The Storm – 3

Januari xxxx

Kota Abara 40 hari setelah badai

Jarang sekali alun-alun kota masih ramai setelah lewat tengah hari. Tetapi hari ini orang-orang baik tua muda, pria wanita, besar kecil semua berbondong-bondong mendatangi alun-alun kota. Sebentar saja alun-alun sudah penuh sesak. Yang berada di belakang berusaha ke depan atau mencari tempat yang lebih tinggi untuk melihat alun-alun.

Di tengah alun-alun ada panggung kayu didirikan dengan satu tiang berdiri tegak. Pada tiang itu terikat seorang pria dengan pakaian sederhana dan wajah tirus. Dialah kapten kapal yang melarikan diri ketika badai. Dia sudah kembali untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya meninggalkan kapal ketika badai. Untuk sementara dia diikat di alun-alun kota sementara para pemuka kota berkumpul untuk merundingkan hukuman yang pantas untuknya.

Orang-orang, terutama yang keluarganya adalah penumpang kapal, mencaci maki kapten kapal. Beberapa bahkan merasa cacian tidak cukup, mereka menimpuki kapten kapal dengan telur, tanah bahkan batu. Jika tidak polisi desa yang berjaga-jaga, mungkin kapten kapal sudah tewas dikeroyok massa. Kapten kapal tidak membalas setiap cacian yang ia terima. Kepalanya tertunduk malu.

Ketika akhirnya matahari tenggelam barulah kumpulan orang-orang itu akhirnya bubar. Seorang bocah laki-laki berusia sekitar lima atau enam tahun beringsut-ingsut mendekati sang kapten.

“Benarkah, Bapak, kapten kapal yang diserang badai itu?” tanya bocah itu.

“Benar.”

“Setidaknya keluarga, Bapak, sekarang tenang karena, Bapak, sudah kembali. Ayahku juga berada di kapal itu. Setiap malam aku berdoa agar Ayah lekas pulang agar ibu tidak menangis lagi setiap malam”, katanya lagi.

Berlinang-linang air mata kapten kapal mendengar ucapan bocah. Ia siap dicaci, dihina bahkan dihukum mati untuk bertanggung jawab.

“Maaf … maaf .. maaf, nak.”

Bocah laki-laki terkejut sejenak. “Mengapa minta maaf padaku? Bapak tidak ada salah apa-apa”, katanya sambil menggelengkan kepala.

“Aku tahu ada beberapa bagian yang harus diperbaiki sebelum berangkat tapi aku tidak melakukannya karena aku tidak mau jadwal keberangkatan terlambat. Aku tahu akan ada badai. Lalu aku juga berpura-pura ada di kapal pada saat kapal akan berangkat, padahal diam-diam aku turun dari kapal dan tidak ikut berlayar. Aku bersembunyi”, cerita kapten kapal.

“Mengapa tidak terus bersembunyi saja. Bapak tidak akan diikat seperti sekarang?”

“Aku tidak tahan terus bersembunyi. Akhirnya aku datang kemari dan mengakui bahwa sebenarnya aku sudah tidak bertanggung jawab dengan kapal.”

“Wah, Bapak, benar-benar berani. Kalau aku pasti akan memilih tetap bersembunyi daripada diikat disini”, kata bocah itu kagum.

“Aku seorang pengecut, nak. Aku lebih memilih meninggalkan kapal berlayar walaupun aku tahu akan ada badai atau ada beberapa bagian kapal yang rusak. Sekarang aku benar-benar malu dan tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana nasib kapal sekarang tidak ada yang tahu. Aku merasa sangat bersalah. Seandainya saja aku dapat memutar kembali waktu, mungkin saja ayahmu sudah pulang saat ini. Atau setidaknya aku ada bersama dengan mereka sekarang”, kapten berkata lirih.

“Jangan khawatirkan ayah. Aku percaya ayah baik-baik saja. Aku sudah meminta Bapa di Sorga untuk menjaganya.”

“Siapakah Bapa di Sorga, maukah engkau menceritakan tentang Dia?”

“Bapa di Sorga lebih baik daripada ayah. Dia tidak pernah salah, dan Dia tahu semua kebutuhan kita bahkan sebelum kita meminta. Bapa di Sorga juga bisa marah jika kita salah. Terkadang Bapa di Sorga juga menegor kita. Tapi Bapa di Sorga sangat pengampun, Dia akan mengampuni semua salah kita jika kita menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.”

“Aku ragu masih ada yang mau memaafkan aku. Dan aku juga tidak layak untuk menerimanya”, kata kapten kapal getir.

“Aku tidak kesal atau marah dengan Bapak. Dan aku tidak merasa Bapak berbuat salah denganku. Lagipula, jika aku berbuat salah, ayah selalu berkata, ‘Asalkan aku mengakui dan tidak melakukannya lagi maka aku pasti akan dimaafkan’.”

“Aku tidak kenal Bapa di Sorga. Apakah menurutmu Dia mau memaafkanku?”

Bocah laki-laki mengangguk bersemangat. “Bapak jangan khawatir. Bapa disurga pasti memaafkan. Itu yang paling penting. Begitu ajaran ayah. Oh iya, Bapak pasti lapar dan haus. Aku punya sedikit air dan roti”.

Sang bocah dengan lincah memanjat panggung kayu mendekati kapten kapal. Dengan telaten ia menyuapi kapten kapal.

“Terima kasih, nak. Terima kasih. Maukah engkau meminta agar Bapa di Sorga memaafkan aku?”

“Tentu, ayo kita menundukkan kepala kita. Aku akan melipat tanganku”, dan mulailah bocah berdoa.

“Bapa di Sorga, tolong maafkan Bapak Kapten Kapal untuk kesalahannya dan tolong bantu supaya orang-orang disini juga memaafkannya. Oh iya, tolong maafkan juga karena kapten kapal tidak bisa melipat tangannya kali ini karena sedang diikat ditiang. Amin.”

bersambung…

1 | 2 | 3 | 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s