Kista dan Operasi

Semuanya diawali dari tidak bisa kentut.

Selama dua tahun sejak 2010 beberapa kali aku mengalami perut kembung dan tidak bisa kentut. Rasanya tidak enak. Berdiri salah. Duduk salah. Berbaring juga tidak enak. Yang kumau adalah kentut besar dengan suara nyaring untuk mengeluarkan semua gas di perut.

Jika gejala ini dapat disebut serangan. Maka seiringnya dengan berlalunya waktu, serangan semakin sering dan semakin lama. Perut bagian bawah kencang dan terasa kembung. Sakit dan tidak enak. Jika sudah merasakan usus bergerak dan mulai kentut, barulah terasa lega. Serangan mereda dengan sendirinya sama seperti datangnya yang tiba-tiba.

Dengan cita-cita untuk menjadi dokter yang masih belum hilang, aku melakukan browsing dan tidak pergi ke dokter. Sisi sok tahu dan sok pintar menyimpulkan aku terkena IBS alias irressitible bowl syndrome. Wikipedia, tempat pendidikan terbaikku, turut membantu memberikan petunjuk yang mengarahkan kepada kesalahan. Yakin tidak ada obat untuk menyembuhkannya, aku semakin tidak mau ke dokter. Aku menutupinya dari keluargaku. Biasanya jika sudah terlalu sakit, aku hanya minum aspirin dan sakit akan mereda dengan sendirinya.

Hingga akhirnya pada suatu pagi Oktober 2011 aku mendapat serangan yang parah. Rasa sakit tidak kunjung mereda walaupun aku sudah meminum aspirin. Aku merasa sangat lemas dan tidak bertenaga. Akhirnya aku tidak masuk kerja dan hanya tiduran saja. Tidak bertenaga. Perut terasa kembung. Perut bagian bawah terasa kencang. Rasanya juga seperti sakit maag.

Papa yang panik segera membawaku ke dokter. Apa daya, sesampai di rumah sakit, antrian untuk dokter langganan sangat panjang sekali. Malas untuk menunggu dan aku yang sudah sangat lemas, akhirnya kami berganti dokter. Aku menceritakan gejalaku.

“Kembung, banyak gas. Perut bagian bawah kencang dan tidak enak”, kataku

“Waduh!! Perut bagian bawah itu kandungan atau ginjal.”

Dokter itu memeriksa. Bukan usus buntu. Bukan maag.

Segera aku disuruh tes darah dan urin.

Dokter gila – pencari keuntungan. Begitu batinku.

Satu jam kemudian hasil tes keluar dan semua bagus. Aku langsung dialihkan ke dokter kandungan.

Walaupun kesal dan yakin bahwa dokter itu salah, anehnya aku dan papa menurut saja dan mendaftarkan ke bagian kandungan.

Untuk pertama kalinya aku di usg.

“Lihat! Ini ada kista. Sudah besar seukuran tinju orang dewasa. Nempel di indung telur kiri. Ini rahim – normal.”

Selesai di usg, dokter kandungan memberi vonis.

“Sebaiknya dioperasi. Mungkin kista itu yang menyebabkan sakit.”

Tetap saja kami tidak percaya. Resep obat tidak ditebus. Aku hanya meminum obat maag biasa. Menjelang sore sakit mereda walaupun masih terasa lemas.

Namun untuk meyakinkan, mama mendaftarkan pada dokter kandungan langganan, alias Endi Moegni, yang sudah sangat dipercaya mama. Antrian dokter itu panjang. Daftar tunggunya adalah 1 bulan.

Ketika saatnya untuk ke dokter Endi, aku sudah sehat sepenuhnya. Serangan terasa seperti hanya sebuah kisah pada novel dan tidak nyata. Aku datang ke dokter seorang diri. Tujuanku adalah untuk memastikan kesalahan diagnosa satu bulan lalu.

Selalu ada saat pertama untuk segalanya.

Hari itu, ketika aku mengunjungi dokter Endi, aku mendapatkan 2 kejutan.

Kejutan pertama walaupun seram tapi dapat aku terima. Kista itu memang ada. Seukuran 6 cm – sebesar jeruk. Dokter pendiam dan hanya berkata seperlunya, mengetok palu dan memberikan vonis. Tidak ada penjelasan. Tidak ada hiburan. Sebaiknya dioperasi. Silahkan menjadwalkan operasi.

Aku tidak banyak bertanya-tanya mengenai detail operasi karena saat itu aku sudah terlalu shock dengan kejutan kedua.

Hal yang baru pertama kalinya aku alami dan terasa sangat menakutkan.

Aku mengira karena aku belum menikah, maka pemeriksaan hanya dengan usg. Ternyata aku salah besar.

Hari itu adalah pertama kalinya aku separuh porno aksi didepan orang. Tidak pernah aku membuka separuh pakaian di depan orang.

Selain itu aku disodomi. Duduk di tahta kebesaran dokter kandungan, aku “dianiaya”. Tidak berani aku memperhatikan ukuran  alat penyodomi.

Rasanya sangat tidak enak. Aku harus melawan insting alami untuk pub ketika merasakan ada benda asing di dubur. Detik-detik terasa lambat sekali berlalu.  Dubur terasa sakit setelah sakit. Heran, mengapa ada suka mengalaminya? Pelaku sodomi benar-benar harus dihukum berat. Efek samping “sodomi” yang aku rasakan adalah pub menjadi semakin sering. Padahal sedikit nyeri ketika pub setelah sodomi.

Shock karena sodomi ternyata tidak mudah hilang. Pulang ke rumah aku hanya mengatakan mau dioperasi dan kemudian tidur lama.

Sejak hari itu, papa dan mama sibuk mencari informasi, mengunjungi kembali dokter Endi untuk konfirmasi, mendaftarkan operasi. Sungguh, terima kasih Tuhan, untuk papa dan mama yang Engkau berikan kepadaku.

Aku bertanya-tanya pada Tuhan, bagaimana aku melalui semua? Dari-Nya aku mendapat jawaban bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku tidak perlu khawatir atau takut,

Sebelum operasi, harus ada tes darah (sebanyak 4 tabung), rongent, dan tes pembekuan darah. Setelah semua hasil keluar barulah menghitung hari baik untuk operasi.

Operasi dijadwalkan tanggal 1 Desember, hari Jumat pukul 6 pagi di YPK Menteng. Dan untuk operasi ini, aku akan dibius total.

H-1, cuti kantor dimulai.

Pagi hari aku kembali mendapat serangan. Badan terasa lemas dan tidak berani meminum aspirin. Tidak ingin membuat panik, aku tidak menceritakan serangan tersebut. Untungnya orang rumah mengira aku lemas karena mau operasi.

Hari itu, sengaja aku menyempatkan diri ke salon untuk memotong rambut. Rambut pendek lebih praktis daripada rambut panjang. Kemudian malam hari barulah aku masuk ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, suster memberitahukan bahwa karena operasi perut maka isi perut harus dikuras dan puasa. Aku diberi susu dan obat maag. Dan kemudian barulah mulai dicuci perut.

Mamaku pernah menceritakan bahwa kuras perut dilakukan dengan memasukkan obat ke dalam dubur. Ternyata apa yang aku alami berbeda. Kuras perut dilakukan dengan meminum garam inggris.  

Hasilnya adalah aku tidak tidur semalaman. Bolak balik ke kamar mandi. Perut bergejolak. Aku menghabiskan waktu lebih banyak di kamar mandi daripada ditempat tidur.

Pada hari H.

Aku sudah benar-benar lemas karena tidak tidur dan efek garam inggris. Aku tidak yakin perutku sudah terkuras sepenuhnya. Dalam hati aku bertanya apakah aku sanggup? Aku takut dan cemas. Jaminan dari Tuhan terasa aneh dengan kondisiku yang sangat lemas.

Pukul 4 pagi, suster mulai “membangunkan” menyuruhku mandi. Seusai mandi, suster memasang infus dan menyuntikan antibiotik melalui infus.

Setelah itu aku semakin cemas. Efek garam inggris masih ada. Perutku masih bergejolak. Aku takut jika aku tidak dapat menahan pub. Aku juga takut dengan suntikan bius yang katanya dilakukan dari punggung. Aku takut dengan rasa sakit setelah operasi. Aku takut jika aku ternyata sadar dan kebal obat bius seperti pada film “awake”. Tubuhku gemetar,

Hanya satu yang berhasil menenangkan. Jaminan yang aku dapat dari Allahku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Allahku akan ada bersama denganku sepanjang waktu. Akhirnya aku hanya pasrah.

Masuk ruang operasi dengan didorong di atas kursi roda. Aku sedikit menggigil.

Ruang operasi sungguh berbeda dengan bayanganku. Bukan meja datar yang menantiku, tetapi meja seperti untuk orang melahirkan. Seungguk kain penuh darah masih tergeletak di ataslantai belum dibersihkan. Dokter bius dan dokter Nadir yang akan mendampingi dokter Endi berbincang-bincang.

Suster menyiapkanku seperti hewan sembelihan. Aku berbaring. Telanjang. Kaki terentang lebar. Tangan diikat dikedua sisi tubuh. Kemudian dokter Endi masuk. Obat bius disuntikan melalui infus. Dan aku tidur.

Ketika aku sadar. Aku mendengar orang-orang berbicara disekitarku. Aku disuruh untuk membuka mata dan aku melihat terang. Aku tahu suster membersihkanku.  Kemudian aku panik. Aku tidak bisa bernafas. Aku tersengal-sengal cukup lama. Hingga aku kembali disuntikan penawar sakit karena mereka mengira aku kesakitan. Aku ingin berkata aku tidak bisa bernafas tapi tidak bisa. Dan aku juga muntah.

Perlahan-lahan pikiranku bekerja. Selama dioperasi, aku dipakaikan selang ke mulut dan bernafas dengan selang. Ketika selang dicabut, aku terkejut dan tidak bisa bernafas kembali secara normal. Butuh beberapa saat untuk mengembalikan cara bernafas.

Kemudian entah bagaimana aku sudah dipindahkan ke ruang pemulihan dan kembali tertidur.

Aku tidur selama 6 jam. Tidur. Terbangun. Tidur. Terbangun.

Papa dan kakak menjenguku. Dan aku tetap tidur. Tidak dapat banyak bercakap-cakap.

Di ruang pemulihan, aku diminta untuk miring ke kiri dan ke kanan agar cepat sembuh. Suster-suster jaga dan penuh perhatian. Selimut pemanas diangkat setelah aku kepanasan.

Setelah makan siang, aku dikembalikan ke kamar. Saat itu, aku baru menyadari bahwa aku dipasangi kateter dan sudah ada 3 luka diperut. Aku kembali tidur.

Menjelang sore barulah aku mulai agak pulih. Aku sangat haus. Aku ingin minum air. Tapi ternyata aku harus menunggu kentut.  Kembali aku merasa cemas. Bagaimana jika kentut tidak kunjung datang. Pada saat seperti itu, Jaminan Tuhan kembali menenangkanku. Semua akan baik-baik saja.

Sore hari, kira-kira pukul 5 aku kentut. Datang secara tiba-tiba. Aku terkejut dan merasa tidak yakin. Dan aku berdoa. Tolong beri kentut kedua agar aku yakin. Tidak lama kemudian, kentut kedua datang dan lebih meyakinkan dari yang pertama. Terima kasih Yesus.

Aku boleh minum walaupun masih sedikit-sedikit. Mungkin karena efek obat bius masih ada, aku lebih banyak tidur.

Janji Allah sungguh benar. Aku tidak merasa sakit sedikit pun.

H+1 kateter dicabut dan aku belajar jalan. Pinggang pegal karena terlalu lama berbaring. Aku ingin mandi dan keramas. Dokter memberitahu, bahwa kista juga ada di indung telur kanan, tapi kecil. Ia juga sudah membersihkan kista itu.

H+2, aku keluar dari rumah sakit. Total biaya 30 juta. Perjalanan pulang terasa panjang. Isi perutku seperti mengapung. Sedikit tidak enak.

Di rumah adalah masa pemulihan. Akhirnya aku bisa mandi dan keramas. Tidak naik turun tangga selama 3 hari. Dan banyak beristirahat. Sayang aku jadi sakit pinggang karena banyak berbaring dan kurang gerak. Efek samping operasi adalah perut yang membesar. Perutku baru kempes setelah 3 minggu dan diberi obat untuk bengkak.

Jaminan Tuhan sungguh nyata. Indung telurku tidak diangkat. Aku tidak merasa sakit dan nyeri. Padahal aku sudah tidak meminum penghilang nyeri. Luka bekas operasi juga tidak sakit padahal belum terlalu kering ketika pertama kali dibuka. Hanya sekali-kali nyeri jika aku bersin. Terima kasih Yesus. Halelujah.

Sekarang, empat bulan kemudian, aku sudah pulih. Dan dapat beraktifitas normal.

Serangan tidak pernah lagi kualami. Haid tidak pernah sakit dan sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Aku masih melakukan kontrol. Dan masih disodomi setiap kontrol. Mungkin pada akhirnya aku akan terbiasa dengan dokter yang mensodomi.

Terima kasih Yesus Tuhan. Berkatmu sungguh melimpah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s