Pengkotbah 3:1-8

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.

Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal,

ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;

ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan;

ada waktu untuk merombak; ada waktu untuk membangun;

ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa;

ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;

ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu;

ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;

ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi;

ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;

ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit;

ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci;

ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai;

Pengkotbah 3:1-8

Gadis kecil berusia 12 tahun berdoa dengan tekun setiap malam selama retret anak yang diadakan selama 3 malam. Ia meminta kesembuhan untuk ayahnya yang sedang kritis di rumah sakit. Ternyata Dia yang memberi kehidupan mempunyai rencana lain. Dua hari setelah gadis kecil kembali dari retret, ayahnya juga pulang ke tempat Dia yang memberi kehidupan.

Sesuai tradisi, seorang wanita muda yang baru saja selesai melangsungkan pernikahannya memberikan buket bunga mawarnya kepada sahabatnya yang belum menikah. Sahabat wanita ini membuka buket bunga itu pulang dan menyimpannya dalam vas bunga dengan harapan tradisi itu menjadi kenyataan. Satu minggu kemudian justru pembantu yang bekerja di rumah sahabat wanita ini pulang kampung dan kemudian menikah.

Meeting berjam-jam dengan klien pada hari jumat membahas sesuatu yang rumit dan alot ketika pikiran sudah mengembara kepada aktifitas di akhir pekan sungguh tidak mengenakkan. Tetapi lebih tidak mengenakkan lagi ketika mendapat pemberitahuan bahwa klien yang baru ditemui hari Jumat telah meninggal pada hari Minggu akibat serangan jantung. Begitu banyak masalah yang belum selesai dibahas. Begitu banyak kenangan yang menyenangkan dan mengesalkan. Begitu banyak penyesalan karena seharusnya masih bisa memberikan layanan yang lebih baik kepada klien. Dan semuanya hanya tinggal kenangan.

Semua orang menyantap bekal mereka sambil menundukkan kepala di kafetaria kantor. Berusaha untuk menghindari tatap muka dan bercakap-cakap dengan orang lain. Tetapi siang itu anehnya setiap orang yang sudah selesai makan tidak ingin cepat-cepat meninggalkan kafetaria seperti biasanya. Mereka semua duduk lebih lama dan akhirnya mengangkat kepala dan menatap kolega lain. Tawa dan canda pun mengalir sesudahnya. Ternyata berteman di kantor juga menyenangkan.

Seorang wanita berusia diawal 30 puluh tahun tersenyum senang sepanjang hari. Setelah bertahun-tahun tidak pernah berhasil dalam mencari cinta, sekarang dia berhasil menemukan lelaki idaman yang sangat mengasihinya melalui dunia selular. Pangeran tampan dari pulau seberang yang walaupun berusia beberapa tahun lebih muda darinya merupakan pemilik perkebunan sawit. Setelah pernikahan barulah diketahui sang pangeran tampan hanya pengawas perkebunan yang sekarang tidak ada pekerjaan.

Seharusnya dia bersedih. Ayahnya berpenghasilan $4 setiap hari dari Senin – Jumat. Ia tidak bisa melanjutkan sekolahnya setelah tamat SMA. Ia tidak bisa menghadiri acara kelulusan bersama teman-teman sekelasnya. Uang sekolahnya masih menunggak 2 tahun. Tapi mengapa harus bersedih? Ia mendapat pekerjaan di ibukota. Sekarang ia bisa membantu ayahnya untuk menyekolahkan adik-adiknya. Ia bisa membelikan hadiah untuk adiknya.

Ia adalah wanita dan istri yang paling bahagia di dunia. Sebentar lagi ia akan menjadi ibu. Bayi yang ditunggu-tunggu akan datang. Setiap hari ia sibuk merangkai nama-nama yang paling indah untuk disandang bayinya ketika datang kelak. Ia mulai membayangkan seperti apa wajah bayinya kelak. Namun seminggu yang lalu, kebahagiaannya sirna dalam sekejab. Bayi yang ditunggu tidak jadi datang. Ia hanya bisa menangis di rumah sakit. Sia-sia nama-nama yang sudah dirangkai. Ia juga tidak bisa memastikan seperti apa wajah bayinya kelak.

Dua tahun setelah dibentuk, perusahaan joint venture dengan salah satu perusahaan asing terkenal itu selalu dipuji. Kinerja kerja perusahaan sangat baik. Masing-masing pihak merasa puas dengan perjanjian yang ada dan merasa yakin dengan masa depan perusahaan itu hingga sepuluh tahun mendatang. Namun tiga bulan setelah ulang tahun yang ke-2, salah satu pihak mulai menyatakan ketidakpuasan dan mengatakan pihak lain ingkar janji. Kemudian kedua pihak mulai berselisih. Akhirnya, perusahaan joint venture dengan masa depan cerah ini bubar dengan pihak yang merasa dirugikan membeli semua saham yang ada.

Dunia terasa hancur ketika kekasihnya meninggal karena leukimia tiga tahun lalu. Ia yakin bahwa ia tidak akan jatuh cinta atau menikah untuk sisa hidupnya. Cinta adalah sesuatu yang menyakitkan. Hari ini ia tersenyum bahagia. Ia sudah menemukan cinta yang baru. Mereka sudah menikah selama dua tahun sekarang dan putri kecilnya baru saja berulang tahun yang pertama. Cinta ternyata bukan sesuatu yang menyakitkan tetapi menyenangkan.

Seharusnya hari itu adalah hari yang paling membahagiakan buat dia. Hari itu adalah hari pernikahannya. Tetapi mengapa semua sahabat dan temannya tidak ada yang berbahagia untuknya? Mereka bahkan mencoba untuk membatalkan pernikahan ini. Apakah salah menikah dengan seorang “mantan” kolektor wanita? Tapi sekarang hari-hari menyedihkan itu sudah berlalu. Yang ada adalah penantian datangnya bayi lucu yang akan datang lima bulan lagi.

Bertahun-tahun dia adalah orang yang paling kaya di kota itu. Setiap orang menghormatinya. Namanya sudah menjadi brand tersendiri. Setiap orang ingin menjadi temannya. Lalu krisis ekonomi datang. Satu persatu perusahaannya tutup. Bahkan dia harus masuk penjara. Tidak ada lagi yang mau mengaku sebagai temannya.

Seseorang mengatakan karena ia tidak tahu kapan waktunya untuk menangis, tertawa, menangis, menari, merombak atau membangun, maka ia selalu melatih dirinya agar:

  • menjadi prajurit Kristus yang baik dalam setiap pertempuran;

  • menjadi anak Allah yang taat dalam pengajaran;

  • menjadi sahabat Yesus yang setia dalam setiap masalah dan pencobaan; dan

  • menjadi hamba Tuhan yang rendah hati dalam setiap berkat.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir”

Pengkotbah 3:11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s