My Faith Experience

Aku dalam kondisi sangat kecewa dan berat hati ketika aku kembali ke Indonesia 8 tahun yang lalu setelah lulus kuliah. Aku merasa gagal dan tidak berguna. Harapan orang tua agar aku kuliah dan bekerja di luar negeri hanya dapat kupenuhi separuhnya. Dan aku merasa bersalah untuk semua biaya yang sudah dikeluarkan oleh papa mama selama 3 tahun untuk kuliahku. Jika kuliah diibaratkan dengan investasi, bagaimana aku dapat mengembalikan hasil investasi dengan penghasilan dari bekerja di Jakarta? Aku takut untuk menghadapi kekecewaan orangtuaku.

Namun bertahun-tahun kemudian, barulah aku menyadari. Ada rencana Tuhan dibalik kegagalanku. Yang pertama adalah aku menyadari bahwa Tuhan ingin mendidikku. Luar negeri mungkin tidak membuatku rusak secara jasmani tetapi aku mulai kendur sebagai jiwa dan roh. Dulu aku tidak membantah bahkan mendukung pendapat bahwa premarital sex boleh. Aku mempunyai daftar argumen lengkap untuk mendukung hal tersebut. Tuhan ingin merangkulku kembali, karena itu Dia menarikku pulang ke Indonesia. Sudah disiapkannya orang untuk mendidikku kembali di Indonesia.

Yang kedua adalah aku menyadari bahwa Tuhan ingin membentuk keluargaku kembali. Bertahun-tahun, ketika anak-anak mengembara untuk belajar, setiap orang dalam keluargaku ternyata telah membentuk kebiasaan, lingkungan dan jadwal masing-masing. Tuhan ingin mengajarkan arti sebuah keluarga dan mengembalikan apa yang hilang dalam hubungan antar keluarga. Itu tidak akan terjadi jika aktor-aktor yang terlibat dalam keluarga tidak lengkap, karena itu aku pulang ke Indonesia.

***

Tahun 2008, adalah masa yang suram. Krisis ekonomi dunia mengguncang usaha papa. Guncangan yang sangat dahsyat. Tidak hanya terancam bangkrut tanpa modal untuk memulai kembali. Bahkan juga terbayang lilitan hutang yang entah kapan sanggup membayarnya. Tidak ada jalan keluar yang terlihat. Semuanya gelap.

Banyak hal yang aku takutkan, aku takut dengan prospek kebangkrutan. Aku takut membayangkan papa tidak kuat menghadapi masalah. Dan aku paling takut papa berbalik menyalahkan Tuhan karena papa baru saja dibabtis dan menerima Yesus. Aku takut papa kembali berbalik pada dewa-dewanya.

Tuhan tempat aku berkeluh kesah diam saja tidak ada jawaban. Tidak ada bantuan. Tidak ada mujizat. Setiap hari adalah gelap dan tidak pasti.

Kami ke gereja untuk kebaktian pada hari Minggu. Aku menangis dari awal hingga selesai kebaktian. Semua orang mengira aku berdoa meminta bantuan pada Tuhan dan menangis. Tetapi bukan itu yang terjadi. Aku menangis karena aku merasakan Tuhan hadir. Dia ada. Dia tidak memberiku jawaban. Dia tetap diam. Tapi aku tahu Tuhan ada, itu sudah cukup. Aku menangis dan tidak dapat berhenti.

Mujizat tetap tidak terjadi setelah aku menangis di gereja. Uang tidak tiba-tiba turun dari langit. Hutang tidak tiba-tiba menjadi lunas. Harga kopi tetap rendah. Kami semua tetap harus bekerja keras melalui semua itu. Tetap tidak ada kepastian atau harapan. Tetapi aku melewatinya dengan damai karena aku tahu semua akan baik-baik saja karena Tuhan ada.

Aku juga menyadari satu hal. Didikan Tuhan akan arti sebuah keluarga dan hubungan antar anggota keluarga pada tahun-tahun sebelumnya ternyata sangat berguna pada saat seperti ini. Untuk menghadapi saat-saat gelap seperti ini, Tuhan telah mempersiapkan keluargaku sejak tahun-tahun sebelumnya.

Melalui peristiwa tahun 2008, Tuhan menambahkan satu ajaran baru dalam keluargaku. Pentingnya mimbar doa. Sejak itu, walaupun tidak rutin dan terkadang dengan sedikit terpaksa dan bermain-main, kami mulai mengadakan doa bersama setiap malam jika kebetulan sedang lengkap berkumpul semua.

***

Akhir tahun 2010, Garuda Indonesia resmi menandatangani kesepakatan untuk bergabung dengan SkyTeam dengan target Juni 2012. SkyTeam adalah sebuah proyek untuk bekerjasama dengan 20 maskapai di dunia. Secara teori ini adalah proyek yang bagus untuk penilaian dan CV. Tetapi secara analisa dan hitung-hitungan di atas kertas, ini adalah proyek bunuh diri. Ini adalah proyek gagal karena :

  1. Sebagian besar divisi di Garuda yang seharusnya terlibat justru lepas tangan karena mencari posisi aman.
  2. Managemen perusahaan plin plan dan tidak mendukung.
  3. Tidak ada seorang pun programmer yang siap untuk mengerjakan program yang dibutuhkan.

Ini adalah proyek bunuh diri !!! Aku terlibat dan tidak bisa mengelak. Aku berusaha untuk kabur dengan mencoba pindah kerja. Banyak lamaran kerja yang aku kirimkan baik dalam maupun luar negeri dan tidak ada satu pun yang lolos. Dalam hati aku depresi. Aku tidak mau ikut proyek bunuh diri ini. Aku berdoa dan Tuhan diam.

Untuk SkyTeam, kerjasama pertama dilakukan Garuda dengan Korean Air. Deadline diputuskan 15 Maret 2011. Aku semakin tertekan. Apalagi sekarang keberhasilan proyek ini menjadi tanggung jawabku. Aku sendirian. Tidak ada teman untuk bertukar pikiran. Tidak ada teman untuk diskusi. Aku semakin ingin melarikan diri. Aku semakin bersemangat untuk pindah kerja, Aku tahu, aku harus mengandalkan Tuhan, hanya saja sepertinya Tuhan yang aku kenal kali ini memilih untuk diam dan tidak membantu. Tidak ada programmer yang tersedia hingga minggu kedua Januari 2011. Aku terus berdoa setiap hari sambil melakukan apa yang masih bisa aku lakukan.

Aku benar-benar depresi. Ingin melarikan diri tetapi tidak bisa karena tidak ada pekerjaan baru jadi aku tidak dapat resign. Aku berdoa dan tidak ada jawaban. Tidak ada mujizat. Yang ada justru petaka. Programmer dari outsource yang dijanjikan justru resign. Aku kembali ke titik nol yaitu tidak ada programmer. Tanpa programmer tidak ada yang dapat dikerjakan. Meminta bantuan managemen untuk memecahkan masalah tidak ada hasil. Bahkan managemen meminta aku untuk sabar dan maklum – susah  untuk mencari programmer. Namun deadlineku tetap tidak boleh berubah. Apa yang dapat aku lakukan ? Aku menghadapi tembok tinggi dan besar.

Setiap hari aku marah dengan Tuhan. Tuhan diam saja. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku hadapi. Tekanan dari Garuda semakin tinggi. Aku tidak tahan untuk selalu berbohong mengatakan kepada GA bahwa semua baik-baik saja padahal aku tahu program sama sekali masih belum siap.

Aku hanya melakukan apa yang bisa aku lakukan. Tuhan diam tanpa petunjuk, jadi aku hanya bergerak berdasarkan ajaran Alkitab.

“Terus bekerja walaupun masa depan gelap dan suram. Bekerja seperti untuk Tuhan. Dan tidak bersungut-sungut”

Yang membuat aku heran, ditengah beban yang tinggi dua orang kantorku justru mengatakan sesuatu yang aneh.

Orang pertama berkata  bahwa dia kagum melihat aku selalu tersenyum ramah dan tenang tidak ada masalah. Dalam hati aku berkata, “Gak salah nih?”

Orang kedua berkata bahwa jika dia tidak bersemangat dalam bekerja, dia akan menjadikan aku contoh untuk kembali bekerja. Aku sampai bingung. Aku rasa apa yang aku kerjakan sama dengan apa yang sudah dikerjakan oleh yang lain. Bagaimana mungkin aku dapat menjadi contoh?

Namun yang jelas-jelas kata-kata kedua orang itu menghiburku. Aku yang depresi dapat menjadi contoh bagi orang lain.

Sampai minggu ketiga Januari 2011 aku belum mempunyai programmer untuk mengerjakan proyek ini. Tidak ada tanda-tanda mujizat. Managemen mengatakan aku berubah dan tetap tidak memberi solusi. Tetap saja aku harus sabar dan komit dengan deadline.

Lalu tiba-tiba hari Rabu, 19 Januari 2011, datang email dari Korean Air. Mereka tidak setuju dengan deadline di bulan Maret. Mereka menawarkan Juni 2011. Inilah bantuan dari Tuhan di waktu yang tepat. Aku mendapatkan perpanjangan waktu.

Sampai saat ini, proyek ini masih gelap dan tidak pasti. Garuda tetap tidak membantu. Managemen tidak berubah. Deadline dengan Korean Air Juni 2011. Deadline SkyTeam tetap Juni 2012. Ada 20 airline untuk mencapai Juni 2012. Programmer belum ada. Aku tidak tahu harus seperti apa. Tetapi aku tahu, Tuhan membantu disaat yang tepat. Aku bahkan berpikir Tuhan sedikit iseng. Dia suka membuat aku panik, marah dan frustasi sampai batas yang tidak dapat aku tahan lagi, lalu barulah Dia bertindak.

***

Masalah-masalahku masih banyak. Pergumulanku juga banyak. Ada masalah/pergumulan pribadi seperti :

  1. kenapa aku belum juga menikah atau bahkan pacaran
  2. kenapa aku susah untuk pindah kerja
  3. kenapa pelayananku di gereja sepertinya tidak berkembang
  4. dan masih banyak kenapa-kenapa yang lain .

Ada juga masalah-masalah keluarga dan masalah-masalah lain.

Tuhan diam saja. Doa dan pergumulanku lebih sering tidak dijawab dan didiamkan. Rasanya komunikasiku satu arah dan itu tidak enak. Entah berapa kali aku ngambek dan protes keras dengan Tuhan. Tetapi tidak ada yang berubah dari hubungan ini. Akhirnya aku menyadari bahwa :

  1. Walaupun aku marah, aku tidak bisa tanpa Tuhan karena Dia adalah hidup.
  2. Tuhan bertindak menurut waktu dan rencana yang Dia putuskan. Waktunya bukan keputusanku.
  3. Tuhan tidak diam. Dia bergerak, menjawab dan bertindak untukku. Dia hanya diam dari sudut pandangku saja. Ketika aku merasa Dia diam, aku hanya perlu terus melangkah dengan yakin – walaupun aku tidak bisa melihat apa yang ada di depan bahkan aku takut membayangkan apa yang ada di depan sana. Dia pasti menjagaku.
  4. Tuhan tidak bisa didikte.
  5. Masalah dan pergumulanku hanyalah seberat pikiranku. Jika aku berpikir itu berat maka masalahku berat. Jika aku berpikir bahwa itu tidak mungkin, maka masalahku adalah tidak mungkin.
  6. Harga diri hanya setinggi telapak kaki saja. Tuhan Yesus saja sudah meninggalkan harga diri-Nya ketika Dia lahir dikandang domba dan meninggal di salib.
  7. Nama baik hanya tergantung dari siapa yang menulis sejarah. Paulus adalah pengkhianat menurut para ahli Taurat.
  8. Menjadi bahagia adalah pilihanku. Kebahagiaan tidak tergantung dari orang lain dan bukan pemberian orang lain. Menjadi bahagia tidaklah susah. Aku hanya harus bersyukur, menghabiskan waktu dengan keluarga dan mengampuni.

Kedelapan hal di atas adalah dasarku untuk menghadapi setiap masalah dan pergumulan. Namun tetap saja ada masanya ketika aku tetap berkabung dalam pergumulanku. Ketika masa itu tiba, maka aku membuka Alkitab. Alkitab adalah kisah tentang pergumulan dari berbagai karakter manusia.

  1. Abraham bergumul untuk mempunyai anak selama 100 tahun.
  2. Nuh bergumul dengan proyek gila untuk membuat bahtera
  3. Rut bergumul untuk ikut mertua dengan prospek tidak jelas.
  4. Esther bergumul dengan ketakutan untuk menghadap raja.
  5. Bahkan Yesus pun bergumul di taman Getsemani malam sebelum Dia disalib.

Jika aku benar-benar depresi dan memasuki masa sinis bahwa setiap tokoh dalam Alkitab adalah orang-orang pilihan sedangkan aku adalah orang yang terlupakan, maka aku kembali membaca dan menyadari bahwa :

  1. Yunus sok tahu – dia menganggap perintah Allah salah dan pergi ke kota yang lain.
  2. Abraham penakut dan penipu – dia membujuk Sara istrinya untuk mengaku sebagai adiknya karena takut dibunuh.
  3. Petrus mulut besar padahal dia menyangkal Yesus 3 kali.
  4. Nuh pemabuk
  5. Yakub penipu dan pilih kasih.
  6. Daud mata keranjang.
  7. Maria Magdalena pelacur.

Ada pula saatnya aku meminta tanda, petunjuk dan panggilan dari Tuhan. Aku mau melihat semak yang terbakar. Aku mau melihat tulisan tangan di dinding. Aku mau melihat surga yang terbuka dan malaikat bernyanyi. Aku mau melihat Yesus. Aku mau berhadapan langsung dan berbincang-bincang. Namun seringkali Tuhan mengingatkanku untuk membaca kisah Abraham. Tanda dan petunjuk tidak selamanya baik.

Abraham bergumul untuk mempunyai anak. Ketika dia sudah tua dan pasrah, Tuhan justru memberitahunya bahwa dia akan memiliki anak bahkan keturunan sebanyak bintang di langit. Tahun-tahun berlalu. Abraham tetap tidak mempunyai anak. Akhirnya pada usia 86 tahun, dia mengambil budak Sarah dan mempunyai anak yaitu Ismael. Padahal Ismael bukanlah anak yang dimaksud Tuhan. Ismael tetap mendapat berkat dan janji Tuhan. Keturunannya besar namun sayangnya kelakuannya adalah seperti Keledai Liar. Abraham sendiri baru mendapat anak yang dijanjikan Tuhan pada usia 100 tahun.

Dari kisah Abraham, aku tahu tanda dan petunjuk dari Tuhan tidak selamanya baik. Manusia yang tidak sempurna sering kali hanya mengartikannya menurut pemahaman manusia.

Dalam pergumulan dan masa-masa yang paling gelap, akhirnya aku hanya perlu terus melangkah dalam gelap dengan keyakinan tanpa dasar bahwa ada Tuhan yang tidak kelihatan dan tidak ada suaranya yang menuntun dan menjagaku. Aku tidak mau menyerah karena aku mau menjadi pemenang untuk masalahku.

***

Kehidupan adalah suatu pilihan. Aku dapat memilih untuk hidup atau mati – dan aku memilih untuk hidup.

Aku dapat memilih untuk ikut Yesus atau tidak – dan aku memilih untuk ikut Yesus. Untuk ikut Yesus, aku memilki Alkitab dan Roh Kudus dan mengajar dan menuntun aku.

Memilih untuk ikut Yesus tidak mudah. Butuh komitmen besar untuk itu. Dan mungkin itu juga gunanya Allah memiliki tiga pribadi. Sebagai Bapa, Dia adalah tempatku mengadu dan menangis. Sebagai Putra, Dia adalah sahabatku yang dapat memahami setiap perasaaanku dan semua keluh kesahku. Sebagai Roh Kudus, Dia adalah penuntunku dan pengajarku.

Aku bodoh dan tidak peka. Aku diajari bahwa Roh Kudus lembut dan akan bertindak jika diundang. Aku mengundang Roh Kudus untuk tinggal, mengambil alih, membersihkan tubuhku dan mengajariku. Aku juga meminta Roh Kudus berteriak agar aku dapat mendengar Dia. Sedikit kasar tidak apa-apa, karena aku sering tidak peka. Itu aku minta setiap hari untukku dan untuk keluargaku.

Sering kali aku meminta Tuhan agar memagariku. Jika aku ragu dan sedang tidak merasakan kedekatan dengan Tuhan, aku meminta agar Dia tetap mengatur jalanku. Aku meminta agar Dia mengaturku melalui orang-orang dihidupku, melalui keluargaku. Aku belajar untuk patuh dan taat. Aku belajar untuk tidak bersungut-sungut.

Aku plin plan susah mengambil keputusan. Karena itu aku membuat perjanjian dengan Tuhan. Lebih baik gagalkan dari awal daripada aku kebingungan. Jika keputusan Tuhan rasanya tidak sesuai denganku, aku tetap tahu itu adalah keputusan Tuhan. Dan aku tinggal meneruskannya dengan komitmen penuh.

Mengampuni orang juga menjadi mudah setelah aku tahu caranya. Aku hanya tinggal minta Tuhan untuk menghapus dari pikiran ingatan-ingatan yang membuat aku marah. Jika tidak ingat lagi bagaimana mungkin aku masih bisa membenci seseorang. Beberapa ingatan masih disisakan Tuhan setelah aku bisa mengampuni untuk menjadi peringatan kepadaku.

Terkadang aku masih berbuat salah dan tidak taat. Contoh yang paling sederhana adalah, sering kali ketika akan berangkat kerja, aku mendengar suara untuk lewat tol. Namun aku justru jalan biasa dan terkena macet. Atau sebaliknya aku disuruh lewat jalan biasa dan justru memilih tol.

Aku meminta ampun dan memohon agar lebih peka lagi.

***

Aku yang sekarang adalah hasil bentukan Tuhan. Aku sepuluh tahun yang lalu sangat berbeda dengan aku saat ini. Karakterku tidak berubah hanya dibentuk menuju yang terbaik. Aku masih akan terus dibentuk dan diubah karena proses itu belum selesai. Masih banyak kekuranganku. Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Itulah tujuan akhir pembentukanku.

Jika orang mencap aku menjadi orang yang tanpa masalah. Orang yang paling tenang. Mungkin itu adalah salah hasil bentukan. Tidak ada orang yang tidak mempunyai masalah.

Jika orang mencap aku sebagai aku sebagai orang lembut. Aku tidak lembut. Aku tahu aku kasar.

Pengusaan diri belum ada padaku.

Kasihku terbatas pada keluarga dan orang-orang dekat.

Kesabaranku tipis.

Jika hidup adalah sebuah lakon. Maka aku akan memerankan lakonku sebaik mungkin karena Tuhan adalah sutradaranya. Sekecil apapun lakon yang diberikan kepadaku, aku tidak akan bersungut-sungut dan mengeluh. Aku akan ikut ambil bagian secara aktif dan bersemangat. Aku mau agar ketika tiba saatnya aku disidang oleh Yesus nanti, Dia akan mengatakan, “Bagus kamu sudah menjalankan peranmu dengan baik. Aku bangga padamu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s