Gembala dan Sang Raja

Udara sangat dingin. Angin dingin berhembus kencang menusuk tulang. Hari itu sudah larut, matahari sudah lama terbenam. Bintang-bintang bertaburan di langit seperti batu-batu berlian yang menghiasi langit.  Binatang-binatang malam sudah sejak tadi terjaga dari tidurnya dan keluar dari tempat tinggalnya serta bernyanyi untuk mengisi kesunyian malam.

Aku duduk berdesakan dengan teman-temanku mengelilingi api unggun kecil. Berusaha menghangatkan badan sebisa mungkin. Sambil berusaha menghabiskan waktu, teman-temanku saling berbincang-bincang dan berdiskusi. Topik kesukaan mereka adalah keluarga, pemerintahan, sensus penduduk yang sedang diselenggarakan saatini dan janji Sang Penyelamat yang telah diramalkan sejak jaman dahulu. Jika sudah berdukusi, mereka semua bagaikan ahli kenegaraan atau ahli-ahli Taurat layaknya.

Biasanya aku suka ikut ambil bagian dalam diskusi seperti itu. Namun tidak untuk malam ini. Dalam hatiku, aku merasa muak dan bosan dengan semua diskusi ini. Diskusi dapat saja berlangsung selama bertahun-tahun tak henti namun tetap saja tidak ada hasil yang nyata. Tidak ada satu perubahan pun yang terjadi. Bahkan perubahan kecil sekali pun. Selamanya aku tetap seorang gembala miskin yang harus menghabiskan sebagian besar waktuku di padang rumput, jauh dari keluargaku. Aku benci dengan keadaanku dan mengharapkan perubahan. Sayangnya aku sendiri tidak berdaya untuk membuat perubahan tersebut. Aku merasakan bahwa aku adalah salah satu contoh kegagalan yang keberadaannya tidaklah penting di dunia ini.

Tidak tahan untuk mendengarkan obrolan teman-temanku lebih lama lagi, aku bangkit berdiri. Aku berniat untuk berjalan-jalan sejenak. Kutitipkan kambing domba tanggung jawabku pada teman dekatku. Dan aku segera melangkah cepat meninggalkan kehangatan api unggun dan obrolan teman-temanku.

Angin dingin menghembus wajahku. Aku menggigil dan berusaha untuk lebih merapatkan lagi jubahku agar angin tidak dapat menyelinap masuk. Aku terus berjalan menjauh sampai tidak dapat kudengar lagi suara obrolan teman-temanku. Langit gelap tidak ada bulan. Namun aku tidak takut. Aku hafal setiap jengkal wilayah ini seperti aku mengenali tubuhku sendiri. Aku terus berjalan.

Pada tempat kesukaanku, aku berhenti. Aku melihat langit. Ada sesuatu yang aneh diatas sana. Ada sebuah bintang yang bersinar sangat terang. Tidak pernah sebelumnya aku melihat bintang yang seperti itu. Bintang apakah itu? Apakah itu adalah suatu pertanda?

Tiba-tiba telingaku menangkap suara keledai dan orang yang berjalan sambil menyeret langkahnya. Samar-samar aku juga mendengar suara wanita yang merintih. Darimanakah mereka? Apa yang mereka lakukan pada hari selarut ini di tengah padang? Aku melihat sekeliling mencari mereka. Tidak lama kemudian, aku melihat mereka.

Aku dapat melihat sosok mereka dari kejauhan. Seorang lelaki yang berjalan tersaruk-saruk kelelahan sambil menuntun seekor keledai. Tangan satunya memegang lentera. Di atas keledai itu duduk seorang wanita.

“HEI !!!” seruku sambil melambaikan tangan.

Lelaki itu mendengar seruanku. Segera dia menuntun keledainya ketempatku berdiri. Ketika akhirnya dia berdiri didepanku, aku dapat memperhatikannya dengan seksama. Lelaki itu masih muda mungkin sebaya dengan adikku yang terkecil. Wajahnya menunjukkan kelelahan. Sorot matanya penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran. Lalu aku memperhatikan wanita yang duduk diatas keledai. Usianya juga masih belia. Wajahnya pucat dan kelelahan. Butir-butir keringat menghiasi wajahnya. Sungguh aneh bahwa dia berkeringat ditengah malam yang dingin seperti ini. Sesekali dia meringis seperti menahan sakit dan kemudian aku mendengar dia merintih. Aku baru menyadari bahwa wanita itu tengah mengandung, dia pasti istri lelaki muda tersebut. Mungkin wanita itu sedang tidak sehat. Dari pakaian mereka berdua, aku tahu mereka berdua bukan orang kaya.

“Apa yang kalian lakukan disini? Istrimu harus segera beristirahat!!” tegurku.

“Tolong bantu kami. Kami berdua datang kemari mengikuti sensus penduduk. Sudah seharian aku berkeliling mencari penginapan. Tetapi semuanya penuh. Apakah Bapak tahu tempat kami bisa bermalam dan beristirahat?”

Aku tertegun. Penginapan?? Ditempat seperti ini? Tidak ada tempat yang layak untuk mereka berdua! Yang ada hanyalah padang terbuka untuk para gembala bersama dengan kambing domba mereka. Jikalau rumahku dekat tentu sudah aku bawa mereka berdua kesana.

“Tolong bantu kamu, Pak”, pinta lelaki muda itu lagi.

“Disini tidak ada penginapan maupun tempat  yang layak untuk kalian berdua”, dengan sangat terpaksa aku menjawabnya.

Sekali lagi aku mendengar wanita muda itu merintih lirih. Wajah lelaki itu berubah menjadi pucat dan sangat panik. Dia menoleh dan menatap istrinya. Wanita muda itu tersenyum kecil mungkin bermaksud menenangkan suaminya.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?” bisik lelaki itu lirih setengah putus asa.

Aku tidak tega melihatnya. Dalam hati aku mengutuk sensus penduduk yang telah membuat kerepotan dan masalah besar untuk semua orang terutama untuk pasangan muda dihadapanku ini. Apa yang dapat aku lakukan untuk membantu mereka berdua? Aku memutar otakku. Dan akhirnya aku berhasil menemukan jawabannya.

“Mungkin tempat ini tidak cukup pantas untuk kalian berdua. Sekitar enam ratus meter ke arah barat sana ada sebuah kandang domba. Cukup bersih dan hangat untuk tempat menginap malam ini. Jika mau, kalian berdua dapat menggunakannya malam ini”, kataku.

“Terima kasih …. Terima kasih…”

Bergegas lelaki muda itu menuntun keledainya kearah yang aku tunjuk. Langkahnya tidak lagi terseok-seok seperti tadi. Dia seperti menemukan harapan yang baru. Aku terus memperhatikan pasangan tersebut hingga mereka menghilang dari pandanganku. Dalam hati aku merasa kesal dengan ketidakadilan dan ketidakberdayaan yang aku lihat. Pasangan muda itu harus bersusah payah mencari penginapan, sementara banyak orang-orang kaya yang tinggal dalam tempat tinggal dengan kamar yang berlebih. Aku kesal dan jengkel dengan ketidakberdayaanku.

Lama aku berdiri ditempat itu, mungkin ada beberapa jam. Berdiam diri dan memaki entah kepada siapa. Aku mengeluarkan semua uneg-uneg dan kejengkalanku pada langit yang membisu. Perasaanku menjadi lebih enak setelah semuanya tertumpahkan. Aku mulai berjalan kembali ketempat teman-temanku berkumpul.

Di tengah perjalanan, aku bertemu dengan teman-temanku. Mereka semua berlari kencang kearahku seperti ada iblis yang mengejar dari belakang. Kepulan debu mengikuti langkah mereka. Sudah lupakah mereka dengan kambing domba yang harus dijaga? Sudah gilakah mereka?

“Ada apa?” teriakku.

“Ayo ikut!!! Kita harus bergegas !! Aku akan menceritakannya di jalan”, kata salah seorang temanku sambil menyeretku agar mengikuti mereka.

Akhirnya aku ikut berlari-lari bersama dengan mereka.

Mereka berlari sambil bercerita padaku dengan nafas yang tersengal-sengal. Aku terpaksa merangkai kata-kata mereka yang terputus dan tidak beraturan.

“Tadi ketika kami berkumpul ….”

“Ada malaikat yang datang.”

“Ada sinar yang terang sekali. Tempat itu menjadi seperti siang hari.”

“Kami meringkuk berusaha bersembunyi.”

“Kami ketakutan!!!”

“Aku kira kiamat datang.”

“Lalu malaikat berkata, ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan’.”

“Ada lebih banyak malaikat lagi yang datang.”

“Kemudian mereka bernyanyi: ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya’.”

“Lagu itu indah sekali.”

“Musiknya sungguh luar biasa!”

“Sekarang saja masih terbayang dikepalaku lagu tersebut.”

“Aku belum pernah mendengar lagu seperti itu.”

“Kemudian malaikat-malaikat itu pergi.”

“Setelah itu tempat itu kembali sepi.”

“Tempat itu kembali gelap.”

“Kami tidak lagi merasa takut.”

“Kemudian ada yang mengajak untuk ke Betlehem untuk melihat apa yang sudah diberitahukan oleh malaikat itu.”

“Dan akhirnya kami semua pergi ke Betlehem.”

“Untung saja kami bertemu denganmu dijalan, jadi kamu tidak ketinggalan.”

Teman-temanku bukan pembohong. Jika mereka berkata ada malaikat maka aku mempercayai mereka. Jika mereka berkata bahwa Juruselamat yang dinantikan telah lahir, maka aku juga mempercayai mereka.

Dimanakah dapat kujumpai Juruselamat? Tempat yang dituju ternyata adalah kandang domba tempat yang aku sarankan sebelumnya pada pasangan suami istri muda yang aku jumpai dijalan tadi. Aku merasa heran. Dan seketika itu aku merasa seperti ditampar sekaligus diguyur air dingin. Wanita muda itu tadi rupanya sudah hendak melahirkan. Bayi yang disebut malaikat tentulah anak pasangan suami istri tadi. Sungguh beruntung aku karena sudah berjumpa dengan mereka sebelumnya. Sedikit aneh ketika aku menyadari bahwa ternyata Mesias adalah orang yang biasa-biasa saja seperti aku. Dia bukan anak raja atau keturunan bangsawan. Dia bukan berasal dari keluarga kaya raya.

Di ambang pintu, kami semua merapikan diri kami sebisa mungkin. Bagaimana pun juga yang akan kami jumpai adalah Sang Juruselamat, sosok agung yang sangat kami nantikan sejak dulu kala. Tidak pantas rasanya jika kami menjumpainya dengan penampilan berantakan. Kami masuk dan menyapa orang tua baru itu. Lelaki muda dan istrinya tampak senang sekaligus bangga ketika melihat kami.  Mereka berdua baru saja menjadi orang tua seseorang yang istimewa.

Segera saja kami mengerumuni bayi yang belum lama dilahirkan itu. Bayi itu dibaringkan di atas palungan. Dia masih merah tampak begitu lemah dan tidak berdaya. Namun kami tidak mempedulikan kerapuhannya ketika melihatnya. Ketika melihatnya kami segera tahu bahwa dihadapan kami ada seorang raja agung yang harus kami sembah dan puji.  Setelah puas memandangi dan menyembah bayi kecil itu, teman-temanku menceritakan kembali apa yang mereka dengar kepada lelaki muda itu dan istrinya. Aku senang dapat mendengar cerita itu kembali.

Kami masih terus bernyanyi dan menyembah sepanjang perjalanan pulang ke kambing domba di padang. Mungkin seperti inilah Raja Daud ketika menari dan memuji Tuhan Allah dahulu. Dalam hati, aku tidak lagi merasa muak dan benci. Aku merasakan suatu sukacita yang amat sangat. Aku juga menyadari satu hal baru.

Aku mungkin seorang yang biasa-biasa saja dan tidak berdaya untuk mengubah satu keadaan pun. Aku mungkin saja hanya seorang gembala miskin seumur hidupku. Namun aku senang karena aku dapat melakukan sesuatu hal yang paling istimewa dalam hidupku yang tidak pernah dapat dilakukan oleh orang lain. Akulah yang memberitahukan kandang domba tempat Sang Juruselamat dilahirkan. Selain itu, aku juga sudah menemukan satu hal yang terpenting dalam hidupku. Aku sudah bertemu dengan Sang Juruselamat, Mesias, Kristus yang dijanjikan sejak jaman para nabi dahulu.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s