It’s all about my choice

Anak ibuku hanya 3 orang. Perempuan semua. Apakah mungkin mengasihi 3 anak secara adil? Jawabannya adalah tidak.

Ibuku pilih kasih. Sejak kecil aku sudah menyadari hal tersebut karena akulah korban pilih kasih tersebut. Kisahnya tidaklah setragis bawang merah bawang putih atau kisah-kisah cengeng yang lain. Terkadang bahkan juga menjadi komedi. Misalnya sewaktu aku memakai sepatu yang kebetulan juga ingin dipakai oleh kakakku. Otomatis ibuku menyuruhku membuka sepatu dan mengalah pada kakakku. Jangan membayangkan reaksi yang penuh kemarahan. Aku dan kakakku tertawa mendengarnya. Ibuku menjadi malu.

Mungkin karena aku adalah anak tengah yang hanya berjarak sedikit dengan kakak dan adikku. Mungkin karena aku anak yang paling jarang minta tolong. Mungkin karena aku anak yang paling biasa saja. Mungkin karena aku cuek. Mungkin karena aku juga tidak dekat dengan ibuku.Terkadang aku merasa aku tidak terlihat dimata ibuku. Namun aku tahu dengan caranya dia juga menyayangiku. Kalau aku sakit. Makanan kesukaannku. Karena itu aku dapat menerima sikap pilih kasih ibuku.

Sayangnya tetap saja ada masa-masa ketika aku menjadi marah dengan sikap pilih kasih ibuku. Biasanya itu adalah ketika hormon sedang tidak stabil karena haid sehingga menjadi emosi. Dimasa-masa itu (yang aku sebut masa kegelapan) aku akan menjadi sangat marah dan sangat kecewa.

Marah karena ketidakadilan. Kecewa karena Tuhan tempat mengadu diam saja. Curang. Kenapa aku yang harus selalu mengalah. Mana Tuhan yang katanya super adil. Mana pertolonganku.

Alasan yang klise. Aku bukanlah manusia sempurna dan masih banyak dosa. Pada masa kegelapan aku pernah mencoba beberapa hal (sekarang juga terkadang masih dilakukan jika kontrol diri sedang lemahšŸ˜¦ )
1. Marah2 pada ibuku (termasuk membentak-bentak, tujuannya supaya ibuku tahu bahwa aku juga bisa galak seperti kakakku)
Akhirnya justru aku yang merasa sangat bersalah dan tidak enak ketika masa kegelapan lewat.
2. Mendiamkan seisi rumah (tujuannya supaya mereka tahu bahwa aku marah dan diperlakukan tidak adil)
Ternyata tidak ada yang sadar. Justru aku menjadi sakit karena terlalu emosi dan banyak berpikiran negatif. Migrain selama 2 hari.
3. Mogok makan (jangan pernah ditiru)
Akhirnya justru merasa bersalah karena papa sampai nangis dan kena sakit maag parah.
4. Berdoa (ini yang paling benar walaupun dengan tujuan salah awalnya)
Dulu aku berdoa supaya pilih kasih ini berganti. Supaya orang lain sadar. Supaya ibuku berubah. Tapi Tuhan maha diam. Menghibur saja tidak.
Namun kemudian sambil marah-marah, aku hanya meminta agar tidak menjadi kepahitan bagiku dan setiap orang. Agar masa kegelapan segera berlalu dan aku dapat kembali menghadapi pilih kasih sambil tertawa.

Sampai akhirnya aku sadar bahwa di Alkitab juga banyak terdapat cerita pilih kasih.
“Murid yang dikasihi Yesus”
Ribka, ibu Yakub dan Esau, membantu Yakub (anak ke-2) mencuri hak kesulungan Esau (anak ke-1).
Yakub yang sangat menyayangi Yusuf sehingga anak-anaknya yang lain menjadi iri.

Alkitab tidak menceritakan bahwa pelaku tindakan pilih kasih kemudian sadar bahwa mereka salah dan kemudian berubah. Tidak pernah tertulis Ribka meminta maaf kepada Esau. Atau Yakub meminta maaf kepada ke-11 anaknya yang lain karena hanya membuatkan 1 jubah istimewa saja untuk Yusuf.

Alkitab hanya menceritakan (secara tidak langsung) bahwa korban tindakan pilih kasih di kemudian hari memaafkan dan menerima ketidakadilan. Esau berkumpul dengan Yakub dimasa tuanya. Yusuf bertemu kembali dengan saudara-saudaranya.

Kemudian dari hasil membaca buku ‘David vs Goliath’ karya Malcolm Gladwell, aku seperti disapa oleh Tuhan. Dalam bab-bab terakhir dikisahkan bahwa memaafkan (Wilma Derksen) dapat membawa kedamaian bagi korban daripada kekerasan (Mike Reynolds yang menghasilkan Three Strikes Law). Mungkin ada yang mendapat ketenangan dengan cara Mike Reynolds. Tapi aku tahu, aku tidak.

Jadi intinya aku sadar. Aku tidak dapat berharap ibuku berubah. Aku tidak dapat berharap ibuku meminta maaf.
Pilihan itu ada padaku. Perubahan itu ada padaku. Menjadi kepahitan dengan marah dan melupakan keluargaku. Memaafkan. Menerima. Semua itu adalah pilihanku.

Aku tidak dapat mengubah karakterku sehingga lebih manja dengan ibuku seperti kakakku atau adikku. Aku tidak dapat mengubah ibuku. Aku tidak dapat meminta Tuhan untuk mengubah ibuku. Namun aku dapat mengontrol masa kegelapanku. Aku tahu aku bahwa Tuhan yang maha diam tetap membantuku melewati masa kegelapan.

Sekarang dengan berbekal pengalaman dan Alkitab, aku menemukan resep untuk menghadapi pilih kasih dan masa kegelapan.
1. Menunggu saja hingga masa kegelapan lewat karena aku tahu bahwa aku pasti dapat tersenyum jika masa kegelapan lewat (semuanya hanya karena hormon).
2. Terus berdoa (walaupun Tuhan maha diam dan super emosi). Minta agar tidak menjadi kepahitan.
3. Membaca buku, Alkitab terutama.
4. Sedikit menjauhkan diri dulu dari orang lain (menghindari ucapan-ucapan yang akan disesalkan kemudian hari)
5. Hindari topik-topik sensitif yang dapat memancing emosi.

Semuanya itu adalah pilihanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s