Evolution

Waktu jaman sekolah dulu, aku pernah membaca satu teori evolusi dan penjelasannya. Konon dulu ada jerapah dengan leher panjang dan leher pendek. Kemudian kedua jenis jerapah saling berebut makanan. Dan akhirnya jerapah dengan leher pendek kalah karena kalah bersaing dari jerapah leher panjang. Jerapah leher pendek tidak dapat meraih daun-daunan dari pohon yang tinggi. Karena kalah dalam persaingan akhirnya jerapah leher pendek punah dan kini hanya tersisa jerapah dengan leher panjang.

Aku mungkin juga mengalami proses evolusi.

Entah orang lain, atau orang-orang didekatku, menyadari atau tidak, rasanya aku perlahan-lahan bertambah menyebalkan dan pemarah. Dulu aku sabar dan penuh pengertian. Sekarang aku menjadi tidak sabaran, lebih egois dan intinya sangat membuat orang lain kesal. Tapi pada akhirnya sekarang ini aku lebih memperoleh apa yang aku inginkan. Dulu walaupun lebih sabar, aku sering mendongkol dalam hati.

Dulu ketika aku masih pemula dalam membawa mobil dan jam terbangku belum tinggi, aku selalu mengalah kepada mobil lain yang hendak menyerobot jalurku. Aku sangat sabar terhadap semua bus dan motor yang sering seenaknya. Aku jarang menggunakan klakson. Tetapi sekarang sebisa mungkin aku tidak mau mengalah kepada mobil yang ingin menyerobot ke jalurku. Dalam hatiku, aku harus memberi pelajaran ketertiban kepada orang-orang yang suka seenaknya (padahal dengan jam terbang yang semakin tinggi aku juga suka mengambil jalur lain jika macet). Aku juga berebut jalur dengan bus dan motor. Dan sekarang aku mempunyai hobi baru, yaitu mengklakson kendaraan lain yang aku anggap mengganggu. Tanganku sulit untuk lepas dari klakson.

Sekarang, aku juga mengharapkan standard servis yang tinggi. Jika di tempat A aku mendapatkan service dengan rating 10 maka aku tidak akan mentolelir service di tempat B yang mendapat rating 6. Aku akan banyak marah-marah di tempat B. Lebih buruk lagi aku akan membanding-bandingkan service yang aku terima dan mulai menjelek-jelekkan tempat B kepada orang-orang yang aku kenal. (Misalnya saja aku sering membandingkan layanan SQ, Qantas, dan LH). Aku merasa memberikan service yang memuaskan tidak sulit untuk dipraktikan jika ada kemauan. Di satu sisi, mungkin dengan aku yang seperti ini dapat membuat para pemberi jasa berlomba untuk meningkatkan servicenya. Namun disisi lain, rasanya aku jadi menyebalkan. Sok penting! Apa aku bisa memberikan service yang memuaskan jika aku ada di tempat mereka? Aku ingat dulu aku tidak seperti itu. Aku akan tetap sabar walaupun aku mendapatkan servide dengan rating merah. Ada harga yang harus dibayar untuk service.

Aku juga sangat menuntut hakku sebagai konsumen. Jika barang yang aku beli tidak memuaskan, maka aku akan segera mengurus untuk mengganti dengan yang lebih baik. Untunglah beberapa tempat sudah memberikan layanan customer service yang bagus, misalnya Gramedia sudah mau menukar buku dengan cetakan rusak. Tapi aku juga mengharapkan agar setiap tempat juga memiliki perlindungan hak konsumen yang bagus. Aku marah-marah ketika aku tidak boleh menukar DVD yang aku beli dan ternyata tidak bisa play di rumah. Bukan salahku kalau DVD yang aku beli tidak bisa diputar di rumah. Bukan salah playerku. Yang jelas adalah salah DVD, jadi aku menuntut agar bisa menukar DVD (please deh .. bertengkar dengan penjaga DVD hanya karena tujuh ribu rupiah). Aku yang dulu tentu akan menerima dengan pasrah bahwa DVD yang aku beli tidak dapat diputar dan aku harus mencari DVD pengganti di tempat lain.

Namun ada satu tempat yang membuat aku terharu, hakku sebagai konsumen benar-benar dijaga. Padahal tempat itu hanya toko pakaian kecil di Glodok. Aku boleh memilih baju yang aku beli, membawanya pulang untuk dicoba – tanpa membayar uang muka, dan aku dapat mengembalikannya kapan saja. Hanya sayang tokonya sekarang sudah tutup, mungkin karena terlalu banyak ditipu oleh calon pembeli yang tidak mengembalikan baju yang sudah dibawa pulang.

Hal lain lagi yang aku rasa berubah adalah sekarang aku lebih egois dan cuek. Aku tidak lagi berusaha untuk memenuhi harapan setiap orang dan membuat setiap orang senang. Aku capek membuat senang setiap orang. Aku harus memperjuangkan hakku juga. Ternyata lebih enak seperti itu. Aku bisa lebih bebas. Hanya saja aku yakin, banyak yang merasa sebal dengan aku yang sekarang. Aku bisa berkata tidak ketika orang lain meminta tolong dan aku ada urusan pribadi. Aku tidak peduli lagi apakah reaksi orang dengan apa yang aku lakukan selama aku yakin aku melakukan hal yang benar.

Intinya aku berevolusi .. entah bagaimana jadinya sepuluh tahun lagi. Apakah aku akan bertambah “ganas” atau kembali menjadi seperti dulu lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s