Perayaan Natal Istimewa

Hari ini adalah satu hari menjelang hari Natal. Hari yang penuh kesibukan bagi setiap orang yang merayakannya. Begitu juga dengan Pak Tua. Sejak pukul tiga sore ia sudah mandi dan mengenakan pakaian terbaiknya untuk berangkat ke gereja, padahal ibadah baru akan dimulai pukul tujuh malam nanti. Alkitab dan sedikit bekal sudah disiapkan juga agar tidak terlupa. Kemudian Pak Tua duduk di depan gubuknya menunggu Pak Jon yang akan menjemputnya pukul lima nanti.

Pak Tua menanti dengan sabar sambil membaca Alkitab dan bersenandung kecil. Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa sekarang sudah pukul lima lewat lima menit. Tetapi Pak Jon belum juga datang. Mungkin jalanan macet kata Pak Tua dalam hati dan kembali menunggu. Menit-menit berlalu. Dua puluh menit kemudian, Pak Jon belum juga tiba. Pak Tua menjadi gelisah dan tidak tenang. Akhirnya ia meminjam telepon tetangga sebelah dan menghubungi Pak Jon. Ternyata Pak Jon lupa menjemput Pak Tua karena terlalu sibuk tadi.

Apa yang harus dilakukan Pak Tua sekarang? Ia tidak mau ketinggalan ibadah malam Natal. Ah, kemudian Pak Tua ingat, ada lima mobil jemputan yang disediakan gereja di dekat rumahnya. Pak Tua memang tidak mendaftar untuk ikut mobil jemputan, tetapi mungkin saja masih ada tempat yang tersisa untuk Pak Tua.

Maka ia pun mengunci pintu gubuknya dan berjalan ke tempat mobil jemputan gereja menunggu. Pak Tua berjalan secepat yang ia mampu. Kedua kakinya yang terserang rematik berteriak pada setiap langkah yang diambil. Paru-parunya terengah-engah mencari oksigen. Pak Tua terus berjalan.

Pukul enam lebih sedikit, sampailah Pak Tua di tempat mobil jemputan menanti. Nafasnya terengah-engah. Kakinya gemetar. Bajunya sekarang kotor bercampur debu dan keringat. Tertatih-tatih Pak Tua menghampiri mobil yang paling dekat. Tetapi Pak Sopir melambaikan tangannya. Mobilnya sudah penuh, Pak Tua harus mencoba mobil yang lain. Kemudian mobil pertama pun berangkat.

Pak tua menghampiri ketiga mobil lainnya, tetapi hasilnya sama saja. Mobil sudah penuh, tidak ada lagi tempat untuk Pak Tua. Tak menyerah, Pak Tua mendatangi mobil terakhir. Pengemudinya meminta Pak Tua mencoba mencari tempat duduk sendiri. Pak Tua melongok ke belakang. Tidak ada tempat yang bersisa. Tidak juga, sebenarnya jika bocah laki-laki berusia satu atau dua tahun itu dipangku oleh ibunya, maka masih ada satu tempat duduk tersisa untuknya. Pak Tua menatap wajah sang ibu. Ibu itu balas menatap Pak Tua galak seolah-olah berkata, “Ini tempat duduk anakku. Salah sendiri datang terlambat!”

Akhirnya kelima mobil jemputan gereja berangkat dan meninggalkan Pak Tua seorang diri di tempat itu. Sedih sekali rasanya. Punggungnya yang bungkuk semakin bungkuk. Namun Pak Tua belum menyerah. Ia ingat ada Pak Petrus tinggal di dekat sini, siapa tahu Pak Petrus belum berangkat. Pak Tua kembali berjalan sambil berdoa dalam hati.

Tiba di rumah Pak Petrus, doa Pak Tua memang terkabul. Pak Petrus belum berangkat. Sayangnya motornya tidak cukup untuk membonceng keluarganya dan Pak Tua. Dimintanya Pak Tua untuk mendatangi tetangganya, Pak Abraham, yang juga akan ke gereja. Setelah itu Pak Petrus pun berangkat dengan keluarganya, tidak mau terlambat untuk ibadah malam Natal.

Seorang diri, Pak Tua mengetuk pintu rumah Pak Abraham. Yang dicari ternyata sudah berangkat. Hanya ada pembantu yang menjawab. Pak Tua benar-benar sedih. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Jika mampu, Pak Tua akan naik kendaraan umum saja. Tetapi Pak Tua tidak mempunyai cukup uang untuk naik kendaraan umum. Atau seandainya saja gereja tidak sejauh itu, tentu Pak Tua sudah berjalan kaki kesana sejak tadi. Hati Pak Tua hancur. Ia mengecewakan Tuhan Yesus hari ini.

Terseok-seok, Pak Tua berjalan kembali ke rumahnya. Langkahnya terasa sangat berat. Rematiknya terasa semakin menyakitkan. Air mata bercucuran sepanjang jalan. Ia tidak dapat mengikuti ibadah malam Natal. Apa yang harus diakukannya? Tuhan Yesus yang baik sudah berkorban begitu besar untuk Pak Tua, sedangkan ia mengikuti ibadah malam kelahiraan-Nya saja tidak bisa. Pak Tua terus menangis.

Pukul tujuh lebih sedikit Pak Tua tiba di rumah. Tidak ada lagi yang dapat dilakukannya. Ibadah sudah dimulai. Dan Pak Tua tidak dapat mengikutinya. Dengan tangan yang gemetar, Pak Tua berusaha membuka kunci pintu rumahnya.

Hei Pak Tua, bukankah kamu akan gereja hari ini? Mengapa masih ada disini?”

Pak Tua terkejut. Kunci terjatuh dari tangannya. Ia berbalik. Yang menegurnya adalah salah satu dari rombongan anak-anak muda preman yang suka mabuk-mabukan di rumah kosong di ujung gang sana. Pak Tua takut padanya. Melihat gaya dandannnya sudah menciutkan nyali.

HOI PAK TUA SUDAH TULI YAH?” – Anak muda itu memanggilnya lagi.

Mau tidak mau Pak Tua menjawab pertanyaan anak muda itu. Akhirnya mereka justru bercakap-cakap di teras gubuk Pak Tua. Pak tua menceritakan masalahnya kepada anak muda itu. Anak muda itu mendengarkan dengan serius.

Tunggu sebentar Pak Tua! Aku segera kembali!”

Pak Tua bingung. Mau apa anak muda itu? Apa yang harus ditunggu? Pak Tua menunggu sebentar di teras. Tetapi anak muda itu tidak juga kembali. Akhirnya Pak Tua memutuskan untuk masuk ke dalam gubuknya. Di dalam ia mengganti bajunya dengan pakaian biasa. Kaos putih yang sudah banyak lubang dan tambalannya dan kain sarung.

Dua puluh menit kemudian, pintu gubuk Pak Tua digedor kencang.

PAK TUA !!!! PAK TUA !!!! BUKA PINTU !!!”

Pak Tua mengenali suara anak muda tadi. Ada apa lagi sekarang? Ia buru-buru membuka pintu. Anak muda itu segera merebut kunci dari tangan pak tua dan menariknya pergi. Pak Tua kesulitan mengikutinya. Mau dibawa kemana ia. Diculik tidak mungkin. Setiap orang tahu, Pak Tua miskin dan tidak mempunyai kerabat untuk menebusnya.

Anak muda itu terus menyeret Pak Tua hingga ke rumah kosong markas teman-temannya. Pak Tua ketakutan. Apa yang akan dilakukannya rombongan preman ini dengan orang tua sepertinya dirinya. Ia mencoba melepaskan dirinya, tetapi anak muda itu memegang tangannya dengan erat. Dia membuka pintunya.

Di dalam rumah kosong itu, sudah duduk berkumpul anggota preman yang lainnya. Seseorang memegang gitar. Ada apa ini? Anak muda itu membawa Pak Tua ke dalam dan mendudukkannya.

Ayo kita adakan ibadah malam Natal disini untuk Pak Tua”, katanya.

Ibadah malam Natal? Muslihat macam apa ini? Anak-anak muda ini pasti hanya mau mabuk-mabukkan saja disini. Pak Tua menjadi marah, ia mencoba untuk bangkit berdiri tetapi segera ditahan oleh anak muda itu.

Ayo Pak Tua, kita akan memulai ibadah kita.”

Ibadah ?? Jangan mempermainkan sesuatu yang kudus!!!”

Kami tidak bermain-main. Tadi katamu ibadah itu bernyanyi dan kemudian mendengarkan cerita tentang Yesus. Jika hanya itu, kita juga dapat melakukannya disini.”

Jangan main-main!! Ini bukan sembarang nyanyian dan cerita. Ini adalah lagu dan cerita untuk Tuhan Yesus!”

Iya, kami bisa sedikit menyanyikan lagu Natal. Dan kamu, Pak Tua, yang akan menceritakan tentang Yesus kepada kami semua. Banyak dari kami yang hanya mendengar kisah itu ketika masih kecil dan sudah melupakannya. Banyak juga yang belum pernah mendengarnya. Jadi ayo kita mulai ibadah kita.”

Jangan sembarangan!! Aku tidak bisa bercerita tentang Yesus.”

Ah Pak Tua, bukankah kamu sudah hafal kisah Yesus. Ceritakanlah salah satunya kepada kami!”

Akhirnya Pak Tua menyerah. Bersama dengan anak-anak muda itu, Pak Tua merayakan malam Natal dan berbagi kisah kelahiran Yesus dengan mereka semua. Bersama-sama mereka bernyanyi lagu-lagu Natal dan bertepuk tangan.

Malam harinya, Pak Tua bermimpi indah. Tuhan Yesus datang kepada-Nya dan berterima kasih kepada Pak Tua karena telah memberikan ibadah yang indah untuk-Nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s