Warisan – Sebuah Catatan dari Sejarah yang Hilang

1 April 2011

Aku mandi sebersih-bersihnya sore itu. Setiap permukaan tubuh, termasuk lipatan-lipatan yang tersembunyi, kugosok dua kali dengan bersemangat hingga kulitku menjadi kemerahan. Mulutku tidak luput dari kegiatan bersih-bersih. Untuk acara istimewa ini, aku menggosok gigiku dua kali. Kemudian aku menggunakan benang gigi untuk membersihkan celah-celah yang tidak dapat dijangkau oleh sikat gigi. Lidah juga tidak ketinggalan, aku bersihkan sebaik mungkin. Dan terakhir aku berkumur dengan Listerine hijau yang sangat pedas.

Aku juga bercukur untuk memastikan agar wajahku tetap bersih dari jambang yang baru tumbuh. Sesuatu yang hampir tidak pernah kulakukan disore hari. Walaupun jambangku cepat sekali tumbuh, aku hanya bercukur dipagi hari.

Kemudian aku membersihkan telinga, hidung dan puserku. Terakhir, aku mengunting kuku tangan dan kaki. Merapikan setiap potongannya. Tadi pagi aku sengaja pergi ke salon untuk merapikan rambutku.

Setelah semua acara-acara bersih-bersih selesai, aku mengenakan pakaian terbaikku yang telah kusiapkan hari sebelumnya dengan seksama. Sepasang pakaian dalam berwarna putih bersih yang masih baru. Celana panjang hitam dan kemeja biru terbaik yang belum pernah aku pakai dan telah kusetrika hingga licin. Tidak lupa aku mengenakan dasi sutra biru yang sesuai yang telah aku beli untuk sore ini. Rambutku aku sisir rapi dan kuberi sedikit minyak untuk menjinakkan beberapa helai rambut yang keras kepala. Terakhir aku menyemprotkan cologne beraroma mint kesukaanku.

Sebelum keluar kamar, aku memeriksa penampilanku sekali lagi untuk memastikan tidak ada yang kurang atau tidak sesuai. Aku merasa puas dengan penampilanku. Aku harus tampil istimewa karena sore ini adalah sore yang istimewa.

23 Maret 2011

Ada sebuah rahasia dikeluargaku. Aku tidak tahu rahasia tersebut. Tetapi aku tahu, rahasia tersebut tersimpan rapat dalam sebuah peti dari kayu oak yang harum baunya dengan ukiran-ukiran mawar dan malaikat yang sangat  indah disekelilingnya. Peti itu berukuran 1 meter x 0.5m x 0.5 m dan disimpan di kamar kakek. Peti itu dikunci secara rahasia. Aku tidak dapat membukanya (walaupun aku mahir membuka gembok dan kunci lain). Aku ingat, dulu aku sering mengguncang peti tersebut sekuat tenaga. Suara yang aku dengar adalah bunyi gemerisik yang halus. Aku tidak dapat menebak benda apakah yang ada didalamnya. Aku benar-benar penasaran.

Setiap kali aku bertanya kepada ayah, ibu, kakek, atau nenek jawaban mereka selalu sama.
“Sekarang belum saatnya kamu untuk mengetahui rahasia itu. Nanti jika sudah tiba saat yang tepat, pasti kami akan memberitahukan rahasia itu kepadamu, Nak.”

Dulu sering kali aku bertanya kepada mereka kapan aku boleh mengetahui rahasia itu. Mereka hanya tersenyum dan menungguku bersabar. Aku pun menunggu dan bersabar.

Aku benci menunggu sesuatu yang tidak aku ketahui kepastiannya. Aku benci sekali dengan jawaban mereka. Aku benci karena mereka tidak mau berbagi rahasia. Aku benci karena mereka tidak mau mempercayaiku.
Tahun-tahun berlalu, aku semakin besar. Namun tetap saja aku tidak mengetahui rahasia tersebut. Mereka semua tetap mulut. Sampai akhirnya aku berkesimpulan mereka memang tidak mau membagi rahasia itu denganku. Aku menjadi tidak peduli lagi.

Selepas SMA, aku tinggalkan keluargaku. Aku berpindah ke tempat lain. Biarlah mereka hidup dengan rahasia mereka. Aku tidak peduli lagi. Aku juga berusaha melupakan keingintahuanku akan rahasia tersebut.

Bertahun-tahun aku tidak pulang kerumah. Aku hanya pulang ke rumah sekali saja. Yaitu ketika kakek sakit keras. Aku dekat sekali dengan kakek. Aku tidak menyesal pulang ke rumah saat itu, karena aku dapat bersama-sama dengan kakek pada detik-detik terakhir  nafas kehidupannya.

Sebelum meninggal, kakek meminta maaf karena tidak dapat menceritakan rahasia itu kepadaku. Kakek juga menasihatiku agar tidak keras kepala dan sering-sering pulang ke rumah karena papa dan mama merindukanku. Terakhir kakek menasihatiku agar tetap rajin beribadah.

Dari semua nasihat kakek, hanya satu yang tidak kuturuti. Aku tetap tidak mau pulang ke rumah. Sebagai gantinya aku rajin berkirim email dan menelpon ke rumah.

Lalu tiga tahun yang lalu, pada ulang tahunku yang ketiga puluh, aku mendapatkan paket kado ulang tahun dari rumah atau lebih tepatnya dari ayahku. Biasanya hubunganku dengan rumah adalah melalui ibu atau nenekku. Aku tidak pernah berhubungan dengan ayah sejak aku meninggalkan rumah setamat SMA dulu. Sebuah kado yang tidak kuduga. Di dalamnya terdapat sebuah Alkitab bersampul kulit yang masih baru. Juga sepucuk surat.

Anakku,

Selamat ulang tahun !!!

Ayah mendoakan semua yang terbaik dan berkat Tuhan untukmu.

Ayah meminta maaf untuk semua salah paham yang terjadi diantara kita sejak dulu. Ayah tahu kau sangat ingin mengetahui rahasia keluarga kita. Percayalah, Ayah sangat memahami perasaanmu karena ayah dulu juga pernah mengalaminya. Sekarang sudah hampir tiba saatnya bagimu untuk ikut mengetahui rahasia itu dan ikut menjaganya. Ayah hanya memohon padamu untuk bersabar.
Alkitab ini adalah sebuah hadiah sederhana dari ayah dan ibu agar kamu selalu ingat dengan semua perkataan-Nya dan melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Di dalam Alkitab ini juga tercatat sejarah rahasia keluarga kita. Bacalah dengan bersungguh-sungguh. Hanya itu pesan ayah.

Salam sayang,

Ayah yang mengasihimu.

Sejak hari itu, entah sudah berapa kali aku membaca Alkitab hadiah dari ayahku. Buku itu sekarang sudah lusuh dan lecek.

Namun berapa kali pun aku membacanya, aku tetap saja tidak dapat menemukan apa hubungannya dengan rahasia keluargaku. Alkitab itu selain buatannya yang sangat bagus, sama saja dengan Alkitab lain yang dapat dibeli dengan mudah dan murah di toko-toko buku. Tidak ada halaman-halaman rahasia dalam Alkitab ini. Tidak ada tempat-tempat tersembunyi. Tidak ada pesan-pesan rahasia didalamnya.

Walau begitu, aku tidak menyesal telah membaca Alkitab itu berulang-ulang. Pengetahuanku bertambah. Rohku semakin menyala. Aku tahu aku tumbuh semakin dewasa dalam Alkitab dan semua perkataan-Nya.

Kemudian seminggu yang lalu, sebelum ulang tahunku yang ke tiga puluh tiga, aku kembali menerima sepucuk surat dari ayah. Kali ini disertai dengan satu lembar tiket pesawat untuk perjalanan pulang pergi ke rumah dalam surat itu. Dalam suratnya, ayah memintaku untuk pulang. Saatnya sudah tiba bagiku untuk mengetahui rahasia keluargaku.

Hatiku melonjak membaca surat itu. Bertahun-tahun berlalu, harus kuakui bahwa aku tetap tidak dapat melupakan rahasia itu. Aku tetap ingin tahu apa rahasia keluargaku. Segera saja aku membuat persiapanku untuk undangan dari ayahku ini. Aku berkemas dan bersiap untuk pulang ke rumah. Entah bagaimana aku tahu, ini adalah sesuatu yang luar biasa dan istimewa.

1 April 2011

Aku duduk sendirian di ruang kerjaku. Sebenarnya tidak ada yang harus aku kerjakan saat ini. Meja kerjaku yang terbuat dari kayu oak gelap itu bersih dan rapi. Hanya ada sebuah kotak kayu di atasnya. Komputerku mati. Bahkan televisi dan stereo pun aku matikan. Ruangan ini sunyi senyap dan terasa asing bagiku. Aku duduk bertopang dagu.

Aku melirik jam meja antik hadiah ulang tahun dari salah seorang kolegaku  yang terletak di atas meja di kiriku. Ternyata baru dua puluh lima detik berlalu sejak aku terakhir kali melihatnya.

Sebentar lagi tentu dia akan datang. Dia selalu tepat waktu, tidak pernah terlambat bahkan sejak kanak-kanak. Aku ingat itu salah satu yang selalu kubanggakan bahkan hingga saat ini.

Perasaanku tegang dan cemas. Aku berusaha mengingat-ingat kata-kata yang sudah aku siapkan sejak seminggu yang lalu. Dalam hati aku tahu, kata-kata itu tidak ada gunanya. Aku pasti akan melupakan semua persiapan yang sudah kulakukan. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang dahulu dikatakan oleh ayahku ketika dia menyerahkan kotak ini kepadaku. Aku berusaha mengingat-ingat perasaanku ketika itu.

Tanpa sadar aku mengelus kotak kayu itu. Dengan jemariku, aku menelusuri setiap ukiran dipermukaannya. Kotak itu terasa dingin ditanganku. Entah sudah berapa tahun berlalu sejak aku menerima kotak ini dahulu. Entah sudah berapa kali aku membuka tutupnya dan menengok isinya. Kadang kala hanya untuk memastikan bahwa isinya masih tetap tersimpan di dalamnya. Terkadan aku melihat isinya untuk mencari hiburan dan kekuatan. Namun lebih sering lagi aku membuka tutupnya untuk melihat bukti bahwa keyakinanku dan keluargaku selama ini tidak sia-sia.

Tok … Tok …

Terdengar ketukan dipintu ruang kerjaku. Aku tahu dia berada dibalik pintu itu. Aku menghela nafas panjang. Sekarang adalah waktunya. Percuma untuk menunda lebih lama lagi. Sekali lagi aku mengelus kotak kayu itu. Kemudian aku berkata.

“Masuk !!”

Pintu itu terbuka dan dia melangkah masuk ke dalam ruangan dengan penuh percaya diri. Aku tahu dia sudah siap untuk ikut menanggung rahasia ini.


Tahun 0

Udara terasa pekat dan tidak enak. Aku merasa letih dan penat. Aku tidak suka tugasku kali ini. Aku tidak suka berada disini. Aku muak dan merasa bosan. Dari semua tugas yang aku terima, aku paling membenci tugas yang satu ini.

Ingin rasanya cepat-cepat pulang ke rumah dan bermain dengan putraku yang baru saja berulang tahun yang kedua kemarin. Aku biarkan pikiranku berkelana. Pikiranku berlari cepat meninggalkan tempat aku berdiri. Aku melihat istri dan putraku sedang bermain. Dapat kudengar tawa merdu istriku atau tawa geli putraku. Dapat kulihat wajah keduanya dihadapanku.

Tetapi sayangnya aku tidak dapat mengikuti pikiranku meninggalkan tempat ini karena aku adalah seorang prajurit. Prajurit tidak pernah melarikan diri atau menyelinap dari tugasnya. Tidak pernah melanggar perintah yang diberikan kepadaya. Prajurit harus setia pada tugas yang diberikan sampai akhir tak peduli seberat apapun tugas tersebut. Pada saat-saat seperti inilah, aku meyesali keputusanku untuk bergabung dengan pasukan kerajaan. Jika aku memilh untuk menjadi pedagang seperti pamanku atau bertani seperti ayahku maka aku tentu tidak harus berada disini dan merasa tersiksa saat ini.

Aku mencoba memupuk kembali semangatku. Kutegakkan berdiriku. Dan mengambil posisi siaga. Tidak kuhiraukan teman-temanku yang asyik bersenda gurau sejak tadi. Tidak aku hiraukan orang banyak yang berkumpul disekelilingku. Aku mencoba berkonsentrasi dengan tugasku untuk berjaga-jaga. Aku melihat kedua orang narapidana yang tergantung di atas sana. Mereka pasti lebih tidak nyaman lagi dariku.

Masih ada tempat kosong di tengah – di antara kedua orang terhukum itu. Menurut desas desus, ada orang terkenal yang akan dihukum hari ini. Tempat kosong itu disediakan untuk orang terkenal tersebut. Sekarang orang itu tentu sedang dalam perjalanan kemari. Siapakah orang itu, aku tidak mau tahu dan tidak peduli. Aku hanya berharap agar tugas ini cepat berakhir. Aku tidak pernah suka berjaga mengawal terpidana yang terhukum mati.  Apalagi jika hukumannya adalah salib.

Dari kejauhan aku melihat arak-arakan yang berjalan mendekat. Suara riuh rendah mengikuti arakan tersebut. Arak-arakan itu semakin mendekat dan semakin besar jumlahnya.  Ada yang mengumpat. Ada yang menangis. Ada yang mengejek. Ada yang putus asa. Tentunya ini adalah rombongan pengantar orang yang terhukum itu. Aku mencari-cari sosok terhukum itu. Seperti apakah orangnya. Mungkin saja aku pernah berpapasan dengannya tanpa pernah kusadari. Entah kesalahan apa yang sudah dilakukannya sehingga ada sedemikian banyak orang yang memakinya. Tentunya dia cukup terkenal melihat dari banyaknya orang yang mengarak dia.

Akhirnya aku dapat melihat dia. Dia berada dimuka arak-arakan. Berjalan terseok-seok memikul salibnya sambil dibantu oleh seseorang. Langkahnya berat. Setiap langkah terasa sangat menyakitkan baginya. Wajahnya berlumuran darah dan sungguh susah untuk mengenali seperti apakah wajahnya dahulu. Sekujur tubuhnya berlumuran darah. Entah siksaan macam apa yang dihadapinya. Aku bergidik membayangkannya. Selama aku bertugas, baru kali ini aku melihat narapidana yang disiksa sedemikian berat. Aku merasa mual. Dalam hati aku semakin berharap agar semuanya ini cepat berlalu. Aku berdoa agar orang ini cepat meninggal.

Lambat tapi pasti, orang itu terus berjalan dengan tertatih-tatih. Ingin rasanya aku berlari dan menggantikannya membawa salib itu. Aku benar-benar ingin menolongnya. Dia berhenti sejenak didepanku, mengambil nafas perlahan.

Tanpa sengaja matanya bertatapan dengan mataku. Aku memperhatikanya. Walaupun kelopak matanya bengkak hingga sulit untuk dibuka dan darah kering menghiasi sudut-sudut matanya, namun mata itu tetap istimewa. Mata itu bukanlah mata seorang narapidana. Mata itu bukan mata seorang penjahat yang terhukum mati. Mata itu sangat teduh dan lembut. Sorot matanya seolah dapat menyelami setiap pikiran manusia. Tidak ada dendam atau kebencian dalam sorot matanya. Hanya ada kasih dalam sorot matanya. Mata itu juga tersenyum kepadaku. Tidak tahan, aku membuang muka berusaha menghindari tatapannya. Aku tidak mengerti bagaimana mungkin seorang yang telah melalui siksaan sedemikian beratnya masih dapat memiliki sorot mata dan tatapan seperti yang dimiliki orang itu.

Beberapa langkah kemudian, tibalah dia di puncak bukit. Teman-temanku, para prajurit, yang lain segera menyiapkan dia untuk disalib. Aku menghembus nafas lega karena bukan aku yang harus menegakkan salib itu. Tugasku hanya berjaga. Aku sendiri tidak akan sanggup untuk mengerjakan tugas untuk menegakkan dia di atas salibnya. Sekarang saja dapat kurasakan asam lambungku dilidah.

Semula aku mengira bahwa dia akan disalibkan dengan cara yang sama seperti kedua orang narapidana yang sudah disalibkan dahulu. Namun aku benar-benar terkejut ketika temanku mulai mengeluarkan tiga buah paku panjang dari sakunya. Temanku mengedarkan ketiga paku tersebut sambil tertawa-tawa. Yang lainnya ikut tertawa sambil memeriksa paku tersebut. Aku bergidik. Paku itu panjang dan besar. Aku dapat menebak untuk apa paku tersebut dikeluarkan.

Kecurigaanku benar. Tidak lama kemudian aku dapat mendengar dengan jelas teriakan kesakitan orang terhukum yang akan disalibkan itu. Paku itu mulai ditancapkan pada kedua tangan dan kakinya.

Aku tidak tahan. Aku memejamkan mataku. Berusaha menghapus pemandangan menakutkan yang ada didepanku. Aku mencoba memikirkan putraku agar tidak dapat mendengar teriakan kesakitannya. Aku benar-benar merasa mual. Seharusnya aku berpura-pura sakit saja pagi tadi. Mengapa teman-temanku tampak tidak terganggu dengan hal ini? Aku melihat atasanku. Dia hanya diam saja memperhatikan semua ini.

Aku ingin memberontak. Kucengkeram tombakku sekuat tenaga. Aku ingin berlari dan membebaskan orang tersebut. Tidak pantas manusia diperlalukan seperti itu. Kuda bahkan lebih disayangi daripada orang yang dipaku itu. Jika kuda terluka dan tidak dapat disembuhkan lagi, maka kuda itu akan langsung dibunuh secepat mungkin untuk mengurangi penderitaannya. Tetapi orang ini tampaknya justru akan dibunuh perlahan-lahan. Sejahat apapun dia, sebesar apapun kesalahannya, tidak pantas dia mendapat semua siksaan ini. Tidak dapatkah jika dia hanya dipenggal saja? Aku merasa sangat tidak berdaya karena tidak dapat membantu orang itu. Aku benci dengan keadaanku sendiri yang tidak berdaya.

Beberapa menit kemudian, salib orang itu tegak berdiri. Aku semakin merasa tidak enak. Orang banyak semakin banyak yang mengejeknya. Aku heran tidakkah mereka merasa iba melihat orang itu. Tidakkah mereka merasa kasihan. Dia mungkin penjahat, tetapi cukuplah untuk mengejeknya. Hanya ada segelintir oran terutama wanita-wanita yang menangis. Mungkin mereka adalah kerabat orang itu.


1 April 2011

Aku duduk diam dalam ruangan kerja ayah. Tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mengerti kemana ayah akan membawa percakapan ini. Tidak dapatkah dia hanya membuka kotak tersebut dan menunjukkan isinya kepadaku? Mengapa harus menceritakan kisah-kisah Injil yang sudah aku ketahui sejak dahulu?

Berlawanan dengan kebiasaannya, ayahku yang pendiam kali ini dapat berbicara panjang dan lama. Dia melakukan sebuah monolog yang sangat panjang menceritakan setiap detail kisah penyaliban Yesus.

Tahun 0

Teman-temanku masih saja tertawa-tawa. Mereka mengeluarkan pakaian orang itu dan mulai berebut. Empat orang berhasil menjadi pemenang. Tidakkah mereka merasa malu? Mengapa harus merebut pakaian seorang narapidana? Kemudian mereka mulai ribut. Aku tidak mau ikut campur dengan mereka tetapi tetap saja aku masih dapat menangkap apa yang mereka ributkan.

“Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatkannya.”

Mereka tengah mempermasalahkan jubah orang itu karena jubah itu tidak berjahit. Sungguh sayang jika harus dipotong dan dibagi-bagikan.

Sekarang teman-temanku akan mengundinya. Aku menggelengkan kepalaku tidak mau turut serta dalam penarikan undian. Aku hanya mau berjaga disini, kemudian secepatnya pulang ke rumah setelah tugasku selesai. Aku tidak mau yang lainnya lagi. Aku tidak mau jubah narapidana itu. Aku tidak butuh jubah yang sudah terkena noda darah itu.

Tidak lama kemudian, aku mendengar namaku dipanggil. Aku tidak mengerti. Atasanku menyuruhku maju. Dan rupanya nasib sedang mempermainkanku. Akulah pemenang undian tersebut dan berhak atas jubah tersebut. Aku mencoba menolak dan akan memberikan jubah itu pada yang lain. Tetapi mereka semua menolak. Jubah itu adalah milikku. Bahkan atasanku pun memaksaku menyimpan jubah tersebut.

Aku memperhatikan jubah ditanganku. Jubah itu bukanlah jubah yang mewah dan mahal. Namun tenunannya sangat halus dan rapi. Seseorang yang membuat jubah tersebut telah membuatnya dengan sangat teliti dan berhati-hati. Aku menyimpan jubah itu. Nanti akan aku berikan saja pada nenek tua tetanggaku. Tentu dia akan senang mendapat jubah ini. Sekarang aku hanya perlu berjaga-jaga.

Aku mendongakkan kepalaku menatap dia, meminta ijin dalam hati untuk jubah yang baru saja aku peroleh. Kuperhatikan ada tulisan di salibnya. Ada tiga bahasa yang kukenali hanya dari tulisannya saja. Namun aku hanya dapat membaca bahasa latin. Tulisan itu berbunyi, “Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi.”

“Apa maksudnya?” tanyaku pada salah seorang temanku.

“Tulisan itu Pilatuslah yang memerintahkannya.”

Kemudian temanku mulai bercerita panjang lebar tentang apa yang didengarnya. Temanku ini sudah ikut serta sejak penangkapan orang ini di taman tadi malam. Terakhir dia bahkan menambahkan pendapatnya sendiri.

“Ini hanya diantara kita berdua. Semakin aku menjaga orang ini, semakin aku yakin bahwa dia tidak bersalah. Hukuman ini terlalu berat baginya. Satu-satunya kesalahan yang dia mungkin adalah karena dia mengajar orang banyak.“

“Demi Jupiter, kiranya bantulah orang yang disalibkan ini agar tidak perlu menderita lagi“, aku tercengang mendengar kisah temanku. Aku yakin orang yang digantung di kayu salib itu tidak bersalah.

Kira-kira satu jam kemudian, langit menjadi gelap secara tiba-tiba. Padahal sore belumlah tiba. Tidak pernah aku mengalami keanehan seperti ini. Tiba-tiba aku merasa takut.

Sepertinya ada kejadian besar yang akan terjadi. Beberapa orang mulai menjadi gelisah. Namun sebagian besar orang sepertinya tidak menyadari keadaan tersebut dan tetap mengejek dia yang disalibkan. Berapa lamakah kegelapan ini akan berlangsung? Aku tidak tahan dengan kegelapan ini. Setiap detik terasa lama sekali.

Akhirnya kira-kira jam tiga sore, kegelapan mulai berakhir. Tiba-tiba orang itu meminta minum. Aku mencari-cari sekeliling dan berhasil mendapatkan anggur yang sudah asam. Ini lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Aku membasahi bunga karang dengan anggur tersebut dan kemudian mengangsurkannya ke atas. Dia hanya mengecap sedikit dan kemudian berkata, “Sudah selesai.” Kemudian dia menundukkan kepalanya. Aku tahu dia sudah meninggal.

Dan aku merasa sangat sedih dan kehilangan. Aku tahu orang itu tidak bersalah.


1 April 2011

Akhirnya aku mengetahui rahasia keluargaku.Tak pernah aku mengira bahwa keluarga memegang sebuah rahasia besar dalam sejarah sejak ribuan tahun silam. Aku tidak mengira bahwa keluarga adalah keluarga yang istimewa.

Rasanya aku masih belum dapat mempercayai semua yang dikatakan ayahku tadi. Semuanya terasa seperti dongeng atau mimpi. Tetapi kotak itu nyata. Isinya yang tadi diperlihatkan ayahku bahkan lebih nyata lagi. Sebuah bukti yang tidak dapat aku sangkal.

Kupandangi kotak kayu berukir yang sekarang menjadi tanggung jawabku. Didalamnya terdapat sesuatu yang sangat berharga. Aku harus menjaganya baik-baik untuk kuwariskan kembali kepada anakku kelak. Aku tahu rahasia dan warisan ini akan terus berlanjut hingga tahun-tahun mendatang. Hingga tiba waktunya kelak.


Tahun 1

Sudah satu tahun sejak kejadian itu namun aku tetap tidak dapat melupakannya. Aku masih dapat mengingatnya setiap detailnya dengan jelas. Aku masih dapat mencium bau darah dan masih dapat mendengar teriakan kesakitan orang itu ketika dipaku.

Jubah yang ketika itu aku menangkan dari undian tidak jadi aku berikan kepada nenek tetanggaku. Jubah itu aku simpan dan rawat baik-baik. Aku berniat untuk mengembalikannya pada pemiliknya nanti. Aku tahu pemiliknya akan datang kembali dan aku dapat mengembalikannya ketika itu.

Sekarang aku hanya dapat menunggu sampai saat itu tiba dan merawat jubah ini sebaik-baiknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s