The Storm – 4

Pulau X

Badai besar telah menghadang perjalanan kapal dagang yang dipenuhi para saudagar yang hendak berjualan ke kota. Celakanya lagi, kapal yang besar itu justru ditinggal oleh nahkoda kapal sehingga setiap awak kapal dan saudagar tidak berdaya menghadapi badai yang datang dan menghajar mereka berhari-hari. Namun sama seperti pagi yang selalu datang setiap hari menggantikan malam, badai besar itu pun akhirnya tenang. Kapal terdampar ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni entah dimana – tidak tercatat pada peta yang ditemukan di kamar nahkoda.

Orang-orang yang selamat mulai mendata bahan makanan yang tersisa terutama air minum. Sekelompok orang yang kebetulan membawa senapan menjadi penguasa sumber makanan dan mau tidak mau yang lain harus mengikuti perintah dan peraturan mereka. Ketika sumber makanan mulai menipis mereka mulai menyebar ke seluruh pulau berusaha untuk mencari sumber makanan dan air bersih. sambil menunggu pertolongan.

Akhirnya ketika pertolongan tidak kunjung datang mereka, dengan bantuan awak-awak kapal yang selamat, mulai belajar untuk memperbaiki kapal dan berusaha berlayar pulang sendiri. Kumpulan orang yang selamat membentuk masyarakat yang teratur dengan kelompok pemegang senapan sebagai pimpinan. Pembuat kapal, penyedia bahan makanan, penjaga pondokan, dan sebagainya.

Tak terasa 50 hari telah berlalu…

Perlahan-lahan, dengan peralatan yang seadanya akhirnya kapal siap juga. Bahan makanan mulai dikumpulkan untuk persiapan perjalanan nanti. Setiap orang merasa optimis bahwa mereka pasti bisa kembali ke keluarga mereka tercinta. Kecuali seorang bapak. Semakin hari, dia justru semakin bertambah sedih dan banyak pikiran. Wajahnya semakin bertambah keruh setiap harinya. Dia mulai banyak menyendiri dan menjauhi teman-temannya.

Bapak itu belum terlalu tua usianya, kira-kira diawal enam puluh tahun. Namun rambutnya sudah berubah kelabu semua. Wajahnya dipenuhi gurat-gurat keriput yang menceritakan kehidupan seperti apa telah diarunginya selama ini. Sekarang pakaiannya sekarang compang camping. Jambangnya tumbuh liar karena tidak bercukur. Rambutnya juga tumbuh panjang dan berantakan.

“Apa yang harus aku lakukan?” … “Apa yang harus aku lakukan?” keluhnya dalam hati sambil menatap laut yang luas yang membentang didepannya.

Kekayaanmu sudah habis karena badai, apa kamu pikir keluargamu akan menerimamu lagi? Terdengar bisikan dalam benaknya.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Keluargamu tidak mencintaimu, untuk apa kamu pulang??

“Apa yang harus aku lakukan?”

Kamu tidak punya siapa-siapa lagi. Apa bedanya dengan tinggal di pulau ini sendirian? Untuk apa kamu pulang?

“Apa yang harus aku lakukan?”

Kamu sudah habis sekarang!!! Tidak ada lagi yang tersisa.

“Apa yang harus aku lakukan?”

Ia teringat adiknya. Dia juga naik kapal yang sama dengannya dan sama-sama terdampar dipulau ini. Harta adiknya juga habis sama seperti dirinya. Tapi adiknya tampak tenang dan damai. Dia yakin keluarganya akan tetap menerimanya dengan senang hati walaupun mereka harus memulai lagi dari awal. Yang paling berbeda adalah, adiknya berdoa setiap hari dan merasa semakin tenang dan damai. Sedangkan ia berdoa setiap hari dan justru merasa semakin cemas. Beban pikirannya semakin berat.

“Apa yang berbeda?”

Adiknya berdoa kepada dewa yang disebut Yesus, sedangkan ia berdoa kepada dewa di langit yang telah disembahnya sejak kecil. Tapi apa bedanya? Setiap dewa sama saja bukan?

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” – Matius 11:28

– the end –

1 | 2 | 3 | 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s