Saat Terakhir

“Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya..”

                                                   Markus 15:27      

Hari ini adalah sebuah penutupan. Tidak ada keraguan sedikit pun. Aku tahu sekaranglah akhirnya.

Orang-orang mengatakan bahwa kita akan mengetahui kapan saat terakhir itu tiba jika kita sudah melihat cuplikan hidup kita sejak lahir tergambar di mata kita. Konon cuplikan hidup tersebut bertujuan untuk mengingatkan kita agar meminta maaf kepada  setiap orang yang pernah kita sakiti ataupun untuk melakukan penyesalan.  

Aku tidak melihat cuplikan tersebut. Aku tidak membutuhkannya karena aku sudah tahu seperti apakah hidupku sejak dilahirkan hingga saat ini. Aku tidak memiliki daftar nama-nama kepada siapa aku harus meminta maaf dan pengampunan. Aku tidak memerlukanya. Semua itu sudah aku lakukan jauh sebelum saat ini tiba.

Hidupku diawali sama seperti awal kehidupan setiap orang, entah itu raja, bangsawan, ahli taurat, pendeta, pengemis, ataupun perampok. Aku keluar dari rahim seorang wanita sebagai bayi merah yang hanya tahu menangis, tidur dan menyusu. Aku tidak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan wanita yang melahirkanku. Aku tumbuh besar sama seperti bayi dan anak-anak lainnya. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuhku akan kugunakan untuk membuat tubuhku semakin besar dan kuat.  

Fisik dan penampilanku rata-rata yang artinya aku dapat melebur dengan mudah dengan sekelilingku. Yang membuatku berbeda dari orang lain adalah kecerdasanku. Aku tahu dengan pasti bahwa aku lebih cerdas dari orang-orang disekelilingku. Bahkan dengan bangga dapat kutambahkan bahwa aku amat sangat cerdas.  Apa yang sulit dipelajari oleh orang lain, selalu dapat aku pelajari dengan mudah dalam waktu yang sangat singkat. Taurat Musa, hukum Romawi, bahasa-bahasa asing, filsafat, sebut apa saja. Semuanya aku kuasai. Aku juga tidak akan pernah melupakan apa yang sudah pernah aku pelajari.

Untuk mengimbangi otakku yang selalu ingin bekerja keras, aku selalu mencari tantangan yang baru. Sesuatu yang baru untuk kupelajari dan kulakukan. Sesuatu yang membuatku otakku tidak berhenti bekerja. Aku pernah menjadi ahli Taurat. Aku pernah bekerja dalam pengadilan Romawi, aku pernah menjadi pedagang yang sukses. Aku bahkan pernah menjadi salah satu pemusik istana yang paling digemari. Namun satu persatu semua perkerjaan itu selalu membuatku bosan. Aku tidak menemukan tantangan dan gairah yang bisa membuatku bertahan. Semua terasa membosankan.

Hingga akhirnya aku menemukan sesuatu yang sangat tidak membosankan dan menantang. Sesuatu yang membuatku selalu merasa bersemangat. Aku menjadi penjahat. Perampok, pencuri, pemerkosa, penipu, pembunuh berantai, pembunuh bayaran, bandar perjudian, pelacuran, penculik. Semuanya aku lakukan. Sungguh tidak ada kata-kata yang dapat menceritakan bagaimana menariknya membujuk dan memanipulasi korban-korban yang tidak mencurigai apa-apa. Betapa menyenangkannya mendengarkan ketakutan dan gosip masyarakat ketika mereka membicarakan hasil perbuatanku. Belum lagi kepuasan yang kudapat karena berhasil mengecoh para penyelidik dan polisi. Dan juga kebahagiaan karena berhasil lolos dari pengejaran.

Identitas dan karakterku selalu berubah. Aku dapat menjadi kakek tua, orang muda, orang paruh baya bahkan remaja. Aku dapat menjadi seorang sadis yang suka membunuh. Aku juga dapat menjadi seorang yang membunuh karena tidak sengaja. Aku dapat menjadi orang gila. Aku dapat menjadi siapa saja. Mereka tidak akan pernah menyadari bahwa sumber ketakutan dan masalah mereka sebenarnya adalah satu orang – aku.

Lalu aku kembali merasa bosan. Bosan bukanlah kata yang tepat. Aku hanya merasa hampa. Aku kehilangan tujuan. Aku merasa letih. Aku ingin berhenti. Aku tidak mau lagi selalu mencari tantangan. Akhirnya aku sengaja membuat diriku tertangkap.

Itu adalah tantangan terakhirku. Bagaimana membuat skenario penangkapan diriku. Aku tidak mau tertangkap sebagai pencuri kecil atau pembunuh biasa. Aku harus membuat sebuah kisah penangkapan luar biasa yang akan diingat hingga beberapa generasi mendatang. Sekali lagi aku menjadi teror dan ketakutan masyarakat. Teror terakhir yang paling berkesan dari sepanjang sejarah kejahatanku.

Untuk itu aku memutuskan untuk kembali menjadi pembunuh berantai. Mayat-mayat acak di berbagai kota dengan petunjuk-petunjuk kecil yang sengaja aku sebar. Aku memberi waktu tiga tahun untuk pertunjukan terakhirku. Dan kemudian aku tertangkap sama seperti skenario yang sudah aku buat. Tidak butuh waktu lama untuk mengadiliku. Pengadilanku hanya berlangsung satu hari. Hukumanku sudah dapat aku ramalkan sejak tiga tahun sebelumnya. Aku dihukum mati dengan disalibkan.

Jadi sekarang disinilah aku berada – memandang ke bawah dari tahta kebesaran tempatku tergantung disalib. Tidak ada penyesalan. Hidupku sudah kupakai seperti yang aku suka. Kecerdasanku telah aku gunakan hingga batas akhir. Aku juga sudah meminta maaf kepada setiap korbanku – tidak secara langsung tentu saja. Tidak ada lagi kesombongan dan kebanggaan karena berhasil mengalahkan mereka semua dengan kecerdasanku. Yang ada hanyalah kekosongan. Kekosongan inilah yang membuatku tahu bahwa ini adalah sebuah akhir.

Bersamaku masih ada dua lagi yang disalib. Aku berada dipaling ujung. Masih ada dua salib lagi di sebelah kiriku. Yang tengah masih kosong, mungkin saja sedang dalam perjalanan kemari. Aku mengira-ngira, apakah aku mengenal orang yang disalibkan ditengah. Aku mengenal orang yang disalibkan paling ujung. Seorang yang bodoh dengan mulut yang lebih besar dari ukuran kepala atau bahkan otaknya. Tidak aneh jika pada akhirnya dia ditangkap karena mulutnya itu. Sekarang pun rupanya dia masih belum dapat mengecilkan mulutnya. Sungguh muak aku mendengarnya.

Sedikit memalukan bagiku untuk disandingkan bersama-sama dengan mulut besar yang bodoh ini. Aku berharap agar orang yang ditengah nanti sedikit lebih baik prestasinya. Setidaknya orang yang dapat aku hargai atau hormati.

Dari kejauhan aku dapat mendengar sorak sorai yang semakin keras. Orang-orang yang berkerumun semakin banyak. Rupanya keinginanku terkabul. Mereka semua tentu mengarak orang yang akan disalibkan di sebelahku. Pasti seorang yang hebat melihat banyaknya orang yang datang untuk melihatnya. Bahkan dengan prestasiku, yang tidak bercela dan patut kubanggakan, aku tidak dapat mengumpulkan orang banyak hingga seperti ini. Tidak sabar aku menunggu kedatangannya.

Akhirnya orang yang aku tunggu-tunggu datang. Bergidik aku melihatnya. Ketika aku ditangkap dan dipenjara, mereka memukuliku. Namun yang aku alami bukanlah siksaan jika dibandingkan dengan orang itu. Aku mungkin digambarkan sebagai penjahat yang keji dan culas. Seorang pembunuh yang haus darah. Seorang monster. Namun aku tidak pernah menyiksa korbanku seperti yang dilakukan mereka kepada orang itu. Orang itu untuk berdiri bernafas apalagi berdiri saja sudah kesulitan. Darah mengalir dari kepala dan sekujur tubuhnya. Aku berani bertaruh, orang ini pasti sudah akan tewas tanpa perlu dipatahkan kakinya.

Apakah aku mengenalnya? Menilik dari banyaknya orang yang mengaraknya, seharusnya aku mengenalnya. Aku tidak pernah melewatkan nama dan orang yang terkenal di masyarakat.

Aku memicingkan mataku untuk melihat lebih jelas. Cukup sulit untuk memastikannya. Dengan darah dan wajah yang bengkak, sangat sukar untuk membayangkan wajah aslinya. Untungnya kecerdasanku masih dapat kugunakan. Ketika indera penglihatan tidak dapat digunakan, aku dapat menggunakan metode deduksi yang lain.

Kubuka telingaku lebar-lebar mendengarkan dengungan suara dibawahku. Kutajamkan pendengaranku. Berusaha menangkap kata-kata yang memiliki arti sekaligus berusaha untuk tidak mendengarkan mulut besar bodoh dan erangan kesakitan.

“Jangan lupa untuk memasang tulisan ini!”

“Inilah Yesus Raja Orang Yahudi?[1] Tapi dia bukan raja kami!!!”

“Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang pilihan Allah.”[2]

“Jubah ini sangat bagus. Sungguh sayang jika kita potong. Mari kita mengundinya.”

“Jika Engkau adalah raja orang Yahudi, selamatkanlah diri-Mu.”[3]

Ternyata aku memang mengenalnya.

Dia BUKAN penjahat. Sekali lagi kutegaskan. Orang ini bukan penjahat. Orang-orang bodoh ini telah menangkap dan menghukum orang yang salah.

Dia adalah orang yang paling lembut dan baik hati yang pernah aku kenal. Jika aku harus memilih orang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Maka pasti Dia yang akan aku pilih. Dia juga seseorang yang aku hormati. Pengetahuannya luas. Jauh melebihi ukuran jaman. Bahkan aku mengakui kecerdasanku bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan dia.

Bagi banyak orang, Dia sedikit aneh dan tidak waras. Kata-katanya sering kali membingungkan dan tidak dapat dipahami. Dia mengaku bahwa Dia adalah Anak Allah atau Mesias. Dia seolah-olah tidak berasal dari dunia ini. Dia berasal dari masa lalu, masa kini sekaligus masa yang akan datang. Bagiku Dia tidak aneh ataupun tidak waras. Pengetahuannya tentang Taurat benar-benar tidak dapat ditandingi. Dia hafal semuannya. Bagian-bagian yang cukup sulit untukku dapat dipahaminya dengan mudah.

Sayang kecerdasannya justru memancing rasa iri orang-orang yang mengaku sebagai ahli Taurat. Mereka merasa tersaingi dan membencinya. Aku tahu mereka berulang kali mereka berusaha untuk menangkap Dia. Rupanya kali ini mereka sudah berhasil menangkapnya. Mereka bahkan berhasil menjadikannya sebagai penjahat Romawi dengan memberinya hukuman disalib. Sungguh menyedihkan melihat nasib orang cerdas yang disia-siakan dan tidak dihargai seperti Dia ini.

Ajaran-Nya sungguh bagus. Dia mengajarkan Taurat yang berbeda dari apa yang diajarkan oleh orang-orang yang mengaku ahli tersebut. Dia mengajar untuk kebenaran bukan untuk keuntungan-Nya sendiri.

Mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Mengampuni musuh. Mengasih Allah. Kasih itu adalah inti ajaran-Nya.

Jika aku tidak terlanjur membuat skenario besar penangkapan diriku, maka aku sudah pasti akan beralih menjadi murid-Nya. Aku akan mengikuti-Nya untuk terus mendengarkan ajaran-Nya. Apakah Dia masih mau menerima seorang murid pada masa-masa terakhir-Nya? Apakah masih belum terlambat untuk menjadi murid-Nya ketika nafas kami berdua hanya tinggal hitungan jam – bahkan menit.

Aku terus memperhatikannya. Dan tiba-tiba saja aku mesakan kehangatan meliputiku. Rasanya aku dapat turut merasakan kesakitannya. Erangannya ketika tangan dan kakinya dipaku ke salib membuatku bergidik. Entah apa yang membuatnya masih hidup. Dia sudah begitu menderita. Darahnya sudah begitu banyak yang mengalir – tentu tidak banyak lagi darah yang masih mengalir didalam tubuh-Nya. Nafas-Nya tinggal satu-satu. Untuk pertama kalinya aku merasakan rasa kasihan dan kesedihan. Aku tidak lagi merasakan kehampaan dan kekosongan.

Ketika salib sudah tegak didirikan, aku memperhatikan Dia erat-erat. Aku heran mengapa Dia masih hidup. Kulit tubuhnya sudah nyaris tercabik semua. Tidak ada satu pun bagian tubuh-Nya yang tidak terluka. Bagaimana mungkin Dia masih hidup? Salahkan jika aku menginginkan agar Dia cepat meninggal. Lebih mudah bagi-Nya untuk menghentikan nafas daripada terus berjuang untuk mendapatkannya.

Aku memperhatikan raut wajah-Nya dengan seksama. Dia memang kesakitan – tidak mungkin untuk tidak merasa kesakitan dengan luka-luka separah itu. Namun sungguh aneh. Tidak ada dendam atau kebencian pada sorot mata-Nya. Dia dihina, dicaci maki dan dipermalukan. Aku juga sangat yakin bahwa Dia menerima pengadilan yang sama sekali tidak adil. Dia dihukum padahal tidak bersalah. Namun masih ada kelembutan dan pengampunan pada sorot mata-Nya.

Aku bahkan dapat mendengarnya memberikan maaf kepada orang-orang yang sudah menyalibkan-Nya. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”[4]

“Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!”[5]

Si mulut besar dengan otak kecil diujung terus menerus menghina-Nya. Sungguh kesal aku mendengarnya. Akhirnya aku menegur si mulut besar karena tidak tahan.

“Tidakkah engkau takut,  juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.”[6]

Dan kemudian aku berkata kepada-Nya, “Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.”[7]

Dia balik menatapku dengan susah payah. Sejenak kesakitan hilang dari raut wajah-Nya. Dia tampak bercahaya dan agung. Luka-luka-Nya hilang. Diwajah-Nya tersungging sebuah senyum yang lembut dan penuh dengan sukacita.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus”[8], jawab-Nya kepadaku.

Jika saja kami berdua tidak terikat ketiang salib ini, aku pasti sudah menghambur kepada-Nya. Banyak yang ingin aku ceritakan. Dan terutama aku ingin meminta maaf untuk apa yang sudah aku lakukan. Dia tidak pernah menjadi korbanku, tapi aku tahu bahwa pengampunan dari Dia adalah yang terpenting.

Tiba-tiba kegelapan meliputi tempat ini. Sejauh mataku memandang dari tempatku bertahta disalib hanya ada kegelapan. Rasanya seperti malam tiba-tiba turun. Padahal seharusnya sekarang baru tengah hari.

Suara-suara dibawah sana seketika berhenti. Aku dapat merasakan kepanikan dan ketakutan tiba-tiba menyerang sebagian besar orang yang berkumpul di bawah salib. Beberapa prajurit mulai menyalakan obor untuk penerangan. Beberapa penonton mulai meninggalkan tempat ini karena takut. Kemudian setelah tempat ini diterangi oleh obor, orang-orang itu mulai kembali mengejek kami, terutama Dia.

Cukup lama juga kegelapan itu menyelimuti kami.  Jika hitunganku tepat. Kira-kira tiga jam kegelapan itu datang. Sama seperti datangnya, kegelapan tiba-tiba berlalu dari tempat ini. Kemudian aku merasa tanah dibawahku berguncang. Gempa Bumi. Orang-orang banyak yang berteriak ketakutan. Semakin banyak yang meninggalkan tempat ini.

Apakah gempa bumi dapat merobohkan salib-salib ini? Sungguh susah untuk menjaga keseimbangan jika kedua kaki tidak berpijak pada bumi. Aku memikirkan Dia yang disalibkan disebelahku. Gempa ini tentu semakin menyakitkan bagi tubuh-Nya.

 “Sudah selesai.”[9]

Aku tahu Dia telah meninggal setelah mengucapkan dua kata terakhir itu. Rasanya seolah aku dapat mendengar ketika nafas terakhir meninggalkan tubuh-Nya. Akhirnya Dia sudah tidak lagi merasakan kesakitan. Sungguh sesuatu yang melegakan.

Gempa berhenti. Langit dan bumi telah selesai menyatakan kesedihan mereka untuk meninggal-Nya sang Raja.

Saat terakhirku juga sudah tidak lama lagi. Aku sudah siap. Tidak lama kemudian para prajurit datang dan mematahkan kakiku dan si mulut besar. Ketika itu barulah mereka menyadari bahwa Dia sudah meninggal dan tidak jadi mematahkan kaki-Nya. Mereka hanya menusuk perut-Nya untuk meyakinkan bahwa Dia sungguh sudah meninggal.

Hidupku diawali sebagai suatu peristiwa yang biasa saja. Aku menjalani hidupku secara istimewa. Namun yang paling luar biasa adalah bagaimana aku mengakhiri hidupku. Aku tidak takut pada kematian. Aku justru bangga menghadapinya. Aku mati pada hari yang sama dengan Dia yang aku hormati. Pada saat-saat terakhir, aku telah mendapatkan sesuatu yang selalu kucari-cari seumur hidupku namun tidak kusadari. Aku memahami apa yang menjadi penyebab hidupku terasa hampa dan kosong. Aku mendapatkan anugerah dari Dia yang disalibkan disebelah-Ku. Aku mendapatkan keselamatan.

— Selesai —


[1] Matius 27 : 37

[2] Lukas 23 : 35

[3] Lukas 23 : 37

[4] Lukas 23 : 34

[5] Lukas 23 : 39

[6] Lukas 23 : 40-41

[7] Lukas 23 : 42

[8] Lukas 23 : 43

[9] Yohanes 19 :30

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s