1 Petrus 4:2

Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan untuk menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”

1 Petrus 4:2.

Seorang ibu baru saja menerima khabar bahwa putranya yang sudah tidak memberi khabar selama satu minggu ternyata sudah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan berubah menjadi hari yang penuh air mata. Bayi yang lama-lama ditunggu meninggal ketika dilahirkan karena keracunan air ketuban.

Setiap hari kami selalu bercakap-cakap dengan sesama pedagang lain sambil menunggu pembeli datang. Tetapi hari itu, gempa besar menimpa kami. Tempat kami berjualan runtuh .. entah ada berapa banyak orang yang terkubur di dalamnya.

Kepergiannya sungguh tidak dapat diduga setiap orang. Di pagi hari dia masih tertawa-tawa dan kemudian di siang hari dia sudah meninggal karena serangan jantung.

Beberapa kali pikiran ini terlintas … Aku rela jika mama dipanggil Tuhan sekarang – sudah terlalu lama dia menderita karena kanker.. Tapi ternyata ketika mama benar-benar pergi menghadap … tidak ada kerelaan.

Tahun ini adalah tahun yang membahagiakan. Ulang tahun ke lima puluh pernikahan. Liburan yang dinanti-nantikan. Tetapi semuanya berubah. Gempa disusul dengan tsunami menghancurkan semuanya.

Dia hanya jatuh dan terbentur kepalanya. Tetapi siapa yang mengira jika malam harinya dia muntah-muntah dan meninggal tidak lama kemudian karena pendarahan otak.

Mereka semua berkumpul di bandara untuk mengantar kerabat yang akan kembali ke kampong halaman. Selang tiga jam kemudian, mereka kembali berkumpul di tempat yang sama karena mendapat berita bahwa pesawat yang dinaiki oleh kerabat menghilang di lautan.

Baru 1 minggu yang lalu, mereka satu keluarga merayakan ulang tahun putra pertama mereka yang ke satu. Semuanya berbahagia saat itu. Masa depan tampak begitu cerah. Lalu tiba-tiba sang putra tercinta terserang demam tinggi dan keesokkan harinya … sang putra sudah kembali ke pangkuan Bapa di surga.

***

Siapakah yang dapat mengetahui hari kelahiran dan kematiannya?

Jika hidup adalah sebuah persiapan untuk ujian ketika kita menghadap Hakim Agung nanti, bagaimanakah persiapan kita?

Apakah kita menganggap persiapan itu tidak penting dan akan terus bermain-main? Apakah kita menganggap bahwa Hakim Agung tidak serius? Apakah kita akan memakai masa persiapan ini dengan sebaik-baiknya? Tidakkah kita akan mencari tahu soal-soal ujian yang akan diberikan?

Apakah kita akan merasa siap ketika Hakim Agung berkata, “Masa persiapan sudah habis, sekarang adalah masa ujian! Siap tidak siap ..ujian dimulai!!!” Apakah kita akan merengek meminta perpanjangan waktu? Atau kita justru baru akan mulai mempersiapkannya ketika waktu justru sudah habis.

Apakah kita yakin bahwa kita dapat mengerjakan soal-soal ujian nanti? Apakah kita yakin dengan nilai yang kita akan peroleh nanti?

***

Karena itu perhatikan dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Efesus 5:15.

Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.” Roma 8:8.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s