Hari Ketika Aku Kehilangan Handphone

Aku bisa hidup tanpa handphone.”

Kata-kata itu sering kali aku gembar-gemborkan kepada orang-orang yang mengenalku. Aku bukan “Miss Ring Ring”. Aku tidak suka menelepon. Aku tidak suka ditelepon. Aku cenderung introvert dan anti sosial untuk urusan yang berhubungan dengan telepon. Aku jarang berkirim SMS. Aku juga tidak pernah menggunakan fitur-fitur canggih seperti MMS, internet atau lainnya. Intinya aku tidak merasa handphone sebagai kebutuhan primer dalam hidupku.

Suatu hari aku terkena bumerang balik dari prinsip hidupku tentang handphone.

Minggu lalu, ketika aku sedang mampir di toko buku dalam mall dan teringat untuk membelikan buku buat seorang kenalan, aku segera mencari handphone untuk mengkonfirmasikannya kembali. Ketika itu, aku baru sadar bahwa handphoneku tidak ada di dalam tas. Padahal, aku yakin aku sudah membawa handphone sebelum keluar rumah tadi.

“Mungkin terselip”, batinku.

Segera saja aku membongkar isi tasku. Namun barang yang dicari-cari tetap saja tidak ada. Alarm tanda bahaya mulai berdering dikepalaku. Aku panik. Handphoneku hilang !! Apa yang harus aku lakukan?

Aku mulai menyusun beberapa pertanyaan dalam hati. Dimana hilangnya? Apakah aku menjatuhkannya? Ataukah aku kecopetan karena kebetulan toko buku sedang penuh sesak saat itu? Bagaimanakah caraku menghubungi driver nanti? Apakah aku terdampar di mall ini?

Panik dan gelisah.

Berbelanja buku tidak lagi mengasyikkan. Aku buru-buru membayar barang belanjaanku. Sambil mengantri dikasir, aku mulai berdoa dalam hati. Tidak ada hal lain yang lebih untuk dilakukan ketika panik selain berdoa. Sebuah doa yang 50% ragu-ragu dan 50% berharap akan ada mujizat. Doa yang isinya agar handphoneku tiba-tiba saja ada kembali dalam tasku.

Namun karena 50% ragu-ragu, aku mulai membuat rencana B. Sebuah rencana cadangan untuk berjaga-jaga jika tidak ada mujizat yang terjadi. Tidak aku dengarkan suara kecil setengah berbisik yang berkata-kata dari pojokan tersembunyi dalam hatiku.

“Percayalah Tuhan akan mengurusmu.”

Aku merasa puas dengan rencana B yang aku buat. Menurut rencana itu, aku hanya perlu mencari car call untuk memanggil driver nanti. Kemudian doaku pun mulai berubah disesuaikan dengan rencana B yang lebih baik menurutku. Dalam doa aku meminta agar driver nanti mendengarkan car call dan tidak tidur. Aku mendikte Tuhan dengan apa mauku dalam rencana ini. Suara kecil dalam sudut hatiku semakin lemah suaranya kalah dengan kencangnya dengan teriakan rencana B dibenakku.

Selesai membayar, aku langsung menuju lobi tempat aku masuk dengan penuh keyakinan. Tujuan utamku adalah mencari car call.

“Dimana car call?”, tanyaku pada satpam.

Betapa terkejutnya aku ketika diberitahu bahwa car call hanya ada di lobi utama. Keyakinanku pada keberhasilan Rencana B langsung berkurang separuhnya. Dengan harapan yang tersisa, aku bertanya kembali. Satu-satunya harapanku ketika itu.

“Dimana telepon umum?”

Satpam menatapku seolah-olah aku berasal dari dunia lain dan dia tidak memahami bahasa yang aku gunakan. Kuulangi kembali pertanyaanku kali ini dengan lebih perlahan-lahan.

Satpam menahan tawa dan menggelengkan kepalanya. Disini tidak ada telpon umum jawabnya. Barulah aku sadari, telpon umum sudah tidak penting lagi karena hampir setiap orang sudah memiliki handphone sekarang. Pantas saja satpam memandangku dengan aneh. Aku seperti baru saja melintas waktu dari masa sepuluh tahun silam.

Dengan bahu tertunduk dan langkah terseok seperti prajurit kalah perang aku masuk kembali ke dalam mall. Pikiranku hampa. Otakku kosong. Semangatku nol mendekati minus. Aku merasa putus asa. Aku terdampar di mall.

Rencana B berantakan. Rencana C aku tidak punya. Rencana A entah apa statusnya. Mungkin Tuhan membatalkannya karena aku lebih percaya dengan rencana B daripada rencana A.

Aku melihat sekelilingku dengan sedikit iri. Orang-orang yang lewat seolah-olah menertawakanku. Mereka semua memegang handphone ditangan. SPG yang sedang menganggur menunggu pembeli asyik berkirim SMS ria. Aku merasa tidak berdaya.

Kurang lebih setengah jam lamanya aku berdiri diam saja melihat orang-orang yang lewat. Tiba-tiba ber berdering dikepalaku. Suara kecil setengah berbisik yang tadi hampir tidak terdengar lagi karena Rencana B sekarang justru terdengar jelas.

“Pinjam !! Dunia ini tidak penuh dengan orang cuek dan jahat .”

Pinjam??

Tidak ada seorang pun yang aku kenal ditempat ini. Bagaimana aku harus meminjam handphone? Jika ini adalah Rencana A dari Tuhan, maka ini adalah rencana yang aneh. Aku sangat pemalu untuk menegur orang asing yang tidak aku kenal apalagi untuk meminjam handphone. Aku kembali menunggu. Siapa tahu aku salah dengar tadi.

Namun suara itu berbisik semakin keras dan kencang. Dan harus aku akui itu adalah rencana yang paling baik.

Dengan sedikit gugup, gelisah dan panik aku menghampiri yang sejak tadi memang berdiri didekatku sedang menunggu keluarganya. Rasanya ada yang tidak enak di perut dan lidahku. Dengan takut-takut dan suara bergetar aku menegurnya.

“Maaf, bolehkah aku meminjam handphone? Punyaku tertinggal di rumah.”

Tanpa banyak bertanya, dia langsung mengulurkan teleponnya yang langsung kusambut dengan sukaria. Segera saja aku berhasil menelpon kerumah meminta tolong untuk memanggilkan driver. Tidak sampai 3 menit kemudian, aku tidak lagi terdampar di mall. 5 menit berikutnya aku sudah berada di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang. Handphone yang hilang ternyata ada di dalam mobil.

Rencana A yang mensyaratkan aku bergantung pada solusi dari Tuhan memang ajaib. Seandainya aku mendengarkan Rencana A sejak awal, aku tidak perlu menyia-nyiakan 30 menit menunggu di dalam mall dan merasa putus asa.

Dua hal yang aku pelajari dari kejadian ini.

Yang pertama adalah walaupun bukan miss Ring-Ring, ternyata aku tetap butuh handphone. Dan aku harus mencatat nomor telepon penting tidak hanya di handphone sebagai backup.

Hal kedua yang aku pelajari dan merupakan hal yang terpenting adalah bahwa hubungan dengan Tuhan seperti aku dengan handphone. Terkadang aku mengira aku tidak butuh Tuhan dan tidak mau merepotkan Dia untuk urusan sepele. Tetapi ternyata aku tidak bisa seperti itu. Aku membutuhkan Tuhan selalu, setiap saat dan dimana saja. Aku butuh Tuhan sama seperti aku membutuhkan udara untuk bernafas. Tanpa-Nya aku akan tersesat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s