16 Hal yang Dapat Dipelajari dari Bus Kota

Ketika SMP kelas 3, bus kota adalah angkutan utama bagiku untuk berangkat dan pulang sekolah.
Ketika kuliah di negeri tetangga, kembali bus kota menjadi kendaraan favoritku. Taxi terlalu mahal bagiku.
Setelah bekerja dan terbiasa membawa kendaraan sendiri, aku tetap menyukai bus.
Banyak hal yang bisa dipelajari dari bus kota.

Udara panas terik dan masih harus berjalan kaki lagi untuk sampai ditujuan setelah turun dari bus;
maka aku belajar untuk mengalihkan pikiran dengan melihat sekelilingku dan bersyukur untuk setiap hal seperti pohon bahkan udara.

Kesal karena kaki diinjak tanpa sengaja dan orang yang menginjak tidak meminta maaf;
dan aku belajar untuk mengampuni orang lain.

Orang-orang tidak mau memberi jalan menuju pintu keluar bus padahal sudah pegal berkata permisi;
dan aku belajar untuk peka terhadap lingkungan sekelilingku agar aku tidak sama seperti mereka yang tidak mau memberi jalan.

Merelakan tempat duduk untuk orang-orang tua, cacat, ibu hamil, atau anak kecil;
dan aku belajar untuk tidak hanya mementingkan diriku sendiri.

Berdiri berayun kekanan dan kekiri sambil berpegangan;
maka aku belajar untuk bersyukur bahwa aku memiliki dua kaki yang sempurna.

Jengkel karena bus yang terlalu sesak dan pengap;
dan aku belajar bahwa aku tidak sendirian di dunia ini.

Orang-orang berpakaian lusuh dengan bau tubuh yang agak menyengat;
maka aku belajar untuk tidak menilai orang hanya dari penampilan luarnya saja.

Ngeri karena sopir bus yang ugal-ugalan dan seenaknya;
maka aku belajar untuk menggantungkan hidupku pada Tuhan karena hanya Dia yang mampu menjaga keselamatanku.

Kondektur lupa menagih pembayaran tiket bus;
dan aku belajar untuk menjaga nuraniku agar tetap jujur.

Setengah jam menunggu namun bus yang ditunggu tidak kunjung datang juga;
maka aku belajar untuk mengisi waktu dengan berdoa daripada marah-marah.

Dompet, handphone dan barang berharga lain yang dijaga baik-baik agar tidak kecopetan;
dan aku menyadari bahwa dosa sama seperti copet yang datang menyerang pada waktu yang tidak pernah diduga hingga aku harus selalu waspada.

Bus sudah lewat dan bus berikutnya akan datang setengah jam lagi;
dan aku belajar untuk menghargai waktu. Waktu tidak pernah berjalan mundur dan tidak bisa ditabung.

Keberatan dengan barang bawaan yang banyak;
dan aku bersyukur karena setidaknya aku dapat menggunakan taxi atau mobil pribadi jika aku mau. Banyak orang yang hanya dapat naik bus.

Perjalanan masih panjang dan tidak tahu harus melakukan apa;
dan aku belajar untuk mendoakan setiap orang yang aku temui didalam bus.

Tempat tujuan sudah sampai dan turun dari bus;
maka aku belajar untuk mengucapkan terima kasih pada sopir bus karena itulah hanya itu bentuk penghargaan yang dapat aku lakukan.

Bus baru dan ber-AC yang kuincar tidak ada, sebagai gantinya adalah bus tua yang panas dan tidak enak;
dan aku belajar untuk menerima bahwa aku tidak selalu memperoleh apa yang aku inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s