Empat Pintu

Aku membuka mata dan terbangun dari tidur panjang. Aku dapat bernafas dengan ringan. Sakit kepalaku hilang. Sesak didadaku juga hilang. Tubuhku pun terasa ringan sekali. Perlahan-lahan aku bangkit dan duduk di tempat tidur. Aku melihat sekelilingku.

Hanya ada aku seorang diri dalam ruangan yang seluruhnya bernuansa putih, mulai dari cat dinding, ubin hingga langit-langit. Ruangan ini berukuran 3 x 3 meter menurut perkiraanku. Hanya ada satu tempat tidur disini – tempat tidur yang sekarang aku pakai. Separuh tubuhku masih diselimuti dengan selimut putih dengan motif garis-garis biru. Tidak ada jendela di ruangan ini dan hanya ada satu pintu yang terletak tepat dihadapanku. Dan aku sadar tidak ada lampu di ruangan ini – tapi anehnya ruangan ini tidak gelap gulita.

Ruangan apa ini? Dimanakah aku? Mengapa aku bisa berada disini?

Karena penasaran aku segera menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Lantai marmer yang dingin membuatku sedikit bergidik. Setengah berlari aku mendekati satu-satunya pintu di ruangan itu dan membukanya.

Ternyata pintu itu membuka pada lorong yang juga dicat putih dengan lantai dari marmer putih. Ada empat pintu lain di lorong ini. Dua pintu terletak tepat disisi ruanganku. Dan dua pintu lagi diseberangnya. Kelima pintu itu (termasuk juga pintuku) , semuanya bercat putih dengan pegangan pintu putih. Tidak ada tanda atau petunjuk pada setiap pintu itu. Dan yang terpenting adalah aku kembali sendirian di lorong ini.

Untuk sejenak aku bingung, apakah lebih baik bila aku kembali ke ruanganku dan menunggu seseorang datang? Atau apakah lebih baik jika aku sedikit berpetualang?

Setelah menimbang-nimbang sejenak, aku memutuskan untuk kembali saja ke ruanganku. Aku menaiki tempat tidurku dan berbaring telentang dengan kedua tangan bersilang di bawah bantal. Aku mencoba berpikir dan menebak-nebak bagaimana aku bisa berada di ruangan ini. Tapi ingatanku terasa kosong. Hal terakhir yang aku ingat adalah aku menghadiri pesta ulang tahun seseorang yang tidak aku ingat namanya. Pesta tersebut berlangsung semalan suntuk.

Lelah berpikir, aku mencoba untuk tidur. Mungkin setelah bangun nanti, aku ingat apa yang telah terjadi dan bagaimana aku bisa berada disini. Aku menutup kedua mataku dan berhenti berpikir. Dengan gelisah aku berbaring dan mencoba mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tetapi tidur tidak kunjung datang. Setelah beberapa saat lamanya mencoba, aku menyerah. Aku kembali duduk ditempat tidur.

Sepi sekali rasanya. Hening. Sunyi. Dimana yang lain? Seolah-olah aku adalah manusia terakhir di bumi. Tidak tahan lagi, akhirnya aku memutuskan untuk berpetualang saja ke ruangan-ruangan yang ada.

Aku keluar dari ruanganku dan mendatangi pintu yang terletak paling dekat dengan ruanganku. Aku mengetuk pintu itu perlahan tiga kali. Aku menunggu sejenak. Tetapi tidak ada jawaban. Aku mengetuk kembali, sedikit lebih keras kali ini. Namun tetap tidak ada jawaban. Aku tidak menyerah, kali ini aku mengetuk dengan keras sambil memanggil. “Hello!’ Namun jawaban yang aku tunggu tidak kunjung datang. Iseng aku mencoba memutar pegangan pintu – ternyata tidak dikunci. Aku merasa tidak ada salahnya aku masuk ke ruangan itu. Aku sudah mengetuk berkali-kali untuk meminta ijin tadi. Dan karena tidak ada jawaban jadi aku akan mengundang diriku sendiri masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan ini sama dengan ruanganku. Hanya ada pintu tanpa jendela. Dan berwarna putih mulai dari ubin lantai, dinding hingga langit-langit. Luas ruangan juga sama dengan ruanganku . Tidak ada lampu tetapi ruangan ini terang. Yang berbeda adalah hanya ada satu kursi dan seorang wanita yang duduk membelakangiku di ruangan ini.

***

Ya .. ya benar … Adrian baru saja meninggal dunia .. belum sampai lima menit yang lalu.”

Penyebab kematian??? karena overdosis…”

Dia pingsan dua hari yang lalu setelah mabok-mabokan dan minum obat-obat itu.”

Untung saja anak itu segera meninggal.. kalau tidak berapa besar biaya rumah sakit yang akan ditanggung abang dan kakak?”

Belum lagi menurut dokter otak dan hatinya sudah rusak karena alkohol dan obat-obat itu.”

Memang sih aku merasa sedih juga … biar gimana pun Adrian itu masih keponakanku sendiri. Anak abangku.”

Hu… hu .. hu…

Benar .. benar .. aku harus tegar untuk mendampingi abang dan kakak. Aku tidak boleh menangis.”

Kamu ada benarnya juga. Mungkin Adrian memang lebih baik meninggal daripada terus hidup dan menghabiskan uang abang.”

Umurnya sudah tiga puluh tahun lebih tapi belum jelas apa kerjanya. Tiap hari hanya bersenang-senang saja. Siang tidur, malam clubbing.”

Kapan dikubur ? Aku belum tahu …… ”

Ok .. ok .. aku kabarin lagi nanti …”

Iya sudah dulu yah …. aku harus menelpon yang lain untuk memberi berita kematian Adrian.”

***

Tergesa-gesa aku keluar dari ruangan itu. Pintu sedikit aku banting. Tidak jadi kusapa wanita yang sedang duduk menelepon diruangan itu. Untung saja dia duduk membelakangi pintu dan sedang asyik ditelepon, jadi tidak memperhatikan aku masuk tadi.

Aku tidak ingat siapa itu Adrian. Tetapi nama itu terasa sangat akrab ditelingaku. Aku kenal nama itu.

Aku bersandar dibalik pintu. Nafasku memburu. Keringat bercucuran didahiku. Aku merasa sangat kesal. Tak kusangka dia bisa berkata demikian tentang Adrian. Mengatakan bahwa dia tidak berguna, bahkan sudah meninggal. Dan yang paling membuat aku kesal, bagaimana mungkin DIA mengatakan bahwa Adrian lebih baik meninggal daripada hidup. Aku kesal dan marah sekali. Sudah aku putuskan, aku tidak mau lagi mengunjungi ruangan ini.

Setelah kemarahanku mereda, aku menghampiri pintu yang disebelahnya lagi. Kembali aku mengetuk pintu, dan tidak ada jawaban. Aku mengetuk lebih keras dan tetap sunyi. Malas mengetuk lagi, aku mencoba memutar pegangan pintu, sama dengan sebelumnya. Pintu ini juga tidak terkunci dan aku kembali mengundang diriku sendiri masuk ke dalam.

Ruangan yang kedua ini juga sama dengan ruanganku. Hanya ada pintu tanpa jendela. Dan berwarna putih mulai dari ubin lantai, dinding hingga langit-langit. Luas ruangan juga sama dengan ruanganku . Tidak ada lampu tetapi ruangan ini terang. Yang berbeda adalah di ruangan ini hanya ada sebuah meja dengan buku yang terbuka diatasnya.

***

24 Juli 2009,

Aku tidak tahu apakah harus menangis sedih atau justru tersenyum senang.

Hari ini aku mendapat berita bahwa Adrian meninggal dunia. Begitu mendadak dan begitu cepat kehidupan diambil dari seseorang. Ketika mendengar berita itu, aku merasa seolah separuh dari hidupku sudah direbut dariku. Jiwaku hancur. Adrian adalah belahan jiwaku. Satu-satunya orang yang aku cintai. Aku merasa sangat kehilangan.

Tadi sore seharian aku membongkar barang-barang lamaku – mencari kenanganku bersama Adrianku. Aku menemukan satu album foto untuk waktu-waktu yang aku lalui bersama dengan Adrian. Setiap lembaran foto kuperhatikan. Tawa Adrian selalu mengembang disetiap foto. Dia tampak sangat bahagia dalam setiap foto. Tangannya sering kali merangkulku. Aku masih ingat hangatnya dekapan Adrian.

Ah … kapankah aku dapat melihat senyum Adrian lagi? Aku sangat merindukan suaranya. Sudah hilang juga kesempatanku untuk meminta maaf padanya. Adrianku telah pergi untuk selamanya. Tidak mungkin lagi untuk kembali.

Aku menangis .. menangis .. menangis … dan terus menangis. Airmataku mengalir – tidak dapat kuhentikan. Dan aku memang tidak ingin berhenti menangis.

Ketika Dewa pulang, dia memandangku dan melihat mataku yang bengkak serta masih mengalirkan airmata.

Ada apa, Sayang? Apa yang telah terjadi?” tanya Dewa.

Adrian meninggal..” bisikku dan tangisku kembali pecah. Kali ini aku bahkan menangis tersedu-sedu dalam pelukan Dewa. Ia mendekapku dan mengelus-elus kepalaku. Dewa dengan sabar menunggu hingga tangisku mereda, padahal aku tahu dia pasti lelah setelah bekerja di kantor sepanjang hari.

Kapan hari penguburannya? Aku akan cuti dari kantor untuk menemanimu,” kata Dewa ketika tangisku mulai mereda.

Aku melepaskan diri pelukannya dan menatap wajah Dewa erat. Dewa tetap seperti biasanya. Dewasa, pendiam, sabar, dan pengertian. Tidak ada amarah atau cemburu yang terpancar diwajahnya. Aku justru melihat cinta.

Tuhan, apakah aku jahat jika aku bersyukur telah memilih Dewa daripada Adrian untuk menjadi ayah anak-anakku? Apakah aku telah berdosa jika aku memilih untuk menyakiti orang yang aku cintai dan malah menikahi orang yang tidak aku cintai?

Aku menatap wajah Dewa lama sekali, hingga ia merasa malu dan kusadari wajahnya memerah. Lalu aku memeluknya kembali dan bersandar didadanya.

Tahukah kamu, Dewa, aku memang sedih kehilangan Adrian. Aku masih mencintainya. Tetapi aku tidak menyesal telah memilih kamu. Aku bersyukur menjadi istrimu. Dan sama seperti janjiku ketika menikah dulu, aku akan terus belajar untuk mencintaimu”, bisikku ditelinganya.

Maafkan aku, Adrian. Aku memang mencintaimu. Tetapi hingga saat ini aku tidak menyesal telah melepaskanmu dan memilih Dewa. Cinta kita indah, tetapi hidup ini membutuhkan lebih banyak daripada sekedar cinta.

Aku lelah menunggumu menjadi dewasa dan bertanggung jawab dengan hidupmu sendiri. Aku lelah menunggumu mendapat pekerjaan yang kamu idam-idamkan.

Aku lelah menunggumu berdikari dengan hidupmu sendiri, tidak lagi bergantung dengan orangtuamu.

Aku lelah menunggumu untuk memenuhi janji-janjimu kepadaku sejak dari masa SMA dulu.

Aku lelah dengan segunung alasanmu mengapa kamu belum juga ingin bekerja.

Dewa adalah jawaban untuk semua kelelahanku. Lagipula aku yakin, Dewa akan menjadi ayah yang lebih baik untuk anak-anakku daripada kamu. Dan yang paling penting dia juga memberikannya cinta kepadaku dan bersedia menunggu hingga aku berhenti mencintaimu.

Aku bahagia hidup bersama Dewa dan aku yakin dengan berlalu waktu, aku dapat belajar untuk mencintai Dewa. Pasti tidak akan sama dengan perasaan cintaku kepadamu, Adrian, tetapi cinta mempunyai banyak sekali bentuk dan rupa. Aku pasti dapat menemukan satu bentuk cinta untuk Dewa.

Sekali lagi aku maafkanlah aku, Adrian….

***

Argh !!! Mengapa aku membaca buku harian itu?? Tanpa sadar aku merobek buku itu menjadi serpih-serpihan kecil. Berani sekali wanita itu meminta maaf pada Adrian padahal dia telah mengkhianatinya. Apakah dia tidak sadar bahwa pengkhianatannya sudah menghancurkan hati Adrian? Lagi pula berani sekali dia mengatakan bahwa Adrian sudah meningal. Adrian TIDAK meninggal!!! Mengapa setiap orang mengatakan bahwa Adrian sudah meninggal? Aku benar-benar tidak mengerti. ADRIAN MASIH HIDUP !!!!!!!!!!!!

Aku benar-benar marah. Permainan apa ini?? Sungguh tidak lucu!!!! Aku meninggalkan ruangan ini dan langsung menuju pintu yang terletak tepat di seberang pintu ini. Aku sudah terlalu marah untuk bersopan santun. Aku tidak mau menghabiskan waktu dengan mengetuk pintu dan langsung saja menerjang pintu itu dan memutar pegangan pintu hingga terbuka.

Ruangan yang ketiga ini juga sama dengan ruangan sebelumnya. Hanya ada pintu tanpa jendela. Dan berwarna putih mulai dari ubin lantai, dinding hingga langit-langit. Luas ruangan juga sama . Tidak ada lampu tetapi ruangan ini terang. Yang berbeda adalah kali ini salib yang tergantung pada dinding di seberang pintu dan ada seorang pria dengan rambut yang telah memutih berlutut dihadapan salib tersebut.

***

Tuhan, mengapa Kau ambil Adrian dariku?

Mengapa tidak Kau ambil saja aku sebagai ganti Adrian?

Aku sudah hidup terlalu lama di dunia ini. Sedangkan Adrian masih muda.

Masih banyak tahun-tahun kehidupan yang menantinya.

Aku tidak mengerti, mengapa Kau biarkan semuanya ini terjadi?

Tidak seharusnya orang tua menguburkan anaknya.

Hidupku sudah hancur sekarang.

Bagaimana aku dapat melalui hari-hariku mendatang?

Aku sebatang kara sekarang.

Mengapa tidak Engkau biarkan saja aku mati menemani Adrian?

Cabutlah nyawaku sekarang.

Memang aku tahu, aku sering kali berkeluh kesah tentang Adrian kepada-Mu.

Aku mengeluh karena Adrian tidak pernah mau berusaha untuk bekerja.

Aku mengeluh karena Adrian hanya bersenang-senang saja setiap malam di club-club malam.

Aku mengekuh karena Adrian akhirnya memakai obat-obat terkutuk itu.

Aku mengeluh karena Adrian menghabiskan semua uang tabunganku untuk usahanya yang kemudian bangkrut.

Aku mengeluh karena Adrian tidak mau menyelesaikan kuliahnya.

Aku mengeluh karena Adrian kehilangan semangatnya ketika putus dengan Diana.

Aku terlalu banyak mengeluh …

Tetapi tolong jangan ambil Adrian dariku…

Aku tetap tidak mau Adrian meninggal…

AKU TIDAK RELA…

***

Tidak tahan aku mendengar doa ratapan pria tersebut. Aku dapat merasakan kesedihan pria itu. Hilang sudah semua kemarahan yang aku rasakan tadi. Sekarang hanya kesedihan yang aku rasakan. Airmataku mengalir di kedua pipiku. Tidak tahan, aku segera beranjak keluar dari ruangan itu dan menutup pintu dengan perlahan. Aku tidak mau mengusik doa pria tersebut.

Aku terduduk di depan pintu. Kali ini tidak kutahan tangisku. Aku meringkuk dan menangis hingga aku puas. Tidak perlu malu. Lagipula aku hanya sendirian di lorong ini.
Tempat apa ini? Dan mengapa mereka semua mengatakan Adrian sudah meninggal? Aku tidak ingat siapa Adrian. Namun aku tahu, Adrian tidak meninggal. Adrian masih hidup.

Aku benar-benar merasa lelah dengan semua ini. Dimanakah aku? Dimana yang lain. Aku benar-benar merasa kesepian sekarang.

Aku mengumpulkan semangatku kembali setelah tangisku mereda. Sekarang tinggal satu ruangan lagi yang belum aku kunjungi. Pintu yang terakhir. Aku membukanya.

Ruangan ini juga sama dengan ruangan sebelumnya. Hanya ada pintu tanpa jendela. Dan berwarna putih mulai dari ubin lantai, dinding hingga langit-langit. Luas ruangan juga sama . Tidak ada lampu tetapi ruangan ini terang. Perbedaan yang paling tampak jelas adalah bahwa ada meja panjang di ruangan ini. Seseorang dengan wajah licik dan bau menusuk berpakaian serba hitam duduk di satu sisi. Sedangkan seseorang lagi dengan wajah bercahaya dan ramah dan berpakaian putih cemerlang duduk diseberangnya.

***

Baju Hitam : Sebaiknya kita langsung mulai saja. Tidak perlu berbasa-basi lagi.

(tersenyum penuh kemenangan)

Baju Hitam : Saya menuntut hak atas Adrian. Dia adalah milikku. Anda pun tahu itu. Sudah banyak hukum yang dilanggarnya. Apakah perlu saya menyebutkannya satu persatu-satu?

Baju Putih : Tidak Perlu.

Baju Hitam : Jangan begitu.. Saya tetap akan menyebutkannya, walaupun Anda pasti sudah lebih tahu daripada aku. Saya akan menyebutkan pelanggarannya satu persatu… hanya untuk kesenanganku sendiri

(tertawa senang)

Baju Hitam : Hmmm .. sebaiknya mulai dari mana.. Baiklah inilah daftar pertama pelanggarannya:

  1. dia membunuh .. bunuh diri telah melanggar Keluaran 20:13

  2. dia tidak mengakui-Mu… melanggar 1 Yohanes 5:11-13

  3. dia sudah merancang sendiri jalan hidupnya … melanggar Amsal 3:5-6

  4. dia sudah merusak baik Allah .. melanggar 1 Korintus 3:16-17

  5. dia sudah …

Baju Putih : (mengangkat tangan)

Baju Hitam : Mengapa saya harus berhenti? Jadi bagaimana Anda mau membela dia?

***

Aku tidak mau mendengar dan mengetahui hasil perundingan itu. Jantungku berdetak kencang. Untuk pertama kalinya aku merasa takut dan ngeri. Keringat dingin mengalir membahasi punggungku. Aku ketakutan melihat pria berpakaian serba hitam dan berwajah licik itu. Ingin rasanya aku berlari mencari perlindungan pada pria yang berbaju putih. Tetapi kakiku tidak dapat melangkah. Mereka berdua masih terus berunding. Aku cemas .. tidak tahan menunggu hasilnya. Aku memutuskan untuk keluar.

Ketika aku menutup pintu, ingatanku merayap perlahan menghampiriku. Ingatanku membuat aku menggigil, seperti diguyur dengan seember penuh es batu. Aku ingat sekarang.

Namaku Adrian. Dua hari yang lalu aku menelan angel dust lebih banyak dari dosis yang biasanya aku telan ketika pesta ulang tahun seorang teman.

Aku sudah meninggal.

***

5 Mei 2008,

Papa, aku menulis surat ini supaya, papa tidak terlalu kaget jika aku meninggal nanti. Hidupku sudah berakhir ketika Diana memutuskan aku. Sudah tidak ada alasan bagiku untuk hidup didunia ini.

Aku sudah tidak lagi ingin hidup tapi aku juga terlalu pengecut untuk menghabisi nyawaku langsung. Minum racun, terjun, atau menyilet jariku semuanya aku takut untuk melakukannya. Aku takut untuk menyakiti diriku sendiri. Karena itu aku memutuskan untuk mengakhiriku perlahan-lahan. Aku melarikan diri pada pada obat-obat dan minum itu untuk menghancurkan diriku perlahan-lahan tanpa merasa sakit.

Maafkan anakmu karena keegoisannya ini. Dan juga maafkan anakmu karena hanya dapat memberikan kekecewaan kepada papa.

Terima kasih papa untuk cintamu selama ini.

Love,

Adrian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s