Corporate Membership

Frequent Flyer Program yang bertujuan untuk meningkat loyalitas anggota bukan hal baru dalam dunia airline. Masing-masing airline berusaha membuat penawaran yang semenarik mungkin termasuk bonus untuk menarik anggota sebanyak mungkin. Anggota dapat berasal dari karyawan kantor yang sering melakukan perjalanan bisnis, pelajar, business man, tour guide, dan sebagainya. Untuk beberapa airline bahkan sudah mengembangkan sistem keanggotaan yang ada dengan memberikan sistem keanggotaan bagi perusahaan, misalnya PerkPlus membership yang merupakan kerjasama United dan Lufthansa.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan keanggotaan untuk perusahaan atau sering disebut juga “Corporate Account” dan “Corporate Membership”?

Pada dasarnya Corporate Account sama dengan sistem keanggotaan yang biasa (individual). Bedanya adalah yang tercatat sebagai anggota adalah perusahaan (misalnya IBM, Microsoft, dll) dan semuanya point yang dikumpulkan juga dicatat atas nama perusahaan. Adapun point dikumpulkan berdasarkan aktivitas yang berhubungan dengan perusahaan dari karyawan perusahaan terdaftar tersebut dengan airline atau partner dari airline terkait, misalnya perjalanan bisnis untuk sales, training, dan sebagainya.

Konsep umum corporate account adalah sebagai berikut:

Ketika perusahaan mendaftar sebagai anggota maka perusahaan tersebut harus menunjuk seorang dari perusahaannya sebagai contact person sekaligus admin yang mengurus keanggotaannya. Tugas admin adalah mendaftarkan siapa saja karyawan-karyawan perusahaan tersebut yang akan dicatat setiap kali melakukan perjalanan bisnis sehingga perusahaan dapat mengumpulkan poin. Admin wajib melaporkan pada airline untuk setiap penambahan atau pengurangan dari karyawan-karyawan yang sudah didaftarkan. Selain itu admin juga bertugas untuk melakukan klaim apabila ternyata ada aktivitas karyawan yang tidak tercatat dan juga membuat redemption untuk penukaran point yang sudah terkumpul misalnya dengan tiket gratis atau voucher hotel.

Sebagai tambahan, terkadang setiap karyawan yang terdaftar juga wajib mendaftar sebagai anggota frequent flyer individual pada airline. Jadi, karyawan juga dapat mengumpulkan poin bagi dirinya sendiri dengan perjalanan-perjalanan pribadinya (misalnya berlibur atau mengunjungi anak).

Airline dapat memberikan batasan definisi perusahaan yang akan menjadi anggota, antara lain:

  1. apa bidang usahanya?

  2. Berapa besar perusahaan tersebut (jumlah pegawai, keuntungan, dll)?

  3. Bagaimana untuk anak-anak perusahaan? Apakah akan didaftarkan sebagai member atau didaftarkan sebagai bagian perusahaan induk?

  4. Apakah ada batasan undang-undang di negara tertentu mengenai keanggotaan frequent flyer bagi perusahaan?

Keuntungan airline memberikan keanggotaan bagi perusahaan

Airline dapat memastikan kesetiaan perusahaan untuk menggunakan layanan dari airline tersebut untuk setiap kepentingan perusahaan terdaftar yang pada akhirnya dapat meningkat penjualan tiket airline tersebut.

Sebagai ilustrasi, A bekerja pada PT XYZ dan sering berpergian untuk urusan sales dengan menggunakan airlines ZZZ. Jika ZZZ hanya mempunyai frequent flyer program dengan keanggotaan untuk individual saja maka ketika A pindah dari PT XYZ maka airline ZZZ mungkin saja kehilangan salah satu pelanggannya karena A tidak lagi sering berpergian dan mungkin saja pengganti A yaitu B di PT XYZ lebih menyukai untuk berpergian dengan airline YYY.

Namun jika airline ZZZ mempunyai sistem keanggotaan untuk perusahaan maka apabila PT XYZ menjadi anggotanya, tidak peduli apakah A atau B yang melakukan perjalanan, PT XYZ pasti akan lebih memilih airline ZZZ untuk perjalanan setiap karyawannya.

Selain itu dengan menggunakan konsep yang sama, airline juga dapat sedikit memodifikasi sistem keanggotaan perusahaan ini menjadi sistem keanggotaan untuk keluarga atau family membership. Salah satu airline yang menawarkan family membership adalah Etihad.

Lalu apa keuntungan bagi perusahaan menjadi dengan menjadi anggota frequent flyer?

Yang pertama adalah sama dengan tujuan individual menjadi anggota frequent flyer yaitu untuk mengumpulkan poin yang kemudian dapat ditukar dengan tiket gratis, voucher hotel atau yang lainnya sehingga biaya perjalanan yang sudah dikeluarkan dan menjadi semacam tabungan juga untuk perusahan tersebut. Kelak, perusahaan dapat menggunakan poin yang sudah ditukar untuk membiayai perjalanan karyawannya atau memberikan hadiah misalnya tiket pesawat dan voucher hotel untuk berlibur bagi karyawan yang berprestasi.

Yang kedua, perusahaan dapat memberikan fasilitas perjalanan yang sama untuk setiap karyawan yang bepergian. Coba bayangkan! Suatu hari PT XYZ mengutus B dan C untuk mengunjungi kantor cabang dengan menggunakan airline ZZZ. Karena B sering bepergian dan merupakan anggota frequent flyer airline ZZZ maka B mendapat level keanggotaan yang tinggi dengan fasilitas airport lounge, tambahan bagasi 5 kg, dan prioritas ketika check in. Sebalik C karena bukan merupakan anggota frequent flyer airline ZZZ tidak mendapat semua fasilitas yang tersedia untuk B. Jika yang terdaftar menjadi anggota adalah PT XZY, maka B dan C akan mendapat fasilitas yang sama sesuai dengan fasilitas yang disediakan airline ZZZ untuk PT XYZ.

Yang ketiga adalah perusahaan dapat menghindari untuk membayar lebih karena keingingan karyawanya mengumpulkan point untuk kepentingan pribadi. Misalnya A adalah anggota frequent flyer airline ZZZ, maka untuk setiap kesempatan berpergian yang ada A selalu memilih airline ZZZ demi mengumpulkan point – walaupun terkadang jadwal penerbangan airline ZZZ tidak sesuai dengan jadwal kerja A. Selain itu ada kemungkinan juga A merancang perjalanan bisnis yang tidak perlu untuk mencapai tingkat poin tertentu.

Sayangnya setiap nilai-nilai positif selalu diikuti juga dengan nilai-nilai negatif, demikian juga dengan sistem keanggotaan bagi perusahaan.

Dari sisi airline, mungkin saja airline kehilangan potensi anggota individual yang setia. Mungkin saja A tetap setia menggunakan airline ZZZ untuk setiap perjalanan yang ia lakukan baik bisnis maupun pribadi tak peduli di perusahaan mana ia bekerja. Namun karena airline menerapkan sistem keanggotaan perusahaan maka mungkin saja karyawan perusahaan menjadi tidak mempedulikan airline yang digunakan untuk perjalanan pribadi.

Selain itu juga selalu ada kemungkinan anggota yang tidak puas karena untuk setiap perjalanan bisnis yang dilakukan point terkumpul atas nama perusahaan. Namun airline dapat menghindari hal ini dengan menggunakan sistem pembagian poin untuk perusaahaan dan individual. Misalnya A terbang dengan airline ZZZ dan mendapat total 1000 point. Maka 800 point diperuntukan bagi perusahaan tempat A bekerja dan 200 point diperuntukkan untuk A.

Dari sisi perusahaan, perusahaan harus jeli untuk mencari airline yang paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan sebelum menjadi anggota. Selain itu perusahaan juga harus mencermati kemudahan untuk menukar point dengan tiket gratis karena hal ini yang paling sering menjadi keluhan anggota individual juga. Perusahaan juga harus teliti karena kurangnya garansi untuk point yang sudah terkumpul jika suatu ketika airline tidak beroperasi lagi.

Sebagai penutup, keputusan untuk mengadakan Corporate Account tergantung dari kebijakan airline. Dan bagaimanakah bentuk pasti keanggotaan ini serta penawaran yang ada, ini merupakan rahasia dapur yang tidak boleh diceritakan. Intinya adalah bagaimanakah membungkus barang yang sama sehingga menjadi lebih menarik dan laris dijual daripada barang lain yang serupa?

Juga bagi perusahaan, keputusan untuk menjadi anggota frequent flyer tergantung sepenuhnya pada kebijakan perusahaan tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s