Maaf dan Ampun

“Mereka memang menyebalkan !!!”
“Apa sih maunya mereka?”
“Ini sih sudah fitnah dan pelecehan”
“PPP EE NN GG EEE CC UUU TTTTT !!!”

Seperti itulah perasaanku di hari Jumat pagi.
Bayangkan saja pagi-pagi begitu tiba dikantor langsung bertemu dengan tim sapu bersih. Alih-alih diajak bicara baik-baik mereka justru menyindir dan bahkan meletakkan namaku di tempat sampah.

“ARRGGGHHHHH !!!”

Semuanya berawal dari kejadian dua hari yang lalu, tepatnya hari Rabu kemarin.
Seiring dengan rencana kantor untuk hanya menyewa 1 lantai dari yang sebelumnya 3 lantai, maka banyak sekali furniture kantor yang tidak terpakai. Awalnya diisukan akan dilelang. Tapi kemudian tidak jadi karena tidak keburu. Pada hari Rabu sore dimulailah kekacauan.
Penanggung jawab pindahan lantai mengatakan bahwa furniture tersebut boleh dibawa sesukanya dengan catatan harus dibongkar dan diangkut sendiri paling lambat hari Jumat. Karyawan bebas menandai furniture yang diinginkan selama belum ada nama orang lain disitu.
Seperti mendapat durian runtuh. Itulah perasaanku. Lumayan untuk mengisi rumah atau dibagikan ke yang lain. Aku dan beberapa rekan mulai kalap menandai furniture. Semuanya belum ada namanya. Jadi kami bebas berkreasi dan membayangkan akan ditempatkan dimana.
Tanpa kami sadari ternyata furniture-furniture itu sudah ada pemiliknya – yaitu tim sapu bersih.
Tim sapu bersih adalah sekelompok pegawai kantor yang dapat digolongkan senior (dari sisi umur), namun kerjanya hanya mengeluh karena merasa hak-hak mereka sebagai karyawan dirampas perusahaan. Namun mereka tidak pernah melakukan kewajiban mereka.
Hari Kamis, saya dan teman-teman berdinas diluar kantor, jadi kami tidak sadar jika ternyata tim sapu bersih melakukan kampanye internal di kantor. Mereka protes kenapa tiba-tiba furniture yang mau mereka ambil tiba-tiba sudah ada nama-namanya.
Beruntung aku sudah mendapat kisi-kisi tentang sepak terjang tim sapu bersih, jadi hari Jumat aku datang ke kantor dengan tenang. Tanpa persiapan untuk mengangkut furniture.
Pagi-pagi datang sudah dipandang sinis oleh mereka. Jika mata dapat membunuh kira-kira seperti itulah. Bagaikan prajurit gagah maju berperang, mereka langsung menuju lantai 29 dan bersiap siaga. Aku tetap bekerja dengan tenang. Furniture dapat yah Puji Tuhan, tidak dapat juga Puji Tuhan.
Kemudian kami terkejut dengan adanya email dari pengurus pindahan.

Semua furniture di lantai 28 dan 29 boleh diambil karyawan. Dengan syarat 1 karyawan 1 furniture. Harus diangkut dan dibongkar sendiri.

Dan chaos pun terjadi. Semua karyawan sudah lupa untuk bekerja. Sibuk berebutan barang. Hubungan pertemanan dilupakan. Hubungan atasan ke bawahan dilupakan. Aliansi baru dibentuk. Mencari furniture bersama, mencari mobil box dan tukang kayu.

Bagaimana dengan tim sapu bersih?

Mereka panik dengan adanya email tersebut. Lantai 29 adalah milik mereka. Jika ada bukan anggota tim sapu bersih datang ke lantai 29, mereka akan berdalih aku sudah menamai. Dan harus ditanyakan ke aku saja.
Namun menjelang siang ke sore baru kelihatan cara kerja tim sapu bersih. Mereka memindahkan nama-nama kami ke tempat-tempat yang tidak layak. Tong sampah, pemadam kebakaran atau furniture yang mereka tidak mau.
Tidak perlu tukang kayu. Tiba-tiba para pria yang sering ijin sakit menjadi sekumpulan superman. Lemari-lemari buku besar dapat mereka bongkar sendiri dan diangkut sendiri. Lembur juga rela. Sambil terus menyebar fitnah bagaimana aku dan rekan-rekan lain mengambil furniture.

Sakit hati juga. Lantai 29 habis diambil mereka hingga ke karpet dan tetap menyebar fitnah. Orang kantor banyak yang menggoda untuk tong sampah dengan namaku. Sungguh tidak habis pikir. Mereka semua rata-rata 10 tahun diatasku. Seandainya aku salah dan menyinggung mereka, bukankah lebih baik jika mereka menegur langsung secara bijaksana. Tidak memfitnah. Mau balas dendam tidak bisa. Dan kemudian ingat bahwa “pembalasan adalah milik Tuhan”.
Jadi aku tertawa dalam hati sambil bilang lihat saja kalian. Tuhanku kalau balas dendam nanti bisa gawat.

Namun ternyata hati ini belum tenang. Kenapa masih selalu kepikiran. Kenapa masih marah.
Sabtu dan Minggu aku bergumul. Tidak aku ceritakan fitnah yang diterima pada pihak keluarga. Bisa terjadi perang dunia ketiga nanti.

Rupanya Tuhan tidak ingin mengajarkan balas dendam. Balas dendam cukup ada di film silat saja.

Hari Senin pagi, aku mendapatkan bahwa aku dapat mendoakan mereka dengan doa dari Tuhan Yesus sendiri.
“Ya Bapa, ampuni mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dan aku mulai mendapat ketenangan.
Datang ke kantor, aku melihat lantai 28 dan 28. Sedih rasanya melihat kantor yang dibanggakan menjadi puing-puing.
Dan hal aneh yang aku lihat pertama kali adalah nama-nama yang ditempelkan ditempat aneh, seperti toilet dan pintu lift. Rupanya sedang ada trend baru mengikuti namaku yang ada di tong sampah. Hal kedua adalah tim sapu bersih menjadi buah bibir. Keganasan mereka mengambil furniture akan dikenang.

Namun tetap saja ada rasanya ada yang kurang. Masih ada pelajaran dari Tuhan yang belum aku tangkap.
Selang beberapa hari kemudian, aku dan rekanku yang sama-sama korban fitnah tim sapu bersih kembali membahas peristiwa ini. Kami sudah sama-sama tenang dan memutuskan untuk memaafkan mereka. Dan tiba-tiba saja temanku berkata, “Untung tim sapu bersih yang duluan kalap. Jika tidak ada mereka, pasti kita yang kalap dan sekarang menjadi bahan pembicaraan orang sekantor.”

Inilah pelajaran terakhir dari Tuhan. Aku menyadari ucapab temanku benar. Jika tidak ada tim sapu bersih, pasti aku sudah serakah. Terima kasih, Tuhan, karena memberikan batu kerikil kecil ini. Engkau mengajarkan kasih dan ampun kepadaku. Namun Engkau juga mengajariku agar tidak menjadi sombong dan serakah. Aku rindu pengampunan-Mu. Dan ingatkan aku di lain kali jika ingin jatuh ke dosa yang sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s