Matius 25:14-30

Dahulu aku pernah mengambil kursus piano. Dengan tekun aku terus berlatih dan berlatih. Tetapi tetap saja aku tidak pernah naik ke level 2. Hingga lama aku berlatih aku tetap tidak bisa membedakan mana ketukan 3/4 , 4/4 atau 2/4. Jangan salah aku mahir membaca not dan arti-artinya secara teori. Hanya saja teori dan praktik adalah perbedaan yang bagaikan siang dan malam.

Kemudian jika aku harus menyanyi di depan kelas, teman-temanku dan juga guruku akan kagum denganku. Bukan karena indahnya suara dan nyanyianku. Tetapi lebih karena sumbangnya nyanyianku. Aku bisa merubah naik turunnya nada diluar sadarku. Pendengaran dan otakku bekerja tidak selaras.

Sekarang jika aku bernyanyi sambil bertepuk tangan di gereja, orang-orang dikanan kiri (yang adalah kakak dan adikku) pasti akan menyenggolku. Mereka akan mengingatkanku bahwa tepukan tanganku tidak seirama dengan yang lainnya. Ketika harus menepuk aku justru tidak menepuk dan sebaliknya. Yang jika ditulis akan seperti ini :

Plok (plok) plok (plok) …

Lalu aku menyelaraskan kembali irama tepukanku dengan yang lain sehingga menjadi seperti ini:

Plok … Plok … Plok … Plok …

Sayang itu hanya berlaku sebentar saja. Dua atau paling lama lima menit kemudian, aku kembali pada ritmeku yang berantakan.

Plok (plok) plok (plok) …

Dan jika aku harus menjadi MC (karena tidak ada pilihan lain lagi), aku selalu kebingungan kapan harus memulai atau masuk ke dalam lagu. Aku tidak tahu mana iringan musik pembuka dan mana lagu utama. Aku juga tidak tahu aba-aba pemain musik. Jadi sering kali aku justru terlambat dibandingkan jemaat😦 Yang paling parah adalah aku sering kaku lidah dan lupa semua lirik lagu yang aku bisa. Padahal aku bisa memberikan presentasi berjam-jam di kantor.

Bahkan ketika sendirian di mobil dan sedang bernyanyi sendirian, aku sadar bahwa suaraku sumbang. Aku bisa menyadari bahwa aku menyanyikan lagu yang berbeda dengan lagu yang aku maksud. Di telingaku sendiri pun laguku terdengar seperti nyanyian alien dari luar sana.

Aku tahu batasanku tentang musik dan mungkin jika ditulis dengan persamaan matematika, talentaku akan seperti ini

0 < x < 1

Tetapi aku suka musik dan keterbatasanku tidak mengurangi ketertarikanku dengan musik. Walaupun lebih banyak secara pasif (mendengarkan dan menyanyi dalam hati agar tidak mengganggu yang lain) yang penting aku tetap mempunyai musik. Musikku tetap bisa kugunakan untuk bermazmur dan memuji Tuhan. Tidak pernah tertulis pujian dan sembah ditolak karena sumbang. Tuhan melihat hati.

Dan memang aku rasakan, walaupun aku tetap tidak bisa bermusik, aku tahu jika aku terus berlatih, aku bisa bermazmur dengan lebih indah untuk Tuhan. Yang perlu diingat, aku tetap tidak suka menjadi MC. Aku tidak mau talentaku dicabut.

***

“Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!

Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s