My Journey – Frankfurt 2 (3 – end)

Offload Priority

Frankfurt

Frankfurt

Walaupun pesawat kami dijadwalkan jam 10 malam, namun dengan penuh semangat aku dan rombongan sudah check-in sejak pukul 12 siang. Dengan tenang kami menyimpan boarding pass kami dan saling mencocokkan nomor bangku pesawat.

Pukul 6 sore kami sudah kembali ke airport untuk menunggu boarding. Pukul 7 malam, kami sudah rapi menunggu di ruang tunggu, siap untuk boarding sambil membayangkan bahwa mulai besok malam kami sudah bisa di rumah. Kami sama sekali tidak mengira akan diberi shock terapi.

Sekitar pukul 9, nama kami semua dalam satu rombongan dipanggil ke boarding counter. Disana kami diberitahu bahwa karena penerbangan ramai, maka karena kami adalah pemegang tiket diskon spesial, kami dimasukkan dalam daftar waiting list. Kemungkinan terbaik adalah kami terbang tetapi dengan tempat duduk terpisah-pisah atau kami masuk daftar offload. Ada 15 penumpang dalam daftar waiting list. Petugas counter berjanji akan memberi kami keputusan pukul 9.30 pada saat check-in tutup. Jadilah 30 menit doa syafaat berdasarkan kepercayaan masing-masing.

30 menit berlalu ….

Dan belum ada panggilan untuk kami. Nama kami masih termasuk dalam daftar waiting list. Dalam benak kami masing-masing sudah mulai membayangkan plan B. Aku akan menyusun ulang koperku karena aku sudah tahu perkiraan berat koperku. Kami menimbang-nimbang hendak menginap dihotel mana jika hotel yang biasanya penuh.

Satu jam berlalu ….

Para penumpang mulai dipanggil untuk boarding pesawat. Seperti biasa mulai dari penumpang first class, business class, disable, keluarga, dan seterusnya. Nasib kami tetap tidak jelas. Nama kami tetap terdaftar dalam waiting list. Lima pasang mata terus menatap daftar waiting list sambil komat kamit berdoa. Hingga penumoang terakhir naik pesawat dan ruangan sepi, kami tetap berada dalam waiting list.

Lalu…

Nama kami berubah dari waiting list dan calon offload menjadi passenger walaupun tempat duduk kami terpisah. Whew …

15 jam kemudian …

PA120154Akhirnya burung besi itu mendarat di bandara Soekarno Hatta, yang walaupun tampak kuno, tak terawat, dan menyebalkan tetap saja memberi ketenangan. Kami sudah sampai di Jakarta. Dan aku baru tahu satu hal, walaupun berdebar-debar menjadi priority offload passenger, ternyata masih ada sisi positifnya juga. Baggage kami berlima paling cepat keluar setelah first class dan business class passenger baggage.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s