For Who You Are

Natal adalah waktu untuk bersenang-senang, berbelanja dan berpesta. Rumah dan halaman berhias cantik. Pohon Natal yang indah dipajang di ruang tamu dekat jendela agar dapat terlihat jelas dari jalanan. Kado-kado aneka ukuran dan dibungkus dengan kertas warna-warni dengan pita-pita yang indah ditumpuk menggunung disekelilingnya. Perapian menyala dengan api yang menari-nari menyebarkan kehangatan bagi seisi ruangan. Kue-kue dan makan malam lezat menanti untuk dihabiskan. Keluarga berkumpul dan menghabiskan liburan bersama-sama. Itu adalah gambaran Natal yang sering dituliskan dalam kisah-kisah yang sering diceritakan saat Natal tiba.

Sayangnya, kisah yang akan diceritakan kali ini adalah sebuah kisah yang berbeda dengan gambaran di atas. Tidak ada Pohon Natal. Tidak ada gunungan kado-kado indah. Tidak ada pesta. Tidak ada keluarga yang berkumpul. Sungguh berbeda dari gambaran di atas. Sesungguhnya kisah ini adalah sebuah kisah yang sederhana dan mungkin sedikit (atau bahkan terlalu) menyedihkan bagi sebagian yang membaca kisah ini.

Kisah ini terjadi di Kota Hope, sebuah kota kecil dengan penduduk kurang dari seratus jiwa yang terletak di bagian barat Negara Peace di benua Eropa. Sungguh sulit untuk mencari Negara Peace karena negara ini begitu kecil sehingga jika digambarkan hanya akan berupa satu titik kecil saja pada peta Eropa.

Yang akan menjadi tokoh utama dalam kisah ini adalah Pak Tua. Siapakah nama aslinya – itu tidak penting. Pak Tua sendiri sudah tidak mau mengingat siapa nama aslinya sejak bertahun-tahun silam. Berapakah usia Pak Tua, itu juga tidak penting. Pak Tua juga tidak mau mengingat lagi berapakah usianya. Pak Tua hanya ingin dikenal sebagai Pak Tua.

Kisah Natal ini dimulai dua minggu sebelum Natal ketika Pak Tua membaca selebaran Gereja Hope yang ditempel pada papan buletin di depan supermarket. Selebaran itu adalah sebuah selebaran yang sederhana. Isinya mengajak penduduk kota Hope untuk merayakan Natal bersama Malam Natal nanti. Sebuah ajakan yang sederhana. Selama bertahun-tahun, Pak Tua selalu mengabaikan selebaran serupa. Tetapi kali ini, ada yang berbeda dalam diri Pak Tua. Mungkin karena rasa kesepian. Mungkin karena efek minuman yang diminumnya ketika makan siang tadi untuk menghangatkan tubuh. Atau mungkin juga karena udara yang dingin mencekam. Namun intinya, ada desakan dalam diri Pak Tua yang mendorongnya untuk mengunjungi Gereja Hope.

Tertatih-tatih ia berjalan sampai tiba di Gereja Hope. Kedua pintu tertutup namun tidak dikunci karena sedang tidak ada jadwal kebaktian. Di ambang pintu, Pak Tua mengurungkan niatnya untuk membuka pintu. Dia hanya berdiri diambang pintu. Gereja berada pada urutan teratas dalam daftar tempat yang paling tidak disukainya.

Dari balik pintu yang tertutup, samar-samar Pak Tua dapat mendengar orang-orang yang sedang berlatih paduan suara dibaliknya. Pak Tua semakin enggan untuk masuk.  Ia tidak mau bertemu dengan orang-orang yang sedang berlatih bernyanyi itu.

Namun rupanya dorongan untuk masuk begitu kuat. Pak Tua memegang pintu gereja dengan kedua tangannya yang gemetar. Ada pertempuran besar dalam hatinya. Akhirnya dengan alasan untuk menghangatkan diri dan berlindung dari tiupan angin, Pak Tua menuruti juga dorongan hatinya dan mendorong pintu gereja.

Udara hangat menyambut Pak Tua – sungguh kontras dengan udara di luar barusan yang menusuk dan menggigit tulang. Pak Tua segera menyelinap ke pojokan yang gelap dan tersembunyi di dekat pintu masuk. Dia tidak akan lama didalam – hanya beristirahat hingga rasa dinginnya hilang.

Duduk di pojok yang gelap, merasa hangat dan ditemani dengan lagu-lagu paduan suara, Pak Tua menjadi mengantuk. Akhirnya ia jatuh tertidur.

***

30 tahun silam

 

John Hope

Dia adalah pria idaman setiap wanita, ayah impian setiap anak, menantu idaman setiap orang tua, dan tentu saja juga merupakan putra idaman setiap orang tua. Dia begitu sempurna. Tampan, pintar, karismatik, atletis, karir yang sukses, ramah, bertanggung jawab, istri yang cantik dan dua anak remaja yang merupakan kebanggaan bagi kedua orangtuanya dan masih banyak lagi. Intinya dia begitu sempurna dengan kehidupan yang juga sempurna.

John Hope sudah sepuluh tahun menjabat sebagai gembala sidang Gereja Christ Blessing, gereja terbesar kedua di Negara Peace. Ia adalah gembala sidang yang sangat dicintai baik oleh jemaatnya. Bagi jemaatnya, John adalah seorang pimpinan yang baik dan sempurna. Seorang gembala yang benar-benar diberkati oleh Tuhan. Setiap minggu, gerejanya selalu penuh sesak dengan para jemaat yang merebut tempat-tempat duduk di baris depan. Kotbahnnya setiap hari minggu adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu dengan penuh semangat. Tidak ada yang merasa mengantuk atau bosan jika John Hope menyampaikan kotbah. Selain itu, John juga sudah melakukan banyak mujizat. Entah sudah berapa banyak orang yang disembuhkan oleh John – termasuk juga pendatang dari luar Negara Peace. Bahkan terdapat gurauan tidak resmi yang mengatakan bahwa jika Pendeta John Hope mengadakan KKR, maka pendapatan devisa Negara Peace juga akan meningkat karena lonjakan wisatawan yang masuk.

Di tengah kesibukannya John tidak pernah sekalipun melalaikan keluarganya. Tidak pernah ada keluhan dari keluarga John bahwa John terlalu sibuk dengan gereja dan menelantarkan mereka. John memiliki keajaiban dalam mengatur waktunya sehingga ia tetap dapat hadir dan turut ambil bagian dalam setiap acara keluarga yang istimewa ditengah-tengah kesibukannya sebagai gembala.

Namun yang paling istimewa dari John Hope adalah kedekatannya dengan Tuhan. Ditengah semua kesibukannya dan di jaman ketika Tuhan hanya sekedar teori atau kenangan belaka, John termasuk satu dari sedikit orang yang dapat berhubungan dengan Tuhan dengan erat. Ia dapat bercakap-cakap dengan Tuhan seperti layaknya seorang sahabat. Setiap hari, John pasti meninggalkan semua kesibukannya dan menghabiskan minimal tiga jam hanya untuk bercakap-cakap berdua dengan Tuhan. Saat yang paling disukai John adalah pagi hari ketika pikirannya masih jernih dan masalah-masalah belum datang.

Namun tepat seperti pepatah yang menyatakan bahwa tidak ada yang sempurna didunia ini, perlahan-lahan ketidaksempurnaan mulai menyusup masuk ke dalam hidup John Hope. Kehidupan John mulai berubah. Kedua anaknya tiba-tiba meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil yang mengenaskan. Istri John selingkuh dan meninggalkannya. Tabungan John habis karena ia ditipu oleh seorang teman yang meminjam uangnya. Rumahnya disita bank. Keluarga John meninggalkannya.

Jemaat John mulai menggunjingkannya. Kata mereka, John pasti sedang dihukum Tuhan karena dosa yang disembunyikannya. Jemaat mulai kehilangan kepercayaan terhadap gembala sidangnya dan menjauhi John Hope. Gereja Christ Blessing dalam sekejab menjadi sepi. Sudah merupakan hal yang baik jika ada sepuluh orang yang hadir pada kebaktian hari Minggu. Akhirnya para penatua mengadakan rapat untuk memulihkan status Gereja Christ Blessing. Mereka menarik kesimpulan bahwa John Hope tidak dapat lagi menjadi gembala sidang dan harus diganti.

Dengan tidak lagi menjabat sebagai gembala sidang, kehidupan John Hope menjadi semakin sepi. Tidak ada yang bersedia mendampingi John pada masa-masa yang sulit. Akhirnya keberadaan John dilupakan oleh jemaat dan keluarganya. Dan sosok John Hope kemudian menghilang dan tidak pernah didengar lagi beritanya.

***

Pak Tua terbangun. Gereja sudah gelap dan pemanas sudah dimatikan. Dia menatap salib kayu yang tergantung di atas altar. Air matanya mengalir. Dia bermimpi indah tadi. Mimpi akan masa-masa ketika dia masih mempunyai seorang Sahabat setia tempatnya berbagi dan berkonsultasi. Betapa dia sangat merindukan masa-masa tersebut. Hidupnya terasa sangat hampa sekarang. Namun Pak Tua merasa malu untuk kembali kepada Sang Sahabat yang telah ditinggalkannya dahulu.  Pak Tua juga tidak tahu bagaimana cara untuk kembali kepada Sahabatnya itu.

Akhirnya Pak Tua menghentikan tangisnya dan menghela nafas panjang. Ia telah membuat keputusan.

“Aku ingin kembali kepada-Mu. Berteman kembali dengan-Mu. Apakah aku masih layak?”

***

Dua Minggu Sebelum Natal

Samuel Wisdom

Sudah delapan tahun Samuel menjadi usher untuk kebaktian pukul sembilan pagi setiap hari Minggu di Gereja Hope. Ia hafal siapa saja dan tempat duduk favorit setiap jemaat Gereja Hope. Anak-anak akan diantar ke ruangan terpisah untuk sekolah minggu. Selain menjadi usher, tugas Samuel yang lain adalah menjaga ketertiban di dalam gereja selama kebaktian berlangsung. Namun tugas yang terakhir tidaklah terlalu sulit. Pada umumnya jemaat Gereja Hope dapat menjaga ketertiban tanpa perlu diawasi oleh Samuel.

Hari minggu tersebut, seperti biasa Samuel melakukan tugasnya sebagai usher. Ia baru dapat beristirahat ketika kotbah dimulai. Samuel duduk ditempatnya yang biasa. Bangku sebelah kiri baris ke sepuluh dari belakang.

Tiba-tiba Samuel merasa pintu Gereja terbuka dan terjadi sedikit keributan di sebelah belakang. Samuel dapat mendengar dengungan bisikan dari sisi belakang. Ini tidak dapat dibiarkan, ia segera bangkit untuk menjalankan tugasnya.

Seseorang baru saja masuk ke dalam gereja. Tentunya seorang pendatang atau pelancong yang belum tahu jadwal kebaktian. Pendatang yang baru masuk tersebut terus berjalan mencari tempat duduk yang kosong di bagian belakang. Namun tampaknya tidak ada seorang pun yang bersedia memberikan tempat duduk yang kosong yang tersedia. Samuel segera menyadari apa penyebabnya.

Pendatang baru itu memakai pakaian lusuh yang penuh dengan tambalan. Entah apa warna asli pakaiannya dahulu. Wajahnya kotor dan sudah tidak bercukur selama beberapa hari. Rambutnya tidak kalah buruk dari cambangnya. Entah sudah berapa minggu orang itu belum berkeramas. Mungkin dia juga sudah beberapa hari belum mandi, bau tidak sedap menyeruak dari tubuh pendatang baru. Tidak heran jika tidak ada yang ingin duduk bersebelahan dengan pendatang baru ini.

Samuel mengenali pendatang baru ini sebagai pemabuk yang sering mengemis meminta-minta uang di depan supermarket. Tidak pernah sekalipun pemabuk ini masuk ke dalam gereja. Sekarang pemabuk ini tentu sudah terlalu mabuk sehingga dia salah melangkah masuk ke dalam gereja. Ini tidak dapat dibiarkan. Si pengganggu harus segera diusir keluar. Ketertiban harus ditegakkan. Jemaat tidak boleh terganggu ketika kebaktian sedang berlangsung, terlebih lagi saat kotbah sedang diberikan.

Dengan penuh efisiensi, Samuel segera membimbing pemabuk tersebut keluar. Khawatir pemabuk itu akan masuk kembali, Samuel berjaga di ambang pintu gereja. Dalam hatinya ia mencatat bahwa ia akan menegur Pete penjaga parkiran dan gerbang masuk gereja. Bagaimana mungkin dia dapat membiarkan pemabuk memasuki gereja? Mungkin tadi dia sedang bermalas-malasan sehingga tidak menyadari pemabuk itu memasuki gereja.  

Ruth Winston

Ruth Winston tidak pernah terlambat mengikuti kebaktian pukul sembilan setiap hari Minggu di Gereja Hope. Ia juga tidak pernah lalai hadir dalam setiap KKR yang diadakan Gereja Hope. Tak peduli panas terik, hujan badai, angin kencang, maupun salju, Ruth tidak pernah absen.  Keinginan Ruth hanya satu, agar Tuhan memperhatikan kesetiaannya dan menyembuhkan kanker rahim yang dideritanya. Itu adalah doa Ruth selama lima tahun terakhir ini.

Sebelum divonis dokter kanker rahim, Ruth bukanlah jemaat yang patuh. Ia hanya hadir ketika Natal, Paskah atau ketika ada kegiatan sosial di gereja. Ruth mendaftarkan diri sebagai jemaat Gereja Hope semata hanya untuk mempunyai identitas diri dan kesibukan. Ruth tidak mau hanya menjadi ibu rumah tangga atau hanya dikenal sebagai istri dokter bedah.

Sejak menderita kanker rahim, Ruth mengundurkan diri dari semua kegiatan sosial. Ia akan memfokuskan diri untuk menyembuhkan penyakitnya dan beristirahat. Urusan lain dapat menunggu nanti setelah penyakitnya sembuh.

Hari minggu tersebut, ketika pemabuk bau itu memasuki gereja, Ruth mencibirkan bibirnya dan cemberut. Ia segera menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra yang senada dengan warna gaun hari minggunya. Jangan sampai bau busuk pemabuk itu merusak kesehatannya yang sudah rapuh ini. Jangan sampai pemabuk ini duduk disebelahnya. Ruth segera meletakkan tas tangannnya pada bangku kosong disebelahnya. Ia harus segera mandi dan keramas sepulang dari gereja nanti. Ruth bergidik membayangkan jutaan kuman penyakit yang dibawa oleh pemabuk ini masuk ke dalam gereja.

Entah apa maunya si pemabuk ini di dalam gereja. Apa yang dikerjakan Samuel Wisdom? Mengapa dia tidak segera mengusir pemabuk busuk ini?

Ah, pemabuk bau ini membuat Ruth jadi tidak berkonsentrasi dengan doanya meminta kesembuhan.

Peter Hunter

Kerjanya adalah menjaga pintu gerbang dan keamanan di gereja. Peter Hunter adalah seorang pria empat puluhan yang sederhana. Ia sudah cukup puas dengan penghasilannya yang kecil sebagai penjaga keamanan Gereja Hope. Bagi sebagian besar orang, pekerjaannya tidak penting. Peter hanya bejana tanah liat yang sederhana. Dia pernah tampil dalam gemerlap lampu panggung.  

Walaupun begitu, Peter tidak pernah lalai dalam menjalankan tugasnya. Terbukti selama lima belas tahun dia bekerja, tidak pernah satu kali pun terjadi tindakan kejahatan di dalam kompleks Gereja Hope. Peter menjalankan tugasnya sebagai bentuk ibadahnya kepada Tuhan.

Hanya satu keinginan Peter yang paling dalam. Ia ingin sekali melakukan satu keajaiban kecil. Tidak perlu keajaiban yang besar, cukup yang kecil dan sederhana saja. Sekali saja, Peter ingin dijadikan bejana emas oleh Tuhan. Keinginan Peter bukan karena dia iri melihat yang lain, Peter hanya ingin sekali saja benar-benar merasa berguna untuk Tuhan.

Sebenarnya, ketika pemabuk itu memasuki gereja, Peter telah melihatnya. Pada awalnya, Peter sudah berniat untuk mengusirnya. Tentunya pemabuk ingin membuat keonaran di dalam  gereja. Tapi udara pagi itu cukup menggigit dan salju tipis mulai turun. Peter merasa iba dengan pemabuk itu. Jadi dibiarkannya pemabuk itu masuk. Di dalam pemabuk itu tentu dapat menghangatkan badan dan berlindung dari salju. Dan siapa tahu, pemabuk itu dapat berubah ketika mendengarkan firman Tuhan. Dua hari yang lalu, pemabuk itu juga sudah masuk kedalam gereja untuk menghangatkan diri ketika sedang ada latihan paduan suara Natal. Lagi pula, Tuhan Yesus tidak pernah melarang pemabuk untuk masuk ke dalam gereja.  

Sepuluh menit kemudian, Peter melihat pemabuk itu sudah berdiri di depan pintu masuk gereja. Tentunya Mr. Wisdom sudah beraksi di dalam sana. Segera saja, Peter menyadari pemabuk itu menggigil kedinginan. Ia benar-benar merasa iba. Tidak mungkin Peter dapat menutup mata melihat keadaan pemabuk itu. Pemabuk itu dapat menghangatkan diri sekaligus membersihkan diri dipondokannya. Selain itu, Peter juga memiliki satu set pakaian yang dapat diberikan kepada pemabuk tersebut.

***

Pak Tua merasa sedih diusir dari gereja. Pak Tua sangat merindukan gereja sejak dua hari lalu. Padahal pagi ini ia sudah berusaha semampunya untuk membersihkan dan merapikan diri untuk mengikuti kebaktian. Mungkin Tuhan tidak menyukainya di dalam karena ia tidak menggunakan pakaian yang layak. Di muka pintu, Pak Tua menggigil kedinginan. Pakaiannya kurang tebal untuk udara dingin seperti ini. Ia ingin mencari tempat yang untuk menghangatkan dirinya.

Sungguh kejam orang-orang di dalam gereja tadi. Mereka semua sama sekali tidak memahami penderitaannya. Pak Tua semakin membenci gereja. Di dalam sana hanya ada sekumpulan orang-orang munafik. Dimanakah kasih Kristus yang mereka mereka layani? Namun untungnya masih ada satu orang yang memiliki kasih Kristus.

Penjaga gereja yang ramah dan baik hati itu mengajaknya singgah di pondokan penjaga gereja. Orang itu bahkan menawarkan sarapan yang lezat dan kesempatan untuk bercukur dan membersihkan diri. Selain itu, dia juga memberikan satu stel pakaian ganti kepada Pak Tua.

Dengan perut kenyang dan tubuh hangat, Pak Tua bersiap untuk pergi. Di muka pintu, penjaga gereja menghentikannya dan berkata, “Jika Anda membutuhkan tempat untuk berteduh, pondok ini selalu terbuka untukmu. Oh ya, minggu depan datanglah kembali kemari sebelum kebaktian. Anda dapat membersihkan diri dan sarapan dahulu sebelum mengikuti kebaktian.”

Mendengar kata-kata yang lemah lembut itu, Pak Tua kembali merasakan desakan untuk masuk kembali ke gereja minggu depan.   

***

Satu Minggu Sebelum Natal

John Hope

Nafasnya tecekat. Ia takut untuk melangkah masuk. Ada sedikit dorongan yang menyuruhnya lari menjauhi tempat ini. John Hope menarik nafas panjang untuk menenangkan diri.

Seperti anak kecil yang marah karena keinginannya tidak dipenuhi. John Hope sudah marah kepada Tuhan selama tiga puluh tahun. Ia menyalahkan Tuhan untuk segala kemalangan yang dialaminya. Tuhan adalah makhluk kejam yang suka menyiksa.

John Hope merasa malu. Ia ingat dahulu ia kerap mengambil contoh kesetiaan Ayub dalam penderitaan untuk kotbahnya. Namun ternyata lebih mudah berkotbah daripada melakukannya. Butuh tiga puluh tahun untuk dapat benar-benar mencontoh teladan Ayub.

Malu untuk diakuinya, namun setelah tiga puluh tahun menghindari gereja, John Hope rindu untuk kembali ke gereja. Ia rindu dengan sahabat lamanya. Ia rindu bercakap-cakap dengan sahabatnya. Ia rindu untuk sekali lagi mendengarkan suara sahabat dan juru selamatnya.

Tangannya tidak gemetar dan terasa mantap. John Hope membuka pintu gereja dan melangkah masuk.

Peter Hunter

Detak jantung Peter semakin kencang mengikuti setiap langkah yang diambil oleh pemabuk mantan pemabuk itu mendekati gereja.

“Tuhan, terimalah dia. Jangan sampai dia diusir lagi seperti minggu lalu. Engkau tahu dia sudah sangat berusaha untuk tampil layak di hadapan-Mu minggu ini. Aku adalah saksinya bahwa selama satu minggu ini sungguh jarang dia bermabuk-mabukan. Tolong, terimalah dia.”

Peter terus menerus mengulang doa pendek tersebut. Ia tidak peduli jika nanti Mr. Wisdom akan kembali memarahinya karena ia kembali mengijinkan pemabuk itu untuk masuk. Ia tidak peduli jika ia akan kehilangan pekerjaannya karena ini. Yang terpenting bagi Peter saat ini adalah agar Tuhan mau menerima pemabuk itu di rumah-Nya.

Nafas Peter terasa berhenti ketika melihat pemabuk itu memasuki gereja. Ia melihat pintu perlahan-lahan menutup dan pemabuk itu menghilang di balik pintu. Peter merasa semakin resah. Doanya semakin panjang. Ia mulai menagih janji Tuhan. Merengek-rengek bagai anak kecil. Bahkan mengancam Tuhan.

Lima menit berlalu. Pemabuk itu masih bertahan di dalam gereja.  

Dua puluh lima menit berlalu.

Empat puluh lima menit berlalu.

Akhirnya Peter mulai merasa tenang. Tuhan mau menerima pemabuk itu di rumah-Nya.

Samuel Wisdom

Samuel merasa sangat kesal. Lagi-lagi Pete membiarkan pemabuk ini masuk ke dalam gereja. Padahal minggu lalu, ia sudah memberikan teguran keras kepada Pete. Jika ini terjadi sekali lagi, Samuel pasti akan meminta agar Pete segera diganti. Orang yang tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik apalagi di gereja tidak layak untuk dipertahankan.

Penampilan pemabuk ini memang sudah membaik jika dibandingkan dengan minggu lalu.  Setidaknya dia bercukur dan membersihkan diri. Bau busuk sudah diganti dengan sabun mandi murahan. Pakaiannya walaupun lusuh tetapi bersih. Samuel jadi tidak mempunyai alasan yang tepat untuk mengusirnya. Namun sepanjang waktu ia harus selalu waspada. Jangan-jangan pemabuk ini bermaksud untuk mencuri di gereja.

Samuel menghela nafas jengkel dan berpindah duduk ke belakang pemabuk tua dimana ia dapat mengawasi dengan mudah.

Ruth Winston

Lagi-lagi pemabuk itu masuk ke gereja. Ruth bergegas mengeluarkan sapu tangannya bersiap untuk menutup hidungnya.  Pemabuk itu lewat di sisi tempat duduk.

Ruth menahan nafasnya. Ia sudah membayangkan akan mencium bau busuk. Namun ternyata yang tercium samar-samar adalah bau wangi sabun murahan. Ruth merasa terkejut. Pemabuk ini sudah banyak berubah dibandingkan minggu lalu. Sekilas dia tampak seperti jemaat yang taat. Wajahnya sudah dicukur rapi. Rambutnya sudah dipotong pendek dan rapi. Dia berjalan tegak tidak sempoyongan.

Ruth memperhatikan bahwa kali ini, tidak ada yang merasa keberatan dengan kehadiran pemabuk ini. Bahkan Samuel juga mengurungkan niatnya untuk mengusir pemabuk ini.  Tetap saja Ruth merasa kesal. Kehadiran pemabuk ini sudah mengganggu doanya memohon kesembuhan.

***

Dua jam di gereja membangkitkan kembali semua kenangan Pak Tua yang dahulu pernah dikuburnya dalam-dalam dan berusaha dilupakannya. Berbagai kenangan indah dan buruk timbul tenggelam dalam benak Pak Tua. Rasanya seperti melilhat potongan demi potongan film tua.

Terkadang Pak Tua mengernyit jika melihat penggalan yang menyakitkan. Kematian kedua anaknya. Keluarga dan teman dekat yang meninggalkannya. Istrinya yang pergi meninggalkannya. Gereja yang menjauhinya.

Terkadang Pak Tua tersenyum senang melihat penggalan yang membahagiakannya. Kelahiran anaknya. Pernikahannya. Teman yang sudah dibantunya. Pernikahan kenalannya dan masih banyak lagi.

Setiap kenangan timbul tenggelam. Pak Tua larut dalam dunianya sendiri. Ia tidak lagi menyadari bahwa ia berada di dalam gereja. Air matanya mengalir.

“Oh, Yesus. Maafkan aku. Masih maukah Engkau menjadi sahabatku?” isak Pak Tua.

***

Pagi Natal

Ruth Winston

Ruth celingukan di depan pintu gereja. Suaminya sudah terlebih dahulu masuk ke dalam gereja. Ada seseorang yang ia tunggu di luar. Tidak dihiraukannya udara dingin yang menggigit tulang. Atau salju yang turun. Ruth hanya semakin merapatkan mantelnya. Sesekali, Ruth menggosokan kedua tangannya yang bersarung tebal untuk menambah kehangatan.  Kebaktian sudah dimulai lima menit yang lalu. Orang yang ditunggu Ruth belum juga tampak.

Lima belas menit menunggu tanpa mebuahkan hasil. Akhirnya Ruth menghela nafas kecewa dan meyerah. Ia bergegas masuk ke dalam gereja. Mungkin orang yang ditunggu dapat dijumpainya nanti setelah kebaktian selesai.

Kebaktian diikutinya dengan khusuk seperti biasanya. Doanya mengalir tanpa henti. Pujiannya mengalir seiring dengan setiap doa yang ia panjatkan. Yang berbeda adalah isi doa yang dipanjatkan Ruth.

Hari ini, Ruth sudah memutuskan untuk tidak lagi mendoakan kesembuhan bagi penyakitnya. Ia menyerahkannya kepada Tuhan. Jika Tuhan mau ia sembuh, pasti ia akan sembuh. Tuhan sanggup melakukan mujizat.

Ruth sadar selama ini ia memiliki hubungan yang salah dengan Tuhan. Sebelum ia sakit, ia hanya berdoa jika ingat atau ada masalah. Tuhan hanya untuk status sosial dalam pergaulannya. Setelah ia sakit, ia berdoa hanya untuk kesembuhan tidak pernah sekalipun Ruth memikirkan hal lainnya. Ia terus-menerus merengek seperti anak kecil kepada Tuhan. Doanya hanya satu arah. Tidak pernah sekalipun ia berniat untuk mendengarkan apa kata Tuhan kepadanya.

Orang itu yang menyadarkannya. Minggu lalu, hati Ruth tergerak ketika melihatnya di gereja minggu lalu. Ruth iri melihat doa dan pujian pemabuk tua itu. Ruth tahu, doa dan pujian itu lahir karena hubungannya dengan Tuhan. Dia memuji Tuhan karena Tuhan adalah Tuhan. Ruth ingin memiliki doa dan pujian yang seperti itu. Ia juga mau memiliki hubungan yang seperti itu dengan Tuhan. Belum terlambat untuk memulai dan belajar.

“Tuhan, bolehkah aku mendengar suara-Mu. Sebuah bisikan halus juga tidak mengapa. Aku ingin belajar mengenal-Mu yang sebenarnya”, bisik Ruth dalam hati.

Yang ditunggu Ruth tidak juga datang. Padahal kebaktian sudah hampir selesai. Ruth sedikit kecewa. Ia sangat mengharapkan bertemu dengan orang itu. Ia ingin mengundangnya bersantap siang dirumah. Suaminya sudah menyetujuinya. Nanti ia akan menanyakannya kepada Mr. Hunter penjaga gereja. Mungkin saja dia memiliki informasi.

Samuel Wisdom

Pemabuk tua itu belum juga datang. Samuel menanti dengan cemas. Jika dua kali sebelumnya Samuel sangat tidak mengharapkan kedatangan pemabuk tua itu. Sebaliknya hari ini, Samuel justru sangat mengharapkan kedatangan pemabuk tua ini. Ia ingin meminta maaf kepada pemabuk tua itu karena pernah mengusirnya sebelumnya.

Minggu lalu, ketika Samuel duduk dibelakang pemabuk itu, ia tidak pernah mengira bahwa ia akan menyaksikan sebuah doa dan pujian yang luar biasa dari Pemabuk itu. Rasanya seperti ada yang menamparnya. Ia merasa malu pernah mengusir orang yang memiliki doa dan pujian begitu luar biasa kepada Yesus.

Samuel berjanji tidak akan pernah lagi memilih-milih orang untuk masuk ke dalam gereja. Yesus menerima dan mencintai setiap orang tanpa memandang rupa. Tua, muda, cacat, buruk rupa, rupawan, pendosa, kusta, pengemis, dan masih banyak lagi. Kasih Yesus tidak pernah menghalangi-Nya untuk menerima orang-orang yang datang kepada-Nya. Apa hak Samuel untuk mengusir Pemabuk tua yang ingin masuk dan bertemu dengan Yesus?

“Maafkan aku. Sudah lama sekali aku melupakan bagaimana rasanya bercakap-cakap dengan-Mu. Aku terlalu sibuk menyombongkan diri. Aku merasa malu. Masih dapatkah aku mendengar suara-Mu?”, doa Samuel.

Peter Hunter

Seumur hidupnya, Peter tidak akan pernah membayangkan Mr. Wisdom dan Ms. Winston akan mencarinya untuk informasi yang sama. Mereka berdua sama-sama menanyakan keberadaan pemabuk tua itu.

“Maaf, dia sudah meninggal tadi malam karena demam. Jenazahnya sekarang berada di kamar mayat rumah sakit dan akan dikuburkan lusa.”

Hanya itu jawaban yang dapat diberikan Peter yang disambut dengan tatapan kecewa tidak percaya oleh kedua orang pendengarnya.

 ***

Kisah Natal ini berakhir disini. Berkat usaha keras Samuel, Ruth dan dibantu oleh Peter, akhirnya mereka bertiga berhasil mengetahui siapakah Pak Tua.

Jika suatu hari nanti, kalian mendatangi Negara Peace, sempatkanlah diri untuk mampir ke Kota Hope. Pada sudut halaman belakang Gereja Hope terletak sebuah makam. Pada nisan sederhana berwarna putih berkilat tertulis kata-kata:

John Hope

1901 – 1982

Pengkotbah

Pemabuk

Guru

Sahabat Yesus

 

***

For Who You Are

 Hillsong  – Mighty To Save Album

VERSE I

Standing here, in Your presence

Thinking of the good things You have done

Waiting here, patiently

Just to hear Your still small voice again

Holy, righteous, faithful to the end

Savior, healer, redeemer and friend

 CHORUS

I will worship You for who You are

I will worship You for who You are

I will worship You for who You are Jesus

 BRIDGE

My soul secure, Your promise sure

Your love endures always

My soul secure, Your promise sure

Your love endures always

My soul secure, Your promise sure

Your love endures always

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s