Penyesalan Malkhus

“Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.”

Matius 20:18

Alkisah, ketika manusia pertama kali diciptakan Tuhan, mereka berdua adalah makhluk yang suci dan polos. Pikiran mereka jernih. Keinginan mereka murni tanpa campuran sedikit pun. Tingkah laku mereka kudus. Kehidupan mereka tanpa beban dan kerja keras. Tempat tinggal mereka adalah sebuah taman yang indah bernama Taman Eden.

Hari-hari berlalu, keinginan yang murni mulai sedikit tercemar karena adanya kehendak bebas dalam diri manusia. Kehendak bebas yang kemudian dipadukan dengan tipu daya yang cerdik dari ular menghasilkan dosa pertama manusia. Manusia menyantap buah larangan. Buah pengetahuan baik dan jahat.

Sejak itu, manusia harus meninggalkan Taman Eden dan bekerja keras sepanjang hidupnya. Mereka juga kehilangan kesucian dan kemurniannya. Pikiran mereka sekarang tidak lagi jernih tetapi bercampur dengan pengetahuan baik dan jahat. Sebagai ganti Taman Eden dan segala keindahannya, manusia pertama mewariskan pengetahuan baik dan jahat kepada generasi-generasi berikutnya.

Tetapi apakah warisan ini benar-benar berharga? Mungkinkah warisan itu telah berubah setelah melewati ribuan generasi?

Dulu aku selalu mengira, pengetahuan baik dan jahat adalah warisan yang cukup berharga. Pengetahuan baik dan jahat telah memberikan pengajaran bagi manusia selama ribuan generasi. Pengetahuan baik dan jahat telah membantu menata masyarakat hingga saat ini.

Dulu aku yakin bahwa pemungut cukai, pelacur dan orang kusta adalah sesuatu yang jahat. Mereka adalah sekelompok orang-orang yang harus dijauhi karena penuh dengan dosa dan najis. Aku yakin bahwa aku adalah baik. Guru-guruku baik. Imam besar adalah baik. Pekerjaan kami terhormat. Hidup kami selalu taat pada setiap peraturan Taurat. Tak ada satupun yang kami langgar.

Namun sekarang aku mulai meragukan semuanya itu. Aku goyah. Aku tidak yakin lagi apa itu baik dan jahat. Semua pengetahuanku akan baik dan jahat tercampur-aduk. Aku kehilangan tempatku berpijak. Aku seperti mengambang dalam kegelapan tanpa kepastian.

Keraguanku terjadi sejak aku mengenal orang itu. Pria bernama Yesus, seorang tukang kayu dari Nazareth tetapi anehnya sangat memahami kitab-kitab terutama Taurat. Dia juga sangat pandai mengajar. Muridnya banyak. Ajaran-Nya sederhana dan mudah dimengerti. Beberapa kali aku mendengarkan ajaran-Nya. Awalnya karena diperintahkan oleh Imam Besar untuk memata-matai Dia. Namun sering juga aku mendengarkan secara sembunyi-sembunyi karena aku menyukai ajaran-Nya. Bersama Dia, Kitab Taurat tidak lagi terasa menakutkan dan penuh dengan perintah atau hukuman. Bersama Dia, aku dapat lebih merasakan dan memahami Allah yang kusembah, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.

Menurut desas-desus, Dia juga sakti dan luar biasa. Dia dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Dia dapat mengusir roh jahat. Bahkan Dia dapat juga menghidupkan orang yang sudah mati. Aku sendiri kurang mempercayai desas-desus itu. Hanya seorang nabi Allah yang dapat melakukan hal-hal ajaib seperti itu. Dan Dia, tukang kayu dari Nazareth, bukanlah seorang nabi.

Imam Besar dan guru-guru mengatakan bahwa Dia jahat. Dia adalah iblis yang mengambil rupa manusia. Dia adalah kesesatan. Dia adalah penghujat Allah. Dia melanggar perintah Taurat dengan bekerja pada hari Sabath ketika Allah memerintahkan untuk beristirahat. Dia berteman dengan pemungut cukai dan pelacur. Dia juga tidak malu untuk bertegur sapa dengan orang-orang kusta.

Sebenarnya, aku kurang mengerti dimana letak kesalahan-Nya. Apakah tidak baik mencari makan pada hari Sabath? Apakah tidak baik berteman dengan pelacur yang bertobat? Namun karena Imam Besar dan guru-guru sudah mengatakan demikian, maka aku mempercayai mereka. Mereka jauh lebih mengerti hukum dan kitab-kitab dibandingkan denganku. Jadi pendapat mereka pasti benar.

Sejak itu, Dia menjadi jahat bagiku. Aku bergabung dengan kelompok yang hendak menangkap Dia. Bisa dikatakan, menangkap Dia telah menjadi satu-satunya tujuan hidupku ketika itu. Beberapa kali aku menjadi marah, kecewa dan frustasi karena Dia selalu saja berhasil meloloskan diri setiap kali kami akan menangkap-Nya. Rasanya seperti hendak menangkap kabut. Tidak dapat diramalkan kapan datang dan perginya.

Untung saja, keadaan akhirnya berbalik. Salah satu murid-Nya bersedia untuk menyerahkan Dia kepada kami untuk harga tertentu. Bersama-sama kami merencanakan kapan hari yang terbaik untuk menangkap Dia. Hari itu adalah tengah malam hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi. Sepanjang hari aku dan kelompokku sibuk menyiapkan semua senjata kami. Rencana dan persiapan disusun dengan matang. Tidak boleh ada kegagalan lagi kali ini. Aku malu dengan Imam Besar karena kegagalan terus menerus selama ini. Dia harus berhasil kami tangkap. Sesuatu yang jahat harus secepatnya dikeluarkan dari masyarakat sebelum merusak dan mengotori masyarakat.

Menanti adalah hal yang sangat sulit. Diperlukan kesabaran yang luar biasa untuk melakukannya. Dengan berlalunya waktu, perasaanku semakin tegang. Perutku melilit. Hari itu berlangsung dengan sangat lambat bagiku. Berbagai pikiran buruk terlintas dibenakku. Bagaimana jika gagal? Bagaimana jika Dia berhasil meloloskan diri? Bagaimana jika Dia tidak berada di taman? Bagaimana … ?? Bagaimana … ?? Ada banyak bagaimana yang bermain dipikiranku. Yang satu selalu lebih buruk daripada yang lain.

Lewat tengah malam, murid yang akan menyerahkan Dia datang ke tempat kami.

“Ayo, sekarang waktunya! Guruku sedang berdoa di taman.”

Kami segera bersiap. Tidak butuh waktu lama, karena kami sudah siap sejak pagi tadi. Dalam sekejab kami sudah dalam perjalanan ke taman. Aku merasa sangat bersemangat.

“Disana gelap. Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia”, kata murid-Nya di pintu taman.

Segera saja kami memasuki taman. Tidak sulit untuk menemukan Dia dan ketiga murid-Nya di dalam sana. Dalam sekejab saja, kami berhasil mengepung rapat mereka. Tempat yang gelap segera menjadi terang benderang karena nyala obor kami. Pedang dan pentungan terhunus siap untuk menyerang. Darahku terasa panas. Adrenalin mengalir deras disetiap pembuluh darahku.

Kuperhatikan wajah murid-murid-Nya. Wajah mereka pucat ketakutan dengan mata yang masih sedikit mengantuk dan belum sepenuhnya terjaga. Lalu aku melihat Dia. Wajahnya juga pucat dan tampak sedikit letih. Sorot mata-Nya menunjukkan bahwa Dia sedikit takut sekaligus pasrah. Namun ada ketenangan dan kedamaian yang terpancar dari diri-Nya. Tidak ada kemarahan dan kepanikan dalam diri-Nya.

“Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?”

Kudengar salah satu murid-Nya berkata. Rupanya seseorang sudah terjaga sepenuhnya sekarang. Aku mengenalnya. Dia adalah seorang nelayan yang sudah agak berumur bertubuh kurus dan tinggi. Suaranya lantang dan keras. Namun aku dapat menangkap bahwa suara itu juga sedikit gemetar karena takut dan amarah.

Tiba-tiba saja secepat kilat aku melihat kilasan pedang yang diarahkan ketempatku berdiri. Mengarah mengancam kepalaku. Nyaris saja aku tidak sempat menghindar. Dapat kurasakan pedang itu menyisir sisi kanan kepalaku. Kemudian aku merasakan sengatan rasa sakit dan darah yang mengalir hingga membasahi jubahku. Spontan aku mengangkat tangan meraba lukaku. Aku terkejut, tempat yang seharusnya merupakan telingaku kini kosong. Hanya ada darah kental yang mengalir saja.

Teman-teman satu rombonganku terpana. Kami semua menunduk dan melihat telingaku yang tergeletak di atas tanah. Untuk sesaat ada keheningan diantara kami. Tidak ada yang berbicara atau bergerak.

“Sudahlah itu”, akhirnya Dia membuka suara memecah keheningan itu.

Nada suara-Nya tegas dan berwibawa. Aku melihat bahwa dia sedang menegur murid-Nya yang baru saja menyerangku.

“Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku? Jika begitu, bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan bahwa harus terjadi demikian?”

Mendengar kata-kata-Nya, murid yang mengayunkan pedang itu tampak merasa malu dan segera saja ia menyarungkan pedangnya dan menunduk. Tidak berani menatap wajah gurunya. Dia hanya tersenyum lembut dan menepuk bahu murid-Nya seakan-akan berkata bahwa Dia senang murid-Nya sudah mengerti dan tidak akan mempermasalahkannya lagi. Kemudian Dia melangkah maju dan membungkuk memungut telingaku.

“Apa yang akan dilakukan-Nya?” pikirku. Kuangkat pedangku tinggi.

Teman-temanku juga mengepung semakin rapat. Bersiap terhadap segala kemungkinan.

Dia tampaknya tidak menyadari semuanya itu. Mata-Nya yang coklat gelap menatapku lekat. Sepasang mata yang sangat jernih dan dalam seolah-olah dapat membaca apa yang ada dibenakku atau apa yang aku rasakan. Mata-Nya menyorotkan permintaan maaf atas tindakan murid-Nya. Sebuah permintaan maaf yang tulus. Lalu Dia mengulurkan tangan-Nya.

Aku bersiap-siap. Dia tidak bersenjata, tetapi siapa tahu apa yang akan dilakukan-Nya dalam jarak sedekat ini.

Dia menjamah kepalaku yang berlumuran darah.

Aku terkejut. Aku merasakan kedamaian, ketentraman, dan ketenangan mengalir dalam diriku. Ada suatu perasaan hangat yang lembut mengalir keluar dari diri-Nya melalui sentuhan-Nya masuk ke dalam diriku. Lalu seketika saja, rasa sakitku hilang. Kuraba bekas lukaku.

Apa yang kuraba membuatku terkejut. Sangat terkejut!! Telingaku telah berada di tempatnya kembali. Lukaku sudah mengering bahkan tidak berbekas. Jika tidak ada bekas darah kering di wajah dan jubahku, aku pasti tidak akan percaya bahwa telingaku baru saja putus. Bagaimana Dia melakukan hal itu?

Dengan takjub aku menatap-Nya. Sungguh ajaib!! Aku tidak mengira bahwa aku dapat merasakan sendiri desas-desus tentang Dia. Sekarang aku mempercayainya. Dia tersenyum kecil kepadaku seolah sedang berbagi rahasia denganku.

Apakah Dia sungguh jahat? Aku mulai merasakan keraguan. Benarkah untuk menangkap-Nya?

Kemudian Dia berbicara dengan lantang, “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari, Aku duduk mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku? Akan tetapi semua ini terjadi supaya genap yang ada tertulis dalam kitab nabi-nabi.”

Setelah itu, Dia mengulurkan kedua tangan-Nya untuk diikat. Dia tidak melawan atau menyulitkan kami. Kepasrahannya seperti anak domba yang akan disembelih untuk hari raya Paskah. Murid-murid-Nya segera melarikan diri melihat guru mereka ditangkap.

Tugasku seharusnya sudah selesai dengan penangkapan-Nya. Tujuan hidupku sudah tercapai. Namun aku merasa tidak puas. Aku merasa ada sesuatu yang salah dari semua ini. Dalam hatiku, aku merasa bahwa aku sudah melakukan sebuah kesalahan besar dan fatal. Aku terus mengikuti Dia sejak penangkapan itu.

Dia diadili oleh Mahkamah Agung, Herodes dan Pilatus. Mereka semua memutuskan bahwa Dia bersalah dan akan dihukum dengan disalibkan. Sebelumnya Dia dicambuk dan disiksa terlebih dahulu hingga terluka parah. Tubuhnya hancur dan sulit dikenali.

Yang paling menyedihkan adalah memandang Dia ketika sudah tergantung di atas kayu salib. Aku merasa sangat sedih dan bersalah. Airmataku mengalir. Aku merasa sangat bersalah. Sebelumnya aku sempat berharap bahwa penangkapan-Nya hanyalah kesalahpahaman yang akan menjadi jelas dipengadilan. Ternyata aku salah. Dia akhirnya meninggal di atas kayu salib dengan penuh keajaiban. Terjadi gempa bumi dan langit menjadi gelap gulita. Belakangan aku juga mengetahui bahwa tirai Bait Allah terbelah.

Dia meninggal dengan meninggalkan segudang pertanyaan dan keraguan dalam diriku. Apakah Dia jahat? Apakah aku sudah melakukan hal yang benar dengan menangkap-Nya. Murid-Nya yang menyerahkan Dia bunuh diri tidak lama setelah Dia meninggal. Apakah Dia sesungguhnya adalah baik? Apakah Dia bahkan melebihi dari kebaikan itu sendiri yaitu Mesias yang dijanjikan?

Dalam hati aku tahu, bahwa sesungguhnya hanya Dia yang dapat menjelaskan hal itu padaku. Sayang Dia sekarang sudah meninggal karena aku telah menangkap-Nya. Aku menyesal. Aku sangat menyesal.

Apa itu baik? Apa itu jahat?

Sekarang aku paham, mengapa buah itu terlarang bagi manusia. Baik dan jahat telah menjadi kotoran dalam hati dan pikiran manusia. Baik dan jahat adalah permainan dalam ketidakpastian dan keegoisan manusia semata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s