Tiga Hadiah Di Bawah Kaki Salib

 

Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga yang hanya berbelanja kebutuhan dapur sebulan sekali ke supermarket.

Kakakku baru saja melahirkan dan sedang terkena masa tahanan rumah selama empat puluh hari. Aku menyebutnya tahanan rumah karena berdasarkan adat kakakku dilarang untuk keluar rumah sama sekali.

Aku sendiri sangat diberkati dengan mendapatkan tempat kerja yang sangat strategis.  Terletak di kawasan segitiga emas Jakarta dengan berbagai kemudahan dan pilihan transportasi dari dan ke berbagai penjuru Jakarta. Gedung kantorku sendiri memiliki beberapa nilai lebih. Tiga bank besar membuka cabang di gedung kantor ini. Sebuah supermarket besar terletak di basementnya. Seolah-olah itu belum cukup, empat tempat berbelanja mengelilingi gedung kantorku.

Namun karena berbagai keunggulan tersebutlah, akhirnya aku sering kali mendapat tugas tambahan sebagai “asisten” rumah tangga ibu dan kakakku. Jika ada barang yang mendadak habis atau barang tertentu yang sulit didapat, sudah menjadi tugasku untuk pergi mencarinya di supermarket di bawah kantor atau di tempat berbelanja di dekat kantor. Jika perlu uang atau membayar kartu kredit, maka aku akan dimintai tolong untuk ke ATM.

“Tolong belikan mama molto yang warna biru. Kemarin mama tidak dapat menemukannya di Carrefour.”

“Tolong ambilkan uang di ATM.”

“Yakult habis.”

“Tolong bayarkan kartu kredit.”

“Tolong carikan botol air panas.”

“Tolong print buku bank.”

Rasanya daftar tugas itu tidak pernah berakhir. Selalu ada yang baru setiap minggu.

Tidak masalah jika pekerjaanku sedang tidak sibuk. Aku dapat berbelanja atau ke bank ketika makan siang atau sepulang kantor.

Namun jika pekerjaanku penuh, kerap kali aku memotong istirahat makan siangku bahkan pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk. Jika sudah seperti itu, maka aku kerap tidak sempat atau terlalu letih untuk berbelanja atau ke ATM. Terkadang juga, aku diminta untuk menemui client di daerah Cengkareng jadi aku benar-benar tidak sempat untuk memenuhi permintaan ibu dan kakakku.

Biasanya aku akan menjelaskan bahwa aku sibuk dan aku baru dapat memenuhi permintaan mereka pada hari tertentu. Aku mengharapkan mereka untuk memaklumi jadwalku.

Namun ternyata aku salah.

Entah karena aku yang lupa menjelaskan, atau aku yang terburu-buru menginformasikan. Atau bisa juga karena ibu atau kakakku yang tidak mencerna kata-kataku dengan benar.

Suatu kali, aku merasa sudah menjelaskan bahwa karena aku akan berada di Cengkareng selama beberapa hari, aku baru dapat membantu mereka lusa. Namun aku merasa bahwa mereka berdua menyalahkanku karena terlambat memenuhi permintaan mereka. Mereka marah dan kesal karena keterlambatanku. Aku merasa bahwa mereka berdua tidak memahami dan hanya mementingkan kepentingan mereka saja.

Aku lelah.  

Aku merasa tidak dihargai.

Aku ingin berteriak di hadapan mereka.

Aku ingin berhenti.

Aku marah.

Aku telah membantu mereka berkali-kali dan hanya untuk keterlambatan satu kali ini, mereka menjadi tidak puas denganku.

Dalam kemarahanku, aku hanya ingat untuk melakukan satu hal yang menjadi rutinitasku setiap pagi. Berdoa pagi sebelum berangkat bekerja.

Doaku di pagi hari itu hanya berisi semua keluh kesah dan ketidakpuasanku. Dalam hati kecilku, aku tahu, semua kemarahan dan kelelahanku ini salah. Aku hanya merasakan semuanya itu karena beban pekerjaan yang sedang bertumpuk. Aku sadar keluh kesah dan ketidakpuasanku adalah sepihak dan egois. Ibu dan kakakku tidak menyalahkanku, hanya aku yang terlalu sensitif menanggapinya.

Mulut, perasaan, pikiran dan hati kecilku tidaklah berjalan selaras. Hati kecilku menyadari keluh kesah dan ketidakpuasanku sama sekali tidak berdasar. Namun mulut, pikiran dan perasaanku tidak berkata sama. Aku tetap merasa marah dan kesal. Kukeluarkan semua uneg-unegku kepada Tuhan.

Dia yang kuajak bicara hanya diam saja.

Namun diakhir doaku, aku mendengar Dia berkata.

“Anakku, lihatlah ke kaki salib.”

Aku membuka mata dan segera kulihat ada empat hadiah terletak dikaki salib yang kuletakkan di atas tempat tidur.

Kuambil hadiah pertama. Hadiah sederhana dengan pembungkus berwarana keemasan polos tanpa motif. Aku membukanya. Didalamnya terdapat sebuah kotak kecil seperti tempat cincin.  Wangi lembut yang mewah merebak keluar kotak itu ketika aku membuka tutup kotak tersebut.

Sebuah suara pria yang berat namun lembut menggema dikepalaku. Suara dengan aksen asing yang lambat. Suara tersebut menuturkan sebuah kisah kepadaku.

“Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri,

karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah

Allah menyuruh aku mendahului kamu.”

                                                   Kejadian 45:5

Anakku, aku mengirimkan hadiah ini atas permintaan seorang sahabat baik. Ia memintaku untuk menceritakan kisahku kepadamu. Sebenarnya kisah ini pasti sudah tidak asing lagi bagimu. Kisah-kisahku pastilah sudah sering kali kamu dengar atau baca. Namun kisah-kisah tersebut disampaikan hanya sebagai sebuah kisah dari sudut pandang orang ketiga. Apa yang aku rasakan atau pikirkan sama sekali tidak pernah dituliskan didalamnya. Setiap pembaca kisahku harus menebak-nebak dan membayangkan apa yang aku rasakan atau pikirkan.

Namaku Yusuf putra Yakub. Aku adalah ayah dari dua orang putra bernama Manasye dan Efraim. Aku juga seorang pemimpi. Hal yang paling sering aku impikan adalah aku menjadi seorang pemimpin, dimana saudara-saudaraku dan bahkan ayahku akan tunduk menghormatiku. Bangsa-bangsa akan tunduk kepadaku.

Mimpi-mimpi tersebut membuatku menjadi aneh dan tidak disukai oleh keluarga dan teman-temanku. Mereka menyebutku pengkhayal dan sering kali menasihatiku bahwa mimpi adalah sesuatu yang sia-sia.  Mimpi adalah sesuatu yang dapat membuatku menjadi pemalas demikian menurut mereka. Ayahku sering kali menasihati bahkan memarahiku karena mimpi-mimpi yang aku ceritakan kepadanya.

Namun mimpi-mimpi itu juga yang membuatku dapat bertahan dan melalui semua peristiwa buruk dalam hidupku. Mimpi-mimpi membantuku melihat lebih dari penderitaan dan kesusahanku. Mimpi-mimpi tersebut membawaku keluar dari kesulitan dan menemukan kegembiraan bahkan dalam situasi yang paling sulit sekalipun.

Ketika aku dijual oleh saudara-saudaraku ke para pedagang dari tempat yang jauh, aku sungguh merasa takut dan sedih. Aku menangis, aku menjerit, aku bahkan memohon-mohon dan merengek kepada mereka untuk mengampuni dan membebaskanku. Namun saudara-saudaraku tidak peduli. Mereka tetap membiarkanku dibawa oleh para pedagang tersebut.

Sepanjang perjalanan aku hanya dapat menangis hingga aku tidak dapat menangis lagi.  Aku menangisi nasibku. Aku menangisi rumah dan semua kenyamanan yang sekarang hanya menjadi kenangan. Aku menangisi ayah dan adikku. Aku menangisi saudara-saudaraku. Aku kecewa dengan saudara-saudaraku. Bagaimana mungkin mereka begitu tega untuk menjualku. Apa yang telah aku lakukan sehingga mereka melakukan hal kejam ini? Aku hanya mengunjungi mereka yang sedang menggembalakan ternak kami. Bukankah kami semua adalah saudara satu ayah? Aku terus menerus memikirkan bagaimana aku akan membalas kelakuan saudara-saudaraku nanti.

Aku juga merasa sangat putus asa. Aku cemas memikirkan apa yang akan kuhadapi ditempatku yang baru nanti. Aku takut untuk membayangkannya. Selain itu aku juga mencemaskan ayahku. Kebohongan apa yang akan diceritakan oleh saudara-saudaraku kepada ayah? Bagaimana ayahku dapat menerima kehilangan diriku. Dengan sedikit sombong, aku tahu, bahwa akulah anak kesayangan ayah karena aku adalah anak sulung dari istri yang paling dicintai ayahku. Anak yang kelahirannya sangat dinantikan oleh ayahku. Aku juga mencemaskan adikku. Siapa yang akan menjaga dan melindunginya? Apakah saudara-saudaraku juga akan menjual dia seperti aku? Hanya Tuhan Allah yang dapat menjaga mereka sekarang.

Pada suatu titik di perjalanan tersebut, ketika aku sudah muak dengan udara kering, pasir dan badai gurun, aku menyadari. Aku tidak dapat terus menerus merasa putus asa dan bersedih. Ini bukanlah mimpi-mimpiku. Tuhan Allah tidak akan memberikan mimpi-mimpi indah kepadaku jika aku berputusasa dan bersedih. Dalam mimpi-mimpiku aku adalah seorang pemimpin, bukan budak. Mungkin keadaan itu tampak tidak mungkin  terjadi mengingat kondisiku saat itu. Terikat sebagai budak dalam perjalanan kembali bersama dengan para saudagar yang membeliku. Namun aku yakin Tuhan Allah tidak pernah keliru memberi mimpi kepadaku. Yang dapat aku lakukan adalah bersabar dan berusaha sebisaku untuk tetap patuh kepada Tuhan Allah yang memberikan mimpi-mimpi itu kepadaku. Aku nulai meletakkan fokus pada mimpi-mimpiku. Anehnya dengan hanya memikirkan mimpi-mimpiku, perlahan-lahan aku dapat memaafkan saudara-saudaraku. Aku justru merasa kasihan terhadap mereka. Aku yakin mereka pasti menghadapi bertahun-tahun dalam penyesalan sampai pada hari ketika kami semua akan bertemu kembali.

Aku berhasil bertahan dan melawan ketakutanku karena mimpi-mimpiku. Mimpi-mimpi yang terus menerus diberikan oleh Tuhan Allah, Tuhan yang disembah oleh ayah, kakek, dan kakek buyutku. Aku tidak lagi merasa putus asa. Aku masih bersedih jika memikirkan ayah dan adikku. Seperti apakah keadaan mereka sekarang. Tentunya adikku sudah tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ayahku kubayangkan sudah beruban dengan wajah yang mulai berkerut dan tubuh yang mulai sedikit membungkuk.

Hari-hariku berlalu dengan cepat. Dengan mudah aku dapat beradaptasi dan mempelajari bahasa dan adat mereka. Aku berusaha sebaiknya untuk menyelesaikan setiap pekerjaan yang ditugaskan kepadaku. Namun hanya satu yang tidak aku pelajari. Aku tidak pernah mempelajari dewa-dewa mereka. Tuhan Allahku tetap tidak tergantikan. Aku selalu mentaati setiap perintah-Nya seperti yang diajarkan oleh ayahku. Jika aku lupa, tidak malu aku menanyakannya langsung keoada Tuhan Allah. Tiba-tiba saja aku sudah menjadi kepala pelayan salah seorang pejabat penting. Aku sudah bukan lagi seorang budak rendah.

Sayangnya ketika aku merasa bahwa situasiku sudah terkendali dan nyaman. Ketika aku sudah mulai terbiasa dengan keadaanku, nasib buruk kembali menimpaku. Aku difitnah oleh istri majikanku dan tidak memiliki kesempaan untuk membela diri. Kemudian aku dijebloskan ke dalam penjara. Sebuah tempat yang sangat menyeramkan berdasarkan cerita yang sering kudengar. Tidak ada hukum di sana. Disana adalah tempat penjahat-penjahat dikurung. Aku kembali ketakutan dan merasa putus asa.

Menghadapi kehidupan penjara yang suram dan menakutkan, aku kembali diselamatkan oleh mimpi-mimpi yang diberikan oleh Tuhan Allah. Aku bermimpi bahwa aku duduk seperjamuan dengan Firaun – penguasa tertinggi negeri yang kutinggali. Dalam mimpiku aku mengenakan pakaian yang mewah. Orang-orang melayaniku.

Dibutuhkan waktu bertahun-tahun di penjara untuk melihat mimpi yang diberikan oleh Tuhan Allah menjadi kenyataan. Selama dipenjara, aku tetap menjaga semua yang dapat kukerjakan agar aku tidak melenceng dari Tuhan Allah.

Suatu ketika, Tuhan Allah menuntunku untuk menafsir mimpi dua orang bekas pelayan Firaun yang juga dijebloskan ke penjara. Saat itu, aku mengira bahwa masa-masaku di penjara akan segera berakhir. Salah satu pelayan Firaun dibebaskan sesuai dengan penjelasanku kepadanya. Aku sudah menitipkan kasusku kepadanya ketika ia bebas nanti. Namun hari berganti menjadi bulan. Bulan kemudian menjadi tahun. Aku tetap dipenjara, harapanku untuk bebas kembali sirna. Aku sadar, Tuhan Allah belum merencanakanku untuk bebas dari penjara. Masih ada yang harus kukerjakan di penjara. Mimpi-mimpiku tetap menjadi fokusku agar tidak merasa kecewa atau putus asa. Mimpi-mimpi itu adalah sumber sukacita dan penghiburanku di penjara.  

 Pada akhirnya mimpi juga yang telah membebaskanku. Firaun bermimpi dan hanya aku seorang yang dapat mengartikannya. Aku dibebeaskan dari penjara dan diberi kedudukan yang bahkan lebih tinggi lagi dari sebelum aku dipenjara. Kedudukan yang tidak mungkin dicapai oleh orang sepertiku. Pangkat dan kedudukan yang selalu dikatakan orang lain hanya dapat dicapai didalam mimpi. Berkat cara kerja Tuhan Allah yang ajaib aku berhasil mimpi tersebut. Aku menjadi orang kepercayaan Firaun dan duduk seperjamuan dengannya.

Tuhan Allah telah memakai mimpi-mimpi untuk menuntun, menghibur dan mendidikku sepanjang hidupku. Dengan mimpi aku dapat memaafkan saudara-saudaraku. Dengan mimpi aku dapat melalui peristiwa buruk yang sungguh tidak adil bagiku. Dengan mimpi aku dapat melihat sisi indah dari setiap hal buruk yang aku alami.

Anakku, aku tidak tahu apa yang sudah kamu alami, aku hanya dapat menebaknya. Aku menebak bahwa kamu pasti sedang merasa diperlakukan tidak adil. Seluruh dunia menyudutkanmu. Percayalah Tuhan Allah tahu dan peduli. Kamu dapat menemukan keadilan pada-Nya. Mungkin kamu sepertiku, menjadi bagian dari sebuah rencana yang lebih besar. Tidak dalam waktu yang pendek. Terkadang dibutuhkan bertahun-tahun untuk membuktikan keadilan Tuhan Allah. Yang diperlukan adalah sedikit kesabaran dan sedikit mimpi.

Sebelum aku mengakhiri kisahku, ada sebuah pesan dari Tuhan Allah. Ia memintamu untuk membuka kado berikutnya pada perjalananmu ke kantor nanti.  

“Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut

dan berbantah-bantahan.”

Filipi 2:14

 

Aku bagaikan tersadar dari sebuah mimpi yang panjang. Kotak kecil raib dari tanganku. Hanya tersisa dua hadiah di kaki salib. Walau begitu, aku yakin, apa yang aku alami bukan mimpi. Aku masih dapat mencium wangi lembut mewah yang membekas di kamar tidurku.

Aku merasakan secara langsung apa yang dirasakan oleh Yusuf ketika ia menuturkan kisahnya. Aku merasakan kesedihannya. Aku merasakan keputusasaannya. Namun di balik semuanya itu, aku merasakan bagaimana ia mempercayai rencana dan janji Tuhan yang tidak pernah meleset. Aku merasakan kesetiaan Yusuf kepada Tuhan Allah yang disembahnya. Aku merasakan kasih Tuhan Allah yang sangat besar kepada Yusuf. Air mata mengalir dipipiku.

Melalui Yusuf, Tuhan telah menyampaikan kepadaku. Ia peduli kepadaku. Ia menghiburku. Apa yang aku kerjakan tidak sia-sia.

Bergegas aku bersiap untuk ke tempat kerja. Tidak sabar rasanya menantikan untuk membuka hadiah kedua sepanjang perjalanan nanti.

Di dalam mobil, segera saja aku membuka hadiah kedua.  Bentuk dan ukurannya sana dengan hadiah pertama. Hanya saja kertas membungkusnya berwarna hijau padang rumput yang segar. Wangi padang rumput yang segar sehabis hujan merebak memenuhi mobilku. Aku serasa dapat mendengar suara domba dan kambing yang asyik mencari makan di padang rumput.  

Kali ini suara yang kudengar adalah suara pria yang keras dan bersemangat dengan aksen cepat yang berirama. Aku dapat merasakan kewibawaan dalam suaranya. Pria ini pasti seorang pemimpin besar tebakku seketika. Siapakah dia? Aku mulai bertanya-tanya.

“Oleh sebab kamu telah berubah setia terhadap Aku di tengah-tengah orang Israel,

dekat mata air Meriba di Kadesh di padang gurun Zin,

dan oleh karena kamu telah tidak menghormati kekudusan-Ku

di tengah-tengah orang Isael.

Engkau boleh melihat negeri itu terbentang di depanmu,

tetapi tidak boleh masuk ke sana, ke negeri yang Kuberikan kepada orang Isarel.”

Ulangan 32:51-52

Anakku, aku tidak pandai berbicara apalagi berbas-basi. Setiap orang tahu, aku lebih sering menyerahkan urusan berbicara kepada saudaraku Harun.

Seperti yang kamu ketahui, namaku adalah Musa, seorang Israel. Aku dikenal sebagai orang yang membebaskan bangsa Israel dari perbudakan selama bertahun-tahun di Mesir. Aku tidak mau menghabiskan waktumu dengan menceritakan kisahku secara lengkap. Kamu pasti sudah sering kali membaca,  mendengar, atau bahkan menonton kisahku hingga bosan.

Aku hanya ingin membagi satu pengalamanku yang paling berharga. Kegagalanku untuk masuk ke tanah terjanji. Yosua, penerusku, yang akan menggantikanku membawa bangsa Israel masuk ke tanah yang sudah dijanjikan Tuhan Allah.

Ketika Tuhan Allah memberitahuku bahwa aku tidak boleh masuk ke tempat perjanjian, aku merasa sedikit kecewa. Apa artinya susah payahku selama bertahun-tahun jika tidak dapat memasuki tempat yang sudah dijanjikan Tuhan Allah. Rasanya seperti berlomba namun tidak pernah mencapai garis finish. Namun aku terhibur karena aku masih diperkenankan untuk melihatnya dari kejauhan. Aku tahu bahwa aku sungguh pantas untuk menerima keputasan tersebut. Sebuah keputusan yang sangat adil dari Tuhan Allah. Aku sadar akan kesalahanku. Aku tidak taat kepada perintah yang sudah diberikan Tuhan Allah kepadaku.  

Mengapakah aku tidak taat?

Aku tidak mau menyalahkan bangsa Israel. Namun ada baiknya kamu memahami bangsa Israel yang aku hadapi saat itu. Ini bukanlah pembelaanku. Aku sudah disiapkan Tuhan Allah untuk menghadapi mereka.

Aku tidak pernah bangsa yang begitu keras kepala selain bangsa Israel. Terkadang aku bahkan yakin mereka lebih keras kepala daripada Firaun yang kini tenggelam di Laut Merah. Dibutuhkan sepuluh tulah untuk membebaskan bangsa Israel dari Mesir. Namun dibutuhkan waktu empat puluh tahun mengembara di padang gurun untuk sampai ke tanah perjanjian. Padahal aku tahu, seharusnya tidak dibutuhkan waktu selama itu untuk mencapai tanah perjanjian.

Bangsa Israel adalah bangsa yang gemar menggerutu. Mereka berkeluh kesah terhadap setiap ketidaknyamanan yang ada. Cuaca gurun yang terik. Badai gurun. Pasir. Daging. Banyak dari mereka yang ingin kembali ke Mesir dan merasa bahwa kehidupan terjajah disana lebih nyaman daripada kemerdekaan dalam pengembaraan di padang gurun. Mereka kerap kali menyalahkanku karena membawa mereka ke padang gurun.

Bangsa Israel juga merupakan bangsa pemberontak. Entah sudah berapa kali mereka berusaha untuk menggulingkanku. Yang lebih parah adalah mereka juga kerap kali mengingkari Tuhan Allah yang sudah dengan setia menjaga mereka sejak dari tanah Mesir. Mereka pernah menyembah lembu emas. Hal terbodoh yang pernah aku saksikan. Maksudku, lembu hidup saja tidak dapat melakukan apa-apa selain makan rumput. Dagingnya bagus untuk persembahan atau makan satu keluarga. Lembu tidak dapat melakukan mujizat seperti kesepuluh tulah atau membelah laut Merah. Lembu tidak dapat menurunkan manna dari langit. Dan hingga saat ini, aku tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin orang-orang itu dapat memilih untuk menyembah lembu emas.

Aku tidak taat karena aku lebih mengutamakan suara-suara disekelilingku dan emosiku daripada Tuhan Allah. Ketika bangsa Israel kembali bersungut-sungut karena ketiadaan air, untuk sedetik lamanya aku berubah setia. Aku lebih memilih untuk tunduk dan taat kepada keluh kesah bangsa Israel dan emosiku. Aku marah ketika aku seharusnya bersabar dan patuh kepada apa yang diperintahkan Tuhan Allah kepadaku. Aku membiarkan kekesalan dan emosiku mengambil alih. Akhirnya alih-alih aku memukul batu dan tidak memerintahkannya seperti yang sudah difirmankan Tuhan Allah kepadaku.

Sebuah ketidaktaatan tetap ketidaktaatan. Ketidaktaatanku tampak sepele dan sederhana. Namun di balik itu, aku berdosa karena sudah tidak taat kepada Tuhan Allah dan membiarkan emosiku mengambil alih. Tetap ada konsekuensi yang harus aku pikul untuk ketidaktaatanku.

Anakku, kepadamu kuberikan sebuah nasihat. Apapun situasimu. Dimanapun kamu berada. Seperti apapun kondisi dan lingkunganmu. Janganlah pernah untuk berubah setia dari Tuhan Allah. Jangan pernah membiarkan ketaatanmu berpindah kepada lingkungan atau emosimu. Selalu arahkan ketaatan dan fokusmu kepada Tuhan Allah. Dia yang adalah adil dan setia tidak akan pernah mengecewakanmu.

Tuhan Allah memintaku untuk memberitahumu, bukalah hadiah terakhir ketika kamu akan tidur malam nanti.

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan,

lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus,

sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.”

Kolose 3:17

Aku terkesiap ketika kisah Musa selesai. Aku dapat merasakan kemarahan dan emosinya menghadapi bangsa Israel yang berkeluh kesah. Aku dapat memahami pikirannya ketika itu. “Siapakah sebenarnya orang-orang ini, sehingga mereka dapat terus berkeluh kesah? Mengapa Tuhan Allah sungguh bersabar menghadapi mereka? Sampai berapa lama lagikah aku harus menghadapi dan mengurus bangsa Israel?”

Ada kesedihan dan penyesalan dalam penuturan Musa. Bukan disebabkan karena ia tidak dapat masuk ke tempat perjanjian namun dikarenakan oleh ketidaktaatannya kepada Tuhan Allah. Namun aku juga merasakan kasih Tuhan Allah yang memaafkan Musa.

Melalui Musa, aku sadar bahwa Tuhan ingin agar aku berlatih untuk tidak membiarkan emosi menguasaiku. Aku harus berlatih untuk mengekang diri dan tetap menjaga kesetiaan dan kekudusanku kepada Tuhan Allah.

Sepanjang hari itu, aku terus menerus dengan hadiah terakhir yang belum kubuka. Tidak sabar aku menunggu agar waktu cepat berlalu agar aku dapat segera membukanya. Malam hari, ketika aku berdoa sebelum tidur, segera aku membuka hadiah terakhir.

Hadiah ketiga memiliki ukuran dan bentuk yang sama dengan kedua hadiah sebelumnya. Yang membedakan adalah kertas pembungkusnya. Hadiah terakhir ini dibungkus kertas putih yang sederhana. Walaupun penampilan begitu sederhana, entah bagaimana aku dapat mengetahui bahwa ini adalah hadiah yang paling istimewa.

Wangi yang lembut dan membawa damai menguak ketika aku membuka kotak hadiah ketiga. Wangi itu serasa membungkus dan memelukku. Aku merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian.

Sebuah suara pria yang lembut, lambat dan mengalun menyapaku. Suara itu menggetarkanku. Suara itu memanggilku. Suara itu adalah panggilan yang aku cari selama ini.

“Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya,

dan kesengsaraan kita yang dipikulnya,

padahal kita mengira dia terkena tulah,

dipukul dan ditindas Allah.”

Yesaya 53:4

Anakku, namaku Yesus.

Aku menghargai kesabaran dan ketaatmu untuk membuka hadiah ini pada waktu yang aku minta. Aku memiliki dua alasan memilih malam hari.

Yang pertama adalah supaya engkau memiliki waktu sepanjang hari untuk merenungkan hadiah pertama dan kedua. Terlalu banyak tidak baik karena tidak dapat dicerna dengan benar. Alasan yang kedua adalah Aku tahu, masalah-masalah yang engkau hadapi terutama pekerjaanmu. Karena itu Aku memilih malam hari, agar engkau sempat merenungkan pekerjaanmu sebelum tidur.

Aku memahami masalah dan emosimu. Engkau sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik kepada keluarga dan pekerjaanmu. Engkau sudah melayani keduanya dengan segenap kekuatanmu. Kini engkau dikecewakan karena balasan yang engkau terima dari keluarga maupun pekerjaanmu.

Anakku, ketahuilah bahwa Aku peduli. Orang lain tidak menghargai, namun Aku menghargainya. Orang lain tidak menghitungnya, namun Aku menghitungnya.

Jika engkau merasa dianiaya dan diperlakukan tidak adil, ingatlah bahwa Aku sudah mengalami kesemuannya itu.

Balasan yang Aku terima untuk usaha-Ku menyelamatkan umat manusia adalah disalib oleh bangsa-Ku sendiri. Aku dicaci maki dan dihina. Sedikit sekali yang mau menerima-Ku. Aku yang adalah Anak Allah dan sumber keselamatan direndahkan oleh orang-orang yang buta. Aku dapat saja mencibir dan menertawakan kebodohan mereka, namun Aku tidak melakukannya. Belas kasihan-Ku justru bangkit dan Aku berdoa untuk pengampunan mereka.

Ketika Aku disalib, tampak seolah-olah apa yang Aku perjuangkan dan ajarkan runtuh. Tetapi lihatlah sekarang, manusia diselamatkan dari dosanya karena kematian-Ku disalib. Penebusan-Ku tidaklah sia-sia. Bangsa-bangsa di seluruh bumi menjadi umat-Ku. Keselamatan terjadi diseluruh bumi.

Aku sudah tahu semua yang akan Aku alami atau rasakan sebelum disalib. Coba seandainya ketika itu Aku memilih untuk mundur dan tidak jadi disalib. Allah Bapa sanggup meluputkan Aku dari penderitaan disalib. Tidak akan ada keselamatan. Aku memilih untuk tetap setia dan lihatlah hasilnya.

Jadi anakku, Aku tidak mau mengganggu waktu istirahatmu.

Jika engkau merasa lelah dan banyak beban. Atau jika engkau merasa pekerjaanmu sia-sia dan tidak dihargai. Ingatlah bahwa Aku telah terlebih dahulu mengalaminya.  Aku berusaha mengajarkan keselamatan kepada bangsa-Ku dan tidak dihargai. Mereka menganiaya dan menyalibkan-Ku. Namun kematian-Ku bukan kesia-siaan atau tidak dihargai. Karya keselamatan Allah Bapa justru dimulai dari sana.

“Apa pun juga yang kamu perbuat,

Perbuatlah dengan segenap hatimu

seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Kolose 3 : 23

Menangis aku ketika mendengar kata-kata Tuhan yang kusembah. Siapakah aku sehingga Ia datang dan menghiburku? Masalahku sungguh sepele. Aku marah dan emosi karena merasa tidak dihargai. Padahal sebenarnya itu hanya kesalahpahaman belaka. Aku sudah tidak lagi merasa marah dan kesal. Aku dapat menerima dan belajar untuk mendoakan mereka semua.

Siapakah aku sehingga Tuhan memberiku tiga hadiah istimewa ?

Aku adalah sahabat Yesus. Bagian Kerajaan Surga. Jika setia hidupku seperti Yusuf dan Musa maka janji Tuhan ialah bagianku.

“Mengucap syukurlah dalam segala hal,

sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

1 Tesalonika 5:18

— Selesai —

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s