Penantian

Aku mengenalnya sejak kira-kira tiga puluh tahun silam ketika aku dan keluargaku baru saja pindah Yerusalem. Dia berusia kira-kira enam puluh tahun ketika itu.

Aku ingat, dia adalah orang pertama yang mengetuk pintu rumahku untuk menyambut kami sekeluarga. Sebenarnya, kami sama sekali tidak mengira akan kedatangan tamu pada hari itu. Hujan turun sangat lebat disertai dengan tiupan angin kencang. Siapapun pasti lebih suka untuk berlindung di dalam rumah daripada di luar rumah. Tetapi dia berdiri di depan pintu, basah kuyup dan menggigil kedinginan dengan sekeranjang makanan yang ditutupi kain dan dilindunginya dengan tubuhnya agar tidak basah.

“Kalian pasti sibuk berbenah, karena itu aku mengantar ini untuk makan malam kalian. Istriku yang memasaknya. Moga-moga kalian menyukainya”, begitu katanya sambil menyerahkan keranjang tersebut kepadaku. Setelah itu dia lalu melangkah pergi lagi sebelum aku sempat membuka mulut bahkan untuk mengucapkan terima kasih sekalipun.

Sejak saat itu dia menjadi teman dekat keluargaku. Atau lebih tepatnya, dia adalah teman baik setiap orang yang tinggal dilingkunganku. Tidak suka bergosip, selalu siap membantu, dan ramah. Telinganya selalu siap untuk mendengarkan permasalahan orang lain. Mulutnya selalu mampu memberikan nasihat-nasihat yang bijaksana. Tidak ada caci maki atau hinaan yang keluar dari mulutnya. Tangannya selalu siap untuk membantu yang lain. Rumahnya selalu terbuka untuk para pengembara yang tidak mampu menemukan tempat untuk bermalam.

Kedua anakku sangat suka bermain dirumahnya karena selalu tersedia penganan dan kue-kue yang lezat disana. Lagi pula dia sangat pandai mendongeng kisah-kisah lama seperti Abraham, Yusuf, Ishak, dan Daud. Dia dan istrinya menjadi kakek dan nenek bagi anak-anakku. Istriku juga sering sekali saling berbagi resep masakan atau tips-tips rumah tangga lain dengan istrinya.

Dan aku sudah menganggapnya sebagai pengganti orangtuaku. Tempatku bertanya dan meminta pendapat.

Tahun-tahun berlalu… Tak terasa sudah hampir tiga puluh tahun aku tinggal di Yerusalem.

Dia, tetangga favoritku, tetap tidak berubah. Dia hanya bertambah tua – sekarang dia adalah orang yang paling tua di lingkungan tempat tinggalku. Rambutnya seputih kapas. Jalannya membungkuk. Penglihatannya sudah kurang jelas. Wajahnya dihiasi keriput. Tetapi pikirannya tetap setajam dan sejernih seperti dulu ketika aku pertama kali mengenalnya. Dia tetap pendiam seperti dulu. Dan dia tetap siap menolong siapa saja sejauh yang dia mampu.

Pernah aku bertanya kepadanya, bagaimanakah caranya dia dapat terus menerus berbuat baik seperti itu? Tidak pernakah dia merasa lelah berbuat baik? Aku tahu, dia sudah beberapa kali ditipu karena perbuatan baiknya itu. Aku bertanya tidakkah dia merasa lelah terus menerus menerima tamu yang menginap tanpa membayar?

Dan apakah jawabnya? Dia memberi jawaban yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya. Jika tidak mengenalnya dengan dekat selama puluhan tahun, aku pasti akan mengatakan bahwa jawabannya yang tidak biasa itu disebabkan oleh ingatannya yang sudah mulai pikun termakan usia.

“Benyamin, aku akan memberitahukan rahasiaku kepadamu”, katanya sambil tersenyum kecil. “Dulu sekali ketika rambutku masih hitam, Roh Kudus memberitahuku bahwa aku tidak akan meninggal sebelum bertemu dengan Mesias yang dijanjikan itu.”

Siapakah Roh Kudus?? Allah yang bersabda, aku tahu ceritanya dalam kitab Taurat. Malaikat yang membawa khabar, aku juga tahu. Tetapi Roh Kudus apakah itu? Seperti apakah bentuknya?

“Siapakah Roh Kudus itu?”

“Roh Kudus itu adalah Roh Allah”, jawabnya. Jawaban yang tidak kumengerti sama sekali.

“Lalu kapan Mesias itu datang?”, tanyaku.

Dia menggelengkan kepalanya.

“Seperti apakah Mesias itu? Raja besar dari negeri mana?” tanyaku lagi.

Sekali lagi dia menggelengkan kepalanya.

Aku semakin bingung. “Lalu bagaimanakah Paman tahu bahwa Mesias sudah datang?”

Dia hanya kembali tersenyum. “Aku akan tahu jika sudah tiba saatnya nanti. Roh Kudus akan memberitahuku kembali.”

Aku tidak mengerti jawabannya, tetapi jawaban itu selalu membuatku penasaran. Dan aku sekarang sering berkunjung kerumahnya. Sebagian untuk bertanya tentang Roh Kudus dan Mesias, sebagian lagi untuk membujuknya agar mau tinggal bersama dengan aku dan istriku. Kami berdua ingin merawatnya. Entah karena dia bosan dengan bujukan dan sedikit paksaanku, akhirnya dia mau tinggal bersama di rumahku.

Waktu terus berjalan maju. Satu tahun sudah dia tinggal dirumahku. Dia tetap menanti Mesias dengan setia. Tidak pernah sekalipun dia patah semangat. Akhirnya semangatnya menantikan Mesias juga menular kepadaku dan istriku. Kami mulai bertanya-tanya setiap bangun di pagi hari. Apakah hari ini adalah hari kedatangan Mesias? Kami juga mulai menyiapkan diri sebaik mungkin karena mungkin saja Mesias datang hari ini. Kami sering menebak-nebak seperti apakah Mesias yang akan datang itu? Dalam bayangan kami, Mesias tentunya seorang Raja Agung atau minimal seseorang keturunan bangsawan.

Lalu suatu pagi ketika matahari belum lagi tinggi dan kami baru saja selesai sarapan. Dia tiba-tiba saja masuk ke kamarnya dan berganti pakaian dengan pakaiannya yang terbaik. Matanya berkilat-kilat bersemangat. Senyum menghiasi wajahnya membuatnya wajahnya tampak bercahaya.

“Ayo”, katanya kepadaku, “Dia sudah datang.” Lalu dia buru-buru melangkah keluar negeri.

Aku segera menyadari apa yang dimaksud. Segera aku mencari istriku yang sedang sibuk dibelakang dan mengajaknya keluar. Berdua kami mengikutinya dari belakang. Betapa cepat langkah kakinya. Bahkan kami berdua yang jauh lebih muda saja kesulitan untuk mengikutinya. Dia terus melangkah mengarah ke Bait Allah.

Di depan Bait Allah dia berhenti. Dia menarik nafas dalam berkali-kali untuk menenangkan dirinya dan mengibaskan debu dari baju dan jubahnya. Dia merapikan rambut dan pakaiannya. Senyumnya semakin lebar. Matanya tertuju pada satu tempat. Aku mengikuti arah pandangannya. Mencari-cari satu sosok yang agung bagaikan raja yang akan menjadi pembebas kami. Tetapi tidak orang yang seperti itu. Lalu aku melihat dia mendatangi sepasang suami istri yang masih muda. Sang ibu menggendong bayi sedangkan suaminya membawa satu sangkar berisi dua ekor burung merpati untuk korban. Tetanggaku mengucapkan salam dan menyapa pasangan suami istri tersebut. Kemudian dia menggendong bayi pasangan tersebut.

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Apakah aku tidak salah dengar? Dari kata-kata tetanggaku, Sang Mesias yang dinanti-nantikan adalah seorang bayi. Bahkan bayi dari pasangan yang biasa saja – bukan keturunan bangsawan apalagi seorang raja. Aku memandang istriku. Ia juga sama bingungnya dengan aku. Selama ini kami berdua selalu membayangkan Mesias sebagai raja atau panglima yang agung – bukanlah seorang bayi. Mungkinkah dia salah?

Setelah itu, tetanggaku memberkati mereka bertiga dan dia berkata kepada ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan –dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri–,supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Kemudian dia menyerahkan kembali bayi tersebut kepada sang ibu dan berpamitan. Dia datang dengan tiba-tiba menghampiri pasangan suami istri tersebut dan sekarang pergi dengan tiba-tiba juga. Dari raut wajah pasangan suami istri itu, aku tahu mereka berdua sama bingungnya dengan aku. Aku mencatat ucapannya dalam hati dan berminat untuk meminta penjelasannya nanti.

Sayangnya aku dan istriku justru melupakan hal itu setiba kami di rumah. Toko sangat sibuk sekali dan kami berdua sudah kelelahan ketika malam hari sehingga yang terpikirkan hanya cepat beristirahat. Kami tidak pernah mempunyai kesempatan lagi untuk bertanya setelah itu. Dia meninggal dalam tidurnya di malam hari itu. Tersenyum dalam tidurnya dan wajahnya tampak sangat damai. Penantiannya sudah berakhir. Dia sudah berjumpa dengan Mesias yang dijanjikan Roh Kudus.

Kalian pasti mengenal tetanggaku ini.Namanya Simeon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s