Raja Orang Yahudi

Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap Tuhan Allah dan di antara mereka datanglah juga Iblis.

Kata Iblis kepada Tuhan Allah, “Aku tahu Engkau sangat menyayangi manusia dan tidak mau mereka binasa. Engkau bahkan sudah membuat rencana untuk manusia yang Kau sayangi itu. Namun aku juga sudah memiliki rencanaku sendiri untuk menggagalkannya”.

Setelah mengatakan itu Iblis segera meninggalkan Tuhan Allah dengan penuh percaya diri.

Tuhan Allah hanya tersenyum. Ia tidak panik atau merasa terancam dengan tantangan Iblis.

Seorang anak Allah bertanya kepada-Nya, “Tuhan, mengapa Engkau tersenyum? Tidakkah Iblis baru saja mengancam untuk menggagalkan rencana-Mu?”

Tuhan Allah tetap tenang dan menjawab, “Rencana-Ku tetap untuk selama-lamanya.”

***

Tahun 37 S.M.

Upacara pengangkatan sudah selesai sejak siang tadi namun pesta perayaan masih belum juga berakhir walaupun sudah lewat tengah malam. Para pelayan masih sibuk melayani tamu. Makanan tidak boleh kekurangan dan yang terutama anggur harus terus mengalir. Dari bailarung utama tempat pesta diselenggarakan masih dapat didengar gelak tawa dan teriakan-teriakan para tamu. Beberapa tamu sudah terlalu mabuk untuk peduli dengan apa yang mereka minum atau makan. Sebagian besar sudah tidak mempedulikan lagi apa yang mereka perbuat. Berapa bahkan sudah tertidur pulas, hanyut dalam impian anggur yang memabukkan.

Sang bintang utama hari itu justru tidak mengambil bagian dalam pesta yang memabukkan itu. Beberapa jam telah berlalu sejak ia mengundurkan diri dari pesta. Ia sudah menyendiri di ruang pribadinya sejak pukul sembilan malam tadi.

Berbeda dengan bagian-bagian lain di istana yang ditempatinya. Ruang pribadinya tampak sangat sederhana dan polos. Tidak ada hiasan dinding. Hanya ada sebuah jendela kecil yang mengarah ke pusat kota Yerusalem. Di dalamnya hanya ada sebuah meja kerja yang diletakkan di antara jendela dan pintu masuk. Ia tidak menyukai banyak perabotan atau hiasan yang memungkinkan pembunuh dapat bersembunyi di dalamnya.

Di tempat ini ia menikmati kesendiriannya sambil merenungkan apa yang telah dicapainya hari ini.

Raja Yudea.

Yudea jelas jauh lebih besar daripada Galilea tempat dia menjadi gubernur sebelumnya. Herodes tersenyum puas. Dengan gelas anggur di tangannya ia bangkit dan berdiri melihat keluar jendela. Mulai hari ini seluruh kota Yerusalem, bahkan seluruh daerah Yudea menjadi miliknya. Kekuasaannya. Pemerintahannya. Usianya belum lagi genap empat puluh tahun. Tahun-tahun kekuasaannya masih panjang.

Dalam hati, Herodes memuji dirinya sendiri untuk kecerdikan dan kepintarannya membaca peta kekuatan Roma. Para pemegang kekuasaan di Roma tidak menyia-nyiakan dukungannya. Ketika Antigonus memberontak, mereka memberikan bantuan kepada Herodes untuk melawannya. Antigonus sekarang telah menjadi bagian dari masa lalu. Hari ini, ia resmi diangkat sebagai Raja Yudea oleh Sang Kaisar.

Bersulang. Herodes mengangkat gelasnya tinggi dan meminumnya. Ia bersulang untuk pemerintahannya yang baru dimulai hari ini. Kemudian, Herodes teringat dengan Mariam. Istrinya yang cantik sekaligus status sosialnya. Mariam tentu dapat membantunya menjinakkan orang-orang Yahudi yang banyak menempati daerah Yudea.

Sekali lagi Herodes bersulang untuk dirinya sendiri. Puas dan bangga akan keahliannya mencari istri yang tepat.

“Selamat !!! Hamba mengucapkan selamat kepada Yang Mulia.”

Herodes terkejut. Ia segera berbalik. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan memasuki ruangan ini. Akses untuk masuk dijaga ketat. Refleks ia segera memegang gagang pedang yang tergantung pada pinggangnya.

Dihadapannya berdiri seorang tua yang tidak pernah dilihatnya sebelum ini. Usianya tidak dapat ditebak. Rambut, janggut bahkan alis matanya semua berwarna putih. Wajahnya penuh dengan kerut merut menandakan perjalanan hidupnya. Wajahnya tenang dan bijak. Walaupun begitu, orang itu masih berdiri tegak. Gerakannya lincah.

“SIAPA??” bentak Herodes.

“Hamba bukan siapa-siapa. Yang Mulia tidak perlu mencemaskan hamba. Jika hamba bermaksud jahat tentu sudah sejak tadi hamba melakukannya ketika Yang Mulia lengah. Hamba hanya orang biasa yang ingin mengucapkan selamat.”

Herodes memikirkan kata-kata orang tua itu. Kecurigaannya sedikit menurun. Namun tangannya tetap bersarang pada gagang pedang. Siap untuk menyerang. Kewaspadaannya tidak menurun.

“Bagaimana caramu masuk kemari?” usut Herodes.

“Itu tidak penting bagi orang tua seperti hamba.”

“CEPAT KATAKAN !!!! Aku akan membunuhmu jika tidak kamu katakan”, raung Herodes marah.

Orang tua itu tidak tampak gentar atau takut. Dia tetap tenang mendengar ancaman Herodes. “Maafkan hamba, Yang Mulia. Sayang sekali hamba tidak dapat menjelaskan bagaimana cara hamba masuk ke tempat ini. Namun hamba memiliki sesuatu yang harus disampaikan kepada Yang Mulia. Sebuah informasi yang sangat penting.”

“Jangan berbelit-belit ! Katakan siapa kamu! Dan bagaimana caramu masuk kemari!” “Kekuasaanmu sebagai raja Yudea tidak akan bertahan. Seseorang yang mengaku sebagai Raja Orang Yahudi akan datang dan menghancurkan pemerintahanmu. Rakyatmu akan berpaling darimu dan mengikuti dia.”

“LANCANG !!!! Berani-beraninya kamu mengatakan hal yang tidak jelas seperti itu !!!”

Herodes merasa sangat berang. Ia mendekati orang tua itu. Pedangnya sudah tercabut dari sarungnya. Ia siap untuk membunuh pengunjung gelap yang lancang tersebut.

“Hamba mohon maaf jika telah menyinggung Yang Mulia. Namun apa yang hamba ucapkan adalah kebenaran. Yang Mulia harus selalu waspada terhadap kedatangan Raja Orang Yahudi ini.”

Setelah mengucapkan hal ini. Tamu yang tidak diundang tersebut membungkukkan badannya satu kali memberi hormat kepada Herodes dan tiba-tiba menghilang.

Apakah ini adalah efek anggur yang diminumnya tadi? Herodes menggelengkan kepalanya. Ia yakin sepenuhnya bahwa ia tidak minum terlalu banyak anggur untuk menjadi mabuk. Namun karena tidak mungkin seseorang dapat menghilang begitu saja, mau tidak mau Herodes meyakini kejadian barusan adalah efek dari anggur yang diminumnya.

***

Bertahun-tahun pemerintahannya, Herodes telah melupakan orang tua yang mendatanginya pada malam penobatan. Kekuasaannya semakin besar. Pemerintahannya semakin maju dan makmur. Rakyat menyukainya. Roma menyayanginya.

Lalu tiba-tiba saja orang tua itu kembali mengunjunginya. Orang tua yang sama yang telah memberinya informasi tentang Raja Orang Yahudi bertahun-tahun silam. Orang tua yang dikiranya sebagai hanya merupakan ilusi akibat efek anggur. Kali ini Herodes tidak sedang mabuk. Ia sedang bekerja sendirian di ruang pribadinya. Pikirannya jernih. Jadi pasti orang tua itu bukan ilusi atau mimpi.

Bagaimana orang tua ini dapat masuk ? Herodes tidak dapat mengerti. Tidak mungkin orang tua ini dapat masuk ke ruangan pribadinya tanpa terlihat oleh barisan pengawalnya yang telah dipilih sendiri oleh Herodes dan sangat dipercayainya. Herodes bersiaga. Tangannya segera bersiap memegang gagang pedang yang tidak pernah meninggalkannya. Diperhatikannya orang tua itu berjalan terus hingga mendekatinya meja kerjanya.

Tujuh langkah dari tempat Herodes duduk, orang tua itu berhenti dan memberi hormat. “Salam kepada Yang Mulia. Semoga Yang Mulia masih mengingat hamba.”

“Bagaimana kamu dapat masuk kemari?” tanya Herodes segera.

Orang tua itu terkekeh ringan. Meremehkan pertanyaan Herodes. “Seperti pernah hamba katakan dulu, hal itu tidaklah penting. Ada hal lain yang lebih penting lagi. Tentu Yang Mulia masih ingat peringatan hamba bertahun-tahun silam?”

Herodes menganggukkan kepalanya dengan dahi berkerut. Ia tidak suka diingatkan kembali tentang Raja Orang Yahudi yang akan menggeserkan jabatan dan kekuasaan yang sudah diperjuangkannya selama bertahun-tahun.

“Bersiaplah Yang Mulia. Raja Orang Yahudi akan segera datang. Jika Yang Mulia lengah sedikit saja maka dia akan menghancurkan dan merebut kekuasaan Yang Mulia sebelum Yang Mulia sempat menyadarinya.”

“Aku tidak suka diancam”, geram Herodes.

 “Hamba tidak berani mengancam Yang Mulia. Hamba justru mendukung Yang Mulia. Jika tidak, hamba tidak akan mungkin bersusah payah memberikan informasi ini kepada Yang Mulia.”

Herodes tersenyum simpul. Ia tidak suka adanya ancaman bagi kekuasaannya. Namun ia juga masih belum dapat mempercayai orang tua ini sepenuhnya. Selama bertahun-tahun pemerintahannya ia telah mempelajari Raja Orang Yahudi. Kitab orang Yahudi telah menuliskan tentang kedatangan Raja Orang Yahudi yang digambarkan sebagai orang yang akan membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan dan kembali menjadi bangsa yang merdeka. Beratus-ratus tahun orang Yahudi kedatangan raja mereka yang tidak pernah datang. Herodes menyimpulkan Raja Orang Yahudi hanya sekedar dongeng atau mitos saja.

Seakan-akan dapat membaca pikiran Herodes, orang tua itu melanjutkan. “Sungguh sebuah pikiran yang keliru jika Yang Mulia menganggap Raja Orang Yahudi hanya sebuah mitos atau dongeng. Raja Orang Yahudi sungguh ada dan nyata.” “Mengapa aku harus percaya padamu?”

“Percaya adalah milik Yang Mulia bukan hak hamba. Untuk membuktikan bahwa hamba tidak berdusta, inilah tanda kedatangan Raja Orang Yahudi. Lima hari dari sekarang akan ada tiga orang raja dari Timur yang akan bertamu di istana Yang Mulia. Mereka akan menanyakan Raja Orang Yahudi.”

Usai mengatakan hal terakhir, orang tua itu membungkukkan badan memberi hormat dan kembali menghilang. Meninggalkan Herodes yang untuk pertama kalinya merasakan ketakutan akan kehilangan tahtanya. Bertahun-tahun pemerintahannya, Herodes sudah banyak menghadapi orang-orang yang memberontak dan ingin menjatuhkannya. Ia tidak pernah merasa takut akan ancaman mereka. Para pemberontak selalu berhasil dibunuh dan dihabisnya.

Selama ratusan tahun, Raja Orang Yahudi telah menjadi mitos, jika ia datang mengapa harus pada masa pemerintahannya? Herodes yang telah menjadi Raja Yudea tidak akan menyerahkan kekuasaannya dengan mudah. Ia pasti akan melawan. Raja Orang Yahudi baik asli maupun mitos akan dibunuhnya sebelum dia sempat memberontak.

***

Selama lima hari, Herodes menanti dengan cemas datangnya ketiga raja dari Timur yang sedang mencari Raja Orang Yahudi. Ia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Perasaannya kalut dan galau. Herodes mulai menaruh kecurigaan besar kepada orang-orang disekelilingnya. Jangan-jangan mereka semua adalah mata-mata Raja Orang Yahudi. Tidak banyak bawahan yang dihukum hanya karena kesalahan yang sepele saja. Bahkan istri dan anak-anaknya pun menjauhinya.

Herodes semakin sering mengumpulkan ahli-ahli kitab Orang Yahudi dan para imam Yahudi. Ia semakin keras mempelajari tentang Raja Orang Yahudi.

***

Pada hari kelima siang hari tepat sebelum pergantian penjaga gerbang kota, seluruh penduduk Yerusalem berkumpul di tepi jalan atau balkon rumah masing-masing. Mereka terpesona melihat kedatangan rombongan yang baru datang.

Ketiga orang yang berada di depan tampaknya merupakan pemimpin rombongan yang baru datang tersebut. Mereka bertiga sudah tidak muda lagi bahkan sudah melewati setengah abad. Walaupun kelelahan terpatri diwajah mereka namun keriangan dan kebahagiaan tetap terpancar dari sorot mata dan raut wajah mereka. Pakaiannya seperti para pedagang dari timur namun lebih mewah. Terbuat dari benang-benang emas dan sutra. Sepanjang jalan mereka membagi-bagikan hadiah kepada penduduk yang dijumpai di sepanjang jalan. Tujuan mereka jelas dan pasti, istana Herodes.

Herodes telah mendengar kabar kehadiran mereka jauh sebelum mereka tiba di istananya. Inilah saatnya. Orang tua itu benar. Ia menyiapkan diri untuk menyambut mereka di bailarungnya.

Ketiga orang raja dari timur yang menjadi tamu Herodes tidak berbasa-basi. Setelah mereka menyerahkan hadiah dan menjelaskan diri mereka kepada Herodes, mereka bertiga segera menyampaikan maksud kedatangan mereka.

“Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kamu datang untuk menyembah Dia.”

Lahir? Apakah maksudnya Raja Orang Yahudi baru saja dilahirkan? Sungguh mudah untuk membunuhnya jika ancaman terhadap tahtanya masih berwujud bayi yang baru dilahirkan. Dalam hatinya Herodes bersorak gembira.

“Maaf, Tuan-tuan, aku tidak dapat menjawab pertanyaan itu sekarang karena saya juga baru mendengarnya sekarang,” jawab Herodes berpura-pura terkejut. “Beristirahatlah satu malam disini. Dan aku akan mencarikan jawabannya untukmu. Terimalah keramahan kami”, lanjutnya lagi.

Tidak mempunyai alternatif lain, para tamunya mau tidak mau menuruti saran Herodes dan beristirahat untuk satu malam.

Malam itu, setelah ketiga tamunya mengundurkan diri untuk beristirahat. Herodes segera mengumpulkan semua imam dan ahli-ahli kitab Yahudi. Ia memaksa mereka semua mempelajari dan mencari tahu dimanakah Raja Orang Yahudi akan dilahirkan. Gagal memberikan jawaban yang benar berarti hukuman mati bagi mereka semua yang dipanggil Herodes.

Akhirnya menjelang tengah malam, seseorang dari ahli-ahli kitab menghadap Herodes dengan wajah berseri-seri. Mereka berhasil menemukan jawaban yang dicari Herodes.

”Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi : Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”

 ***

Mendapat jawaban yang dicarinya, Herodes membubarkan para imam dan ahli-ahli Taurat Yahudi. Ia sendiri langsung mengurung diri di ruang pribadinya. Herodes merancang sebuah rencana untuk menghancurkan Raja Orang Yahudi ketika dia masih merupakan bakal tunas yang baru akan tumbuh.

Selama bertahun-tahun, Herodes telah berhasil menyingkirkan setiap musuhnya satu persatu untuk menjaga kelangsungan tahta dan kekuasaannya. Tidak akan dibiarkan seorang “Raja Orang Yahudi” untuk memberontak terhadapnya. Herodes yakin ia mempunyai kesempatan besar untuk membunuh Raja Orang Yahudi karena saat ini dia masih merupakan bakal tunas.

“Selamat malam. Hamba harap sekarang Yang Mulia mempercayai informasi hamba.”

Anehnya Herodes tidak lagi merasa terkejut dengan kehadiran orang tua yang tiba-tiba itu. Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, ia tidak lagi menanyakan bagaimana caranya orang tua itu memasuki ruang pribadinya yang dijaga ketat. Walaupun begitu, Herodes tetap tidak menurunkan kewaspadaannya. Tangannya tetap bersiap pada gagang pedang.

“Ah, Yang Mulia tetap tidak mempercayai niat hamba yang paling tulus”, ejek orang tua itu ketika melihat tangan Herodes yang bersiaga pada gagang pedang sambil membungkuk memberi hormat.

“Untuk apa kau kemari?” gerutu Herodes geram.

“Yang pertama adalah untuk mengingatkan Yang Mulia kembali akan bahaya yang dibawa Raja Orang Yahudi ini. Ia bukan hanya akan menyingkirkan Yang Mulia dari tahta. Ia juga akan membawa orang-orang Yahudi memberontak terhadap Roma. Sungguh penting untuk membunuhnya selagi dia masih merupakan bakal tunas yang belum tumbuh.”

Herodes tersenyum sinis. “Jika ia berbahaya, mengapa kamu tidak membunuhnya sendiri? Mengapa harus memberitahukannya kepadaku?”

“Raja Orang Yahudi tidak berbahaya bagi orang tua seperti hamba. Dia tidak pernah menjadi ancaman bagi hamba. Hamba datang kepada Yang Mulia karena hamba tidak mau dia menurunkan Yang Mulia dari tahta atau menggoyang Roma.”

“Hmmm” Melihat Herodes hanya diam saja, orang tua itu kembali melanjutkan bicaranya.

“Maksud kedatangan hamba yang kedua adalah untuk memberikan informasi tambahan. Janganlah meremehkan Raja Orang Yahudi ini walaupun dia masih merupakan bakal tunas yang belum tumbuh akarnya. Para pengikutnya akan melindunginya mati-matian. Mereka licik dan kejam. Mereka bahkan tidak segan-segan untuk mengorbankan orang lain demi menjaga keselamatannya.”

Kemudian seperti datangnya yang tiba-tiba. Orang tua itu kembali menghilang. Herodes diam saja. Ia tidak suka mendengar informasi dari orang tua yang aneh itu. Dilemparnya gelas anggur karena kesal dan marah.

***

Matahari belum muncul dari tempatnya bersembunyi. Bulan masih belum ingin kembali ke tempat tinggalnya. Mimpi belum lagi selesai. Namun tidur nyenyak tidak menjadi kenikmatan bagi beberapa orang di istana Herodes. Beberapa pelayan dan pengawal terpercaya yang dapat diandalkan untuk menjaga kerahasiaan bergerak tanpa suara melaksanakan perintah Herodes dalam keheningan.

Bekal untuk perjalanan disiapkan di dapur. Penjaga dan pengurus unta sibuk menyiapkan unta-unta untuk perjalanan panjang. Ketiga raja dari timur dibangunkan dari istirahat mereka. Mereka diminta untuk bersiap dan menghadap Herodes segera.

“Maafkan aku karena mengganggu istirahat kalian, tamu-tamu yang aku hormati”, salam Herodes beberapa saat kemudian ketika ketiga raja sudah berdiri menghadapnya di ruangan pribadi.

“Aku khawatir aku mempunyai berita baik dan buruk untuk kalian”, ucap Herodes prihatin. “Aku akan memulai dengan berita baik dahulu. Aku sudah menemukan tempat anak itu dilahirkan. Tetapi sebelum aku dapat menyampaikan informasi tersebut, aku harus bertanya dahulu kepada kalian mengenai bintang yang telah menjadi tanda itu.”

Raja yang paling tua maju dan menjelaskan kepada Herodes. “Bintang itu adalah bintang raja yang telah menjadi petunjuk jalan bagi kami hingga kemari. Ia akan membawa kami ketempat di mana sang raja lahir.”

Mendengar itu Herodes mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ahli-ahli Taurat Yahudi itu tidak salah. Betlehem terletak di sebelah timur. Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.”

Ketiga raja itu tersenyum lega. Ijin perjalanan sudah diberikan oleh sang penguasa Yudea. Kini mereka menyiapkan diri untuk mendengarkan berita buruk dari Herodes.

“Sayang aku mempunyai berita buruk untuk kalian. Mata-mataku mengatakan bahwa akan ada pihak-pihak yang ingin membunuh anak itu.”

Ketiga raja dari timur terkejut mendengar berita itu. Namun Herodes tetap melanjutkan kata-katanya. “karena itu kalian akan pergi dengan diam-diam sekarang agar tidak diikuti. Aku sudah menyiapkan bekal untuk perjalanan kalian. Pelayanku akan mengantar kalian ke istal. Besok pagi aku akan membuat pengalih untuk menutupi kepergian kalian malam ini. Sekarang pergilah. Aku akan membuatkan jejak palsu untuk rombongan pembunuh itu.”

Ketiga raja dari timur menganggukkan kepala menyetujui rencana Herodes. Mereka lega karena Herodes telah berbaik hati memberikan perlindungannya untuk sang Raja. Tidak lama kemudian, mereka berpamitan. Herodes mengantar ketiga tamunya keluar dari ruang pribadinya. Dalam hatinya ia tersenyum. Perangkap sudah diberikan. Ketiga raja dari timur tidak akan mencurigainya niatnya yang tersembunyi.

***

Penantian Herodes berubah dari hari menjadi minggu. Dari minggu menjadi bulan. Kemudian tiba-tiba saja satu tahun telah berlalu sejak kedatangan ketiga raja dari timur. Tidak mungkin perjalanan dari Yerusalem menuju Betlehem menghabiskan waktu selama itu. Herodes menjadi gelisah dan marah. Ia merasa telah ditipu dan dipermainkan oleh ketiga raja dari timur tersebut.

Kegelisahannya semakin bertambah dengan kesadaran bahwa semakin banyak waktu yang dibuang berarti kesempatan hidup anak yang akan menjadi Raja Orang Yahudi semakin besar. Tunas muda itu tentu sudah mulai bertumbuh sekarang. Semakin besar anak itu maka semakin besar juga ancamannya. Herodes mencemaskan tahtanya, membayangkan ancaman yang akan datang bertahun-tahun kemudian.

Mata-mata yang diutusnya untuk mencari jejak ketiga raja dari timur membuktikan kecurigaannya. Ketiga raja dari timur tersebut memang menuju ke Betlehem setelah dari Yerusalem menghadap Herodes. Namun mereka tidak kembali ke Yerusalem dan mengambil jalan memutar untuk kembali ketempat asal mereka.

Herodes merasa sangat murka. Ia, penguasa Yudea, telah ditipu oleh segerombolan pemberontak kurang ajar pengikut Raja Orang Yahudi – raja yang saat ini bahkan masih berbau ompol. Mereka akan merasakan amarahnya.

Bergegas Herodes membuat surat perintahnya.

Setiap anak berusia dua tahun ke bawah yang hidup di Betlehem harus dihukum mati tidak ada yang boleh mendapat perkecualian. Gagal melakukan perintah tersebut berarti hukuman mati bukan hanya bagi yang gagal tetapi juga seluruh anggota keluarganya.

Herodes tersenyum puas. Ia pasti berhasil mengalahkan para pemberontak yang mengancam tahta dan kekuasaannya.

***

Iblis merasa kesal.

Rencananya untuk membunuh Sang Penebus gagal. Pembantaian yang dilakukan Herodes tidak berhasil membunuh Sang Penebus. Sang Penebus aman di tanah Mesir ketika pembataian terjadi.

Kali ini mungkin iblis gagal. Namun iblis tidak kecewa. Ia masih mempunyai segudang kesempatan. Iblis tidak akan menyerah. Tidak akan dibiarkan para manusia itu diselamatkan kembali oleh Tuhan Allah.

Di surga para malaikat bersukacita. Sang Penebus hidup.

Rencana Tuhan Allah tidak pernah gagal atau salah.

 ***

Matius 2: 1 – 18

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: “Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kamu datang untuk menyembah Dia.”

Ketika raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Maka dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, lalu dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan.

Mereka berkata kepadanya :”Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi : Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena daripadamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.”

Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu tampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya :”Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.”

Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.

Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, Ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Setelah orang-orang Majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata :”Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepdamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”

Maka Yusuf pun bangunlah, diambilbya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati.

Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi :”Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia :”Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka sudah tidak ada lagi.”

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s