Album Foto

Aku merasa lelah dan putus asa. Hidupku hancur dan terpuruk. Bebanku berat. Harapan sangat jauh dariku. Usahaku diambang kebangkrutan. Tidak ada jalan keluar bagiku. Segalanya tampak begitu gelap dan suram. Hari esok adalah hari yang menakutkan bagiku.

Aku yakin, Dia yang kupercaya sudah melupakanku. Aku percaya Dia sudah meninggalkanku. Bahkan sering kali aku berpendapat bahwa Dia adalah khayalanku semata. Bukan sesuatu yang nyata. Dimanakah Dia saat aku sedang berada dalam kesulitan? Dimanakah janji-Nya untuk tidak pernah meninggalkanku?

Sudah lelah aku berdoa. Sudah lelah aku mentaati firman-Nya. Sudah lelah aku mempercayai-Nya. Sudah lelah aku ke gereja. Sudah lelah aku menantikan-Nya menyelamatkan hidupku dari keterpurukan ini. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mau mengenal-Nya lagi. Dengan Dia atau tanpa Dia hidupku sama saja. Tidak ada perubahan atau perbaikan yang berarti.

Suatu malam, ketika aku masuk ke kamar tidur. Sebuah kado yang dibungkus dengan pita berwarna keemasan diletakkan di atas meja di samping tempat tidurku. Tidak ada petunjuk dari siapakah kado itu. Aku malas untuk mencari tahu. Kado itu tidak akan membawa perubahan dalam hidupku. Kado itu tidak akan memperbaiki hidupku yang sudah terpuruk ini. Dan aku pun berangkat tidur tanpa membuka kado itu sama sekali.

Malam itu aku bermimpi. Dia yang sudah aku lupakan datang mendatangiku. Diajaknya aku untuk membuka kado yang tidak aku indahkan itu. Dengan malas-malasan aku menuruti permintaan-Nya itu. Ternyata di dalamnya ada sebuah album foto. Kemudian Dia mengajakku untuk membuka album foto itu. Aku menggelengkan kepalaku, menolak ajakan-Nya. Kuletakkan album foto di atas meja. Kusingkirkan bekas pembungkus.

“Aku tidak punya waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Lebih baik aku kembali tidur atau memikirkan cara untuk memperbaiki usahaku. Lagi pula aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan-Mu.”

Dia tidak marah mendengar kata-kataku dan hanya tersenyum lembut. Mata-Nya tetap memancarkan kelembutan dan kebaikan yang teramat sangat. Dia kembali membujukku dengan kata-kata yang lembut. Diambilnya kembali album foto itu dan diletakan dihadapanku.

“TIDAK !!! Aku tidak mau,” tolakku selalu.

Dia tidak pernah menyerah walaupun aku bersikeras menolak untuk membuka album foto tersebut. Tidak pernah sekalipun kemarahan membayang di raut wajah-Nya. Aku justru bisa membaca setitik kesedihan dalam tatapan mata-Nya.

Akhirnya aku menyerah. Jika aku mengikuti permintaan ini, maka Dia pasti tidak akan mengganggu lagi. Begitulah pikirku dalam hati.

Aku mulai membuka lembar pertama album foto itu. Aku terkejut. Album foto itu berisi foto-foto seluruh kisah hidupku dari yang aku ingat hingga yang sudah aku lupakan. Dimulai bahkan sejak aku masih dalam kandungan ibuku dalam bentuk hasil USG hingga masa-masa sekarang. Tidak ada satu hal pun yang terlewat. Aku ingat sebagian besar dari foto itu, tetapi sebagian besar dalam foto-foto itu belum pernah aku lihat sebelumnya. Aku tidak mengerti dari manakah foto-foto ini berasal.

Foto-foto itu membangkitkan banyak kenangan yang sudah terlupakan. Aku menjadi teringat bagaimana senangnya aku ketika mendapat sepeda sebagai hadiah ulang tahunku yang ketujuh. Tetapi dua hari kemudian aku terjatuh ketika sedang bermain sepeda dan gigi depanku patah. Atau ketika aku kecelakaan dan hampir meninggal karena kebut-kebutan dengan sepeda motor semasa SMA. Kemudian ada juga ketika aku patah hati, mengikuti retret dan kemudian justru berkenalan dengan seseorang istimewa yang menjadi istriku sekarang. Aku teringat bagaimana senangnya sekaligus cemas ketika menantikan kelahiran anakku yang pertama.

Aku terus membuka album foto itu. Rasanya tidak ada habisnya. Aku melihat kembali setiap peristiwa dalam hidupku. Foto-foto ini membangkitkan kenangan baik yang indah, sedih, jelek, bahagia, menyenangkan, maupun mengecewakan.

Akhirnya sampailah aku pada lembar yang terakhir. Dalam foto-foto itu aku melihat bahwa aku sedang tidur ketika anak-anak dan istriku ke gereja. Ada juga foto ketika aku sedang menjelek-jelekkan Dia, yang sekarang duduk di depanku, ketika aku sedang berkumpul dengan teman-temanku. Aku menjadi malu dan merasa tidak enak. Cepat-cepat kututup album foto itu.

“Bagaimana?”

Aku bingung untuk menjawabnya. Aku cukup terhibur dengan album foto itu. Aku sadari tidak selamanya hidupku buruk. Memang ada masa-masa ketika aku terpuruk. Tetapi lebih banyak lagi masa-masa yang membahagiakan. Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan-Nya.

Dia tersenyum melihat kebingunganku. Diambilnya album foto itu. Dibukanya disodorkan kepadaku. Itu adalah foto hasil usg ketika aku baru delapan minggu dalam kandungan ibuku. Aku lebih mirip kerang daripada bayi. Mengapa Dia memintaku untuk memperhatikannya? Aku perhatikan foto itu lebih jelas. Dan aku melihatnya. Ada Dia dalam foto itu. Dia menjagaku.

Lalu Dia menunjukkan foto yang lain. Itu adalah foto ketika aku belajar naik sepeda roda dua. Dalam foto itu aku tampak cemas karena takut. Ayahku baru saja melepas pegangannya kepadaku. Aku memperhatikan foto itu lekat-lekat. Ternyata juga ada Dia dalam foto itu. Dia memegang sepeda agar aku tidak jatuh.

Penasaran aku mulai memperhatikan kembali setiap foto dalam album foto itu. Ternyata selalu ada Dia dalam foto-foto tersebut. Ketika aku sedang bersedih, kecewa, marah maupun senang selalu ada Dia. Bahkan ketika aku jatuh dalam dosapun Dia tetap ada walaupun dengan wajah yang sangat sedih. Aku menatap-Nya dan bertanya-tanya dalam hati.

“Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku selalu ada didekatmu. Tak pernah sekalipun aku melupakan janji-Ku kepadamu.”

“Lalu mengapa Kau biarkan hidupku hancur seperti sekarang ini? Mengapa Kau biarkan usahaku bangkrut?”, tanyaku.

“Anakku, tidakkah kamu tahu, semuanya ini untuk mendidikmu. Untukmu tumbuh dan berkembang. Kamu pasti akan melewati semua ini. Semua doamu tidak pernah aku abaikan. Hanya tetaplah percayalah kepada-Ku. Aku sudah membuat rancangan yang indah untukmu Aku pasti akan membimbingmu pada padang rumput yang hijau. Ingatlah kepada kisah Ayub, Daud atau bahkan Aku sendiri. Kamu tidak sendirian.”

Aku menjadi sangat sedih mendengar kata-kata-Nya. Aku sadari aku sudah berkelakuan seperti anak manja selama ini. Aku marah dan ngambek ketika masalah datang. Aku marah karena Dia tidak menjawab doaku. Aku lupa bahwa Dia sudah begitu baik dalam hidupku Bebanku terangkat. Air mataku mengalir deras.

Samar-samar dari balik kabut airmata, aku melihat Dia tersenyum begitu lembut. Sebuah senyum yang lahir dari hati yang tulus dan penuh dengan kebaikan. Hati yang rela mengorbankan diri dengan penderitaan dikayu salib untuk umat manusia seluruh dunia hingga saat ini. Dia memelukku erat-erat. Dan aku tidak malu untuk menangis dalam pelukan-Nya. Aku menangis hingga tertidur.

Keesokan harinya, aku terbangun. Aku melihat bungkusan kado itu masih terbungkus rapi di atas meja di sisi tempat tidurku. Segera aku membukanya – berharap mendapatkan album foto di dalamnya. Ternyata hanya ada secarik kertas di dalamnya. Aku membacanya.

Isinya adalah janji pernikahanku dahulu dengan kata-kata “dalam susah” yang dicetak besar dan tebal. Dia benar. Aku tidak sendirian dalam masalahku. Aku memiliki Dia dan keluargaku. Dengan Dia atau tanpa Dia hidupku berbeda. Dengan Dia aku mempunyai pengharapan seberat apapun hidupku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s