berselimutkan kegelapan seperti ini.

Namun, justru ketika ingatanku kembali dan aku sudah merasa sangat nyaman larut dalam kegelapan ini, aku dapat merasakan selimut kegelapanku memudar perlahan-lahan hingga akhirnya hilang. Rasa sakit kembali menghampiriku. Dan aku juga merasa sangat lapar.

Mengapa kegelapan yang menyelimutiku juga meninggalkanku? Bahkan berselimut kegelapan lebih baik daripada sendirian. Aku tidak mau sendirian. Sendirian bahkan terasa lebih menyakitkan daripada sakit diseluruh tubuhku ini. Aku memejamkan mataku berharap kegelapan itu akan datang kembali menghampiriku.

Tapi tidak ada kegelapan yang datang kembali. Aku benar-benar sendirian.

Kemudian aku melihat sinar yang sangat terang sekali menghampiriku. Sinar itu begitu terangnya hingga nyaris membutakan. Aku memejamkan mataku berusaha menghalau sinar itu mendatangiku. Tapi sinar itu tetap saja mendekat hingga akhirnya sinar itu mengelilingiku.

Rasanya sedikit berbeda dengan kegelapan yang tadi. Aku tidak melebur dalam sinar ini seperti dalam kegelapan tadi. Tapi anehnya aku juga merasa sangat nyaman. Bahkan jauh lebih nyaman dibandingkan tadi. Kalau tadi aku seperti berbaring di atas kasur kapuk yang empuk … kali ini aku seperti berbaring di atas kasur kapuk yang baru dijemur dengan aroma khas kasur yang baru dijemur yang selalu membuatku kangen.

Tidak ada potongan-potongan film kali ini. Dan … HEI!!! Aku juga tidak merasa sakit. Aku mendengar suara-suara dan nyanyian. Apa yang terjadi? Aku membuka mata.

Aku melihat orang-orang berpakaian putih terbang diudara – menari dan bernyanyi. TERBANG??? Setahuku manusia tidak bisa terbang. Hanya burung gereja, lebah dan kupu-kupu yang terbang. Tapi mereka benar-benar terbang. Mataku tidak salah lihat.

Lalu aku melihat orang itu menghampiriku. Dia juga berpakaikan putih – sangat putih. Rambutnya berwarna gelap. Wajahnya tampan. Perawakannya tinggi dan tegap. Aku selalu takut didekati orang yang tidak aku kenal. Aku bergerak menjauh – atau lebih tepatnya lagi menggeser tubuhku menjauhinya. Memang aku tidak lagi merasa sakit tapi tetap saja aku tidak bisa bergerak.

Usahaku sia-sia. Orang itu semakin mendekat dan aku tidak bisa bergerak lebih jauh lagi. Dia mengulurkan tangannya. Aku berusaha memukulnya. Tetapi dia hanya tersenyum. “Jangan takutnya”, katanya. Suaranya dalam, lembut, ramah dan bersahabat. Aku merasa tenang dan sepertinya dulu sekali aku pernah mengenal suara itu. Kemudian dia mengelusku.

***

Tahukah kamu? Kucing itu berhasil pulang lagi kesini.”

HAH!!! Kucing yang kata mama sudah mau mati itu gara-gara keserempet motor atau mobil itu? ‘Kan sudah mama buang. Kok bisa, ma?”

Iya, kucing yang mama kira sudah hampir mati itu. Mama benar-benar tidak menyangka. Ini pasti mujizat Tuhan.”

Gimana caranya kucing itu balik lagi kesini, ma?”

Mama juga tidak tahu. Padahal dua hari yang lalu kucing itu sudah lemas sekali, tidak bisa bergerak, muntah-muntah dan diare sembarangan. Karena kesal, mama minta tolong sama bapak satpam untuk membuang kucing itu di lampu merah sana. Ternyata tadi pagi dia bisa pulang lagi kesini. Dan coba lihat!!! Kucingnya sehat. Walaupun kakinya masih sedikit pincang dan dia kurus kelaparan. Tapi kucingnya sehat.”

Kucing lain kali!!!”

Bukan. Mama hapal sama kucing ini. Hampir setiap hari mama yang kasih makan kok. Ini benar-benar mujizat Tuhan. Tadi malam, mama sedih ingat kucing ini. Mama merasa bersalah karena sudah buang kucing, mau dicari juga sudah susah. Jadi mama doa sama Tuhan supaya kalau bisa kucingnya dirawat. Ternyata hari ini kucingnya pulang dan sudah sehat. Sekarang mama pasti akan merawat dia supaya gemuk lagi.”

***

Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!”

Lukas 12:24

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s