The Hope

Menurutku, aku sudah hidup terlalu lama.

Jangan salah !! Aku berkata demikian bukan berarti aku adalah seorang tua renta dengan jalan membungkuk dan rambut memutih. TIDAK !!! Usiaku bahkan belum mencapai setengah abad. Sebenarnya, aku baru berusia dua puluh dua tahun. Aku masih tergolong muda untuk ukuran hidup manusia pada umumnya. Hanya saja aku sudah hidup jauh melebihi perkiraan setiap orang yang mengenalku. Bahkan bagi mereka semua, adalah suatu keajaiban aku dapat mencapai usia dua puluh dua tahun.

Ketika aku baru dilahirkan, bidan yang membantu kelahiranku mengatakan bahwa usiaku paling hanya beberapa hari atau mungkin beberapa minggu – tetapi tidak akan melewati satu bulan. Aku tidak mungkin dapat bertahan hidup karena ibuku melahirkanku ketika kandungannya barulah enam bulan hampir tujuh bulan. Organ-organ tubuhku belum berkembang sempurna ketika aku menyapa dunia ini. Aku bahkan tidak menangis ketika dilahirkan.

Hari demi hari berlalu. Minggu berganti minggu. Kemudian bulan berganti. Dan akhirnya aku menginjak usia satu tahun. Kedua orang tuaku merayakannya secara besar-besaran. Bayi yang diramalkan tidak akan melewati satu bulan usianya ternyata dapat merayakan ulang tahunnya yang pertama. Sungguh benar-benar suatu muzizat.

Tahun berganti tahun. Aku terus bertambah besar secara perlahan. Walaupun aku tetap saja tidak dapat menyusul pertumbuhan anak-anak lain seusiaku. Tubuhku yang paling kecil diantara mereka. Dan aku sering sekali sakit. Setiap kali aku sakit, tabib yang sudah merawatku sejak bayi selalu mengatakan bahwa aku tidak akan dapat bertahan lagi. Tetapi ternyata aku mampu bertahan dan tetap hidup. Kedua orang tuaku selalu merayakan ulang tahunku sebagai suatu muzizat dari Dia – Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub nenek moyang kami.

Suatu kali, tidak lama setelah ulang tahunku yang ke tujuh, aku sakit parah. Tubuhku demam tinggi tidak mau turun. Nafasku sesak. Aku terbaring di tempat tidurku entah sudah berapa hari atau minggu. Tidak dapat melakukan apa-apa bahkan untuk mengangkat tanganku. Aku terlalu lemah untuk itu.

Tabib yang merawatku sudah angkat tangan. Kemudian orang tuaku memanggil berbagai tabib untuk mengobatiku. Namun mereka juga menyerah. Akhirnya kedua orang tuaku juga menyerah. “Mungkin sekarangah saatnya”, pikir mereka. Aku sendiri juga sudah menyerah, lebih baik ini berakhir. Aku sudah bosan sakit. Aku sudah bosan hanya melihat dari jendela rumahku saja ketika anak-anak seusiaku bermain dan berlari-lari dengan bebas.

Lalu suatu malam, ketika serangan sesak nafas menyerang, aku melihat sinar putih itu masuk melalui jendela kamarku. Sinar itu sangat terang sekali, memenuhi seluruh kamarku. Aku mencoba bertanya kepada ibuku yang duduk disisi tempat tidurku sambil mengurut dadaku, berusaha melancarkan nafasku. Tetapi aku tidak mampu berbicara. Dan sepertinya ibuku juga tidak menyadar kehadirani sinar terang itu.

Aku menebak bahwa sinar terang tersebut adalah malaikat maut yang menjemputku. “Jemput saja aku, sekarang!” kataku dalam hati. Aku tidak takut .. kematian tidaklah lebih menakutkan daripada sesak nafas. Aku sudah siap, setiap hari aku hidup dengan taat kepada perintah Tuhan.

Tiba-tiba aku mendengar suara. Sebuah suara yang dalam dan berwibawa memenuhi seluruh kamar dan sungguh aneh karena ibuku sama sekali tidak mendengarnya.

Simeon, kamu akan sembuh. Waktunya belum tiba bagimu. Ketahuilah, kamu tidak akan meninggal sebelum bertemu dengan Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.”

Setelah itu, sinar terang itu lenyap. Siapakah suara itu? Aku tidak mengerti. Yang aku tahu, aku merasakan kedamaian dan serangan sesak nafasku pun hilang. Aku bisa tidur nyenyak malam itu. Tidak lama kemudian aku pun sembuh.

Siapakah Mesias itu? Siapakah suara itu? Sejak itu, aku semakin giat untuk mempelajari kitab-kitab Nabi-Nabi dan Taurat. Karena entah bagaimana, aku yakin bahwa jawaban atas pertanyaanku ada didalamnya. Lagi pula, aku ingin mengenal Tuhan-ku lebih dekat lagi.

Sering kali aku bertanya-tanya seperti apakah Mesias itu? Tinggi atau pendek? Gemuk atau kurus? Besar atau kecil? Dimana aku dapat berjumpa dengannya? Darimanakah Dia berasal? Apakah Dia adalah seseorang yang aku kenal?

Aku sering memperhatikan orang-orang yang lewat di depan rumahku – terutama para pendatang. Jangan-jangan salah satu dari mereka adalah Mesias yang menyamar. Kerap kali, aku juga berandai-andai – bagaimana jika Mesias datang hari ini? Sudah siapkah aku? Apa yang akan aku lakukan jika aku berjumpa dengannya kelak? Apa yang akan kukatakan kepada-Nya? Aku perlu melakukan persiapan mulai saat ini.

Mengapa aku dijanjikan untuk bertemu dengan Mesias? Dia adalah sosok yang sangat penting. Seseorang pembebas yang kehadirannya sudah dinantikan sejak jaman Nabi Yesaya dulu. Siapakah aku yang sakit-sakitan ini sehingga dapat bertemu dengan Mesias. Aku berusaha hidup sebaik-baiknya dan taat pada Tuhan, agar aku tidak mengecewakan Sang Mesias ketika berjumpa dengan-Nya kelak.


Sejujurnya aku sedikit cemas. Aku yang bukan siapa-siapa ini akan bertemu dengan Mesias. Bertemu dengan tokoh yang namanya pasti masih akan diingat orang hingga tahun-tahun mendatang bahkan ribuan tahun mendatang. Namun aku juga sedikit bangga, karena walaupun namaku akan dilupakan nanti, setidaknya aku dapat bertemu dengan Mesias – tokoh yang paling dinanti-nantikan setiap orang.

Tahun-tahun berganti. Tak terasa aku sudah melewati usia anak-anak dan tumbuh menjadi remaja. Aku bahkan dapat merayakan upacara Bar Mitzvah. Akhirnya jauh melebihi harapan setiap orang, aku memasuki usia dewasa. Aku masih tetap sakit-sakitan. Tetapi aku tidak pernah menyerah lagi karena aku tahu bahwa waktuku belum tiba dan aku pasti sembuh. Aku belum bertemu dengan Mesias yang dijanjikan oleh suara yang aku dengar ketika aku berusia tujuh tahun.

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana aku dapat terus hidup. Ketika setiap tabib sudah menyerah untuk mengobatiku ketika aku sakit – tiba-tiba saja keadaanku berangsur membaik dengan sendirinya. Orang tuaku menganggapnya sebagai suatu keajaiban dan muzizat. Mereka semua tidak tahu bahwa aku hidup untuk menunggu janji bertemu dengan Mesias. Itulah pengharapan dan alasanku untuk terus hidup.

Aku hanya berbagi rahasia kecilku dengan Lukas. Dia bekerja sebagai pelayan sekaligus berguru pada tabib langgananku. Dia sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. Kepadanyalah aku menceritakan tentang suara yang aku dengar ketika aku berusia tujuh tahun.

Sekarang, pada usia dua puluh dua tahun, tubuhku semakin melemah. Aku seperti lilin yang hampir kehabisan sumbu. Aku semakin sering terbaring di tempat tidur tidak dapat bangun karena sakit dan sesak nafas. Bisa bangun tidur setiap pagi hari adalah suatu anugerah dari Tuhan yang harus disyukuri. Tetapi semangatku tetap tinggi. Aku belum menyerah. Aku tahu sumbuku tidak akan habis sebelum aku berjumpa dengan Mesias.

Lalu suatu pagi, ketika aku kembali mendapat serangan sesak nafas, sinar terang itu kembali masuk ke dalam kamarku melalui jendela. Sinar itu bahkan mengalahkan terangnya sinar matahari di pagi itu. Kemudian aku kembali mendengar suara, sama seperti ketika aku berusia tujuh tahun dahulu.

Simeon, pergilah ke Bait Allah sekarang! Mesias berada di sana.”

Ada banyak orang di Bait Allah, bagaimana aku dapat mengenali Sang Mesias?” tanyaku.

Kamu pasti akan mengenalinya.”

Kemudian sinar terang itu lenyap dan sesak nafasku pun sembuh. Lebih tepatnya lagi, tidak hanya sesak nafasku, demamku lenyap. Tubuhku terasa ringan dan sangat sehat dan bertenaga. Aku segera melompat dari tempat tidur dan berganti pakaian serta merapikan penampilanku. Aku berusaha tampil selayak yang aku bisa untuk berjumpa dengan Mesias. Hatiku sangat bersukacita.

Sambil berlari, aku menuju ke Bait Allah. Tidak kuhiraukan pandangan bertanya-tanya dari setiap kenalanku. Mereka tentu heran melihat aku yang baru beberapa saat yang lalu masih terbaring sakit sekarang bahkan dapat berlari. Tujuanku hanya satu. Tiba secepatnya di Bait Allah dan berjumpa dengan Mesias.

Akhirnya aku tiba juga di Bait Allah. Nafasku sedikit tersengal karena berlari namun aku tidak mempedulikannya. Aku merapikan kembali rambut dan pakaian. Hatiku berdegup kencang. Aku benar-benar gugup. Mesias akan segera berjumpa denganku. Aku melihat sekeliling.

Mesias ada di sana!!!

Suara itu benar. Aku dapat mengenali Sang Mesias dengan segera. Dia ada di sana. Tertidur nyenyak dalam gendongan ibunya. Ayahnya berdiri di dekatnya sambil membawa sangkar berisi dua ekor anak burung merpati untuk korban.

Sang Mesias sangat berbeda dengan apa yang aku bayangkan selama ini. Namun aku tidak peduli – yang terpenting adalah Dialah Sang Juru Selamat yang dijanjikan itu. Bukankah aku juga sudah melupakan semua persiapan yang sudah aku latih sejak kecil?

Aku menghampiri mereka. Memberi hormatku kepada mereka berdua yang mendapat kehormatan besar untuk menjadi ayah dan ibu Mesias. Sambil berharap-harap cepas aku meminta ijin untuk menggendong Mesias. Aku sungguh terharu karena aku diperbolehkan untuk menggendongnya. Tanganku sedikit gemetar ketika menerima Mesias dalam gendonganku. Air mataku berlinang. Tuhan benar-benar baik. Aku tidak hanya dijanjikan untuk bertemu Mesias. Aku bahkan dapat menggendongnya sekarang. Aku memperhatikan wajah Mesias dalam-dalam kemudian aku menatangnya.

Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu Israel!” kataku nyaring.

Setelah itu, aku memberkati ayah dan ibu Mesias. Sambil menyerahkan Mesias kembali kepada ibunya, aku berkata, “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran banyak orang.”

Aku sendiri tidak tahu darimana kata-kata itu berasal. Aku tidak mungkin mengucapkan kata-kata itu. Mungkin suara itu yang membimbingku. Pengharapanku sudah terpenuhi. Aku yang bukan siapa-siapa ini sudah berjumpa dengan Mesias. Aku siap untuk meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan Tuhan.

Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga” Ratapan 4:41.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s