2145

Aku terbangun di ruangan yang tidak pernah aku lihat sebelum ini. Ruangan ini terasa begitu asing bagiku, seperti ruangan dalam film-film science fiction yang pernah aku lihat. Berukuran dua kali dua meter dengan dinding dan langit-langit terbuat dari bahan yang tidak pernah aku lihat sebelum ini. Aku tidak melihat adanya bola lampu. Namun ruangan ini terang, seolah-olah dinding dan langit-langit berpenjar mengeluarkan sinar. Walaupun tidak berjendela atau lubang angin, tetapi tidak terasa pengap. Bahkan aku dapat merasakan aliran udara yang mengalir.

Tempat tidurku, satu-satunya perabot dalam kamar, berbentuk seperti pil berwarna putih yang besar. Hal yang paling membuatku terpesona adalah tempat tidur itu mengambang, melayang di tengah ruangan. Tidak ada kaki tempat tidur. Bagaimanakah cara melakukannya aku tudak tahu. Pintu ruangan lebih aneh lagi. Tidak ada gagang pintu. Aku mencoba untuk membukanya. Namun tidak berhasil.

Rasanya ada yang aneh. Aku tidak ingat bagaimana aku dapat berada di ruangan ini.  Aku yakin aku berada di ruangan yang berbeda ketika pergi tidur tadi. Kamar tidur yang sudah sepuluh tahun aku tempati bersama dengan istriku. Dimanakah istriku? Apa yang sudah terjadi? Seolah-olah aku tertidur dan kemudian terlempar ke dunia yang berbeda yang tidak aku kenal. Apakah ini mimpi? Namun rasanya terlalu nyata untuk menjadi mimpi.

Tiba-tiba saja pintu yang sejak tadi aku kutak katik menghilang. Pintu itu tidak bergeser atau mengayun terbuka. Pintu itu benar-benar menghilang. Karena penasaran, aku segera melangkahkan kaki dan berpindah ruangan. Ruangan dibalik pintu hampir sama dengan ruanganku sebelum ini. Bedanya adalah ukurannya yang lebih kecil dan tidak ada perabot apa-apa disini. Ruangan ini kosong.

Rupanya aku salah. Ketika aku melangkah hingga ke tengah ruangan. Tiba-tiba aku melihat tangan-tangan robot seperti kaki laba-laba keluar dari keempat dinding. Aku ketakutan. Apakah itu. Aku berusaha menghindar dan lari kembali ke ruangan sebelumnya. Ternyata pintu itu sudah tertutup. Aku terjebak di ruangan ini dengan tangan-tangan robot yang mengejarku. Akhirnya aku pasrah saja.

Tangan-tangan robot itu ternyata hanya membuka pakaianku. Kemudian setelah tidak ada lagi sehelai benang pun di tubuhku, air mengalir dari segala arah, bahkan dari lantai. Mungkin seperti ini rasanya mobil yang masuk ke tempat pencucian mobil. Air itu suam-suam kuku dan berbau harum. Sangat nikmat. Aku memenjamkan mataku. Kemudian aku sadari ada tangan-tangan robot yang menggosok tubuhku. Kemudian tubuhku dikeringkan dan dikenakan pakaian. Bahan pakaian itu sangat nyaman. Tidak kaku. Pakaian yang membuatku tampak seperti salah satu tokoh dalam film Star Trek.

Pintu yang tertutup kembali menghilang. Aku kembali berpindah ruangan. Kali ini ada meja makan dengan berbagai hidangan menantiku. Meja makan itu ditata hanya untuk satu orang karena itu aku mengasumsikan bahwa meja makan itu ditata untukku. Aku duduk dan mulai makan. Semuanya adalah makanan kesukaanku. Aku tidak akan pernah lagi menyantap makanan yang seenak itu.

Ketika aku sudah selesai makan dan duduk kekenyangan, pintu di ruangan ini kembali menghilang. Seorang pria melangkah masuk. Model pakaiannya sama seperti pakaian yang kukenakan. Akhirnya aku bertemu juga dengan seseorang. Dia berhenti di depanku dan tersenyum.   

“Selamat datang !!! Apakah makanan ini memuaskanmu?”

Aku menganggukan kepalaku mendengar pertanyaannya.

“Jika Anda tidak merasa lelah, saya akan mengantar Anda untuk melihat-lihat tempat ini”, ajaknya. Ketika ia melihatku mengerutkan keningku bertanya-tanya, ia melanjutkan bicaranya. “Jangan khawatir, saya akan menjelaskan semua pertanyaanmu ketika berkeliling nanti.”

Akhirnya aku mengikutinya.

Nama pemanduku adalah Elang. Ia adalah pemandu yang baik dan sabar-sabar. Tidak bosan-bosannya menerangkan kepadaku hal-hal yang belum aku ketahui. Padahal aku seperti anak TK yang nyaris selalu bertanya. Kami berpindah-pindah dari satu ruangan ke ruangan lain. Elang membawaku ke laboratorium-laboratorium yang mencengangkan. Seandainya saja aku membawa kamera untuk mengambil gambar kenang-kenangan.

Berdasarkan keterangan-keterangan Elang dan apa yang kulihat maka aku menyimpulkan aku sudah dibawa dengan mesin waktu ke tahun 2145. Negaraku di masa yang yang kukunjungi ini sungguh berbeda. Namanya saja sudah berubah menjadi Negara yang Baru. Negara tempat tinggalku adalah salah satu negara paling maju di bumi dan antariksa. Pembangunan berjalan dengan pesat. Mobil-mobil terbang. Pintu-pintu teleport. Ruang serba guna dengan perabot yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Masyarakat hidup dengan makmur. Tidak ada pengemis atau pengangguran. Bahkan Elang dengan bangga menjelaskan bahwa pendapatan orang yang paling miskin di sini sama dengan pendapatan orang yang kaya di negara berkembang.

Bagaimana mungkin? Aku tidak mempercayainya. Apa yang menyebabkan perubahan tersebut? Bukannya aku meragukan bangsaku sendiri. Namun menilik dari pengalamanku selama ini dan melihat perkembangan negaraku, aku sangat tidak dapat mempercayai bahwa pada tahun 2145 negaraku dapat menjadi negara yang paling maju. Sungguh sesuatu hal yang mustahil.

Elang tersenyum mendengar ketidakpercayaanku.

“Bolehkah saya bertanya?”

“Iya”, jawabku segera.

“Negara kita kaya akan sumber alam. Kekuatan manusia tidak dapat diragukan, banyak orang pintar yang berasal dari negara kita. Apa yang menyebabkan negara ini tidak dapat tumbuh dan berkembang pada masa itu?”

“Tentu saja karena korupsi. Setiap orang hanya sibuk memikirkan ketebalan kantongnya masing-masing. Tidak pernah sekalipun diingatnya kantong orang lain. Tiap tahun, korupsi semakin bertambah parah. Rasanya seperti sudah mendarah daging. Korupsi harus dihapus untuk dapat mencapai tahap seperti saat ini dan aku meragukan hal tersebut”, jelasku.

Elang tersenyum mendengar penjelasanku yang berapi-api. Namun ia tidak berkata apa-apa. Sebaliknya ia justru membawaku ke tempat yang penuh dengan tugu-tugu menjulang tinggi. Setiap tugu mewakili kurun waktu sepuluh tahun. Beberapa tugu penuh dengan ukiran nama dan tempat. Beberapa tugu hanya terukir sedikit nama. Beberapa tugu sama sekali tidak memiliki ukiran nama.  Aku bertanya-taya apa artinya tugu-tugu ini.

“Ini adalah Hutan Tugu Korupsi.”

Elang menjelaskan bahwa setiap ukiran nama di tugu mewakili setiap koruptor yang sudah dipidana. Aku memperhatikan bahwa pada tahun-tahun ketika aku hidup, banyak sekali nama yang terukir pada tugu tersebut. Ukiran tersebut kecil-kecil untuk mempercukup tempat. Mendekati tahun 2100, ukiran nama di tugu semakin berkurang. Kemudian bersih.

“Walaupun telah diberikan hukuman yang berat bahkan hukuman mati, korupsi tetap tidak dapat diberantas”, jelas Elang sambil menunjuk tugu-tugu pada tahun-tahun muda.

Kemudian ia membawaku ke salah satu sudut hutan Tugu. Di sana terdapat tiga patung lilin yang jika diperhatikan dari gaya busananya hidup dalam generasi-generasi yang berbeda. Siapakah mereka?

“Mereka bertiga adalah orang-orang yang paling berjasa untuk menumpas korupsi dari negara kita.” Kemudian Elang melanjutkan, “Dia adalah orang pertama dalam sejarah untuk membersihkan korupsi. Profesor Satyawadi lahir tahun 2011”, tunjuk Elang pada patung lilin paling kiri.  

Selanjutnya Elang menjelaskan bahwa beranjak dari teori Darwin tentang evolusi, Profesor Satyawadi melakukan penelitian dan berhasil menemukan bahwa akibat praktik korupsi selama puluhan bahkan ratusan tahun ternyata manusia negara ini sudah berevolusi. Evolusi tersebut bukanlah evolusi yang besar. Hanya perubahan struktur pada salah satu gen. Satu gen bermutasi dan menjadi gen korupsi. Dari orang tua yang melakukan korupsi maka dipastikan anaknya juga akan melakukan korupsi karena sudah diturunkan dalam gen. Sayang Profesor Satyawadi terlanjur meninggal sebelum berhasil menuntaskan penelitiannya.  Ia dibunuh oleh orang-orang yang tidak ingin hasil penelitiannya tersebar luas.

“Dia adalah Profesor  Astika“, jelas Elang sambil menunjuk patung yang berada ditengah. “Profesor  Astika adalah anak didik Profesor Satyawadi yang melanjutkan penelitian Profesor Satyawadi dan berhasil memetakan gen yang telah bermutasi tersebut.”

Sejak gen korupsi berhasil dipetakan maka setiap individu yang hendak menikah wajib melakukan tes deteksi gen korupsi. Jika kedapatan keduanya merupakan pembawa gen korupsi mayor maka mereka tidak boleh memilki anak. Setiap kehamilan harus dideteksi terhadap adanya gen korupsi mayor. Jika ketahuan maka kehamilan tersebut harus dihentikan. Angka korupsi berhasil diturunkan dengan drastis. Lahirlah generasi-generasi baru yang bersih dari gen-gen korupsi.

Namun korupsi tetap tidak dapat dibersihkan seluruhnya hingga dua puluh tahun yang lalu. Beberapa orang tetap berhasil mempertahankan kehamilan dan melahirkan bayi-bayi yang membawa gen korupsi dengan membayar sejumlah tertentu.

“Dan inilah orang yang berhasil menyempurnakan penelitian Profesor Satyawadi dan Profesor Astika”, Elang melanjutkan penjelasannya sambil menunjukan kepada patung lilin terakhir.

Profesor Dakara berhasil menemukan cara untuk memperbaiki gen yang termutasi. Gen korupsi dapat diperbaiki. Sejak itulah angka korupsi dapat dihapus. Negara ini menjadi semakin maju dan berkembang. Setiap rupiah digunakan sesuai dengan semestinya. Tidak ada lagi yang hanya mementingkan ketebalan kantongnya masing-masing. Negara-negara lain belajar di sini untuk membersihkan korupsi.  

Aku terkagum-kagum mendengarkan semua penjelasan Elang. Semuanya terasa masuk akal bagiku. Pantas saja selama korupsi tidak dapat dibersihkan seluruhnya. Rupanya korupsi sudah menjadi bagian dalam peta code genetik bangsaku. Hanya ada satu pertanyaan yang tersisa dibatinku.

“Mengapa aku? Mengapa aku yang dibawa ke tahun 2145?”

“Anda terpilih karena Andalah yang memungkinkan segala perubahan ini. Hari ini kami menghormati hari kelahiran Profesor Satyawadi dan karena Andalah dia dapat dilahirkan di dunia ini. Kami memberi kehormatan kepada Anda untuk melihat bagaimana negara ini dengan bantuan seorang seperti Profesor Satyawadi.”

Aku termenung. Kata-kata Elang membuatku terdiam. Aku hanya seorang dokter kandungan. Profesor Setyawadi yang dielu-elukan ini lahir karena bantuanku !!

Tanganku telah membantu lahirnya seorang bayi yang kelak akan menjadi langkah pertama untuk membersihkan korupsi. Apakah aku layak untuk menerima pekerjaan besar itu ? Apakah aku sanggup  melakukannya ?

Aku teringat berapa banyak uang yang kuterima di tempat praktikku untuk membantu menggugurkan bayi-bayi yang tidak diinginkan. Aku teringat mobil yang diberikan oleh pabrik obat karena aku memakai obat-obat mereka padahal masih ada obat sejenis yang lebih murah. Aku teringat nikmatnya mahasiswi-mahasiswi yang masih muda dan cantik yang memberikan diri demi mendapatkan nilai yang bagus ketika ujian. Aku teringat rumah mewah yang berhasil kubangun dari dana sisa renovasi bangsal bersalin rumah sakit. Aku teringat jumlah uang yang aku berikan untuk meraih gelar profesor. Masih banyak lagi yang aku ingat.

Apa yang aku ingat membuatku bergidik. Aku dapat merasakan butiran-butiran keringat tiba-tiba muncul didahiku.

“Kapankah Profesor Setyawadi lahir?” tanyaku gugup.

Elang hanya diam saja. Tidak menjawab pertanyaanku. Wajahnya tanpa ekspresi.

Kring !!!

Dering telepon mengagetkanku. Tiba-tiba saja aku sudah kembali ke duniaku. Aku kembali beradi di kamar tidur yang sudah sangat aku kenal.

“Maaf mengganggu, Pak Dokter. Kasus darurat. Korban kecelakaan. Suami meninggal. Istri mengandung dan kritis. Harus segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawa bayinya. Karena operasi ini sulit maka kami butuh Bapak di sini.”

Aku segera sadar. Hilang sudah kantukku. Bergegas aku ke rumah sakit.

Sang istri sudah siap untuk dioperasi. Ia kritis tetapi masih sadar. Terengah-engah ia berbisik kepadaku.

“Dokter, tolong selamatkan bayiku. Aku sudah menyiapkan nama untuknya. Satyawadi dari bahasa Sansekerta. Artinya jujur.”

Tanganku sedikit bergetar ketika memegang pisau bedah. Masih jelas teringat dibenakku seperti apa negaraku di tahun 2145.

 

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s