The way I threat His Thing (1)

Suatu hari aku bepergian dengan pesawat dengan seorang teman yang beragama lain. Kebetulan kami masing-masing membawa buku doa kecil dalam tas tangan kami untuk dibaca selama penerbangan jika tidak bisa tidur. Temanku membawa buku-buku doa singkat, sedangkan aku membawa buku renungan harian.

Dalam pesawat, temanku menyimpan tas tangannya di lantai. Namun sebelum itu, ia mengambil dahulu buku doanya dan disimpan di laci kursi. “Buku doa ini tidak boleh terinjak atau tertendang”, jelasnya padaku. Aku perhatikan buku doanya walaupun sudah tua dan kuning namun masih terawat dengan baik. Lalu aku melihat buku renungan yang aku bawa. Sudah lusuh dan penuh lipatan pada kedua sisinya. Terkadang buku itu bahkan jatuh dan terinjak olehku. Apakah aku pernah menyesal? TIDAK!!

Ah itu karena buku renungan murah .. jadi aku kurang menghargainya. Lagipula buku yang lusuh dan terlipat-lipat berarti aku sering membuka dan membacanya” – ada suara berkata dikepalaku.

Lalu aku teringat dengan Alkitab milikku. Alkitabku berusia kira-kira 5 tahun dan tidak bersampul plastik. Sudut-sudutnya banyak yang terlipat. Kulitnya sudah rusak sehingga alkitabku harus banyak menjalani “operasi” perbaikan. Di dalamnya penuh dengan coretan dan warna untuk ayat-ayat yang aku suka. Terkadang jika pembatas buku habis, aku bahkan melipat lembaran Alkitabku supaya mudah untuk menemukan ayat-ayat yang aku tandai. Terkadang jika aku ketiduran, Alkitabku bisa tertendang entah atau tertimpa.

Aku bangga dengan Alkitabku yang telah menemaniku melalui masa-masaku yang gelap maupun terang. Setiap lipatannya dan coretan didalamnya adalah tanda berapa kali aku membukanya.

TIDAK!!!” – suara lain berteriak dikepalaku.

Aku melihat buku-buku novelku. Beberapa harganya lebih dari harga Alkitabku. Beberapa jauh lebih murah dari Alkitabku. Tetapi semua buku itu rapi, bersampul plastik. Tidak ada coretan atau lipatan tak peduli berapa kali aku membaca atau meminjamkannya. Aku tidak pernah ketiduran ketika membacanya.

Mengapa aku memperlakukan buku-buku ini dengan lebih berhati-hati? Mengapa aku lebih menyayangi buku-buku ini daripada Alkitabku? Padahal aku tidak dapat berpisah dengan Alkitab.

Apa yang telah aku lakukan? Itu adalah kata-kata-Nya yang dicetak dalam buku.

to be continued …

1 | 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s