Tentang Kematian

Selanjutnya kam tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui

Tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berduka cita seperti

Orang-orang lain yang tidak mempunyai  pengharapan.

Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit,

Maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal

Dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia

1 Tesalonika 4:13-14

 

Karena kami tahu bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar,

Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita,

Suatu tempat kediaman yang kekal,

Yang tidak dibuat oleh tangan manusia.

2 Korintus 5:1

Ia adalah anak yang baik dan cerdas. Permata kebanggaan ibunya. Di sekolah ia tidak pernah kekurangan teman. Tidak pelit untuk membantu temannya yang kesulitan menerima pelajaran. Guru-guru menyayanginya. Namun demam berdarah merenggut hidupnya yang baru berusia 7 tahun. Mengembalikannya ke dalam pelukan Yesus.

Guru yang rekomendasinya sudah banyak aku dengar. Cara mengajarnya enak. Ramah dan baik hati. Tidak galak. Keibuan. Aku sungguh ingin masuk kelasnya dan diajar olehnya. Namun rupanya aku tidak pernah mengalami hal tersebut. Aku tidak pernah masuk ke kelasnya. Adikku yang mengalami dan ia senang diajar oleh guru yang baik hati itu. Namun guru yang baik hati tidak dapat mengajar kembali untuk selamanya. Ia terjatuh ketika sedang mengajar. Terkena stroke dan akhirnya meninggal setelah dirawat selama beberapa waktu di rumah sakit. Seorang anak kehilangan ibunya. Seorang murid kehilangan gurunya.

Remaja yang masih bau susu dan sedang menikmati liburan kenaikan kelas SMP kelas 2. Tiba-tiba mengalami kecelakaan motor ketika sedang dibonceng oleh pamannya. Ia terjatuh dan tidak terluka. Mereka berdua pulang kembali ke rumah dan tidak terjadi apa-apa. Namun ternyata tidak lama kemudian ia tidak sadarkan diri dan meninggal. Rupanya otaknya terbentur. Namanya adalah Yenny teman SMP.

Kami bersekolah dan bersenda gurau seperti biasa sampai guru masuk dan mengumumkan bahwa kelas diliburkan. Kami semua akan pergi melayat. Ayah Johan, seorang teman sekelas kami, meninggal. Aku terkejut. Betapa tidak, kami masih kelas 1 SMP. Masih gemar bermain-main. Apa yang kami tahu tentang kematian. Aku teringat papa dan bersyukur masih ada papa untukku. Aku bersedih untuk temanku yang ditinggalkan ayahnya pada usia yang masih sangat muda.

Ia adalah pengawas asrama SMA yang paling galak. Jika sedang jam belajar jangan harap ada yang dapat bermain-main dalam pengawasannya. Ia berdisiplin. Suatu hari tiba-tiba saja dia  menghilang. Ternyata dia sakit. Sakit parah. Kanker payudara. Aku dan teman-teman menengok. Kali terakhir aku menengoknya adalah ketika aku mengira aku terkena usus buntu karena perut sebelah kananku sakit. Kami bercakap-cakap cukup lama. Aku lupa apa yang telah kami perbincangkan. Keesokan harinya, aku mendengar dia sudah meninggal. Selamat jalan Suster Greta.

Nenekku sudah lama terbaring sakit karena tulang pinggulnya retak akibat terjatuh di kamar mandi.  Kulit punggungnya dipenuhi luka-luka akibat terlalu lama berbaring. Pasti sepi sekali rasanya menjadi dia. Kesepian. Kesakitan. Jarang ada yang menemani dan mengajak berbincang-bincang. Walaupun mama tekun merawatnya, namun mama tetap tidak dapat mengusir rasa sepinya. Kerinduan untuk bertemu dengan putra sulung dan cucu-cucunya begitu besar. Seperti lampu minyak, akhirnya nenekku kehabisan sumbu. Suatu pagi aku menerima telepon dari papa. Nenekku sudah berpulang. Aku tidak pernah mencintainya. Tidak pernah menyayanginya. Sudah banyak sekali ia menyakiti hatiku. Namun aku lega karena aku dapat memaafkannya. Kiranya engkau sudah berbahagia dengan Yesus sekarang.

Salah satu murid sekolah minggu. Masih berbau susu. Masih penuh canda tawa. Masih belum mengerti apa artinya kemalangan dan kesedihan. Masih banyak tahun-tahun menanti didepannya. Namun Tuhan mempunyai rencana yang lain. Rumahnya sudah jadi di surga.

Ayahnya sudah biasa untuk pergi berjalan-jalan seorang diri. Tidak ada yang tidak biasa. Dia dinas ke Sulawesi. Berpamitan dengan ayahnya. Namun sungguh mengejutkan. Berita yang diterimanya ketika pesawatnya mendarat. Ayahnya sudah meninggal akibat serangan jantung.

Maksud hatinya adalah berlibur bersama keluarganya. Kebetulan ia dan adiknya mendapatkan cuti pada waktu yang bersamaan. Namun apa yang menantinya di rumah sungguh mengejutkan. Ayahnya terbaring sakit dan tidak dapat bergerak. Tidak lama kemudian ayahnya meninggal. Kepulangannya ke rumah ternyata untuk mengantar kepergian ayahnya. Sungguh tidak rela rasanya. Masih banyak yang ingin dibahas dan dibicarakan dengan ayahnya. Masih banyak yang ingin ditanyakan kepada ayahnya.

Dia tidak pernah dapat mengerti. Pagi ketika dia berangkat kerja, ayahnya baik-baik saja. Sedikit tidak sehat namun itu biasa. Ayahnya sakit paru-paru dan tekanan darah tinggi. Hingga pukul lima sore juga masih baik-baik saja. Ia pulang dari kantor dan bertemu dengan kekasihnya. Namun pukul tujuh, ia mendapat telepon dari ibunya. Ayahnya meninggal. Jatuh di kamar mandi karena serangan jantung.

***

Kematian bukan akhir tetapi sebuah awal dari perjalanan panjang dalam keabadian.

Kematian menyadarkan bahwa hidup adalah pinjaman dari Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan kembali kepada-Nya.

Kematian tidak dapat dihindari. Ia pasti menyapa setiap orang.

Kematian tidak pernah dapat diperhitungkan. Tidak dapat diketahui dengan tepat kapankah ia akan datang.

Jika hidupku tinggal 1 tahun apa yang akan aku lakukan ?

Jika hidupku tinggal 1 bulan apa yang akan aku lakukan?

Jika hidupku tinggal 1 minggu apa yang akan aku lakukan?

Jika hidupku tinggal 1 hari apa yang akan aku lakukan?

Jika hidupku tinggal 1 jam apa yang akan aku lakukan?

Jika hidupku tinggal 1 menit apa yang akan aku lakukan?

Apakah aku akan mencari Tuhan atau Iblis?

Apakah aku akan memberikan kasih atau dendam?

Apakah aku akan memaafkan atau berkeras hati?

Apakah aku akan penuh dengan kesabaran atau kemarahan?

Apakah aku akan mengucapkan cinta atau benci?

Apakah aku akan penuh dengan sukacita atau kesedihan?

Apakah aku akan puas atau penuh dengan penyesalan?

Apakah aku sudah siap atau tidak siap?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s