My Trip – Lampung

Perjalanan ke Lampugn artinya pulang kampung. Walaupun sekarang aku meragukan apakah istilah pulang kampung masih tepat karena aku sudah nyaris tidak mempunyai lagi tempat untuk tinggal. Selain itu, kerabat di Lampung juga sudah tidak menganggapku sebagai warga Lampung. Bahkan rumah yang sudah sejak kecil aku tempati juga sudah menjadi tempat yang asing. Begitu besar, sunyi, sepi dan tua.
Tidak hanya rumah masa kecilku yang terasa asing. Lampung juga telah menjadi suatu tempat yang asing. Banyak yang aku lupakan. Namun banyak juga perubahan sejak aku meninggalkan Lampung dulu.
Dulu ketika aku kecil, sarana utama untuk rute Jakarta Lampung adalah melalui laut. Tidak ada pesawat terbang. Tetapi sekarang ini, sudah banyak sekali maskapai-maskapai penerbangan yang melayani rute Jakarta – Lampung, misalnya saja ada Garuda Indonesia, Sriwijaya, dan Merpati. Masyarakat bebas memilih maskapai berdasarkan harga, layanan atau jam penerbangan. Dengan dibukanya rute penerbangan Jakarta – Lampung, perjalanan menjadi singkat dan praktis. Hanya kurang lebih 30 menit di udara, bila dibandingkan dengan rute melalui laut yang menghabiskan waktu kurang lebih dua jam di atas kapal. Dan rupanya rute Jakarta – Lampung ini termasuk rute yang menguntungkan. Pesawat hampir selalu penuh jika akhir pekan. Juga khabarnya, Garuda Indonesia berniat untuk menambah jadwal penerbangan ke Lampung dari dua menjadi tiga kali dalam sehari.
Lalu aku juga merasa kalau sekarang Teluk Betung lebih sepi daripada dahulu. Tanjung Karang justru menjadi ramai dengan banyaknya pusat perbelanjaan baru ditambah dengan Matahari, Carefour dan Hypermart. Tanjung Karang yang aku kenal sudah berubah. Banyak ruko baru yang dibangun. Tapi untunglah Gramedia yang dulu menjadi tempat favoritku masih tetap tidak berubah lokasinya. Lalu sekarang sudah mulai mobil dengan plat B berkeliaran di jalan-jalan Lampung terutama akhir pekan. Mungkin Lampung sudah menjadi salah satu weekend getaway destination bagi warga Jakarta.
Dan yang paling mengejutkan adalah, selama ini aku tidak pernah tahu bahwa di Lampung ada tempat untuk surfing. Tetapi ketika pulang kampung kemarin, ada empat turis asing yang rela mengangkut peralatan surfing yang berat dan overweight dari Jakarta-Lampung, aku yakin tempat surfing itu sepadan dengan perjuangannya membawa peralatan yang berat tersebut.
Namun dari semua perubahan yang aku rasakan dan keterasingan, ada satu yang tidak berubah. Sejak dulu, film-film selalu telat sampai di Lampung. Aku ingat, dulu aku harus menunggu kurang lebih enam bulan sebelum film Kungfu Master diputar di Kotabumi. Sekarang juga masih sama. Ketika demam Avatar sudah berlalu dari Jakarta, di Bandar Lampung demam Avatar baru dimulai. Filmnya baru turun ke bioskop-bioskop.
Akhirnya aku menemukan sesuatu yang tidak berubah di kampung halamanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s