My Trip Malaysia – Kuala Lumpur

Perjalanan ke Malaysia dilakukan dengan setengah hati. Tidak ada kegairahan yang selalu dirasakan setiap kali akan keluar kota. Tidak ada semangat yang menggebu-gebu untuk melihat-lihat tempat yang baru.


Makanannya tidak sesuai dengan lidah Indonesia. Budayanya hampir sama dengan Indonesia. Bahasanya walaupun mirip tetap saja terdengar aneh di telinga. Kotanya tidak ada yang istimewa selain Petronas. Dan ada pula persaingan dan nasionalis sempit ala Indonesia. Semua itu ditambah dengan jadwal kerja padat yang menanti tanpa ada kesempatan untuk berjalan-jalan.


Bahkan sebelum perjalanan dimulai, awan mendung sudah membayangi perjalanan. Ijin perjalanan yang susah turun. Booking tiket pesawat yang tercancel. Dan nyaris ketinggalan pesawat pada hari keberangkatan. Catatan rekor yang bagus. Hanya perlu lima menit mulai dari mengantri imigrasi (lebih tepatnya minta didahulukan) hingga naik ke dalam pesawat sebagai penumpang yang terakhir.


Perjalanan sekitar 2 jam naik pesawat dengan isi pesawat yang kebanyakan TKI memenuhi pesawat terbang. Satu jam setelah penerbangan ingin ke kamar kecil. Kedua toilet tidak terkunci dan terbuka ketika didorong. Ternyata ada yang sedang buang air kecil. Untung saja pria bukan wanita. Dengan wajah merah pindah ke toilet diseberangnya. Hal serupa terjadi lagi. Dalam hati ingin memaki. Kunci pintu donk !!!


Tiba di bandara Kualu Lumpur. Perasaan pertama yang terlintas adalah sirik, iri dan keki. Bandaranya bagus, modern, teratur dan rapi. Bila dibandingkan, Soekarno-Hatta seperti nyonya tua yang sudah tidak mau lagi berhias untuk mempercantik diri dan baru bangun tidur. Tua, kusam dan kurang terurus (parkiran yang berantakan dan bau pesing). Itulah Soekarno-Hatta.


Naik taxi dari bandara menuju KLCC memakan waktu kurang lebih 1 jam. Dengan biaya sekitar 110 Ringgit termasuk tol. Taxi bandara memegang hak “monopoli” tunggal untuk mengantarkan penumpang dari bandara ke tempat tujuan masing-masing. Taxi-taxi lain hanya boleh menurunkan penumpang di bandara tetapi tidak boleh mengambil penumpang dari bandara.


Memasuki tol, hal berbeda dengan di Jakarta adalah bahwa motor boleh masuk ke dalam tol. Tetapi jangan lantas membayangkan jalan tol yang dipadati oleh motor. Sepanjang jalan, paling hanya ada 1 atau 2 motor yang terlihat. Para pengendara motor juga tertib tetap dijalurnya (karena memang sepi). Coba bayangkan bila motor boleh masuk jalan tol di Jakarta. Jalan tol akan bertambah macet dan berbahaya karena pengendara motor Jakarta yang suka selap-selip.


Di KLCC tersesat di hutan rimba gedung pencakar langit. Petronas yang hanya berjarak 5 menit berjalan kaki dari hotel saja tidak terlihat karena tertutup gedung-gedung lain.


Jadwal kerja yang padat dan hujan deras setiap sore membuat tidak mampu melihat-lihat kota. Satu-satunya yang bisa dikategorikan untuk sightseeing hanya naik jembatan Petronas.


Untuk naik jembatan Petronas gratis tetapi harus mengantri dulu dipagi hari untuk mengambil tiket dan memilih sesi. Antrian ini ditutup pukul 9 pagi dan ramai sekali. Untung saja pengelola cukup profesional sehingga walaupun panjang, antrian cepat selesai. Antrian dapat diwakilkan dan dapat juga mengambil tiket sesi untuk group. Satu sesi berjumlah kira-kira 20 orang dan berlangsung kira-kira 30 menit. Biasanya sesi yang ramai dicari orang adalah sesi sore hari ketika matahari terbenam.


Sesi dimulai dengan menonton tayangan 3D tentang Petronas (gedung dan perusahaan). Setelah itu barulah naik lift menuju jembatan. Jembatan terletak pada lantai 41 (kalau tidak salah) tepat di tengah-tengah dari keseluruhan tinggi Petronas. Petronas sendiri terdiri dari kurang lebih 80 lantai. Lift melaju cepat, menurut pemandu lift tersebut hanya membutuhkan waktu 1 detik untuk setiap lantai. Jadi perjalanan ke lantai 41 membutuhkan waktu kurang dari 1 menit. Sesampai di jembatan bebas untuk berfoto dan melihat-lihat. Tetapi tidak ada yang istimewa. Rasanya seperti melihat-melihat pemandangan dari puncak gedung-gedung tinggi di Jakarta. Setelah kurang lebih 15 menit di atas, lalu harus turun kembali. Dan acara selesai. Teman yang sudah bersusah payah antri dan bangun pagi mengeluh dan marah-marah karena merasa tertipu dan kecewa.


Di tempat mengantri tiket, ada sedikit hiburan yang bisa dinikmati antara lain : membandingkan tinggi badan dengan beberapa gedung pencakar langit dunia, membuat design gedung pencakar langit, mencoba seberapa kuat goyangan di beberapa gedung pencakar langit. Hiburan tersebut dapat dinikmati tanpa harus mengantri tiket.


Empat hari di Malaysia, waktu habis untuk bekerja. Perasaan yang paling membekas adalah rasa iri dengan kemajuan yang bisa dicapai oleh Malaysia.


Perasaan bangga akan Indonesia hanya didapat dari pengakuan kolega kerja di Malaysia yang mengatakan bahwa lebih baik belanja di Tanah Abang atau Mangga Dua daripada di Malaysia sendiri karena jauh lebih murah. Juga ada lagi pengakuan yang penuh kesirikan dari kolega kerja tersebut yang merasa iri karena sudah ada MONORAIL di Jakarta sedangkan mereka baru memiliki MRT saja. Apakah hanya tiang monorail setengah jadi sudah bisa dianggap memiliki monorail?


Kapankah Indonesia dapat menyusulnya? Indonesia tidak kalah dalam sumber daya alam dan manusia tetapi pembangunan tidak berlangsung. Sebagian orang hanya sibuk memperkaya diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s